PAK GEMBONG DAN KEBIJAKAN DI LAMPU MERAH

10549790_482878271814909_1276927691_n

Belakangan Hasan melihat dirinya sendiri sebagai golongan orang yang terlalu duniawi dan profan. Pasalnya, Hasan sudah berniat di awal tahun lalu, untuk menjadi lebih tekun beribadah dan lebih menyeimbangkan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan ruhaninya. Niat menjadi baik itu ada, tetapi saat ibadahnya dia ukur sendiri, ternyata tidak karuan, maka dia kecewa. Semakin beribadah serasa semakin pesimis. Hasan merasa dirinya begitu jelek.

Sebagaimana kebanyakan orang merasa gerah dengan hiruk-pikuk Jakarta yang panas dan riuh, begitu juga Hasan merasa gerah dengan rutinitasnya. Dan gerah dengan naik-turunnya kehidupan ruhaninya sendiri. Bagaimana mungkin, orang yang tiap hari bergelut dengan pekerjaan kantor yang menjemukan dan melalaikan, bisa sampai menuju Tuhan. Begitu pertanyaannya.

Maka sore hari yang cerah itu, Hasan menyengaja untuk pulang lebih akhir. Tujuannya satu saja, dia menawarkan pak Gembong tumpangan mobil untuk sampai ke rumah. Pak Gembong kan selalu pulang lebih akhir dari kebanyakan karyawan. Maka sore itu dia menunggu Pak Gembong, kemudian menawarkan tumpangan.

Seperti lumrahnya setiap pak Gembong dan Hasan bertemu, maka mulailah mereka bercerita panjang-panjang. Hasan sebagai anak muda yang eksekutif, bertanya-tanya, meneliti, dan dahaga akan jawaban. Pak Gembong selalunya menjadi orang biasa, tetapi matang pengalaman hidup.

Seperti jamaknya obrolan, ngalor ngidul dulu kemana-mana, sambil makan kentang potato chips di laci dashboard mobilnya Hasan, barulah Hasan menodong Pak Gembong dengan pertanyaan yang dalam itu. Bagaimana caranya menuju Allah? kok semakin beramal semakin susah rasanya.

Lalu pak Gembong membenarkan posisi duduknya, sambil melihat menerawang jendela mobil yang tersaput debu-debu tipis jalanan sore yang kering.

“Kalau menurut saya sih,mas Hasan,” kata pak Gembong saat menjawab pertanyaan Hasan tentang tips untuk selalu istiqomah berketaatan, “Coba Mas Hasan ingat-ingat saat kita mendekati Allah lewat pintu kebutuhan hidup, umpama lewat ‘doa‘ atau ‘permintaan‘ apa saja. Itu seperti yang doa Mas Hasan baru-baru ini yang minta naik gaji itu, yang minggu lalu Mas Hasan cerita itu. kan ada sebuah sikap tuh…sikap ‘merendah‘, juga sebuah perasaan ‘tidak mampu‘ bukan? ”

“Hehehe akur …Akur pak Mbong. Masih inget aja nih” seru Hasan.

“Biasanya sih saat ada sebuah ketidak mampuan untuk menggapai sesuatu; baru kita berdoa. Biasanya begitu. Betul opo betul Mas? ”

“100 persen tuanku” kata Hasan sambil tergelak.

“Nah….perasaan tidak mampu, sikap merendah itu, pakailah juga dalam perjalanan menuju Allah.” Kata Pak Gembong sambil mengarahkan jarinya menunjuk jalan raya yang sore itu lumayan padat. Mungkin maksudnya menggambarkan perjalanan manusia menuju Allah.

Hasan masih menyimak sambil menyetir sambil memasang telinga.

“Coba tengok kehidupan kita. Sehari beriman, besok berdosa lagi, besoknya beriman lagi, besoknya sibuk terjerat dunia lagi. ” Pak Gembong menambahkan. “Kalau kita mengandalkan kemampuan kita, kan rasa-rasanya ga akan sampai kita ke Allah. Bener ga?”

“Maksudnya, memang kemampuan kita itu sejatinya tidak bisa untuk menempuh perjalanan menuju Tuhan? Opo piye Pak Mbong? ”

“Lha kalau ngandelin kemampuan kita,mana mungkin sampai toh. Jujur-jujur aja coba, Mana mungkin sampai. Dosa segunung. Sehari bener sehari salah. Ibadah ga ada yang total. Kan ga akan sampai kita?”

“Wah kalau ngelihatnya begitu ya ga akan berhasil kayanya Pak Mbong. Dosa terus kayanya kita ini, hehehe. Lha tapi kan Allah Maha Baik. Mosok yo Allah ga kasihan dan membantu kita”

“Lha iku maksude Mas Hasan…perasaan bahwa ‘kalau ngandelin kemampuan kita sendiri ga akan mampu sampai ke Allah‘ itulah yang harus dipakai. Perasaan butuh pertolongan Allah itulah yang mesti dipakai.”

Hasan membelok dan tak lama lalu dijebak deretan panjang mobil yang seperti parkir di perempatan lampu merah. Hasan menarik break dan menoleh ke Pak Gembong yang melanjutkan celotehnya.

“Saat sholat. Jangan mikirin khusyu lah. Mikirin dapet sebuah sensasi begini atau begitu. Tapi saat sholat pakailah mentalitas yang sama pas kita minta sebuah kebutuhan duniawi lewat doa. Sholat itu sebuah interaksi kita minta tolong diantar menuju Dia.”

“Maksudnya, pas sholat saya tidak usah sibuk memperhatikan khusyu apa tidak, tak usah memperhatikan sensasi begitu Pak? ”

“Ya sholat saja sebagaimana Rasul sholat Mas. Maksudnya secara lahiriah ya dijaga, segala tata aturannya dipenuhi. Tapi secara batin, sikap mental, harus dibenerin juga. Sholat itu, umpamanya ni, sebuah bentuk minta tolong ke Allah, bukan sebuah bentuk unjuk prestasi”

“Bukan unjuk prestasi?”

“Ya bukan, bukan memperlihatkan ketekunan dan kehebatan diri, tapi ibarat orang ngetuk pintu dan mau minta tolong. Orang minta tolong itu kan berarti memang ngaku dia ga bisa, namanya juga minta tolong.”

“Ooooh…harus ada Perasaan bahwa kita tahu diri kita lemah, dan ga akan sampai ke Allah tanpa bantuan Allah, begitu maksudnya Pak?”

“Nah itu…..itu kuncinya. Sama juga saat zikiran, pakailah juga mentalitas itu. Sikap minta tolong pada Allah. Apapun ibadah kita, hanya merupakan ejawantah dari sikap minta tolong, dan perasaan tak mampu kita itu Mas.”

Hasan mengangguk kecil. Dan mengetukkan jemarinya pada stir mobilnya.

“Yang menarik mas, jika kita terus menerus beribadah dalam sikap mental begitu, maka…..nanti kita tak akan kehilangan harapan.”

“Kita tetap bisa optimis menuju kepada Allah meskipun ibadah kita jelek? ”

“Lha, kalau saat orang minta tolong, kira-kira dia ngandelin dirinya apa ngandelin yang dimintain tolong? ”

“Ya pasti ngandelin yang dimintain tolong lah Pak mbong, namanya juga minta tolong, hehe.”

“Lha itu mas. Nanti kita baru ngerti maksud ulama-ulama dulu. Jangan tengok amal, just do it saja, tapi dalam keseluruhan amal itu; tengoklah Allah. Dan minta tolong pada Allah agar diperjalankan. Bukan berarti tidak beramal lho. Beramal tetap, tetapi sikap mental pas beramal kudu dirubah…..Bukan sibuk ngitungin amal, tapi sibuk dalam tiap beramal dia pakai mentalitas seperti orang minta tolong ke Allah.”

“Ngerti…ngerti pak Mbong. Bener juga ini Pak Mbong. Kalau kita beramal, mendapatkan letih dan putus asa, jangan-jangan ga ada lagi sikap interaksi semacam itu kepada Allah ya Pak? Tidak ada lagi sikap minta tolong? Mungkin kita kaya orang sibuk sendiri gitu ya Pak? ”

Pak Gembong terkekeh. “Nah….itu udah mantep dirimu mas, hehe kalau mentalitas kita sudah begitu, nantinya ibadah kita akan menanjak dengan sendirinya, karena ditolong oleh Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri… Sebaliknya, kalau ibadah kita menghasilkan rasa kecewa dan putus asa, Jangan-jangan selama ini kita menuju Allah dengan mengandalkan diri sendiri.”

“Wuih bener iku Pak, Maka kita akan selalu digagalkan oleh Allah. Sebagai bentuk pembelajaran. Sampai kita ngerti, bahwa ga akan bisa menuju Allah, tanpa sikap meminta tolong pada Allah.”

“Dahsyat iku mas….eh….eh lampu ijo…lampu ijo”

Klakson mobil di belakang mereka sudah menyalak, lampu hijau. Hasan tersadar, lalu sigap melepas break dan menggeser persnelling ke depan lalu meluncur lagi sambil terus bercerita dan sekali-kali mengangguk mendengarkan. Dan mereka kembali berjibaku dalam rapatnya lalu-lintas jakarta. Meniti jalanan yang riuh, dalam pencarian makna hidup yang mengantarkan mereka pada jalan pulang.

——-

*) DZIKIR KOPI PAK GEMBONG

*) AKAR-AKAR DEDAUN DAN AKU

*) BERKAH DI POJOKAN MUSHOLLA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *