PAKEM DUNIA FISIKAL

Jikalau kita zoom-in, yang manakah yang dikatakan manusia? Kita terdiri dari kumpulan sel….. Organ…..dari sisi biologi.

Secara fisika, kita kumpulan atom yang kalau dibelah terus menjadi sesuatu yang tak lagi diketahui manusia.
Secara mikro, super mikro, maha mikro, manusia satu dan lainnya tak ada bedanya dengan gunung dan tetumbuhan. Sama-sama hologram yang tersusun dari gejala-gejala fisika yang sama.

Dalam hakikatnya, tak ada beda.

Akan tetapi, setelah menjelma ke dalam bentuk fisik, kesadaran filosofis bahwa manusia dan semua makhluk tak ada beda ini; harus tunduk pada tatanan alam fisikal. Anak-anak bayi makannya nasi tim, ga bisa makan steak barbeque. Seorang laki-laki kalau kebelet pipis harus masuk toilet umum laki-laki, ga bisa masuk toilet umum perempuan. Semuanya tunduk pada norma dunia fisikal. Begitu di alam fisikal, semua memainkan coraknya masing-masing.

Sespiritual apapun seseorang, setinggi apapun kepahamannya akan spiritualitas, dalam dia bergerak di dunia fisikal ini dia akan mengikuti pakem syariat.

Ibnu qayyim al jauziyah mengatakan dalam salah satu tulisan beliau tentang takdir, yang kurang lebih maknanya adalah “Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum”.

Sespiritual apapun pada dalamannya, saat didunia fisikal dia akan tetap menyebut baik pada kebaikan dan menyebut buruk pada keburukan……sesuai dengan kepahaman dan maqomnya masing-masing.

Walhasil…..memiliki corak, atau memiliki sikap di dalam dunia fisikal adalah fithrah. Karena mau tak mau seseorang akan bergerak sesuai dengan syariat peran yang dia lakoni.

Saya keliru, untuk dahulunya telah mengira bahwa kepahaman spiritualitas yang dalam akan mengakibatkan seseorang menjadi super toleran dan pembiaran…..ternyata setelah direnungi, Rasulullah SAW tetap mengajarkan kebaikan dan memberitahu mana yang buruk. Sebagai syariat untuk bergerak di dunia fisikal. Tetapi dalam bergerak, kita memahami bahwa sejatinya sama saja kita dan mereka, tetapi game plannya begini…..maka kita harus ikut peranan masing-masing. Dan berbuat kebaikan sebanyak-banyak yang “ditakdirkan” bagi kita.

Wallahualam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *