PERLOMBAAN KATAK DAN DIMENSI RASA

Saya ingin bercerita sebuah kisah yang klasik sekali. Tentang seekor katak yang mengikuti perlombaan. Tersebutlah seekor katak mengikuti perlombaan lari dan panjat menara. Beratus-ratus katak mengikuti lomba lari dan panjat menara itu. Banyak katak yang tergelincir di jalan sepanjang track lomba lari. Sebagiannya masuk nyemplung ke selokan. Sebagian kelelahan dan dehidrasi. Walhasil hanya tinggal sepuluh katak sampai di ujung jalan dan mulai menaiki menara.

Saat katak tersebut menaiki menara, para katak penonton berteriak, “Wah…menaranya terlalu tinggi!!”, sebagian yang lain berteriak, “ga mungkin, ga mungkin bisa.”

Satu dua katak lainnya terjatuh berdebam dari menara tinggi.

Sisa beberapa ekor katak yang kemudian juga terjatuh saat diteriaki penonton bahwa menara tinggi itu sangat bahaya.

Singkat cerita, tinggal satu ekor katak saja yang sampai pada puncak menara. Dan katak-katak penonton histeris menyaksikan kemenangan epik sang katak itu.

Tentunya, semua penonton bertanya, apa gerangan yang menjadi kunci kesuksesan katak ini? Ternyata, setelah diwawancara barulah ketahuan bahwa katak pemenang ini, TULI.

Moral dari cerita ini cukup jelas, yaitu jangan pedulikan teriakan orang-orang yang bisa melemahkan semangatmu. Karena banyak orang yang hanya teriak saja.

Tetapi, bukan moral cerita ini yang saya hendak bahas. Yang saya hendak bahas adalah pertanyaan berikut ini, “adakah sumber valid cerita di atas ini?”.

Tentu tak ada.

Cerita itu hanya DONGENG rekaan semata. Bukan kejadian nyata, sehingga sama sekali tidak valid sebagai sumber hukum.

Tetapi, bolehkah cerita ini menjadi penyemangat? Atau begini, bisakah cerita ini menjadi ibrah atau pelajaran?

Jawabnya, tentu bisa. Pelajaran bisa datang darimanapun saja, bahkan dari sebuah dongeng. Sang pembelajarlah yang mestinya menjadi orang-orang yang bijak-bestari, sehingga bisa menangkup pelajaran bahkan dari hal-hal yang artifisial.

Hal ini, hampir semakna dengan ungkapan para ahli bahwa hadits dhaif, itu boleh digunakan dalam “fadhail amal” nyemangat-nyemangati tentang keutamaan amal. Bukan tentang sumber hukum sebuah amal lho ya. hukumnya mesti ditarik dari premis-premis yang disusun oleh dalil yang valid. Tetapi sebagai ibrah, penyemangat, boleh….apalagi jika ada dalil valid yang semakna dengan itu.

Tentang sholat hajat misalnya, dalilnya ada dan jelas sebagai sumber hukum, cara sholatnya begini begitu, rakaatnya begini, dst. Tidak boleh berdasarkan dalil yang validitasnya diragukan. Akan tetapi, sebagai penyemangat, kita boleh menjadi terpacu oleh sebuah cerita misalnya ada orang yang selamat dari kanker ganas karena dia sholat. Ini namanya mendulang hikmah. Kalau dalil tegas bahwa sholat menyembuhkan kanker akan sulit ditemukan tekstualnya.

Saya jadi tertarik menulis ini, menyambung obrolan mengenai dua sisi keping keberagamaan, yaitu syariat luar dan sisi batinnya.

Syariat luar, itu sudah ada pakemnya sendiri. Sholat subuh dua rakaat, caranya menurut imam mazhab begini-begini rukunnya. Kalau zuhur empat rakaat, dan seterusnya. Yang mana syariat itu sudah FIX dan tak bisa diganggu gugat.

Akan tetapi, untuk dimensi batinnya ini, seringkali hanya bisa dijelaskan lewat bahasa “rasa” para arif. Pas dia berbicara dimensi batinnya, sadarilah bahwa dimensi batin ini lebih banyak transfer “rasa”, atau wisdom, tinimbang transfer dalil luaran.

Misalnya, sholat….. sholat sudah “selesai” dalilnya. Sudah jelas ga pake ribet. Tetapi pas masuk ke makna batinnya, ini sudah mulai masuk ranah rasa.

Sebagai pembelajar, menjadi bestari-lah dengan pandai-pandai memetik pelajaran, bukan dengan mengatakan bahwa yang dibagikan oleh para arif itu tak ada dalilnya. Karena mereka membahasakan rasa.

Misalnya, satu aspek dari arti “khusyu” yaitu tunduk…. Seperti apa tunduk itu? Tunduk adalah sikap batin.

Nanti akan ada approach… oh, kamu bayangkan kekuasaan Allah, bayangkan betapa DIA berkuasa terhadap hidup matimu, dst sampai feel ketundukan itu dapat, misalnya. nah itukan sudah mulai rasa toh?

Secara syariat, tak ada yang beda dengan sholatnya secara lahiriah, tetapi secara batin dia mulai mencoba menemukan definisi tunduk itu. Agar keping keberagamaannya menjadi utuh. Syariat lahir, dan spiritualitas batinnya sekaligus.

Atau, ada juga yang menggunakan approach asma dan sifat, seperti Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Memahami bahwa seluruh alam ini hanya kenyataan dari sifat-sifat fi’liyahnya Tuhan. Sehingga feel dari tunduk itu dapat.[1]

Karena saat sudah mulai membahas “tunduk”, “khusyu’” berarti sudah mulai masuk dimensi batin yang tak terlihat. Yang terlihat adalah dimensi luarnya saja[2]

Nanti ada lagi approach lainnya, yang sudah tidak lagi melihat pada sifat-sifat. Karena sifat-sifat, itu hanyalah penjelasan af’al alias perbuatan Sang Empunya sifat. Arah peribadatan adalah tunduk pada Sang Empunya sifat. Maka sifat-sifat hanya menjadi pintu saja, untuk masuk pada mengingati Sang Empunya. Yaitu yang Laisa Kamislihi Syaiun. Tak ada umpama.

Approach yang manapun saja, adalah upaya untuk menggenapi kepingan sisi esoterisnya ibadah. Dianya, seringkali tidak tertulis secara zahir dalam tekstual. Karena dalil tekstual adalah menjelaskan aspek luarnya ibadah. Sedangkan dimensi batinnya seringkali hanya bisa dijelaskan oleh para arif yang mengalaminya sendiri.

Dari sisi pembelajar. Ikutilah hal-hal yang sudah tertulis jelas dalilnya sebagai sumber hukum peribadatan. Tetapi, lengkapi juga sisi itu dengan kepingan satunya lagi, yaitu belajar makna-makna batinnya, yang dijelaskan oleh orang-orang arif yang mengerti dimensi rasa itu.

Kelak, menemukan makna-makna itulah yang menyebabkan antara dua orang beribadah dengan sama persis, tetapi bernilai sama sekali berbeda. Syariatnya sama, tetapi penemuan makna di dalam batinnya beda.

Dalam bahasa islam disebut Ihsan.


References

[1] Ucapannya yang semakna dengan itu, misalnya, imam Ibnu Rajab menjelaskan keterikatan antara ilmu yang bermanfaat dan sifat khusyu’ dalam ucapan beliau: “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang merasuk dan menyentuh hati manusia, kemudian menumbuhkan dalam hati ma’rifatullah (mengenal Allah Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna) dan meyakini kemahabesaran-Nya, (demikian pula) rasa takut, pengagungan, pemuliaan dan cinta (kepada-Nya). Tatkala sifat-sifat ini telah menetap dalam hati (seorang hamba), maka hatinya akan khusyu’ lalu semua anggota badannyapun akan khusyu’ mengikuti kekhsyu’an hatinya”

[2] Imam Ibnul Qayyim berkata: “Para ulama sepakat (mengatakan) bahwa khusyu’ tempatnya dalam hati dan buahnya (tandanya terlihat) pada anggota badan” “Mada-rijus saalikiin” (1/521).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *