PENAWAR DUKA

Setiap kali memasuki pintu gerbang kantor, -tidak selalu memang- sering saya menggumamkan syukur.

Lebih-lebih di masa sekarang ini, bagaimana saya tidak bersyukur, saya masih bertahan di kantor dalam industri migas yang sedang kurang enak badan dewasa ini; sedang sebagian lain para professional terpaksa rela kehilangan pekerjaan.

Melihat ke belakang, saya mengingati jenak dimana sesi interview kerja bagi saya seperti roller coaster emosi. Dengan sukses memukau pewawancara, tetapi sekejap kemudian dengan bodoh saya telah menyatakan tidak tertarik pada perusahaan yang saya ikuti interview kerjanya itu. Lalu kebetulan-kebetulan ajaib sematalah yang menyelamatkan saya.

pun dimasa sekarang. ketika karir di dunia pekerjaan biasanya penuh persaingan yang politis, saya merasa saya beruntung pindah dari posisi lapangan menjadi posisi kantoran semata-mata karena para professional yang lain memilih untuk pergi meninggalkan kantor dan mencari peruntungan kerja di luar negeri. Di lautan lepas.

Juga mengingati jenak kelahiran anak pertama saya. Di dini hari lebaran yang mengagetkan. Jauh berapa minggu dari ekspektasi kami menurut hitungan dokter, tetapi dia “memilih” momennya sendiri untuk lahir pada gemuruh takbir. Saya sedang di luar kota, lalu qadarullah pula saya bisa menembus awan gemawan dari Kalimantan menuju Jakarta, dan melesat ke Rumah Sakit di bilangan Depok, dari Soekarno Hatta yang lengang luar biasa tersebab orang-orang pada sibuk makan ketupat di desa. Alhamdulillah.

Menghitung-hitung rasa syukur. Dari kehidupan yang penuh kejutan-kejutan itulah, sesekali menjadi generator yang menyemangati dan meyakinkan saya kembali bahwa hidup ini memang sudah diatur-Nya.Karena segala kebetulan-kebetulan kecil dalam hidup kita itu, berimplikasi besar dalam jejaring sebab-akibat yang lebih raksasa.

Seorang guru mengatakan, tingkatan pertama adalah selalu “berdoa”, memanjatkan pinta atau puja-puji, “naik” menuju ingatan akan DIA, karena ketakjuban kita atas kehidupan yang kita lewati. Ini tangga pertama.

Melewati tangga ini, seseorang akan sampai pada maqom berikutnya yaitu Pasrah dan Ridho. Karena hatinya puas oleh fakta-fakta pertolongan dan keteraturan dalam setiap takdir hidup.

Saya sendiri, jauh sekali dari tangga berikutnya itu. Maka setiap kali gelisah dan ketakutan menyapa, selalu saya jadikan itu sebagai konteks mengingati-Nya.

Kalau “selalu” DIA menolong kita sejak lahir sampai sekarang, maka sebenarnya segala gelisah dan kekhawatiran kita sekarang dan kedepannya itu; tetap dalam jaminanNya juga.

Bahwa segalanya ada dalam genggamanNya, dan tlah tertulis di “bukuNya” sudah kita ketahui, tetapi “rasa” yakin mengenai itu kadang-kadang perlu disepuh dengan mengingati pertolongan-pertolonganNya selama ini.

Disitulah, kekhawatiran menemukan penawarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *