DUA YANG MEMBUATMU BERJALAN

Dalam banyak hal, Rasulullah SAW selalu qona’ah, nrimo ing pandum, akan tetapi satu-satunya hal yang Rasulullah disuruh untuk meminta tambahan akannya, ialah ilmu.

Do’a sebelum belajar, yang biasa kita baca, intinya adalah meminta tambahan ilmu ke atas ilmu yang kita sudah ada.

kenapakah kita disuruh meminta tambah akan ilmu? pertanyaan ini ternyata akhirnya terjawab, seiring dengan pertanyaan lawas saya sendiri, mengapa Musa as masih meminta melihat Allah SWT padahal kita tahu beliau kalamullah, dan Ibrahim as meminta agar Allah menunjukkan bagaimana caranya Allah menghidupkan yang mati? sedangkan beliau khalilullah. Apa mereka tidak yakin?

Ternyata ada kaitannya. Yang satu adalah “ilmu”, yang kedua adalah “penyaksian” atau iman. Dua hal yang dengan dua hal itulah Allah meninggikan derajat manusia, dengan ilmu dan iman. Dengan dua hal itulah manusia “berjalan” menujuNya. Yang sejatinya DIA tak kemana-mana.

Banyak ulama tasawuf yang kemudian menyadarkan saya bahwa di dunia ini, kita tidak akan bisa “melihat” Tuhan dalam artian harfiah. Melihat dengan mata fisik, dan yang dilihat adalah “diriNYA”. Dalam pengertian begitu manusia tidak akan bisa.

untuk mengutip kekata ulama klasik dalam Al-Hikam, “sampaimu kepada Allah (wushul) adalah sampaimu kepada pengetahuan tentangNya. Karena mustahil DIA disentuh atau menyentuh sesuatu.”

karena DIA adalah perbendaharaan tersembunyi yang selamanya akan tetap rahasia. Seorang arif mengatakan, apabila sudah “kenal” barulah tahu bahwa kita tak tahu apa-apa tentangNya. Karena rahasia diriNya tertutup rapat.

Artinya, dalam perjalanan manusia berupaya mengenali Tuhannya, umpamanya lewat menempuh perjalanan spiritual didalam agama, yang mereka dapatkan sebenarnya adalah khasanah ilmu yang semakin kaya.

Barangkali, di dalam perjalanan mereka menjadi mengerti akan kaitan kenyataan hidup dengan af’al Tuhan. Menjadi mengerti kaitan asmaul Husna dengan fragmen-fragmen di dalam hidup manusia. Tetapi tetap tidak akan mencapai pengertian yang harfiah bahwa manusia melihat Tuhan pada zat-Nya dengan mata fisik manusia. Tidak.

Akan tetapi khasanah ilmumu yang bertambah karena anugerahNya. Caramu memandang kehidupan, dan pada gilirannya caramu menafsirkan tentang DIA. itu yang menjadi berbeda hari ke hari. Dengan ilmu DIA membuatmu “berjalan”.

Di keping satu lagi, jika bukan ilmu yang diberikanNya kepadamu, DIA akan menganugerahkan ketersingkapan. Umpamanya khasanah dunia batin terlihat oleh kita. Itu pada gilirannya menguatkan keyakinan.

Akan tetapi, tetap saja segala yang tersingkap itu bukan DIA. Melainkan khasanah keluasan kreasiNya. DIA sendiri tetap rahasia. yang bertambah padamu adalah keluasan interpretasimu mengenaliNya. Dengan itu DIA membuatmu “berjalan”.

-debuterbang-

MENYUSUN ULANG MAKNA LILLAH (2)

Mempelajari spiritualitas islam, membuat saya mau tak mau merekonstruksi ulang makna “Lillahi ta’ala”. Apa maksudnya berbuat untuk Tuhan, itu?

Kita mudah untuk mengerti kaitan makna Lillahi Ta’ala dengan ibadah ritual, semisal “sholat”, yang adalah suatu sikap menyembah, tentulah gampang dimengerti bahwa penyembahan tentulah untuk Tuhan.

Tetapi bagaimana dengan hal-hal yang tidak langsung berkait dengan ritual? Misalnya ke pasar beli mangga. Bagaimana menyingkronkan urusan ke pasar beli mangga dengan makna Lillah?

Dulunya, sebelum bersentuhan dengan kajian spiritualitas islam, saya memahami hal ini seperti ini. Umpama kita ke pasar beli mangga, beli mangga untuk dimakan keluarga, menafkahi keluarga itu adalah perintah Tuhan, maka dengan menuruti perintah Tuhan menafkahi keluarga maka terikutlah urusan beli mangga menjadi Lillahi ta’ala juga.

Meskipun kadang-kadang rasa di hati ya memang pengen saja beli mangga. Tidak terlalu sufistik juga sih alasannya. sekedar pengen.

Sekarang barulah saya sedikit mengerti bahwa jika dipandang secara sufistik, urusan beli mangga, dan urusan lainnya, justru tidak bisa keluar dari makna Lillahi ta’ala.

Para guru mengatakan, tujuan besar kehidupan ini adalah menceritakan DIA. Tidak diciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk mengibadahiNya. Menurut Ibnu Abbas, maksudnya adalah kita diciptakan untuk “mengenali”Nya.

Dan jalan pengenalan itu adalah kehidupan kita sendiri-sendiri. Setiap orang bermain peran dalam kehidupan. Peran yang menzahirkan ceritaNya.

Dengan menyadari bahwa kita terikut dalam jejaring peran dalam drama hidup, dan setiap peran adalah mengandungi suatu fungsi tertentu yang pasti berhikmah, kita bisa melihat hidup secara lebih luas. Keluasan yang tidak bisa keluar dari makna Lillah.

Umpamanya, saya membeli mangga, dengan membeli mangga kemudian si pedagang mendapatkan rezeki. Kemudian si pedagang bisa menafkahi anaknya. Boleh jadi saat itu anaknya sedang ada keperluan mendadak. Maka membeli mangga adalah menjalankan suatu fungsi dalam cerita.

Atau kalau didramatisasi lebih jauh, mungkin bisa begini, saya membeli mangga, dengan membeli mangga kemudian anak si pedagang bisa mendapat uang jajan. Mungkin saja anaknya ternyata seorang yang urakan dan kerjanya mabuk-mabukan. kemudian dia dipenjara. lalu di dalam penjara itu dia menemukan hidayah. Membeli mangga, menjalankan fungsi tertentu dalam jejaring drama.

Semua itu memang dramatisasi. Tetapi idenya “realistik”, bahwa kehidupan kita dan kehidupan orang lain semuanya terjalin dalam jejaring fungsi dan aksi reaksi yang kompleks. yang menceritakan tentang DIA.

Dan sebenar-benar “alasan” dibalik sesuatu, mengapa itu terjadi, hanya Allah sendiri yang mengetahui. Yang jelas, semua berhikmah.

Menjalani seluruh partisi kehidupan kita dalam kesadaran bahwa kita mengikut peranan yang ditulis oleh Nya, dalam menzahirkan ceritaNya. itulah yang saat ini saya baru sadari sebagai bagian dari makna Lillahi ta’ala.

Hidup kita ini sesungguhnya dalam pengabdian. karena kita tidak bisa lari dari peran dan fungsi penciptaan. Maka semuanya tunduk dalam kisahNya.

Sebuah hadits mengatakan bahwa setiap orang akan dipermudah melakukan apa-apa yang sesuai dengan tujuan penciptaan.

Dengan menyadari bahwa kita melakukan sesuatu Lillahi ta’ala-lah maka kita bisa keluar dari kegamangan. Karena kadang-kadang di dalam kehidupan ini kita bingung dengan baik dan buruk.

Misalnya, seorang manajer yang diharuskan mengambil keputusan yang tidak populer, yaitu mem-PHK sebagian karyawan karena perusahaan akan colapse atau bangkrut. Tidak ada jalan lain.

Seorang yang lembut hatinya, akan menjadi gamang, karena dia merasa dengan mem-PHK sebagian karyawan maka dia telah membuat sulit hidup orang lain. Lebih baik dia berhenti saja menjadi manajer daripada harus masuk dalam situasi sulit.

Dulu saya mengira itulah putusan yang benar.

Setelah memahami makna Lillahi ta’ala, barulah saya mengerti bahwa lari dari putusan yang sulit sesungguhnya bukan kebijaksanaan.

setiap orang menjalani peran sendiri-sendiri dalam mensukseskan drama Ilahi. Maka seorang manajer yang terpaksa masuk dalam situasi seperti itu, akan “Lillahi ta’ala” jika dia menyadari bahwa keseluruhan gerak hidup dia dan karyawannya dalam genggaman Allah. Dan keputusan yang dia ambil adalah salah satu bagian dari plot cerita, yang nantinya akan menghantar setiap orang untuk masuk ke dalam babak-babak baru dalam hidup mereka masing-masing.

Maka sang manajer pun berani mengambil keputusan yang sulit. Karena kebijakannya sudah melintasi rasa emosional yang sempit. Kebijakan yang melampaui rasa kasihan. Karena mengerti tentang “hidup” secara lebih luas. Karena mengerti semua orang menjalani takdirNya.

Terlebih, jika sekali waktu merasakan kondisi ruhani dimana kita menyadari bahwa di dalam diri manusia ini ada bagian ruhani yang sadar, mengamati, dan terpisah dari realitas jasad di luar. Maka menjadi tahulah kita bahwa benarlah semua ini adalah peranan yang sudah ditulis olehNya. Kita hanya penyaksi.

Sekarang jika anda ingin pergi ke kantor, atau ke mini market, renungi sejenak mengapa kita tergerak berangkat? Siapa yang menggerakkan? Dan pahami bahwa kita adalah bagian dari plot cerita. Maka menjalani peran sebagai bentuk pengabdian, itulah Lillahi ta’ala.

RADIUS KONTRIBUSI DALAM DRAMA KEHIDUPAN

DRAMA

Satu hal yang paling sering dilakukan seseorang dengan kecenderungan Koleris, adalah mengoreksi kesalahan orang lain. Saya dulu begitu. Padahal diri sendiri juga banyak cela.

Sampai akhirnya saya menyadari bahwa setiap orang memiliki jalannya sendiri. Dan tidak baik untuk selalu turut campur pada sesuatu yang “tidak masuk dalam radius” kita.

Radius tanggung jawab itu, berbanding lurus dengan amanah pribadi kita. Karena setiap orang hidup dalam peranan tanggung jawab masing-masing.

Sepanjang perjalanan saya dari rumah menuju kantor, misalnya. Ada puluhan bahkan ratusan masalah. Saya menyeberangi saluran air yang barangkali di dalamnya ada sampahnya. Mungkin sampah itu kalau dibiarkan akan menggenang dan menyumbat saluran. Belum lagi saya melewati jalan dengan anak-anak yang sebagiannya mungkin ada yang tak bersekolah. Saya melintasi jalanan yang macet di kampung rambutan. Ada keriuhan di warung kopi, barangkali ada orang yang belum bayar hutang. Mungkin di antara mereka ada yang anaknya sakit. Mungkin di antara sekian orang lalu lalang ada yang pencuri. Di mobil yang saya tumpangi barangkali rencana maintenance mobilnya tak terlalu elok. Ada yang harus dibenahi dari sisi pengelolaan perusahaan penyewaan mobil. Disebelah saya seseorang membaca whatsapp group yang boleh jadi ada berita hoax di dalamnya.

Ada triliunan masalah, dan bisakah kita ikut andil dalam semua masalah?

Tidak bisa. Karena kita mengetahui batas “radius” kontribusi kita.

Landasan yang lebih religius-spiritual mengenai “radius kontribusi” kita ini adalah juga bahasan tasawuf. Karena berkait dengan “takdir”,  karena berkait dengan pemahaman akan “peranan”.

Saya ambil contoh. Buya Hamka. Beliau dijebloskan ke dalam penjara karena berseberangan dengan politik Soekarno kala itu. Tidak ada orang yang tahu mengapa beliau dipenjara, tetapi setelah beliau lepas dari penjara baru kita mengerti bahwa beliau “tertakdir” menyelesaikan Tafsir Al-Azhar di dalam penjara.

Di dalam setiap kejadian, ada “rencana”NYA. Dan setiap orang bermain peran tanpa mereka sadari, mensukseskan renancaNYa itu.

Bagaimana jika kita, anda dan saya, diperkenankan kembali ke masa silam, dengan sebuah pengetahuan bahwa di masa depan Buya akan bebas, dan justru beliau akan bisa menyelesaikan Tafsir Al Azhar di penjara. Akankah kita berontak dengan kejadian itu? Saat kita berontak, maka kita menyelisihi rencana Tuhan. Karena –dalam ilustrasi ini- kita sudah tahu rencanaNya bawa nanti Buya akan bebas dan malah tafsir Al Azhar selesai dibuat dalam penjara. Itu rencanaNya. Akankah kita menggagalkan rencanaNYA? Emangnya bisa?

Tentu ada pertanyaan, “Lho… itu kan kalau kita sudah tahu rencanaNYA? Lha ini kita belum tahu.”

Justru untuk yang belum tahu itulah, kajian tasawuf mengenai “kontribusi” dan “peranan” ini menjadi penting.

Pertama, bahwa setiap orang menunaikan peranan mereka masing-masing dalam kehidupan ini. Polisi, penjahat, orang baik, ulama, pemimpin masyarakat, pedagang, setiap peranan tak lain tak bukan adalah menzahirkan ceritaNYA. Yang mana setiap cerita itu berhikmah.

Kedua, tidak setiap kita harus berkontribusi atau dalam lain kata “ngerecoki” af’al yang sedang berjalan. Sebagaimana ilustrasi tadi, sepanjang jalan dari rumah menuju kantor, berapa banyak af’al sedang berlaku, bahkan saat anda sedang membaca ini ribuan af’al sedang berjalan. Mungkin di sekitar anda ada orang yang sedang sakit, ada yang bermasalah, ada yang berniat jahat, ada potensi bahaya, ada keindahan, dan apakah kita harus ngerecoki semuanya? terlebih kalau kita tahu bahwa setiap af’al yang berlaku adalah menzahirkan ceritaNYA, dan menggiring setiap orang menuju peranan mereka sendiri-sendiri – yang berhikmah-. Tentu kita akan “segan” ngerecoki af’al Tuhan. Dan lagi kita tak bisa turut andil dalam segala hal.

Ketiga, ada adabnya untuk kontribusi. Yaitu sesuaikan dengan radius kemampuan kita. Juga sesuai dengan peranan kita masing-masing.

Yang kebagian peranan menjadi Umara’ pemimpin di tengah-tengah masyarakat pembuat kebijakan, tokoh masyarakat, maka mereka punya radius lebih luas untuk bertindak. Inilah berbuat dengan “tangan” mereka.

Yang memegang posisi ulama atau orang yang didengar dan semisalnya, mereka terkena radius untuk berbuat dengan lisannya.

Yang tidak masuk dalam radius itu semua, cegahlah kebatilan dengan “diam”.

Diam disini dimaknai secara lebih spiritual, yaitu menyadari pergerakan af’al Tuhan dalam kehidupan ini. Dan yakin bahwa yang berlaku adalah kebaikan pada ujungnya. Dan menyadari bahwa untuk saat ini, peranan kita tidak secara langsung bersinggungan dengan peranan orang lain yang terlihat buruk dalam kacamata manusiawi kita yang terbatas.

Agar tidak overdosis.

Baik diam, maupun bergeraknya kita untuk kontribusi, akan menjadi lebih bermakna setelah mengetahui hal itu. Kita diam karena menyaksikan af’al Tuhan, dan paham bahwa kejadian yang berlaku tidak menyeret kita secara langsung. Kita berkontribusi karena memahami peranan, dan menyaksikan bahwa kita “terikut” dalam rencanaNYA.


*) Gambar ilustrasi dipinjam dari sini

MEMINJAM SERULING DAWUD

Ada kesan yang berbeda sekarang setiap kali mendengarkan lagu. Saya memang bukan penikmat musik beneran, tetapi semenjak bolak-balik kantor naik shuttle bus, saya sering killing time dengan mendengarkan lagu. Di dalam perjalanan mendengar lagu itulah saya merasakan betapa Allah itu indah.

Saya teringat kisah Dawud as. Yang begitu merdu sampai konon angin berhenti bertiup saat Dawud as. Bersenandung.

Betapa dunia ini adalah Maha Karya Tuhan. Seni yang meruah-ruah.

Kadang-kadang saya menjadi iri. Mengetahui fakta bahwa orang-orang yang dititipkanNya darah seni, mereka itu sebenarnya kecipratan Jamalnya Tuhan.

Sebagaimana Allah mengajar manusia melalui kalam. Maka setiap orang sejatinya hanya kalam, pena, media ilmu mengalir dari Empunya.

Begitu juga jika Allah menampakkan keindahan, maka keindahan itu tersemburat lewat makhlukNya.

Ya jadi aneh sekali memang. Haru dan “iri” campur aduk pada saya.

Sempat saya berdoa, ya Allah…. titipkan juga keindahan itu pada saya. Dalam apapun bentuknya, nada, atau kata-kata, atau apa saja.

Sempat berapa lama saya akhirnya lupa dengan apa yang saya mintakan itu. Tapi ndilalah kemudian saya tertumbuk pada sebuah tulisan dari Rumi, kembali.

Diceritakan oleh Rumi, betapa di tengah masyarakat yang piawai dengan susastra arab, Rasulullah terkagum dan juga berhasrat pada keindahan susastra itu.

Tapi kemudian hasrat itu hilang karena Rasulullah dipenuhi oleh ingatan padaNya.

Dan ketika hasrat atas keindahan susastra itu hilang, maka Rasulullah diberikan Al Qur’an, puncak susastra.

Tersenyum saya membaca itu.

Kagumi keindahan sebagai media DIA bercerita. Nanti setelah keindahan fisikal kalah dengan ingatan akanNya, maka indah itu akan menjelma sendiri pada kita.

Umpama dipinjami seruling Dawud as. Untuk mengabarkan tentang DIA

HADIAH DARI PAK RW YANG KETUS

angrySaya heran juga mengapa beliau begitu ketus. Pagi tadi saya menemui pak RW di alamat rumah saya yang dulu, untuk meminta tanda tangan surat pengantar. Sambutannya tak seperti biasa, kali ini sedikit ketus.

Saya membatin barangkali beliau sedang sibuk atau sedang banyak problem, okelah tak apa. Karena sopan santun dan unggah-ungguh sebagai warga, saya tak tampilkan raut tidak suka, padahal saya juga rada kesel karena beliaunya ketus, hehehe.

Sepanjang perjalanan pulang, saya “tersadarkan” sebuah fakta, bahwa meskipun dalam status sebagai seorang warga, saya menampilkan bentuk kesopanan. Tetapi sebagai seorang pribadi, di dalam diri saya, yang lebih dalam dari tampilan “seorang warga”, ada pribadi yang sedang kesal.

Kita bisa mengelupasi status warga dari diri seseorang. Sebagaimana status RW atau RT atau lurah, atau macam-macam status bisa kita lepaskan dari pribadi seseorang.

Umpamanya sepulang kita dari kantor, di rumah kita sudah bukan direktur lagi. Tetapi kita hanya seorang Bapak, atau seorang suami misalnya.

Permasalahannya adalah, kita selama ini “terhenti” sebatas mengelupasi status yang di luar itu saja. Tidak sampai “yang paling dalam”.

Misalnya kita buang status manajer di kantor. kita hanya seorang Bapak. Kita buang status sebagai Bapak di rumah, maka kita hanya seorang manusia yang umpamanya bernama “Hasan”. Kita hanya bisa sampai sini saja, biasanya.

Padahal, kalau kita masuk lebih dalam lagi, sesuatu yang kita kenal dengan nama “Hasan” itu pun masih bungkus. Baju mental. Yang dibentuk oleh pengalaman hidup dan kumpulan ilmu yang dimiliki. itulah Hasan. itulah Ego bernama Hasan. Kalau kita jeli, di dalam sana, ada “yang mengamati”. Dia bukan “Hasan”, bukan sesuatu yang selama ini kita kenal dengan diri kita.

Dibaliknya Hasan, ada sesuatu yang sadar dan merekam semua pengalaman hidup itu. Dalam literatur islam, itulah disebut “hati”. Bahasanya Imam Ghozali, hatilah fakultas ilmu. Tempat segala pengalaman hidup dan tempat segala ilmu dan pelajaran terekam. itulah ‘hamba’.

Secara jujur saya akui, dalam beribadah misalnya, saya seringkali masih berbungkus baju mental. Bukan sebagai ‘hamba’.

yang mengadu masih baju Ego. Jika saya bernama Hasan, maka yang mengadu adalah Hasan. Karena Hasan adalah kumpulan pengalaman hidup, maka Hasan memandang Tuhan dalam kacamata manusiawi si Hasan.

Tak urung, Tuhan terpandang dalam citra yang bersifat-sifat, sesuai dengan kacamata Hasan.

Jika Hasan sedih, dipandangnya Tuhan dalam citra Yang Menghapus kesedihan.

ini pun sudah bagus, tapi harus hati-hati, agar hanya menyifati Tuhan dengan sifat yang layak bagiNya. seumpama Asmaul Husna.

Tetapi jika bisa masuk lagi, lebih dalam dari sebatas baju Ego si Hasan. Maka akan ditemui yang hamba itu.

yang bukan direktur, bukan bapak, bukan Hasan, bukan macam-macam peranan apapun. Tetapi yang menyaksikan pagelaran. hamba yang menyaksikan.

Jika hamba yang menyaksikan itu yang berdo’a, maka karena dia tidak berbaju ego dan tak berbaju mental apapun, DIA tak memandang Tuhan dalam citra sifat-sifat yang bermacam-macam. Sang hamba memandang Tuhan sebagaimana DIA saja. yang tiada umpama.

Tersadarlah saya, bahwa pak RW yang saya temui tadi pagi pun hanya baju. Baju terluar bahkan. dibaliknya mungkin ada seseorang yang bernama -katakanlah- Pak Raden misalnya.

Dan pak Raden pun hanya baju peranan. Di sebaliknya Pak Raden ada sang hamba yang juga mengamati dan menyaksikan.

kita dan mereka sama saja.

Lalu kesal saya pun hilang


*) Image Sources

DIBERI ALASAN MENEMUI TUHAN

Salah satu ciri kultur perusahaan swasta adalah persaingan yang ketat. Orang yang tak kuat dengan persaingan akan terlempar keluar.

Permasalahan saya pribadi, karena saya bekerja pada perusahaan swasta, adalah bagaimana menyesuaikan diri dengan kultur persaingan yang ketat itu, sedangkan sifat atau kecenderungan alami saya adalah malas unjuk gigi, dan dalam tataran tertentu bisa dibilang kurang ambisi.

Seringkali saya berdoa, agar Allah memberikan kemudahan. Bagaimana dengan keterbatasan dan kelemahan pribadi agar bisa survive di medan yang ganas.

Alhamdulillah salah satu kemudahannya yang saya amati ialah seringkali saya diberikan “ruang”. Maksudnya, tanpa perlu selalu unjuk gigi atau cari perhatian, pimpinan acapkali memanggil saya karena memberikan tugas atau disuruhlah saya membuat macam-macam laporan investigasi masalah.

Dengan banyaknya masalah, maka saya ketempuan bekerja dengan intensitas yang lebih banyak bertemu bos saya. Tanpa perlu saya mencari-cari kesempatan dan “ruang” tetapi “ruang” itu sendiri dibangunkan oleh beliau. Lewat tuntutan-tuntutan tugas yang banyak dan seringkali melelahkan, tetapi imbasnya adalah pertemuan saya dan beliau menjadi lebih sering.

Dari situ kemudian beliau mengenali saya. Dari situ kemudian beliau memahami saya secara lebih komprehensif. Misalnya, selain dari pendiem dan kelihatan tak punya ambisi atau target, rupa-rupanya anak ini bisa juga kalau disuruh kerja. Begitu.

Merenungi tema ini, saya jadi teringat seorang guru pernah mengatakan bahwa seringkali dengan begitu banyaknya masalah dalam hidup, membuat kita semakin-makin banyak “naik” dan meminta tolong pada Tuhan, maka kita tanpa sadar membangun kedekatan.

Baru saya mengerti sebenarnya lewat kesulitan-kesulitan itulah Allah memberikan kita “ruang” untuk selalu melapor. Tanpa diberikanNya kita ruang, maka kita akan tersisih dari orang-orang yang by nature -secara kecenderungan alamiahnya- sudah dekat dengan Tuhan.

Sebagaimana Tuhan menolong kita dalam dunia pekerjaan, begitu pula DIA menolong kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makna yang lebih spiritual.

Kedekatan kita padaNya adalah karena DIA berbaik hati memberikan kita ruang mengadu.

Ketika Allah memberi, maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan belas kasih-Nya kepadamu. Dan ketika Dia menolak memberimu, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya. Dan di dalam semuanya itu, Dia sesungguhnya hendak memperlihatkan Diri kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya. (al-Hikam – Syekh Ibn Athailah)

Dalam satu wejangan, seorang arif (Ust. H. Hussien Abd Latiff) pula berkata. “Anakku, kalau kita mengatakan kepada Allah ‘aku rindu kepadaMu’, maka bagaimana kita tahu Allah pun rindu kepada kita?”

Jawabannya ialah jika kita mengatakan kita rindu kepadaNya maka itulah tanda DIA merindui kita. Karena DIA tlah menuliskan kita menyapaNya.

Maka dengan segala kekurangan dan ketidak sempurnaan amal, pagi ini saya bersyukur kepada Allah untuk telah diberikan momen-momen kedekatan. Karena menyadari bahwa tiadalah akan terjadi saya menyapaNya tanpa terlebih dulu DIA tuliskan agar saya berdoa.

Lebih cepat rahmatNya sampai pada kita, ketimbang amal kita sampai padaNya.

ISYARAT DARI SEBUAH BUKU LOAK

Serasa agak tidak percaya, saya mendapatkan “isyarat” dari sebuah buku loak. Buku yang saya beli semasa masih kuliah di Unpad Jatinangor dulu.

Ceritanya, saya sudah selesai sidang. Dan dimasa menanti wisuda, saya jalan-jalan di sebuah pasar kaget yang digelar setiap hari minggu. Disanalah saya beli sebuah buku loakan. Buku bekas dengan judul kalau tak salah “English Conversation for Oil and Gas Industry”. Berbekal buku itulah saya menggenjot kemampuan berbahasa inggris yang alakadarnya.

Saya menghapal percakapan demi percakapan disana, dan memraktekkannya sendiri di rumah berbekal headset pinjaman dari teman dan sebuah software audio. Saya mulai berlatih bahasa inggris dengan harapan bisa lulus interview pekerjaan.

Di buku itu, disebutkan kisah seorang pekerja minyak lepas pantai. Dia bernama Pangulu. Seorang biasa yang bekerja sebagai insinyur di lepas pantai, pengeboran minyak.

Tak ada yang terlalu istimewa pada diri Pangulu, selain dari dia selalu berusaha untuk menyenangkan orang terdekatnya. Dikisahkan Pangulu sebagai seorang yang easy going, dan untuk “killing time” membunuh kebosanan di anjungan pengeboran, Pangulu selalu memainkan sebuah piano yang ada di ruang rekreasi. Atau kadangkala bermain gitar. Hal yang sederhana, tetapi memunculkan rasa bahagia pada orang-orang.

Kisah Pangulu, yang saya ingat, begitu membekas bagi saya. Terutama karena tak lama setelah itu saya sendiri pun akhirnya diterima bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengeboran migas. Maka spontan literatur pertama yang teringat di benak saya adalah buku loak yang saya beli itu, dan ceritra pertama yang terbetik adalah tentang Pangulu. Orang biasa, yang belajar memberi kebahagiaan dengan cara yang biasa.

Sebuah kebetulan sekali, bukan?

Cuma memang saya tidak bisa memainkan alat musik. Sama sekali tak bisa piano atau gitar. Akan tetapi pagi ini kembali saya merenungi bahwa pesan-pesan kebaikan yang dibungkus dengan baju “seni” seringkali bisa awet dan tahan lama.

Sebagai misal, lagu ilir-ilir, tembang jawa yang sarat nuansa spiritualitas itu, bertahan begitu lama.

Atau misalnya juga serat wedhatama, yang bernuansa islam dengan balutan susastra jawa yang begitu apik.

Atau, yang sangat lekat dan juga mempengaruhi cara pandang saya, misalnya Al-Hikam, kitab kumpulan aforisma Ibnu Athaillah. Aforisma yang begitu indah, dengan bahasa-bahasa kiasan yang ternyata sangat dalam dan bermakna.

Atau dari tradisi lainnya, misalnya kumpulan sloka Bhagavad Githa. Beberapa bagian dari sloka Bhagavad Githa memang tak terlalu seiring dengan pandangan islam. Tetapi tentang pergolakan psikologis dan filosofi tentang peranan manusia dalam kehidupan; sangat menarik dan layak untuk dibaca.

Kebenaran…. jika disampaikan dengan bahasa yang terlalu “telanjang” seringkali memang kurang pas. Tapi tentu tak semua hal bisa dikiaskan, tanpa membuat orang terdistorsi pemahamannya.

Pada pokoknya, saya ingin kembali menjadi seperti kisah Pangulu. seseorang biasa yang namanya hanya terbit di sebuah buku loak. Tetapi dari kontribusinya yang biasa saja, orang-orang sudah bisa merasakan kebahagiaan.

Mudah-mudahan, kebenaran yang dibajui dengan keindahan bisa menjadi langgeng. Dikenang lebih panjang dari usia penulisnya itu sendiri.

MENCARI ALASAN MENEMUI TUHAN

Saya mengamati diri saya sebagai orang yang mudah sekali trenyuh dan menemukan sisi melankoli dari hampir segala hal. Semisal pemandangan yang indah, dari lagu yang menyentuh, dari landmark bangunan bersejarah, dari cerita-cerita kepahlawanan, dari macam-macam. Tetapi paradoksnya adalah saya males sekali “jalan”. hehehehe.

Senang memungut hikmah, tetapi malas bergerak. Sungguh paradoks.

Kalau saya menengok ke belakang, dan merunut ulang semua hikmah-hikmah yang saya pungut sepanjang perjalanan, nyatalah keseluruhan jenak hidup saya adalah dipaksa untuk “berjalan”. Tanpa dipaksa, saya tidak akan “berjalan”.

Mulai dari meninggalkan kampung halaman. Dipaksa masuk ke dalam hutan, menyusur gunung dan lembah oleh kampus tempat saya kuliah. Dipaksa pindah ke jakarta oleh pekerjaan. Dipaksa “melaut” dan menghabiskan sekian minggu kontemplasi di tengah lautan yang dalam. Naik speed boat. Naik kapal capung. Naik pesawat. Naik perahu klotok. Dipaksa ke luar negri. Dan ditarik masuk dalam dunia kantor yang riuh dan padat dengan kertas-kertas kerja yang begitu Jakarta.

Semuanya “terpaksa”. Tetapi dari sisi keterpaksaan itulah saya menemukan hikmah.

Satu hal yang saya akhirnya mengerti bahwa kapasitas saya, barulah sampai pada “butuh alasan untuk bertemu hikmah”. Tanpa alasan-alasan, atau tanpa konteks hidup yang mana saya “dipaksa” menjalaninya, saya tak akan menemukan hikmah.

Memang ada segolongan orang yang disebut “Muqarrabiin” Orang-orang yang didekatkan pada Tuhan. Mereka ini, orang-orang yang sudah dekat pada Tuhan, tanpa perlu alasan-alasan.

Jika orang awam seperti kita, lewat ujian dan kemudahan hidup kita meniti sabar dan syukur, yang kemudian membuat kita merasakan dekat denganNya. Maka orang-orang Muqarrabiin adalah orang-orang yang sudah dekat dengan Tuhan sehingga kehidupan menjadi tawar bagi mereka, susah senang tak ada beda. Maka mereka mendekati Tuhan tidak lewat dualitas sabar dan syukur.

Seringkali, saya seperti ingin meloncati jarak. Saya langsung pada step “tidak ada apa-apa”. Seolah saya ingin mengejar pencapaian ruhani para arif yang “tak butuh alasan untuk bertemu hikmah”. Maka sekali dua kali saya mencoba “selalu” tak hirau pada dunia. Karena, saya ingin larut dalam mengingati Tuhan, tanpa lewat alasan-alasan.

Tapi ternyata saya tak bisa. Saya belum sampai ke sana.

Itulah sebabnya dalam kompleksitas hidup yang kadang-kadang begitu melelahkan, saya menyadari bahwa disitulah momen kedekatan padaNya terbangun. Dalam alasan-alasan kita yang begitu manusiawi. disitulah doa-doa menemukan jenak yang sangat pribadi. Memang ini level pemula, tetapi apatah itu pemula, dan apatah itu paripurna? Jika yang pokok adalah menemukan DIA.


*) Image taken from here

TASAWUF DI TENGAH MANUSIA MODERN

Spiritualitas dalam kehidupan modern seperti sekarang sangatlah diperlukan. Spiritualitas dalam arti keberagamaan yang juga mencakup sisi “batin”-nya. Tidak hanya aspek lahiriah.

Saya teringat dengan kebimbangan saya awal-awal masa bekerja dulu. Saya merasa hidup dalam dunia kerja adalah hal yang penuh dengan keriuhan dan hiruk pikuk masalah. Saya ingin lari dan menyepi saja. Banting setir dalam kehidupan asketis menjadi agamawan umpamanya seperti pertapa, hehehehe.

Sampai pencerahan pertama menyambangi saya dari kitab Al-Hikam. Secara pribadi saya sangat berterimakasih sekali kepada Ibnu Athaillah As Sakandari yang mengungkap polemik besar psikologi manusia. Dua poin yang saya garis bawahi adalah kajiannya mengenai asbab-tajrid dan kajiannya mengenai meninggalkan “tadbir”.

Menjadi orang “asbab” atau berjibaku dalam dunia kerja dan kehidupan yang hiruk pikuk, ataupun menjadi orang “tajrid” yang hidup asketis meninggalkan riuhnya dunia, menjadi sufi yang menyepi dsb. Adalah “peranan” yang sudah disematkan pada masing-masing orang.

Tidak semua orang harus hidup asketis, sebagaimana tak semua orang harus hidup bertungkus lumus dalam dunia kerja dan karya. Semuanya ada porsinya. Dan tindakan yang tepat adalah menjalankan kehidupan lewat jalur masing-masing, dengan syarat mengetahui tujuan kehidupan itu sendiri yaitu untuk mengenaliNYA.

Jika semua pekerja, insinyur, dokter, tentara kemudian berhenti dari karya mereka lalu menjadi ulama di pelosok, maka kehidupan tidak akan berjalan. Pencerahan Justru didapati dengan menyadari bahwa setiap kehidupan kita memiliki kontribusi sendiri pada pagelaran dunia, dan pagelaran ini semata untuk mengenalkanNYA. Maka seseorang menjadi “tenang” dan dapat berperan dalam takdirnya.

Belakangan saya temukan petuah Ibnu Athaillah ini senada dengan ceritra dalam Mahabharata. Dimana Arjuna mengalami konflik batin dalam perang kurusetra karna harus berhadapan dengan Duryadana yang merupakan saudaranya sendiri.

Sekilas arjuna ingin lari saja dari “peran”nya sebagai ksatria. Dan ingin hidup mengasingkan diri saja. Tidak ingin berkecimpung dalam huru hara.

Tetapi penasihat Arjuna, yaitu Khrisna menasihatinya bahwa lari dari peranan takdirmu adalah bukan solusi. Tetapi solusi sebenarnya adalah dengan menjalani takdir sebaik mungkin, dengan menyadari bahwa menjalani takdir adalah bentuk pengabdian padaNYA.

Dan satu cara untuk menghindari derita adalah bukan dengan tidak berbuat apa-apa, melainkan berbuatlah yang terbaik sesuai peranan, tetapi jangan mengharapkan “buah” dari perbuatan itu.

Jika kembali pada Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, “tidak mengharapkan buah” dari perbuatan kita, ini disebut beliau dengan istilah meninggalkan “tadbir”. Tidak mengatur-atur hasil. Jika berbuat A maka hasilnya harus B. Melainkan sepenuhnya menyerahkan urusan hasil kepada Tuhan, karena manusia tugasnya adalah berbuat. Dimana berbuat disini ditafsirkan sebagai menjalankan peranan sesuai takdirmu. Sesuai “dharma”.

Saya tak menguasai kisah Mahabharata sepenuhnya tentu. Hanya saja menarik sekali mengamati bahwa pergolakan batin manusia mencari arti hidup seringkali bersinggungan satu sama lain. Maka kebijakan hidup seringkali menjelma menjadi hal yang universal.

Hal ini yang jarang ditemukan manusia dalam kehidupan modern. Setidaknya bagi saya pribadi. Baru saya temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya setelah mempelajari aspek batin agama, yaitu tasawuf.

Dan seorang guru mengingatkan, awal beragama adalah mengenal Allah. Tetapi itu baru awal. Lanjutan dari pengenal pada Allah -lewat ilmu- adalah praktik keridhoan.

Keridhoan ini ternyata berkait erat dengan sadar akan “peranan” dalam konstelasi hidup.

Menarik sekali.

-debuterbang-

ADAB KACAMATA YANG TERBATAS

Mata sudah lima watt ini, tapi dari sore pengen menulis tentang ini dan baru sempat sekarang. Ceritanya tentang kehebohan di Cibinong City Mall hari kemarin.

Di lantai atas, terjadi kehebohan. Saya dan anak saya mengira kehebohan itu karena kondisi yang darurat, setelah tanya-tanya kepo ke orang-orang baru saya tahu bahwa kehebohan itu ternyata karena ada artis. Kirain sesuatu yang serius dan gawat, ternyata artis toh……. artis bule, dan saya tak hapal namanya siapa.

Di dalam hati saya waktu itu, sempat tercetus “siapaaaa lagi ni orang”. seakan-akan ada suatu kesalahan moral yang dilakukan orang tersebut. Padahal, dia tidak melakukan apa-apa. Tetapi benak bawah sadar saya mencap gesture dan gerak-gerik bule sebagai sesuatu yang tidak sopan secara kultur asia.

Lalu saya tiba-tiba tersadar. Karena saya hidup dalam kultur indonesia, katakanlah ada sedikit porsi jawa dalam kehidupan saya, maka saya menilai kehidupan dalam standar kesopanan ala jawa. Jika ada sesuatu yang melanggar tata kesopanan yang kurang njawani, maka saya tak terima, dan hal itu refleks saja dalam alam bawah sadar saya.

Bahkan dalam beribadah, misalnya berdo’a kepada Tuhan. Mengadukan masalah, lewat munajat misalnya. Maka mau tak mau saya akan memandang hidup dalam pola budaya dan keseharian saya. Misalnya, “Ya Allah….. tolonglah, kok orang-orang itu begitu banget…. kok ya mereka begini begitu…….” Misalnya begitu saya berdo’a.

Tanpa saya sadari, saya sudah mengira bahwa Allah “merasa dan berfikir” dalam alam budaya yang sama dengan saya. Seolah-olah Allah itu sesuatu yang sangat Indonesia. Seolah-olah Allah itu sangat timur sekali. Tentu ini hanya pengibaratan, tapi saya yakin sepenuh hati rekan-rekan paham maksudnya.

Mau tak mau, manusia mensifati Tuhan dalam kacamata persepsinya sendiri.

Padahal, Allah adalah juga Tuhan segala bangsa.

Bagaimana kita mempersepsi Tuhan, dalam pandangan begini, sangat perlu hati-hati. Itulah mengapa jika kita ingin berasyik-asyik dengan do’a, munajat, dan segala macam peribadatan lainnya, adab yang harus dimengerti ternyata adalah jangan menyifati Tuhan dengan sifat yang tak layak bagiNya.

Karena manusia itu sering mengira-ngira Tuhan itu begini begitu. Seolah-olah kalau kita marah maka Tuhan marah juga. Kita mengira Tuhan berfikir seperti kita. Padahal, kita sudah mempersepsi dia dalam cara pandang kita sendiri.

Seperti contoh klasik. hari hujan deras. Tukang cendol mempersepsi keadaan itu sebagai “Allah membenci saya”, sedangkan tukang ojek payung mempersepsi hujan itu sebagai “Allah sedang memberi saya rezeki”. Sama-sama hujan, tetapi Allah sudah dipandang dalam dua citra sifat, yang sebenarnya karena persepsi manusia itu sendiri.

Maka itu, penting sekali memahami adab-adab dalam memandangNya lewat pintu depan ini. Agar tak keliru mensifatiNya dengan sifat yang tak layak bagiNya. Sebuah panduan paling umum adalah : rahmatNya mendahului kemurkaanNya. itu panduan untuk memandang dari sisi depan, istilahnya begitu.

Dan saat seseorang sudah tidak lagi menyoal apa-apa atas kejadian hidupnya, maka Tuhan tidak lagi “terpandang” dalam citra sifat-sifat yang bermacam-macam.

Contoh sederhananya adalah misalnya dia sudah sangat ridho akan kejadian hidup. Maka si Tukang Cendol tadi, menerima kondisi hujan maupun kondisi panas. Saat hujang maupun panas sudah tidak jadi soal baginya, maka hilanglah persepsi dualitas sifat-sifat, yang seakan-akan Tuhan kadang-kadang baik kadang-kadang jahat. Karena persepsi itu adalah keterbatasan manusia itu sendiri, memandang Tuhan dalam kacamata manusiawi yang terbatas.

sederhananya, kalau mau berasyik-asyik dengan do’a dan curhat-curhat lewat kejadian hidup kita; jangan sampai kita berprasangka buruk tentang Tuhan. Sifatilah DIA dengan sifat yang layak bagiNya. Misalnya, pahamilah Asmaul Husna dengan baik, agar tak keliru memaknai hidup.

Tetapi, jika sudah bisa melepaskan diri dari dualitas, dan sudah menerima segala hitam putih susah senangnya hidup, maka Tuhan tak lagi terpandang dalam citra yang bersifat-sifat. DIA sebagai DIA semata-mata.

saya hanya tulis ulang sepemahaman saya dari wejangan seorang guru.  Dimana level yang terakhir itu, saya sendiri ga bisa-bisa, hehehehehe….. level bawah pun tak mengapa, asalkan tidak keliru adab menyifatiNya.