PEMUDA YANG MENANGIS DAN BERJARAK DENGAN KEADAAN

Seorang pemuda menangis sesenggukan di atas sebuah jembatan. Diparkirnya motor miliknya di sisi jembatan, motor buatan cina yang sudah tua. Di sisi jembatan itulah dia menangis sesenggukan.

Apa yang dia tangisi?

Yang dia tangisi adalah wawancara kerjanya barusan. Wawancara kerja yang berlangsung buruk.

Jadi….Selepas kuliah –yang diselesaikan dengan susah sungguh, karena keterbatasan ekonomi- dia melamar pekerjaan dan melalui serangkaian test, hingga sampai pada sesi wawancara. Sesi wawancara itulah yang dia sesali karena menurutnya berlangsung begitu buruk.

Jadi dia menangisi kegagalannya untuk mendapatkan pekerjaan yang sangat dibutuhkan olehnya, dan juga sangat dibutuhkan bagi keluarganya. Beban penyesalan itulah yang membuatnya berhenti di pinggir jembatan dan menangisi persiapannya yang sekenanya.

Tetapi, takdir berkata lain. Pemuda itu lulus dan diterima bekerja di perusahaan tersebut. Tempat dia kemudian menemukan pasangan hidup disana.

Pemuda itu sahabat saya sendiri.

Saya, dan seorang rekan lainnya, berbicang banyak dengan sahabat yang saya ceritakan ini, tentang dunia kerja, tentang karir, tentang rezeki dan tentang membaca hikmah dalam kehidupan. Pelajaran moralnya jelas, yaitu “plot-nya Tuhan seringkali tidak bisa dimengerti, dan tentu saja berhikmah”.

Tetapi, yang menarik saya renungi adalah bagaimana untuk bisa “bertahan” dalam plot yang tidak dimengerti itu. Karena seringkali plot yang tak kita mengerti itu berlangsung begitu lama bertahun-tahun.

Dulu saya kira orang berperingkat tinggi itu adalah yang melulu tahu hikmah dan rahasia kejadian sebelum terjadi. Belakangan saya baru menyadari, bahwa Nabi Yakub terpisah dengan anaknya Yusuf, selama bertahun-tahun, tanpa mengerti apa hikmah dibalik semua ini? Artinya, menyabari dan meridhoi kejadian, kadangkali lebih mulia ketimbang mengetahui rahasia kejadian itu sendiri.

Tingkat pertama dalam “bertahan” menjalani plot yang seringkali tidak kita mengerti itu, dinamakan sabar. Tingkat advance-nya adalah “ridho”. Baik tingkat awal apalagi tingkat advance-nya adalah titian yang kita jalani dengan susah payah, tertatih-tatih.

Sore kemarin, selepas berbuka, saya duduk selonjoran dan bersandar pada dipan kayu di kamar. Dalam kondisi lelah seusai bekerja dan lepas berbuka dan sholat maghrib, fikiran saya melayang-layang pada fragmen-fragmen masa silam. Semua fragmen yang menyambangi saya satu-satu, tetapi saya “SADAR PENUH” pada fragmen-fragmen itu, dan membiarkannya berjalan untuk saya “tonton” tanpa hanyut.

Mulai dari fragmen saya yang masih kecil dan tembem dengan pose yang kaku berdiri di atas sebuah batu untuk difoto oleh guru semasa saya TK. Lalu fragmen dimana saya masih SD dan bermain bola di perkebunan kelapa belakang sekolah, saya masih teringat ranum pohon mangga yang besarnya luar biasa di belakang sekolah itu.  Lalu fragmen-fragmen yang lain datang dan pergi satu-satu saya biarkan saja.

Betapa saya “BERJARAK” dengan semua gambaran memori itu.

Sangat terasa bahwa saya hanya “MENONTON FILM”. Saya yang “sadar” ini, berjarak secara mental dengan memori masa silam itu.

Adakah sesuatu dari memori masa silam itu yang bisa saya ubah? Tak ada….. semua sudah begitu adanya.

Seperti cerita sahabat saya diatas. Lulus atau tidak lulusnya dia pada perusahaan tempat dia pertama kali diterima bekerja, adalah juga berkelindan –ternyata– dengan bertemu atau tidak bertemunya dia dengan istrinya yang “kebetulan” bekerja di tempat yang sama.

Tetapi pertemuan dia dengan istrinya, tentu tak lengkap jika tak membicarakan anak mereka. Maka…..urusan lulus atau tidak lulusnya sahabat di perusahaan dimana dia bekerja, adalah berpaut pula dengan lahir atau tak lahirnya anak mereka. Berpaut dengan urusan nyawa seorang manusia.

Dan jika anak mereka, kelak suatu ketika misalnya ada yang jadi pembesar negri ini, maka urusan lulus atau tak lulusnya dia di perusahaan, akan suatu masa menentukan nasib bangsa.

Tentu ini agak hiperbola. Tetapi kalau ditarik runut ke belakang, dimana masa kuliah sahabat saya yang tersendat-sendat karena kesulitan ekonomi, ternyata dipikir-pikir memang harus ditunda untuk lulus pada waktu yang “PAS” agar “PAS” pula bertemu lowongan di perusahaan tersebut, dan “PAS” pula untuk bertemu istrinya.

Memang betul, kata para ilmuwan, bahwa segalanya di alam semesta ini sudah fix, dan akan sulit sekali merubah satu bagian kecil dalam tatanan maha sempurna ini, tanpa merubah tatanan lainnya yang lebih besar. Karena tak ada hal yang tak kait mengait.

Disinilah saya baru mengerti pertemuan puzzle ilmiah dengan wacana spiritualitas dalam tasawuf islam. Dan baru saya memahami mengenai takdir itu. Sempurnanya Plot Tuhan.

Kembali kepada pertanyaan tadi, bagaimana kita “bertahan” menyikapi plot Tuhan yang kadangkala tak kita mengerti.

Yang pertama, yang saya catat dari wejangan para arif adalah paradigma. Kita harus memiliki paradigma yang membuat kita yakin bahwa segalanya berhikmah. Salah satu yang bisa dipakai adalah penjelasan sains, bahwa semuanya kait mengait, dan tak ada satupun bagian kecil kehidupan yang bisa dirubah tanpa merubah tatanan makro-nya. Dan tidaklah dilupakanNya walaupun sebesar Zarrah.

Yang kedua, ini agak teknis memang. Dan ini saya baru mengerti setelah lama mencatati petuah para guru. Bahwa sesungguhnya “kita memang berjarak dengan kedaan”.

Sebagaimana kita dan fragmen memori masa silam kita “berjarak”. -Kita melihat lembaran masa silam hanya sebagai sebuah memori dimana kita ini penonton. Tak ada yang bisa kita ubah dari apa yang sudah tersetting dalam memori silam itu-, Maka sejatinya juga kita tetaplah berjarak dengan masa sekarang.

Hal ini agak absurd memang, tapi kalau sering-sering berjeda dengan keadaan, mengingatiNya, tuma’ninah, lambat laun realitanya bisa kita rasakan, bahwa kita, “the observer” itu ada di “dalam” diri, dan kenyataan hidup itu ada “di luar” diri.

Lalu “kita” dan realita kehidupan itu, seperti berjarak. Dan kita menyaksikan realita kehidupan sebagai pagelaranNya bercerita.

Baik yang pertama, maupun yang kedua, memang perlu waktu. Saya sih seringnya keluar masuk keluar masuk, kadang bisa kadang enggak, hehehehehe…..

Sampai sempat juga terfikirkan kok saya ndak bisa-bisa….Tapi ya kembali lagi, seorang guru yang Arif mengatakan, pada akhirnya Allah-lah yang mengajari. Entah lewat guru, lewat ilmu dari buku, dan lebih seringnya lagi lewat kenyataan hidup kita sendiri-sendiri.

Nanti, alih-alih, tahu-tahu kita sudah ditempatkan pada sebuah tempat pekerjaan yang mengasingkan kita dari orang-orang. Tahu-tahu kita lebih banyak waktu untuk berjeda dari rutinitas. Tahu-tahu, kita sudah “masuk” saja pada realita itu, eh……bener ternyata. Saya, dan kehidupan di luar saya ini, memang berjarak.


*) ilustration images taken from this source

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *