SPIRITUALITAS DALAM KEMACETAN

Kalau porsinya “Pas”, dan saya tak sedang terburu-buru menuju kantor, sebenarnya saya cukup bisa menikmati kemacetan.

Macet yang proporsional, dalam situasi yang tidak sedang mendesak, justru memberikan saya kesempatan untuk jeda sejenak dan menikmati pemandangan dari sudut yang biasanya tak kelihatan.

Seperti pagi ini. Macet yang sopan di atas fly over, memberi kesempatan menikmati setiap lekuk gedung-gedung jakarta yang padu padan dengan rumah-rumah yang kusut. Orang-orang yang sibuk dalam pagi yang lahir sangat prematur.

Di kota besar, pagi lahir terlalu dini dan malam lelap pada usia yang terlampau tua. Sejatinya kita dipaksa untuk hidup dalam rentang observasi yang lebih panjang dari biasanya bukan?

Tapi pelajaran hidup jarang terserap dan kebijakan jarang bisa dinikmati meski usia kesibukan lebih panjang, barangkali karena “jeda” yang kurang. Itu barangkali hikmahnya kadang-kadang Allah mentakdirkan jeda.

Saya teringat dulu jaman kuliah, seorang sahabat selalu ke kampus dengan motor bebek tua. Sangat tua sehingga tidak mampu berlari dengan kecepatan yang umum. Tetapi justru dengan pelan-nya itu, pada momen yang pas dan sedang tak ada hal mendesak; dia malah memberikan waktu menikmati sudut-sudut Jatinangor yang penuh dan semrawut. Detail anugerah yang tak terbaca jadi kelihatan.

Di dalam sholat, jeda sejenak itu dinamakan tuma’ninah. Di dalam haji dia disebut wukuf. Dan di dalam kehidupan…… dia adalah kebetulan-kebetulan kecil yang banyak kita temukan sehari-hari.

KENIKMATAN MENONTON HIDUP

1Ada satu “kenikmatan” lain yang saya baru mengerti, ketimbang kenikmatan untuk “tampil” dan menjadi menara gading di tengah khalayak, kenikmatan itu adalah asyik menjadi “pengamat” dan belajar dari kehidupan.

Dalam sebuah sesi pelatihan di salah satu kantor Client di Duri, Riau berapa tahun lalu. Ada materi mengenal diri secara psikologi. Pelatihannya dari kantor client sih, cuma saya beruntung untuk telah ikut dan bagi saya itu menambah wawasan.

Satu fakta disebutkan disana bahwa kecenderungan psikologi manusia bisa bergeser dari yang misalnya dominan koleris atau pengatur, menjadi lebih dominan sebagai orang yang kompromistis. Jadi karakter seseorang itu tidak rigid alias kaku. Bisa bergeser. Begitu kata para psikolog.

Salah satu yang membuat bergesernya karakter seseorang itu adalah karena “ilmu” yang dia dapat. Entah lewat belajar atau lewat pengalaman hidup. Berubah cara pandang, maka berubah pula karakter seseorang.

Saya sih bukan psikolog, tetapi dengan niteni diri sendiri saya jadi paham bahwa benar juga kata para ahli, secara nampak luar kecenderungan psikologi manusia memang bisa bergeser. Dari sifat-sifat tertentu, menjadi sifat-sifat yang lain. Dalam literatur tasawuf, perubahan yang kontras sekali dari level paling rendah menjadi level sangat tinggi itu disebut abdal (pertukaran). itulah maksudnya istilah wali abdal yang begitu masyhur itu. Seseorang yang bertukar paradigma hidupnya.

Tapi tak usah jauh-jauh abdal deh, kita dapat sedikit kesadaran saja sudah syukur. Karena jalan pertukaran itu tentulah penuh onak duri. Dan kata Syeikh Abdul Qadir jailani, berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu!

Dulu, secara subjektif saya rasakan saya adalah seorang dengan karakter yang begitu koleris. Suka mengatur, dan cenderung ingin tampil selalu dalam kerumunan. Setelah belajar spiritualitas islam sedikit-sedikit, maka kecenderungan itu pudar. Terutama setelah mengetahui bahwa kehidupan ini adalah pelajaran itu sendiri, bahwa hidup adalah af’al-Nya, maka pudarlah keinginan untuk tampil dan menjadi pusat perhatian.

Lama-lama ternyata menikmati juga untuk “diam” dan larut dalam aktivitas menonton.

Menonton ini, tak juga berarti pasif. Justru semakin ingin berkontribusi aktif dalam kehidupan, tetapi tak perlu untuk tampil.

Sekarang ini saya mengagumi saat saya lihat betapa banyak di sekitar saya orang-orang yang kontributif sekali pada masyarakat, tetapi tanpa perlu menjadi pusat pesona. Dan itu membuat saya malu sekaligus belajar.

Kemarin sore, ada pertemuan di komplek perumahan saya. Dalam diam saya mengamati jenak dimana ada drama orang-orang bercanda, tak perlu tampil tetapi dengan menjadi seseorang yang lucu saja sudah bisa membuat sesama makhluk jadi bahagia. Ada juga seseorang yang membantu dengan sebisa mungkin meminjamkan karpet yang dia punya, meminjamkan meja yang dia punya, menyumbang makanan, mendirikan tenda, mengangkat kursi, dan hal-hal lainnya yang sama sekali luput dari perhatian massa, tidak elegan dalam frame kamera, tetapi saya amati detailnya begitu membahagiakan.

Orang-orang yang aktif dalam kontribusi tanpa keinginan untuk larut dalam elu-elu itulah yang saya lihat begitu indah.

Mungkin begitulah seorang guru pernah mengatakan, tengok awan berarak….tengok burung-burung terbang! Dalam sikap “menengok” seperti itu kita terasa sedikit terasing dari keramaian yang riuh itu, tetapi pelajarannya sangat jelas.


*) Image sources taken from here

OPERASIONAL BMW UNTUK ORANG AWAM

Seumpama kita diberikan kendaraan sebuah mobil BMW terbaru, tentu kita harus mengerti dulu bagaimana mengoperasikan BMW tersebut, apa saja kemampuannya dan batasan-batasannya apa saja. Sebelum mengetahui hal tersebut, kita belum bisa memanfaatkannya secara benar untuk sampai ke tujuan.

Saya teringat dengan analogi mobil BMW ini karena kemarin seorang rekan datang ke rumah, dan berbincang panjang mengenai kondisi dunia migas yang sedang gonjang ganjing karena krisis minyak. Pengurangan karyawan banyak sekali terjadi dimana-mana dan rekan saya ini adalah salah satunya yang terkena dampak.

Lumayan banyak perbincangan kami, dan saya memaknai bahwa siapapun yang tertakdirkan datang bertemu dan berbincang dengan saya, sesungguhnya mereka menjadi “guru” bagi saya tanpa mereka ketahui. Dari perbincangan kemarin, saya mengamati sebuah ketakutan pada teman saya akan kondisi dunia migas saat ini, dimana ketakutan itu juga ada tersimpan dalam lubuk hati saya sendiri.

Tetapi rasa takut itu, teramati jelas sebagai bagian yang terpisah dan sendiri. Jauh sebelum saya belajar pendekatan tasawuf dalam kehidupan keberagamaan, saya tak mengerti mengenai “mengenal diri” ini. Saya tak paham bahwa rasa takut, amarah, rasa sedih dan lain sebagainya itu adalah sebuah entitas sendiri-sendiri yang bisa “dikenali” dan mestinya tunduk pada komando hati sebagai rajanya.

Sebagaimana jamaknya orang-orang yang tak kenal dengan spiritualitas, saya hanya paham sebatas pendekatan psikologi saja. bahwa manusia ada tipikal-tipikal tertentu, ada yang koleris dominan, ada yang sanguin ceria, dan seterusnya, dan seterusnya….. dimana semua tipikal itu saya kira hanyalah efek dari hormonal manusia. Manusia adalah makhluk yang disetir hormonnnya sendiri, sebatas itu saja yang saya pahami dulu kala.

Belakangan baru saya mengerti bahwa dalam kajian yang lebih “dalam” pada tasawuf islam pun mengajarkan kita mengenali bagian-bagian diri kita sendiri. Yang secara jujur saya akui berbeda –untuk tidak mengatakan lebih canggih- dari kajian psikologi semata-mata.

Perumpamaan yang memudahkan adalah perumpamaan mobil itu tadi. Seumpama kita diberikan sebuah mobil BMW dengan tujuan untuk pergi dari Jakarta-Bandung misalnya, maka sebelum pergi Jakarta-Bandung, tentu logis untuk kita perlu tahu dulu seperti apa mobil ini, bagaimana mengendalikannya, bagaimana mencapai kemampuan optimalnya.

Mobil BMW itu adalah perlambang diri manusia itu sendiri. Dalam diri manusia ada yang menyetir, dan ada banyak panel-panel display yang menyatakan mesin sekarang suhunya berapa, oli cukup atau tidak, bensin bagaimana, dan seterusnya….. panel-panel itu, ternyata tidak hanya ada untuk instrumen tubuh yang fisikal dan terindera (jasad), tetapi ternyata juga termasuk untuk instrumen yang abstrak semisal anasir perasaan.

Setelah tahu mobilnya, maka barulah berjalan dari Jakarta menuju Bandung.

Permasalahannya, sebagian orang ada yang mengkaji dengan sangat teliti kemampuan mobil BMW, lalu kemudian menggunakannya untuk tujuan yang lain dari peruntukannya. Yang seharusnya disuruh menuju Bandung dari Jakarta, malah dipakai di Jakarta untuk kebut-kebutan, karena sudah paham kemampuan BMW, misalnya.

Atau ada yang tahu tujuannya adalah menuju Bandung, tetapi karena tidak paham kinerja mesin dan apa fungsi panel-panel display, jadi terhambat perjalanannya.

Begitulah, mengenali diri sendiri, baik instrumen jasadnya ataupun instrumen yang tak terindera di dalam diri manusia itu, adalah salah satu tangga yang harus dilewati untuk hampir semua pendekatan spiritualitas. Termasuk perlu untuk pendekatan tasawuf.

Dengan pendekatan tangga bawah ini, kita bisa mengenali elemen-elemen rasa takut dalam diri kita sendiri, dan mengenali mengapa rasa takut itu muncul? Untuk kemudian mengisi diri kita dengan lebih banyak data agar kekhawatiran dan takut –jikalah disebabkan karena kurangnya info akan sesuatu-; menjadi hilang.

Sangat praktikal sekali memang. Meskipun pendekatan ini belum lagi masuk ranah yang lebih dalam. Pendekatan ini sebenarnya kajian seru untuk para awam, karena jika saya amati para arif tidak lagi bermain dalam ranah ini. Mereka melihat hidup sebagai sandiwaranya Tuhan, dan dalam pandangan seperti itu sebab-akibat menjadi musnah. Tidak ada lagi BMW dengan segala instrumen-instrumennya itu.

Image taken from bmw.com

HABIS MODAL DAN TAK BERSISA

Teringat saya dalam sebuah kesempatan pertemuan di San Antonio Texas, saya menyaksikan para petinggi perusahaan tempat saya bekerja duduk bersama dengan analis dari Wall Street, dalam sebuah panel diskusi. Disitu saya merasa sungguh saya bukan siapa-siapa. Kecil dan hanya penonton.

Sewaktu kuliah dan masa SMA sebelumnya dulu, saya merasa cukup bangga dengan kemampuan saya berbicara. Maka seringkali saya mengandalkan kemampuan retoris untuk menghadapi banyak persoalan. Termasuk dunia kerja.

Setelah menapaki karir dalam dunia kerja, pelan-pelan saya menyadari bahwa saya berada dalam pusaran ratusan orang dengan kemampuan retoris yang memukau. Untuk tidak mengatakan hampir keseluruhannya mengungguli saya. Kecerdasan secara akademis apalagi.

Jadi dalam urusan soft skill dan intelektualitas, di dunia kerja saya habis dan dikuliti.

Saya mencari celah dalam keberagamaan dan spiritualitas. Tetapi juga sama saja. Dalam sekejap saya menemukan pusaran orang-orang dengan lelaku peribadatan yang menyalip saya -atau selalu di depan saya dan saya tak berhasil bahkan tuk sekedar mendekati mereka- jadi dalam urusan akhirat pun saya habis dan dikuliti.

Dari sana saya akhirnya dengan jujur mengakui bahwa saya hanya beruntung. Untuk diperjalankan tanpa modal.

Untuk telah masuk dalam sebuah pekerjaan yang menjaminkan saya kehidupan yang tidak sulit, dan cukup makan. Alhamdulillah. Padahal jikalah melihat kemampuan diri dan kecerdasan, sungguh saya sangat mudah untuk dipecundangi persaingan yang ketat dan tajam di sekitar saya ini.

Dan saya akui pula saya beruntung. Untuk tertakdir mengenali cara pandang spiritualitas yang saya lihat tak semua rekan saya mengerti tentang ini. Pengenalan dengan modal yang sama sekali bukan kecanggihan amal dan fantastisnya lelaku, alih-alih lewat kehidupan yang membanting-banting saya sehingga cara pandang lama harus dirombak mau tak mau agar tetap bertahan dalam dilema.

Jadi apa modal saya? Tak ada modalnya. Habis dan tak bersisa.

Dari sana saya akhirnya mengerti bahwa keakraban pada Tuhan tidaklah dibangun dengan modal lelaku dan peribadatan -semata-, alih-alih menyadari kerendahan dan kekurangan diri dalam takdir hidup kita sekarang, dan berakrab pada Tuhan yang mentakdirkan hidup kita seperti sekarang. Maka kita bisa “kembali” tak peduli dimanapun posisi kita saat ini.

Lewat perjalanan yang tak punya modal itulah, setiap kita akan punya kesempatan yang sama untuk bertemu Tuhan. Bromocorah yang hina dina dalam pandangan masyarakat, atau seorang alim ulama yang disegani, juga punya jenak kedekatannya sendiri pada Tuhan.

Jalannya adalah perjalanan kita sendiri-sendiri. Seorang perampok tidak akan putus asa untuk menemui Tuhan jika mengerti bahwa perjalanan ini sejatinya tidak perlu modal yang aneh-aneh. Karena sebetapapun rampok dan kacaunya dirimu, DIA tetap menerima keberserahan diri, dan pengakuan bahwa kita sudah keliru, salah, hilang arah, tapi ingin kembali.

Karena taubat adalah “kembali”. Maka namanya “kembali” mestilah muara dari segala arah. Tak peduli atas bawah atau kiri kanan, selama ingin kembali maka kesitulah arahmu pulang.

Bukan amal dan kecerdasan. Melainkan karena dia ingin kita “kembali” maka kembalilah. Meski tak ada modal.

JANGAN BANYAK MIKIR

Salah satu wejangan guru yang saya sering sekali lupa memraktekkannya adalah “jangan mikir”.

Wejangan jangan berfikir, setelah saya mengerti konteksnya, baru saya paham maksud beliau adalah hiduplah dalam keseharian yang diisi dengan dzikrullah, dan amal-amal nyata. Setiap benturan dalam hidup; jangan banyak dipikir melainkan jadikan wahana meminta tolong pada Allah lewat do’a-do’a, sehingga jalan keluar akan turun dalam bentuk insight. Kalaupun “jawaban” tak turun, biasanya masalah terurai dengan sendirinya seiring waktu, atau kalau tak terurai juga kita akan melihat hikmah disebalik suatu masalah itu.

Setelah berulang kali mengalami siklus ingat-lupa-ingat-lupa-ingat lagi akan wejangan beliau ini, barulah saya paham bahwa sebenarnya manusia tidak akan bisa untuk sama sekali tidak ada “ide” di dalam ruang hatinya. Mestilah dalam 24 jam akan ada ide-ide, karena dengan itulah manusia menjalankan kehidupan dan bergerak mengikuti idea dalam jiwanya.

Perkaranya, apabila suatu masalah difikirkan terlampau dalam tanpa ada “ingat padaNya”, yang muncul adalah keruwetan.

Ruwet karena syaitan dapat menunggangi fikiran dan kekhawatiran manusia dan menyusup masuk ke dalamnya melahirkan was was.

Saya beri contoh bagaimana ide masuk dalam benak kita.

Cobalah rekan-rekan “melawan” instruksi saya berikut ini. Kalau saya bilang fikirkan A, maka anda fikirkan hal lain umpamanya B.

“Coba bayangkan ‘buah-buahan’ dalam benak anda, sekarang!”

Sudah?

Bagaimana anda melawannya? Seumpama anda diberikan instruksi membayangkan buah, lalu anda melawannya dengan…….”tidak mau, saya akan membayangkan alih-alih membayangkan buah, saya akan membayangkan ‘makanan’.”

Kita bisa lihat bagaimana “ide” tentang makanan adalah bukan sesuatu yang kita buat. Dia muncul sendiri ke dalam ruang batin kita. Kenapa kok tiba-tina kepikirnya makanan?

Dan dalam setiap hari, ribuan bahkan juta hal semacam itu masuk ke dalam benak kita. Kita sadari atau tidak sadari itulah yang menyetir keseharian kita.

Kadang-kadang saya seringkali terjebak, tahu-tahu sudah bete atau bad mood seharian tersebab kekhawatiran dan was-was disebabkan fikiran saya sendiri.

Kalau sudah begitu, seringkali “rasa” persandaran pada Tuhan menjadi berkurang karena seperti lupa pada kenyataan yang sesungguhnya bahwa hidup kita mengikut takdir atau af’al Allah. Seolah-olah kita punya kuasa sendiri.

Pada akhirnya memang benar, jangan banyak mikir! Kalau ada masalah, jadikan wahana menuju Allah. Lewat pintu do’a untuk curhat dan berakrab padaNya dalam keseharian.

Kata seorang guru, pintu do’a terbuka selalu. 24 jam sehari. Begitu istimewa. Ada masalah kita berDo’a dan tunggu insight turun dalam kehidupan kita.

Jangan banyak mikir.

Eh… tapi di Qur’an bukannya banyak perintah “mikir” ya? Tentang penciptaan langit dan bumi, mikir tentang kuasa Tuhan. Dst?

Nah….Sebenarnya skema melihat alam semesta, lalu teringat keagungan penciptaNya itulah juga dzikir atau “ingat Allah”.

Sama juga dengan ada masalah; lalu mengingati Allah dan berdo’a meminta pencerahan agar keluar dari masalah; itu juga dzikir.

Pada pokoknya ternyata jangan sampai kita kehilangan “dzikr” dalam keseharian. Jangan ada fikir yang tak ada “dzikr” agar tidak ruwet.

Dan hidup dalam kebiasaan seperti ini lama-lama seolah membuat diri kita terpisah dengan keadaan di luar diri kita. Semacam “sepi” di dalam ramai. Ada jarak mental antara kita dan kondisi di luar kita. Seperti melihat drama.

Tetapi ya itu tadi. Sekalinya lupa. Tahu-tahu kita sudah “keluar” dari kondisi itu, dan terlalu larut dalam keruwetan hidup.

Ya ndakpapa. Masuk kembali. Ingat kembali.

SPRITUALITAS YANG KURANG PIKNIK

 

Dulu. Sebelum saya pernah naik pesawat terbang, jarak antar kota di Indonesia serasa begitu jauh. Setelah beberapa kali naik pesawat, secara relatif jarak yang jauh itu terasa tak seberapa. Sebentar saja naik pesawat sudah sampai. Tentu ongkosnya dibayari kantor. Hehehehe.

Dalam mental kejiwaan saya, tantangan antar kota serasa bukan hal yang sebesar dulu lagi. Karena saya diperkenalkan dengan “pengalaman” lintas kota itu.

Begitu juga beberapa rekan saya lainnya saya lihat lebih jauh lagi skalanya. Bagi mereka lintas negara itu hal biasa, sedang bagi saya itu sesuatu yang luar biasa.

Sekali saja kita diperkenalkan dengan “pengalaman” yang lebih besar, maka sesuatu yang tadinya besar akan terlihat kecil.

Dan semakin sering kita “dinaikkan” dari pengalaman lingkup kecil menuju pengalaman yang lebih besar dan lebih luas; pahamlah kita bahwa Allah SWT gampang sekali menaikkan dan memindahkan kita dari satu posisi ke posisi lainnya.

Hal ini juga berlaku dalam spiritualitas keberagamaan. Jika kita melihat pada kemampuan diri kita yang kerdil, maka kita akan sentiasa kecewa. Tetapi jika kita melihat pada khasanah keMaha KayaanNya, kita akan tumbuh harapan.

Jadi istilah “kurang piknik” itu ada benarnya juga.

Piknik disini dalam arti menengok-nengok kebesaranNya. Observasi. Dengan itu “rasa” yakin kita; akan mekar dalam hati.

Barangkali saya harus banyak piknik. “Pergi dari kecilnya diri sendiri” menuju luasnya rahmatNya.

ANUGERAH KOPI UNTUK ORANG AWAM

Ada anugerah dalam segelas kopi. Kesukaan saya di pagi hari adalah menyesapi nikmat secangkir kopi. Meskipun kopi sachetan tak mengapa, karena kopi asli model starbucks mahal. Hehehehehe.

Bagi seorang dengan kecenderungan penikmat sepi, seperti saya ini, maka menghabiskan hari dengan aktivitas yang bersentuhan dengan banyak orang adalah menguras energi. Maka saya perlu jeda sendiri sebelum mulai beraktivitas.

Dan segelas kopi yang saya minum sembari menunggu shuttle bus kantor datang menjemput adalah anugerah indah. Dia memberi kesempatan saya untuk lima belasan menit “sendiri” dalam keasyikan. Dan menyadari bahwa hiruk pikuk pagi ini dibukaNya dengan keindahan anugerah segelas kopi sachet.

Seorang guru berkata, resapi anugerahNya dalam apa yang kamu makan. Dalam apa yang kamu minum. Rasakan sampai terbit kesyukuran.

Mood yang baik, semisal gelora kesyukuran bisa terbit dari merenungi anugerah kopi. Atau juga bisa dengan cara lain, mensyukuri anugerah kendaraan, atau “penjagaan” dalam anugerah rumah. Dan macem-macem lainnya.

Sebenarnya, tips ini kami dapatkan dari wejangan Ust. H. Hussien Abd Latiff, dimana -dalam pandangan saya- beliau memberikan tips pada sahabat-sahabat beliau yang mengalami kesulitan untuk terus menerus tune-in dalam rasa ingat kepada Allah SWT.

Kok rasa kedekatan atau “gegaran” seperti hilang? Sekali waktu ada. Sekali waktu hilang?

Lalu diberikanlah tips oleh beliau, untuk merasakan kembali. Yaitu mensyukuri anugerah yang dekat pada kita, dan menyadari ada apa disebalik anugerah itu. Bahwa setiap anugerah adalah af’al-Nya. Dan setiap af’al tak bisa lepas dari dzat-Nya.

Bagi saya pribadi. Memancing “rasa” dari hal-hal kecil semacam ini sangat membantu. Karena ada dua tipe “pejalan”.

Tipe pertama adalah tipe orang-orang yang masih butuh “sebab” atau butuh bukti untuk sampai pada keyakinan akan Allah. Mereka bukan tidak yakin, mereka yakin, tetapi “rasa” kedekatan pada Tuhan belum lagi langgeng berterusan pada mereka, sehingga jalur proses mereka adalah dengan menyadari karunia, baru sadar bahwa karunia ialah af’al-Nya, baru sadar bahwa di sebalik sifat-sifat af’al mestilah dzatNya, dzatNya mestilah datang dariNya. Ini flow mayoritas orang-orang.

Tipe kedua, adalah mereka yang tak butuh sebab. Tak butuh bukti. Karena tenggelam dalam penyaksian. Maka di benak mereka adalah “tidaklah ada yang lain selain dzatNya”. Ini kedudukan yang lebih tinggi.

Maka dua kedudukan ini kadang tak sama pendekatannya. Jika kedudukan para arif adalah selalu tenggelam dalam penyaksian, sehingga kopi itu “tak ada” bagi mereka. Semua adalah dzatNya semata.

Sedangkan bagi yang awam adalah mereka butuh untuk dapet feel atau rasa dari anugerah kopi dulu, baru teringat terasakan kedekatan.

***

MENGEMBALIKAN MUTIARA DI DALAM DIRI

Saya kaget karena dari belakang seseorang meneriakkan nama saya. Dalam keriuhan orang-orang saya lihat seorang lelaki menggendong anaknya yang tengah tertidur.

Ternyata beliau rekan lama saya. Dulu beliau satu perusahaan dengan tempat saya bekerja, tetapi kemudian memutuskan untuk pindah mencari peruntungan dengan bekerja di luar negeri, kemudian kembali ke Indonesia setelah sekian lama. Sekarang membuka bisnis online dengan omset yang lumayan.

Kami bertemu pada sebuah sesi trial, uji coba SD Islam Terpadu dengan konsep alam dan sains, saya hendak mendaftarkan anak saya kesana, dan qadarullah saya bertemu dengan rekan saya ini.

Saya mengingatnya sebagai seorang dengan planning hidup yang begitu teratur dan pandangan yang jauh kedepan.

Ketika saya dan sekian orang rekan saya yang baru lulus kuliah mendapatkan gaji pertama, lalu kami berbicara tentang handphone dan laptop idaman yang ingin dibeli, dia hanya tertawa dan mengajak berbincang tentang KPR. saya tertinggal selangkah dua.

Begitu juga berikutnya, ketika saya baru bertanya bagaimana caranya membeli rumah, rekan saya malah sudah melangkah lebih jauh dengan mengeluarkan peta topografi, menimbang-nimbang area rawan banjir jakarta, berbincang tentang NJOP dan bagaimana visi beliau tentang kenaikan harga rumah area cibubur dalam sekian waktu kedepan. Saya masih juga tertinggal selangkah dua atau lebih.

Berbicara dengan orang-orang yang punya visi lebih maju dan cepat seperti kereta shinkansen jepang itu, acapkali menimbulkan rasa terintimidasi. Artinya, saat menimbang diri dengan melihat susunan detail rencana hidup rekan saya itu, saya merasa betapa hidup saya berantakan dan kurang terpola. Betapa dalam hal seperti itu saya kalah jauh dengan beliau.

akan tetapi, pertemuan tak disengaja hari ini membuat saya mengerti satu fakta penting. Masih menyusuli “kebijakan” yang sudah lama saya tahu dari wejangan guru; tetapi “makjleb-nya” di hati baru beberapa hari lalu; saya kembali memahami setindak lebih dalam mengenai “khalifah”.

Cara agar kita tidak diperbudak harta, entah diperbudak lewat sikap menghamba pada harta, atau karena sikap “rikuh” dan merasa rendah di hadapan harta; adalah dengan menaklukkan harta itu.

Menaklukkannya dengan membagikannya, atau juga dengan mempergunakan harta itu semaksimal mungkin untuk melayani kita, dan terberdayakan dalam hal-hal baik yang manfaat. Dengan begitu, kita sudah mengembalikan posisi diri dalam mentalitas sebagai khalifah terhadap dunia. Dalam konsep batin kita, kita menyadari betul bahwa “yang sejati di dalam diri kita ini” adalah khalifah, dan lebih tinggi kedudukan khalifah ketimbang kedudukan harta, karena harta secara struktural mesti tunduk kepada khalifah. Dalam ruang batin pun sudah tidak ada lagi rasa rikuh dan rendah terhadap harta.

Begitu juga terhadap kekuasaan, bahkan terhadap “ilmu”. Karena kekuasaan, dan juga ilmu, adalah juga ciptaan yang sudah Allah janjikan untuk ditundukkan pada “manusia”, yang “khalifah” itu.

Saat saya dan rekan saya berbincang tadi, saya mengamati gejolak batin sendiri, dan segera teringat bahwa “sejatinya diri” manusia itu adalah khalifah. Atas harta, atas kekuasaan, juga atas ilmu. Sehingga dengan pemahaman seperti itu, rasa rikuh saya terhadap “ilmu” rekan saya menjadi hilang.

Karena akhirnya pahamlah saya bahwa “ilmu” yang ada padanya hanyalah sebuah “ciptaan” lainnya yang Allah tempatkan di belantara dunia ini. Dan tidak semestinya, “sejatinya diri manusia” kalah perbawa terhadap “ilmu”.

Saya akhirnya menikmati rekan saya bercerita tentang bisnisnya kepada saya, hitung-hitung sebagai kursus informal secara gratis. Dia mentransfer ilmunya kepada saya, seumpama membuka khasanah wacana, agar saya lebih bisa menaklukkan “ilmu” yang berkait dengan topik yang dia jabarkan.

Dan saya temukan fakta bahwa pembelajaran gratis seperti ini banyak sekali tersebar di keseluruhan lini hidup kita. Asalkan kita menaklukkan rasa rikuh dalam diri kita sendiri, dan kembali menyadari kemuliaan “yang semula jadi” sudah ada di dalam diri kita sendiri. Yang Malaikat dan Jin disuruh tunduk padanya.

Itulah mutiara di dalam diri setiap kita.

BERGELUT DENGAN PRASANGKA

Sedetik kedepan saja, manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Karena, meminjam perumpamaan dari Ali Bin Abi Thalib, takdir adalah Jalan yang gelap, atau lautan yang dalam, rahasia Allah yang janganlah kita membebani diri kita sendiri atasnya.

Manusia, dalam menyikapi takdir adalah berbaik sangka.

Baik sangka ini setelah saya perhatikan wejangan para arif, bisa kita klasifikasikan dalam dua wujud besar yaitu baik sangka lewat do’a-do’a permohonan kita. Artinya secara mentalitas kita penuh harapan akan rahmat dan pertolonganNya kedepan. Kalau kita tertakdir berdo’a maka berarti pengabulan bersamanya. Kata Umar.

Atau yang kedua, baik sangka lewat pasrah dan keridhoan. Yang ini levelnya lebih tinggi lagi, semisal dicontohkan Ibrahim yang baik sangka pada Tuhan, dan tetap ridho akan kebaikan Tuhan meskipun dirinya sedang akan dilempar ke kobaran api oleh Namrud. Diam meskipun akan dilempar ke dalam api. Diam-nya beliau, adalah diam dalam prasangka baik atas takdir. Ini level advance.

Pada pokoknya, kekalutan dan rasa gusar jangan sampai memenuhi ruang hati kita. Karena syaitanlah yang membisikkan was-was dan kecemasan.

Seorang guru, Ust. H. Hussien Abdul Latiff memberikan wejangan simple menyikapi takdir, yaitu jangan fikirkan, jangan tetapkan.

Saya teringat kisah Nabi Yakub yang kehilangan anak tersayangnya yaitu Yusuf. Karena makar dari saudara-saudara Yusuf sendiri. Nabi Yakub begitu berduka. Dan meskipun anak-anaknya berbohong dengan mengatakan Yusuf dimakan srigala, Yakub a.s tahu apa yang sebenarnya terjadi, atas izin Allah SWT beliau tahu.

Tetapi, cerita komplit apa yang akan terjadi berikutnya beliau tak tahu. Mana beliau tahu bahwa anaknya akan kembali kelak setelah sukses di kerajaan. Karena masa depan adalah khasanah rahasia Allah SWT.

Maka Yakub menghabiskan hari-harinya dengan bermunajat -tidak dengan menetapkan sendiri bahwa beginilah terus takdir yang berlaku baginya selamanya-, munajat itulah ejawantah sikap baik sangka Yakub pada Tuhannya.

Yakub tidak tenggelam dalam was-was dan menduga-duga bahwa akan beginilah terus nasibnya. Karena siapa yang tahu masa depan??

Itu sebab, sebelum terzahir menjadi kenyataan, masa depan adalah tetap rahasia. Jangan difikirkan dan jangan ditetapkan.

Seandainya sebuah musibah membuat kita desperate atau kalut, sehingga dalam berdoa pun kita was was dan menduga bahwa tentulah buruk akhir dari semua drama ini. Maka syaitan sudah bermain dengan menciderai prasangka kita pada Tuhan.

Maka sebuah hadits mengatakan, kalau berdoa jangan setengah-setengah. Kita meminta dalam mentalitas yang terus menerus memperbaiki prasangka kita padaNya. Sebenarnya dalam kita berdoa, kita bergelut dengan diri kita sendiri. Kita berlari dari was was menuju persandaran kepada Tuhan. Dan rasa gelisah tidak boleh mengalahkan harapan kepada Tuhan.

Adabnya ada dua. Kita bisa terus menerus berdoa dalam prasangka yang baik dan meminta tolong agar diberikan jalan keluar. Atau kalau keyakinan dan prasangka baik pada takdir itu sudah sebegitu menguasai kita ; kita akan ridho dan berpasrah karena kita sadar kesempurnaan dan kebaikan takdir.

Tapi Sedikit saja ada gelisah dan ketakutan, ini penanda bahwa kita masih di maqom do’a. berlarilah meminta pada pertolonganNya sampai gelisah dan was-was kita tenggelam dan kalah dengan persandaran kita padaNya. Harapan mengalahkan rasa takut. Syaitan membisikkan was-was kekurangan harta dan makanan, sedangkan dengan Do’a kita menunaikan hak RububiyahNya untuk dipandang sebagai Yang Maha Mengabulkan.

Berdoalah sampai ketakutan kita pada keadaan; kalah dengan persandaran kita kepada Pemilik kehidupan.

BERSYUKUR ATAS ANUGERAH KECIL

Mempelajari tipikal diri sendiri, rupanya adalah suatu hal yang mengasyikkan. Dan salah satu yang saya pelajari dari diri saya sendiri adalah kecenderungan alon-alon waton kelakon. Biar lambat asal selamat.

Ini sih sebenarnya sedikit menghibur diri saja, hehehehe. Tetapi memang secara jujur saya mengakui bahwa saya bukanlah seorang yang “cepat”.

Untuk mengerjakan sesuatu yang besar, orang lain mungkin memerlukan waktu yang singkat, tapi saya bisa dua tiga-kalinya lebih lama.

Memang ternyata saya adalah orang dengan kebiasaan santai dan selow macam di pantai. Akibatnya, saya harus mentolelir kelemahan saya ini dengan memulai segala sesuatu lebih awal, dan menyicilnya sedikit demi sedikit demi sedikit sampai pekerjaan itu usai. Meskipun lama, tetapi cara ini berhasil untuk saya pribadi.

Di dalam berspiritual juga begitu. Dulu, saya pernah begitu ngoyo dalam hidup, dan serasa pengen jadi waliyullah. Akibatnya, saya sering kesal sendiri pada performa Ibadah saya yang hendak saya gas pollllll tetapi tak bisa melaju kencang. Karena tipikal pribadi yang butuh waktu lama untuk panas, akselerasi lambat.

Sampai saya bertemu Kebijakan berikutnya bahwa sejatinya bukan amal kita yang menyampaikan kita padaNya, melainkan dalam tanda kutip kalau DIA tuliskan kita untuk sampai, maka sampailah kita padaNya. Amal ibadah, hanyalah wujud dari pemberianNya itu sendiri.

Kalau betul-betul Allah ingin menyampaikan kita padaNya, menjadi orang-orang dekatNya, Seorang guru mengatakan -sebagai syarah atas keterangan Syaikh Abdul Qadir Jailani-, bahwa diri kita akan dihancur leburkan seperti tempayan yang tak mengandungi air sedikit juapun. Hancur lebur sampai “hilang” diri dan kehendakmu. Baru kemudian digantikan dengan pribadi baru.

Dihancurkan sampai hilang diri, ini bukan perkara kecil. Ini luar biasa bebannya.

Maka mensyukuri maqom saat ini, adalah lebih utama. Ketimbang meminta Allah menaikkan maqom kita, lewat jalan yang menghancurkan dan menghilangkan diri kita yang memiliki kehendak itu.

Akhirnya menapaki tangga spiritualitas dengan sikap tahu diri, dan peribadatan yang sebisa mungkin dijaga, meski sedikit tapi kontinu, dalam mentalitas yang sepenuh hati yakin bahwa anugerahNya-lah yang memampukan amalan untuk mewujud. Baik besar maupun kecilnya; adalah lebih indah.

Yang penting, hal-hal kecil apa dalam hidup kita yang bisa kita jaga untuk kontinu mengalir setiap harinya; kita dawamkan. Dan kita syukuri. Karena amal-amal kecil itu adalah anugerah.