PARA PENCARI TUHAN

para pencari tuhanAgak sulit saya membayangkan, adik tertua saya -yang saya kenal sebagai pribadi yang begitu keras itu- menangis. Dia ceritakan itu pada saya lewat telepon.

Pasalnya adalah ketakutan yg luar biasa saat menghadapi fase akhir kuliah. Beban skripsi, sisa sks yang masih mengganggu, dan yang paling membebani sebenarnya adalah kenyataan bahwa; usaha telah ditunaikan dengan sekeras-kerasnya perjuangan yang mungkin, tapi masih juga belum menampakkan hasil yang diharap-harap.

Terlalu banyak X-factor rupanya dalam menjalani hidup ini. Dan pada puncak kebuntuannya itulah dia menyerah pada sajadah. Dia berdoa pada Tuhan. Lalu berdzikir. Pada tiap satu bacaan istighfar yang dalam dia baca, satu tetes air mata jatuh. Begitu terus sampai dia akhirnya sesenggukan dengan basah kuyup.

Rupanya memang Allah yang megang kendali takdir, katanya, lalu setelah pasrah dan ridho pada apapun yang terjadi, dia merasa lega.

Saya jadi ingat, seorang kiai pernah mewejang tentang betapa bedanya ungkapan dzikir para wali dan orang-orang shalih dibanding kita.

Untuk setiap ucap lisan, misalnya “Allahu Akbar”, adalah ucapan yang keluar dari ekspresi psikologi ruhani yang memang saat itu menyaksikan kebesaran Allah. Rasa di dalam hati membenarkan, dan menjelma ungkapan lisan.

Makanya seloroh-nya adalah, “bismillah”-nya para wali, bisa membuat mereka berjalan di atas lautan. Maksudnya saking powerfull-nya ungkapan ketundukan yang lahir dari pengakuan hati.

Kita-kita orang awam, kadang-kadang ada jenaknya dimana masalah hidup membuat kita merasakan keagungan Allah. Adik saya itu, pada puncak kemenyerahannya, saya yakin sekali bahwa tiap istighfar yang dia baca benar-benar lahir dari rahim penyesalan dan ketundukan pada Allah.

Kita pernah kan, mengalami itu? Dan untuk tiap satu ucapan dzikir yang dimunculkan dari hati yang lebih dulu mengagungkan dan merasakan keberadaan Tuhan itulah, yang rasanya digadang-gadang sebagai “lebih mulia dari dunia dan seisinya”.

Cuma masalahnya, para Nabi, wali, dan orang-orang shalih itu berkekalan ada dalam level ruhani seperti itu, orang semisal kita ini kadang naik kadang turun.

Jadi sebenarnya, tiap manusia adalah para pencari Tuhan. Segala keperluan, kebutuhan, dalam hidup kita ini sebenarnya sudah diset untuk kita menemukan Tuhan pada akhirnya. Selama belum ketemu Tuhan pasti ada saja rasa kurang yang memang diseting untuk muncul ke kita.

Kita lapar, kita mengira yang kita perlu ialah makan, kita cari makan. Selesai makan, rupanya masih ada yang kurang, cari uang lebih buat beli rumah. Dapat rumah, ada yang kurang, jabatan, kita kejar karir. Dapat karir, hampa cinta, kita kejar cinta.

Dapat semua itu, masih ada yang kosong juga. Hiduplah kita dengan rutinitas yang kering. Karena kita berhenti mencari. Padahal trend pencarian kita adalah; bergerak dari kebutuhan yang materi ke yang semakin abstrak.

Maka kalau semua sudah punya tapi kok hati merasa hampa, berarti pencarian belum usai.

Karena pada puncak pencarian itu nanti mestinya adalah kembali kepada Tuhan.

Dan kata orang-orang arif, ada triliunan pencari di muka bumi ini, tapi tak semua sampai. Mengapa? Karena mereka tak terus mencari yang tersembunyi. Berhenti di materi. Tidak melihat yang disebaliknya lagi.

kita harus Go beyond! Go beyond!

—–

thx to my friend, Harri Pratama yang sudah membagi hasil jepretan kameranya untuk ilustrasi tulisan dan header blog ini

2 thoughts on “PARA PENCARI TUHAN

  1. pak aman ketap ketap: MANTAP! btw tak bisa pula gw membayangkan si teguh seperti itu..mudah-mudahan nanti dia sampai kesana, atau sudah.. cuma gw yang ga tau, yang jelas gw juga dulu pernah seperti itu..skripsi memang..

    • Apa itu pak aman ketap2 boi? Hehehe…. Gw rasa ti orang kalo benar2 mengikuti naluri terdalamnya bakal menemukan realita keTuhanan dalam kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *