DUA JALAN CARI PERHATIAN

Image result for mergingSewaktu saya masih kuliah di Bandung, saya mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan skripsi di kantor salah satu BUMN terbesar di Jakarta. Otomatis saya harus pergi bolak-balik Jakarta-Bandung, dan masalahnya adalah dimana saya harus menginap di Jakarta?

Alhamdulillah Allah berikan solusi, yaitu seorang kawan kuliah menawarkan untuk menginap di rumah orangtuanya di Jakarta. Sampai sekarang saya masih berhutang budi pada keluarga mereka itu.

Saya perhatikan kebiasaan keluarga itu. Setiap pagi Ayah rekan saya itu bangun pagi, sekedar menemani anaknya sarapan. Membantu memakaikan anaknya kaus kaki. Dan melepas kepergian anaknya berangkat ke sekolah, meski hanya dengan melambai sampai depan gerbang rumah. Prinsip beliau, harus melepas anak pergi sekolah, yang artinya bangun sebelum anak bangun, dan tidur setelah anaknya tidur. Padahal sang Ayah ini berangkat kerja siang hari, lalu pulang larut malam sampai dini hari, sempat-sempatnya dia bangun sekedar untuk rutinitas itu.

Setiap malam, dia selalu duduk santai di atas teras lantai dua, dengan genjreng-genjreng gitar nyanyi seadanya. Tetapi selepas bernyanyi dia menanyakan kabar anak-anaknya, bertanya juga pada saya tentang progress skripsi saya, lalu memberikan petuah sederhana saja, “Ntar juga kalau udah ‘waktunya’ kelar, skripsinya kelar juga. Jalanin aja…..” Sederhana, tak banyak teori tetapi dalam waktu itu saya merasa ada orang yang ‘hadir’. Tak banyak cakap, tapi selalu ‘hadir’. Ini luar biasa.

Belum lagi, mereka menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, tak lupa pula memberikan saya kotak makan siang untuk dibawa ke tempat magang skripsi. Padahal, status saya itu numpang nginap. Dikasih makan bekal pula. Setiap hari.

Dari obrolan-obrolan kami, saya tahu bahwa memberikan tempat menginap kepada orang-orang yang ‘butuh’ untuk menginap, adalah semacam tradisi keluarga mereka. Amal sederhana, tapi luar biasa.

Belakangan setelah saya bekerja dan menikah, saya hendak meniru ‘kesederhanaan’ keluarga itu, dan melakukan amalan-amalan ringan yang sama seperti yang saya lihat. Tetapi ternyata setelah mengalami sendiri kesibukan dunia kerja, kecenderungan psikologi saya pribadi, hal yang sederhana itu rupanya tidak gampang.

Belakangan saya merenungi tentang hal itu, dan ndilalah ketemu penjelasannya.

Metoda pertama, adalah memaknai amalan-amalan yang kita lakukan sebagai jalan “pendekatan” kepada Tuhan. Sehingga kita memiliki alasan pendorong. Istilah jaman sekarang, kita punya STRONG WHY.
Ilustrasinya, seperti kita hendak bertamu ke istana seorang Raja, lalu kita menunggu di pintu gerbang istana. Di depan pintu itu, kita “cari perhatian” dengan bantu-bantu nyabut rumput taman. Nyapu-nyapu jalan. Dan lain-lain, dengan harapan dibukakan pintu istana, hingga kita diberikan kesempatan bertemu Sang Raja.

Kita memahami, bahwa tindakan mencabuti rumput, dan tindakan menyapu jalan, itu tidak sebanding dan tidak akan pernah sebanding dengan hadiah Sang Raja pada kita, ditambah lagi diizinkan bertemu dengan sang Raja saja sudah anugerah luar biasa yang tidak bisa dinilai secara barter dengan ukuran nyabut rumput atau nyapu jalan. Amalan-amalan itu, hanyalah “Cara pendekatan”. Bukan untuk barter pahala.

Barulah saya paham bahwa inilah maksudnya mendekati Tuhan dengan wasilah atau perantaraan amal. Seperti di dalam Qur’an disebutkan “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Seperti cerita yang saya dengar dari YouTube ust. Adi Hidayat, dimana saat Malaikat mendatangi Nabi Ibrahim, beliau tak sadar yang datang adalah malaikat, lalu Nabi Ibrahim pergi ke belakang rumah dan sempat-sempatnya menyembelih anak sapi yang gemuk, untuk menjamu tamu. Sebuah ‘amal yang indah. Lalu malaikat mengabarkan berita gembira bahwa istri beliau Sarah akan mengandung anak, sebagai hadiah atas amal Ibrahim as.

Amal Saleh kita lakukan, karena mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan. Inilah metoda pertama untuk cari perhatian / pendekatan kepada Tuhan.
Baru saya tahu kenapa sulit melakukan amalan, karena saya tidak mempunyai alasan yang kukuh. Dengan alasan yang kukuh, dan memaknai amalan sebagai bentuk pendekatan agar “bertemu” Tuhan, maka beramal jadi lebih punya makna. Meskipun amalan-amalan itu akan menjelma sesuai dengan takdirnya sendiri. Ada orang-orang yang dimudahkan untuk melakukan suatu hal, ada yang dimudahkan melakukan hal lainnya.

Yang paling pokok, alasannya apa, yaitu “pendekatan” agar bertemu Tuhan.

Cara kedua dalam pendekatan kepada Tuhan, ini agak teknis. Kalau cara pertama itu adalah dengan aktivitas eksternal (luaran) untuk mendekati Tuhan. Cara kedua ini adalah aktivitas internal.

Yaitu Zikrullah. Bukan dengan menyebut-menyebut semata, tetapi memenuhi ruang batin kita dengan ingatan kepada Allah. Saya mengetahui metoda ini dari seorang arif yaitu Ust. Hussien Abdul Latiff.

Secara ringkas, seseorang bisa mendekati Tuhan dengan ‘amalan aktivitas eksternal, sebagai upaya menemukan Tuhan dalam kesehariannya. Bisa amalan yang beneran tersusun syariatnya seperti sedekah, puasa. Bisa juga dengan aktivitas sehari-hari misalnya bekerja di kantor tetapi dimaknai berbeda, yaitu sebagai “pendekatan” kepada Tuhan. Amal menjadi wasilah “mendekat”.

Tetapi ada juga cara mendekati Tuhan dengan “masuk ke dalam” dan memenuhi ruang batin dengan ingatan kepada Allah. Cara kedua ini senyap, umumnya tidak terdeteksi dari luar.

Baik cara pertama, maupun cara kedua, seperti sekeping uang logam yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.


*) image sources

THALUT, DAWUD, DAN DOSA YANG “MENDEKATKAN”

Ibnu Athaillah As Sakandari, dalam Al Hikam mengatakan bahwa boleh jadi Allah membukakan pada seseorang pintu ketaatan, tetapi tidak membukakan padanya pintu penerimaan. Atau boleh jadi Allah membukakan pintu penerimaan tetapi tidak membukakan padanya pintu ketaatan.

Dilanjutkan dalam wejangan lainnya di Al Hikam, yang kurang lebih maknanya adalah: dosa yang menghantarkan seseorang pada pertaubatan, boleh jadi lebih baik ketimbang ketaatan yang menimbulkan arogansi dan rasa besar diri.

Di sini terlihat beda antara cara pandang orang awam, dan cara pandang para arif dalam tasawuf. Orang awam, memandang pendosa dengan penuh kebencian, sedangkan para arif memandang bahwa boleh jadi seseorang menjadi dekat pada Tuhan lewat dosa.

Ada sebuah kisah klasik, yaitu kisah pertaubatan di zaman Nabi Dawud as. Tersebutlah seorang raja yang telah dipilih oleh Allah untuk memimpin dan mengembalikan kejayaan Bani Israil di masa itu. Raja itu bernama Thalut.

Tugas pertama Thalut adalah menumbangkan kezhaliman Jhalut (Goliath) bangsa amalik yang terkenal berbadan besar. Maka Thalut melakukan seleksi ketat kepada para tentaranya, yang salah satu diantara para tentara terpilih itu adalah Nabi Dawud as. yang bertubuh kecil karena saat itu masih remaja.

Dalam medan perang, sudah masyhur kita dengar bahwa Nabi Dawud mengalahkan Jhalut yang raksasa itu dengan ketapelnya. Jhalut yang tinggi besar itu tumbang.

Lalu kisah berikutnya Nabi Dawud dinikahkan dengan puteri sang raja Bani Israil, putri Thalut tadi.

Namun lama kelamaan popularitas Dawud as mengungguli sang Raja itu sendiri, sehingga terbit rasa amarah di hati Thalut, dan dia hendak membunuh Dawud as.

Sang Putri Thalut, tahu rencana itu dan membocorkannya kepada Nabi Dawud as, untuk melindungi suaminya. Nabi Dawud as. bersembunyi dari ancaman Thalut.

Tetapi kian lama, kekuasaan Thalut kian melemah, dia mulai memerintah dengan tangan besi, dan masyarakat mulai membangkang padanya. Sampai akhirnya Nabi Dawud as berhasil mengalahkannya.

Merasa malu dengan kesalahannya, maka Thalut pergi meninggalkan istananya, dia hidup mengembara dan bertaubat dari kesalahannya.

Nabi Dawud as. Akhirnya menjadi raja. Dikenal sebagai seorang yang bijak, dan begitu artikulatif, mampu memutuskan perkara-perkara yang pelik (dikaruniai hikmah). Beliau juga dianugerahi suara yang begitu indah, sampai jika dia membaca Zabur, maka burung-burung akan terbang mengapung di udara untuk mendengarkan bacaannya, dan bercericit menggaungkan melodinya.

Tapi suatu ketika Nabi Dawud as. juga bertaubat atas kesalahannya.

Dikisahkan bahwa saat Nabi Dawud as. sedang ada di mihrabnya, dua orang berhasil menerobos penjagaan, dan memanjat tembok mihrab-nya.

Nabi Dawud terkejut dengan orang yang tiba-tiba menyelinap itu. Tetapi mereka mengatakan bahwa mereka hanya ingin bertanya suatu masalah. Dan meminta Nabi Dawud as. memutuskan perkaranya dengan adil.

Diceritakan bahwa mereka berselisih karena salah seorang dari mereka memiliki 99 kambing, dan dengan kekuasaannya orang yang punya 99 kambing itu ingin mengambil kambing milik seseorang lainnya yang hanya memiliki satu kambing saja.

Nabi Dawud as, langsung berpihak pada seorang yang memiliki satu kanbing itu, dan mengatakan bahwa betapa banyak orang-orang yang berserikat itu berbuat Zalim. (QS Shad: 20-26)

Setelah mengatakan hal tersebut, dua orang yang bertengkar tadi menghilang, maka tahulah Nabi Dawud as bahwa mereka adalah malaikat utusan Allah yang datang untuk menguji Nabi Dawud as. Maka Nabi Dawud tersungkur dan bertaubat atas kesalahannya, yaitu terburu-buru dalam memutuskan suatu perkara, dan tidak mendengarkan pendapat dua belah pihak.

Karena tertakdir “salah” maka Thalut dan Nabi Dawud as mendekat kepada Tuhan lewat pintu pertaubatan. Begitupun Nabi Adam as. Yunus as. Musa as.

Saya teringat seorang guru pernah berkata, bahwa orang-orang yang berdosa, itu umpama tentara yang sedang terluka di medan laga. Tugas kita, sebagai sesama pejuang (dalam medan perang tiada henti melawan syaitan) adalah menolong mereka, bawa ke medik, sampai sembuh, lalu mereka bisa kembali bertempur kembali.

Ditambah lagi kita mengetahui bahwa seringkali dosa menjadi jalan seseorang mendekat kepada Tuhan.

Sebagian para alim, mengatakan bahwa karena Allah Maha Pengampun, maka akan selalu ada hambanya yang tertakdir berdosa, untuk kemudian bertaubat dan diampuni.

Sebagian arif lainnya, melihat secara lebih tinggi lagi, bahwa orang yang tertakdir berdosa sejatinya hanya mengikut perjalanan takdir mereka. Karena Allah bersendagurau pada diriNya sendiri. Tetapi bahasan yang ini sedikit pelik dan biarlah arif yang kompeten membahasnya.

Kita cukupkan diri kita untuk tidak menghakimi orang-orang yang sedang tertakdir berdosa.

yang pokok bukan dosa atau pahala, melainkan konteks cerita apapun saja yang ada pada kita sekarang bisa menjadi pintu “kembali”.

*) sources:

– The Great Stories Of Quran, Syekh M.A Jadul Maula

– Al Hikam, Ibnu Athaillah As Sakandari

AYAM PANGGANG, KUCING, DAN TULISAN YANG SAMPAI KE HATI

Dalam satu kisah yang sangat masyhur, diceritakan saat Syaikh Abdul Qadir Jailani berceramah di depan murid-muridnya, anak beliau membatin, bahwa jika saja dirinya yang diberikan kesempatan berceramah maka tentu para jamaah akan menangis karena kehebatan retorikanya.

Syaikh Abdul Qadir Jailani tak lama kemudian memberikan kesempatan putranya untuk berceramah. Maka majulah putra beliau itu, dan memberikan ceramah penuh retorika dengan kutipan ayat-ayat dan hadits yang banyak sekali. Tetapi tak ada satupun jamaah yang menangis.

Tak lama kemudian giliran Syaikh Abdul Qadir Jailani yang naik mimbar dan berceramah yang sangat sederhana. kata Beliau kurang lebih, “hadirin, tadi malam istriku menghidangkan padaku sebuah ayam panggang, tapi kemudian seekor kucing datang dan memakannya.”

Mendengar ungkapan yang sangat sederhana itu, maka jamaah menangis deras. Heranlah sang anak, mengapa ungkapan yang begitu sederhana malah membuat orang-orang menangis?

Jawabannya adalah kebijakan yang banyak sekali kita dengar dari para arif, bahkan para ahli hikmah, “Sesuatu yang berasal dari hati, akan sampai ke hati.”

Kononnya, para jamaah mentafakuri ungkapan sang syaikh dengan maksud menjaga amalan dari riya (ayam panggang diibaratkan amalan, kucing yang mencuri ayam diibaratkan riya yang menghilangkan pahala amalan), dan lain-lain lagi penafsiran.

Berkaca kembali dengan ceritra yang saya baca berapa tahun silam ini, saya merenungi diri sendiri dan menyadari sebuah keengganan di hati saya untuk kembali menulis cerita-cerita atau tulisan-tulisan yang panjang dan bersayap. Karena retorika tidaklah memberi faedah apa-apa selain hanya memuaskan dahaga penulisnya sendiri. Maka di tahun 2019 ini semoga tulisan-tulisan menjadi lebih keluar dari hati. Karena sudah banyak kita lihat tulisan-tulisan, yang muncul dari hati para alim, dan para arif yang jujur, malah awet tak lapuk dimakan masa.

 

 

TIGA PERINGKAT PENGENALAN

Disarikan dari tulisan Buya Hamka, ada tiga macam tingkat “pengenalan” kepada Tuhan.

Yang pertama adalah pengenalan orang-orang biasa. Yang kedua adalah pengenalan para filosof atau ahli kalam. Yang terakhir adalah pengenalan-nya para Aulia atau golongan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin).

Orang-orang biasa, mengenal Allah karena memang begitulah yang mereka tahu sejak kecil.

Para hukama ahli hikmah, para filosof, menemukan Tuhan lewat penelusuran jalan fikir. Analisa akal fikir sampai mentok dan sampailah mereka pada sekian banyak bukti-bukti akan keberadaan Tuhan.

Tetapi semata bukti-bukti, belumlah juga membuat mereka sampai pada “rasa” kedekatan pada Tuhan.

Rasa kedekatan pada Tuhan itulah anugerah maqomnya para Aulia. Yang tidak dapat dicapai oleh semata pendekatan analisa fikiran-fikiran dan premis-premis logis.

Ilmu memang mengantar kita sebatas gerbang saja. Tangga awalan. Selepas kita menjelajah bukti-bukti tentang Tuhan lewat analisa jalan fikir, masuklah kita pada tahap berikutnya yaitu merasakan kedekatan.

Yang satu ilmu lahir, yang satu ilmu batin, atau ruhani. Ilmu keruhanian inilah domainnya tasawuf.

ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN (3)

4ea13796-fb5b-4a7c-857e-72e0477f5ffc-27238-00002073f1944d01Ada salah satu contoh yang sangat tenar di YouTube dimana seorang miliarder bernama Dan Lok, mengakui bahwa kekayaan, ketenaran, pangkat, itu bukanlah hal yang utama. Kebijakan itu ditemui dalam perjalanan kehidupan nya sendiri. Setelah dia menekuni pekerjaan dan bisnisnya sampai di puncak. Kemudian satu perkara mengguncang hidupnya. Cerita lengkapnya bisa rekan-rekan cari di YouTube.

Singkat cerita, Dan Lok kecil adalah seorang asia yang hidup dalam lingkungan barat. Kenyang dibully disekolah sejak kecilnya. Keluarganya broken home. Ayah ibunya bercerai. Dia tinggal dengan ibunya, tetapi untungnya ayahnya masih membiayai mereka.

Sampai suatu ketika telepon berdering dan sang Ibu menangis diberikabar bahwa mantan suaminya kini bankrut, dan tak akan ada lagi biaya hidup dikirim buat mereka.

Selepasnya persis seperti kisah drama klasik. Tetapi nyata.

Dan Lok berjanji pada diri sendiri, bahwa dia tidak perlu figur ayah. Ini kali terakhir dia melihat Ibunya menangis, apapun yang terjadi dia akan pastikan bahwa dialah yang akan menanggung beban hidup keluarga ini. Dia bekerja macam-macam serabutan. Membangun bisnis dari bawah. Meniti usahanya sendiri sampai akhirnya dia sukses besar dan perusahaannya terlibat dalam bisnis ratusan negara.

Kemudian dia semakin matang. Dia memutuskan untuk berdamai dengan ayahnya. Dia menemui ayahnya yang sudah renta. Membelikan ayahnya sebuah apartemen untuk tempat tinggal. Ayahnya menangis haru.

Sampai suatu ketika Dan Lok dikabari bahwa sang ayah sakit keras. Dia akan dioperasi. Bertepatan dengan saat yang sama, Dan Lok harus menandatangani tender terbesar dalam hidupnya. Dia menelepon ayahnya, lalu dia berjanji sesegera mungkin akan pulang kembali menjenguk ayahnya selepas menandatangani tender itu. Dalam hatinya dia bergumam pasti ayahnya bangga dengan kesuksesan sang anak.

Tender selesai ditandatangani. Dan Dan Lok mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal dunia.

Semua seperti tercerabut. Saat itulah dia baru memahami bahwa kekayaan, pangkat, ketenaran, tidaklah yang utama. Hidupnya berubah sejak itu.

Kebijakan bahwa “kekayaan, pangkat, keterkenalan,” bukanlah yang utama; sudah sering kita dengar dari para guru kehidupan. Kita bisa lihat wejangan ini terserak-serak dalam buku-buku. Tetapi untuk sampainya kebijakan ini menjadi merasuk dalam diri, istilahnya “internalisasi” biasanya butuh pengalaman hidup. Dan dalam hal ini, ini didapatkan Dan Lok lewat kehidupannya sebagai pekerja.

Inilah yang dimaksud bahwa bekerja, juga bisa menjadi jalan untuk mengenal kesejatian.

Kata Dan Lok, hidup manusia dibagi menjadi empat fase. Fase pertama survival. Bertahan hidup. Tidak usah bicara yang filosofis, yang jelas manusia butuh makan minum sandang pangan papan. Semua orang bekerja untuk itu, bertahan hidup.

Lepas dari itu, fase berikutnya adalah security. Orang pengen mendapatkan keamanan dalam hidupnya. Manusia terus bekerja untuk mencapai sekuritas. Supaya ga terus menerus khawatir tentang bagaimana esok makan.

Setelah keamanan tercapai, masuklah manusia dalam fase sukses. Sukses duniawi ya. Sukses duniawi menurut Dan Lok.

Dan setelah melampaui sukses duniawi inilah maka manusia baru mengerti bahwa bukan kesuksesan yang penting.. Melainkan significance, kata Dan Lok. Yaitu hidup dalam pengabdian. Berbuat untuk orang lain. Melampaui kedirian yang sempit.

Yang dikatakan Dan Lok itu, senada dengan yang dikatakan ceritra Mahabarata dalam Bhagavad Gita. Mengenali kesejatian lewat bekerja yang tanpa pamrih (selfless action). Dan ini juga yang dimaksud dalam Al Hikam bahwa jika seseorang tertakdir hidup dalam maqom asbab (pekerja) maka titilah maqom itu, ga usah neko-neko pengen berhenti kerja dan jadi pertapa atau ulama yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu. Karena tiap orang ada jatahnya sendiri, dan lewat jalan itupun mereka tetap bisa menjadi spiritualis kok.

Tetapi kalau kita perhatikan. Jalan Dan Lok ini adalah jalan “mendaki”. Menjalani kehidupan dengan segala onak durinya untuk kemudian mendapatkan hikmah dan pengertian hidup pada puncak perjalanan mereka.

Ini bagus. Tetapi berbahaya dan sulit. Karena tak jarang pula dalam perjalanan orang berhenti sebelum sampai. Misalnya dia larut dalam kesuksesan. Lupa dengan kesejatian.

Baru saya pahami, jalan yang lebih aman adalah memang jalan yang dikatakan seorang arif dengan jalan profetik. Jalannya Nabi-nabi. Yaitu, pengertian-pengertian tentang keTuhanan atau ilmu makrifatullah itu jadikan sebagai pondasi. Walhasil dalam bekerja, misalnya, seseorang insyaAllah lebih cepat mendapatkan hikmah, karena sejak awal dia sudah tahu konsepnya bahwa hidup adalah ceritaNya. Jadi dia tidak mencari-cari, melainkan menjalani dengan konsep yang dia sudah paham, mengingati-NYA, kemudian sepanjang perjalanan adalah hikmah demi hikmah sesuai dengan jatah maqomnya sendiri-sendiri.

Pembelajaran mengenai keTuhanan. Dzikrullah. Mengetahui gambaran kehidupan secara lebih Spiritual, inilah domain tasawuf. Kepingan uang logam yang seringkali luput dipahami orang kantoran. (dan sering luput dipahami orang bukan kantoran juga. Hehehehe). Maka belajarlah tasawuf, inilah mutiara.


*) Gambar dicomot dari google images. bisa ditemukan disini juga

ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN (2)

Setiap orang memang dipermudah untuk melakukan apa yang tertulis baginya.

Dalam kesempatan menikmati macet Jakarta sore kemarin, saya dan seorang rekan senior yang mobilnya saya tumpangi berbincang santai tentang hal itu, dalam kaitannya dengan dunia korporasi dan tipikal orang-orang di dalamnya.

Saya katakan pada rekan saya itu, kalau saya ingin mengejar pencapaian orang-orang yang sudah lebih lama dan punya bakat lobi-lobi, gaul dan meeting sana-sini, jago main golf, maka saya akan keteteran karena saya sudah ketinggalan berpuluh tahun. Hidup dan besar dalam lingkungan yang membuat saya menjadi seorang analis yang suka “merenung ke dalam” tetapi sulit untuk berbasa-basi ke “dunia luar”.

Walhasil, memang begitu. Dunia menjadi harmoni dengan banyaknya peran masing-masing orang. Menikmati peranan kita saat ini. Itu kuncinya.

Saya percaya sebuah ungkapan (hadits kalau tak salah) bahwa “hikmah” adalah harta berharga kaum muslimin, yang tercecer. Maka jika menemukan hikmah itu dimanapun, ambillah.

Jadi dalam konteks memulung hikmah itu, saya rasa ada benarnya juga kutipan bhagavad gita dalam fragmen Mahabarata, tentang Path Of Self Realization. Jalan menemukan kesejatian diri.

Ada banyak jalan. Pertama lewat jalan pengetahuan. Orang-orang yang menemukan kebijakan lewat penelusuran jalan fikir. Misalnya para filosof seperti socrates…..yang menemukan jati diri dengan merenung, mengkaji, belajar. Ini jalan para “alim”

Ada lagi jalan bakti. Yaitu orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk mengabdi atau beribadah pada Tuhan. Seperti misalnya para ulama yang rajin sekali beribadah. Melakukan ritus-ritus formal. Pujian-pujian.

Ada lagi jalan tirakat. Ini jalan orang-orang yang menghabiskan hidupnya dalam pengembaraan ruhani. Seperti meditasi, dst.

Dan salah satu jalan lagi adalah dengan berkarya. Bekerja. Ini menarik bahwa dengan bekerja pun seseorang bisa mendapatkan hikmah-hikmah. Misalnya saja lihatlah banyak sekali pembesar-pembesar di dunia korporasi yang kemudian menjadi spiritualis, setelah bekerja dengan sudah payah dan mencapai puncak, pada ouncak pencapaian itu mereka menjadi tercerahkan dan tahu bahwa bukan itu yang harusnya manusia kejar. Mereka jadi dermawan, banyak sedekah, banyak derma, dan lebih sibuk berbuat untuk orang lain ketimbang untuk diri sendiri. Semua itu mereka peroleh karena tercerahkan lewat dunia kerja yang mereka geluti.

Poinnya adalah, setiap orang bisa menemukan hikmah hidup, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan, lewat jalan yang sudah ditetapkan untuk mereka masing-masing.

Dalam Lathaif Al Minan, disebutkan cerita bahwa Ibnu Athoillah as sakandari yang akhirnya menjadi haus akan ilmu batin tasawuf, merasa ingin meninggalkan pekerjaan yang dia geluti demi berbakti pada gurunya. Sang guru berkata bahwa bukan begitu caranya. Tetaplah bekerja pada jalan yang dia tekuni sekarang ini, insyaAllah bagiannya akan tetap dia dapat.

Menemukan Tuhan dalam kesibukan kerja, ini yang saya sering amati dalam kesibukan orang-orang perkotaan (ataupun desa). Mereka mencari sesuatu tapi tidak tahu apa yang dicari.

Kebingungan, adalah awal dari pencerahan. Maka kita lihat gelombang orang yang ramai-ramai ingin belajar agama, banyak dari masyarakat perkotaan.

Tetapi, yang sedikit disayangkan, approach atau pendekatan pembelajaran keagamaan yang dipelajari semata menekankan pada aspek formal luar saja. Seperti belajar premis-premis fikih, dst..

Itu salah satu keping sisi keberagamaan yang penting dan bagus, memang. Tapi kurang lengkap kalau tidak menyentuh sisi batinnya.

Sisi batin keberagamaan ini yang sebenarnya ranahnya tasawuf. Tentang makna hidup. Tentang mengenali peranan. Tentang hal-hal yang semacam itu.

Tapi yang paling paling paling fundamen sekali adalah mengenali Tuhan. Seorang Arif berkata, makrifatullah, kenal Allah adalah pondasi keberagamaan kita.

Barulah setelah mempelajari mengenai itu, maka dalam bekerja-pun kita bisa mendapatkan hikmah.

-debuterbang-

MENGGAMIT KETENANGAN

Saya teringat pesan sang Arif, bahwa ketenangan sejati baru akan ada jika mengenali af’al Allah.

Selama ini orang-orang (utamanya saya sendiri) baru mengenali sifat-sifatNya. Belum sampai pada pengenalan bagaimana af’alNya berlaku.

Akan tetapi sebatas itu juga sudah bagus, karena Dibawah pengenalan terhadap sifat, adalah golongan yang sama sekali buta.

Umpamanya melihat tsunami. Orang awam akan melihat tsunami sebagai semata-mata tsunami. Para cerdik cendikia melihat tsunami sebagai peristiwa alam dan mempelajarinya. Yang mengenali sifat-sifat Tuhan memaknai tsunami sebagai pagelaran keagunganNya sehingga dari sana timbul rasa gentar dan takut karena meresapi keagungan Tuhan. yang mengenali af’al-Nya tahu bahwa DIA bersenda gurau dengan diriNya sendiri.

Semata mengenali sifat-sifat sahaja, belum cukup. Manusia masih akan terombang ambing dalam lautan sifat-sifat. Sebentar merasa gentar dan cemas karena melihat gelaran keagungan Tuhan, sebentar kemudian merasa bungah dan gembira karena melihat keindahan yang DIA gelar.

Kita baru terlepas dari dualitas itu saat memahami bahwa perbuatanNya (af’al) tempat DIA menulis sifat-sifat itu adalah pada diriNya sendiri. Bahwa seisi dunia dibandingkan dengan kebesaranNya adalah seumpama setetes air asin pada samudera tiada tepian. Dan yang selama ini kita kenal sebagai “kita” atau “aku” itu tidak pernah ada.

Pengenalan akan bagaimana af’alNya berlaku itulah, yang menurut sang Guru ialah kuncinya ketentraman dan keridhoan. Karena menyadari milikNya semuaNya, dan kita sebenarnya tidak pernah ada. Ketentraman yang dibangun diatas dualitas sifat-sifat, ternyata akan datang dan pergi. Tidak sejati.

Melihat peta perjalanan itu, sadarlah saya betapa masih panjang perjalanan, dan dimana posisi sekarang berada. Tidak akan sampai tanpa ridhoNya.

TRANSISI MAKNA DALAM KETIADAAN AMBISI

Three-Ways-To-Improve-Your-Self-ConfidenceKarena tahu saya bukan seorang yang “dominan” dan “tega’an”, maka saya meminta bos saya untuk mendatangkan seseorang dari Regional Middle East dan Asia Pacific (disingkat “MENA”) agar datang ke Indonesia, untuk membantu mengecek persiapan audit perusahaan kami, yang kebetulan berada dalam naungan regional Middle East dan Asia Pacific.

Alhamdulillah, berkat izin Allah, strategi itu terkabulkan, dan seseorang rekan yang datang ke Indonesia membantu persiapan audit tadi, adalah seorang dengan tipikal sangat detail dan dominan. Walhasil banyak rekan-rekan menjadi terhenyak, termasuk manajer saya sendiri. Wah, ternyata masih banyak yang harus disiapkan, lalu bergeraklah semua orang.

Semua menjadi waspada pada porsinya yang pas, dan alhamdulillah segala kekurangan bisa diselesaikan dalam tempo yang pas dan audit berhasil dilewati dengan baik.

Bertemu seseorang dengan tipikal yang sangat dominan seperti rekan saya dari region MENA itu tadi, membuat saya meninjau kembali perjalanan karir saya.

Salah satu kelebihan orang-orang yang dominan dan ambisius seperti rekan saya itu, adalah mereka sangat tahu apa yang mereka inginkan. Mereka ingin mendaki tangga karir, dan setelah satu jabatan maka mereka menginginkan jabatan yang di atasnya lagi, dan di atasnya lagi.

Jabatan, tentu sebanding dengan tantangannya, tapi mereka tidak menghiraukan itu.

“Mengetahui apa yang diinginkan diri sendiri”, adalah satu tantangan terbesar bagi orang dengan tipikal seperti saya.

Seringkali, setelah tahapan yang sekarang ini saya tidak tahu harus kemana dan apa yang ingin diraih? Utamanya setelah mempelajari mengenai spiritualitas islam / tasawuf, maka ambisi-ambisi seperti makin pupus saja.

Kalau saya menilik perjalanan saya ke belakang, dari awalnya saya seorang pelajar di salah satu kota di Sumatera. Bagi saya masuk universitas di Jawa itu salah satu pencapaian luar biasa, dan saya menyadari kemampuan saya terbatas dari sisi finansial dan dari sisi intelektualitas. Alhamdulillah nyatanya Allah berkenan memasukkan ke Universitas di Jawa. Ambisinya kala itu adalah ingin mendapatkan pendidikan lebih baik, ingin berkembang.

Dari sana saya kemudian lulus dan bekerja di Industri Lapangan Migas, tahunan menghabiskan waktu terapung di lautan, menyusuri tempat-tempat yang jauh dan terpencil di hutan. Ambisinya kala itu adalah beranjak dari kesulitan ekonomi.

Dan lalu akhirnya dari lapangan saya dipindahkan ke kantor. Itupun suatu pertolongan yang ditemui lewat ambisi mendapatkan tempat yang lebih nyaman dan tidak selalu bepergian.

Setelah berada dalam dunia kantor, dan melalui banyak tribulasi hidup. Cara pandang mulai berubah.

Perjalanan meniti tangga karir bagi saya semua adalah anugerah, karena saya sadar betul betapa kemampuan rekan-rekan di sekitar saya sangatlah dahsyat, untuk tidak dikatakan bahwa saya sebenarnya hanya beruntung saja bisa mendaki tangga karir dimana orang-orang luar biasa ada berserak di sekitar saya, dan setiap dari mereka bisa mengganti saya kapanpun saja. Dan terasa sekali bahwa sebenarnya dari awal saya berpindah kesana kemari mengikuti plot-NYA, semua tidak pernah saya bayangkan. Ambisi saya menjadi pudar.

Tetapi disitulah masalahnya, seringkali karena larut dalam suasana kerja, saya mempertanyakan diri saya yang sekarang, karena tidak punya ambisi, seringkali tak tahu harus ngapain lagi? what is next?

Karena saya kadang terpikirkan bagaimana mungkin bekerja tanpa suatu “dorongan” tanpa “ambisi”? Harus ada suatu “dorongan” agar roda fisik saya ini mau bergerak.

Belakangan saya menyadari bahwa dorongan itu rupanya masih ada, hanya saja berubah bentuk.

Dari yang ambisi personal, berubah menjadi keinginan untuk “membantu”.

Saya ingin “membantu” orang-orang, dalam kapasitas apapun saja. Maka dalam bekerja, dan dalam dunia karir, saya menggunakan mentalitas itu, bekerja dalam keinginan membantu orang-orang. Saat meeting, saat memberi pengarahan, meng-audit, saya benar-benar merasakan saya sedang membantu orang. Bukan pekerja, tetapi sebagai manusia saya membantu manusia lainnya.

Keinginan “membantu” ini, barulah saya sadari rupanya sebuah pendorong yang berada dalam “transisi” untuk masuk ke ranah yang lebih spiritual.

Kalau guru kami mengatakan, bahwa saat kita berbuat, sebenarnya bukan kita yang berbuat. Melainkan kita mengikuti script-Nya untuk berbuat sesuatu. walhasil, pengertian sebenar-benarnya mengenai kenapa sesuatu terjadi, adalah dengan DIA semata-mata. Manusia, hanya memaknainya dengan kacamata yang bertingkat-tingkat sesuai dengan kapasitas pembelajarannya.

Ambil contoh Seorang dokter, misalnya….dia bekerja karena dia ingin memberi makan keluarga. Setelah itu dia mendapatkan penghasilan tetap, dan lama-lama namanya masyhur di khalayak, dia bekerja karena ingin namanya dikenang orang. Tetapi, di sebalik itu ternyata Allah mentakdirkan kemampuan spesialisasinya terpakai untuk menyelamatkan seorang yang sakit, dimana di kemudian hari seorang sakit itu akan menjadi menteri yang mengentaskan urusan ketertinggalan pendidikan anak-anak di daerah terlantar. Misalnya begitu.

Pekerjaan, bisa dia lihat dari kacamata penghidupan untuk keluarga. Bisa dia lihat dari kacamata kebanggaan diri. Atau bisa dia lihat dari kacamata yang lebih besar yaitu dia hanya “perpanjangan tangan” dari takdir menyelamatkan orang-orang yang mungkin punya kiprah dan cerita besar sendiri-sendiri pula.

Jadi sebenarnya dibalik sesuatu ada sesuatu. Dan sebenar-benar pengertian mengapa sesuatu itu terjadi, adalah pada Tuhan sendiri. Kita hanya memaknai sepotong-sepotong dalam perjalanan kita mengenali diri, dan mengenaliNYA.

Puncak dari perjalanan merevisi makna dalam hidup kita itu adalah “hilangnya diri kita” dan melihat hidup sebagai pagelaran ceritaNYA saja.

Transisi itulah yang baru saya mengerti. karena saya ada dalam transisi itulah mengapa saya sering menjalani karir dengan seperti tidak ada ambisi, tetapi masih bingung…. seharusnya saya bagaimana?

Harusnya saya tidak bingung….. karena seorang arif berpesan, tinggalkan “Pintu Depan”, tinggalkan segala pemaknaan bahwa hidup adalah tentang ini tentang itu, tentang kita. Dan masuk sepenuhnya pada “pintu belakang” dimana tak ada kita. Hanya DIA dan ceritaNYA, menerusi dzat (ciptaanNya).

Masuk dalam pemaknaan seperti itulah, yang hanya bisa karena anugerahNYA semata-mata. Meskipun masih mbulet, setidaknya kita sudah tahu peta perjalanannya.


*) Image Sources

MELEPASKAN BUAH PERBUATAN

Snapshot di Kecamatan Sanga-Sanga

Pagi hari kemarin saya bertolak dari Jakarta ke Balikpapan, lalu dari Balikpapan saya menuju Kecamatan Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara, 3 jam perjalanan darat. Lalu setelah menghabiskan 3 jam berikutnya di lokasi tempat kerja, saya kembali lagi ke Balikpapan dan terbang ke Jakarta. Tiba di Jakarta sekitar jam 10 malam.

Badan terasa linu-linu. Tapi ndilalah saya tiba-tiba teringat seorang rekan saya waktu SMP dulu. Rekan saya dulu itu sangat mencintai kesibukan. Betapa dia dulu sering bercerita pada saya bahwa seharian itu dia sangat sibuk ini itu. Capek, katanya, tapi dalam capeknya itu dia merasa produktif. Rasanya seharian tak ada yang sia-sia.

Berkait dengan itu, tadi malam sewaktu di taxi menuju rumah, saya pun sebenarnya sudah membayangkan malesnya bahwa besok sudah harus ngantor lagi, tapi saya teringat bahasan teman SMP saya dulu tentang “produktif” itu, lalu saya kaitkan dengan kajian yang lebih spiritual dari para guru, bahwa kita ini sebenarnya terberdayakan (tertakdirkan) untuk menjalankan peran sesuai plot Sang Empunya drama. Walhasil, bukan masalah produktif, tapi lakoni saja….

Sebenarnya dalam letih dan penat, untuk orang-orang seperti saya ini, malah banyak untungnya. Setidaknya, dengan keseharian yang penat dan banyak tantangan kita jadi lebih menemukan alasan-alasan untuk mengakrabi Tuhan.

Dalam sepanjang perjalanan kadang-kadang dipaksa untuk merenungi, waduh….habis ini apa lagi kiranya?

Lalu teringat pesan guru bahwa lebih baik berdoa ketimbang banyak mikir. Lalu berdoa lah kita. Lewat do’a, jadi kembali pada Tuhan.

Kita ini (utamanya saya), barangkali masih masuk golongan orang-orang yang perlu “alasan” menemui Tuhan. Lewat sebab-sebab di dalam kehidupan, jadi punya konteks, punya cerita buat berdo’a.

Lain lagi kalau para arif, mereka sibuk mengingatiNya, sampai-sampai kehidupan tidak menarik di mata mereka. Nah ini level tinggi. Yang belum sampai sini, pakailah alasan-alasan apapun juga untuk menemui Tuhan. Alasan-alasan yang pastinya tersedia melimpah ruah dalam kesibukan kehidupan kita.

Hidup ini terasa seperti madrasah. Kesibukan dalam pekerjaan misalnya, itu madrasah yang luar biasa. Ada tips agar kita tidak tenggelam dalam kesibukan, tetapi alih-alih malah kita mendapatkan pelajaran.

Dalam kitab Al Hikam disebutkan oleh Ibnu Athaillah As Sakandari, agar kita jangan “tadbir” alias memastikan hasil usaha. Kalau kita berbuat A, maka berbuatlah saja A. Tanpa memastikan bahwa kalau berbuat A maka hasilnya harus B. Karena hasil itu urusan Tuhan. Ada suatu sebab tertentu sehingga kita tertakdir melakukan sesuatu itu.

Padanan petuah ini, kalau dalam istilah di dunia pewayangan dari Epos Mahabarata, Ibaratnya, kita berbuat tanpa mengharapkan “buah” dari pekerjaan itu. Karena kalau kita berbuat tanpa berharap, maka kita akan lepas dari rasa senang dan rasa duka yang temporer.

Kita berbuat, karena “bhakti”.

Seorang Arif mengajarkan, saat kita berbuat, sadari sebenarnya bukan kita yang berbuat. Kita ini “tiada”. Yang ada sebenarnya hanyalah dzat ciptaanNya yang bergerak mengikut scriptNya.

Nah ini agak-agak berat. Tetapi inti sederhananya adalah teruslah berbuat, terus produktif, sambil menyadari bahwa kita ini diperjalankan olehNya, untuk menceritakan diriNya sendiri.

Pelan-pelan memang terasa, terlepas diri kita dari pengharapan mendalam akan “buah” dari apa yang kita kerjakan. Lalu hidup mulai terasa sebagai madrasah pembelajaran. Dan kita salah satu murid di dalamnya, yang diajari sepanjang hayat.

SPIRITUALITAS ANAK RUMAHAN

adventure alm cabin chalet

Sudah lama banget saya ga nonton TV, karena rutinitas kantor yang begitu padat, setiba di rumah sudah capek dan maunya leyeh-leyeh santai saja, walhasil TV jarang sekali ditonton. Beralihlah ke YouTube karena sambil tidur masih bisa nonton YouTube di HP.

Tertumbuklah perhatian saya pada satu Channel YouTube yang lumayan edukatif saya rasa, yaitu “Nebeng Boy”. Ceritanya ini mirip-mirip talkshow, tapi dikemas secara santai, dimana pembawa acaranya nyetir mobil, jemput narasumber, terus ngobrol ngalor ngidul sambil nyetir, kadang-kadang juga nyanyi-nyanyi di mobil. Cair banget, tapi berisilah.

Ini obrolannya inspiratif kata saya.

Sebagai gambaran, channel vlog YouTube yang saya sebut tadi bahkan menghadirkan orang sekelas Najwa Shihab untuk naik mobilnya, obrolan serius tapi ketawa-tiwi santai, sekelas Najwa Lho mau. Juga ada Dedy Corbuzier, Maudy Ayunda, Chelsea Islan, Mantan personnel JKT-48 siapa itu namanya lupa saya, Rapper Young Lex, dan sederet nama anak muda semisal Reza Arap, yang mestinya membuat orang tertarik…..eh, apaan ini ya? Channel YouTube aja lho padahal.

Cara pembawa acaranya ngobrol itu asyik banget, berkelas lah. Dia bisa masuk ke semua tipe orang. Suatu keterampilan yang sejak dulu saya iri pisan. Tapi yang paling mengagetkan adalah ketika dia mewawancara Dedy Corbuzier, disitu Dedy Corbuzier mengatakan bahwa dia anak “rumahan”. Seorang Dedy Corbuzier lho…. Tak pikir anak gaul, sekalinya Dedy Corbuzier ini ga suka nongkrong di café, ga suka acara-acara yang banyak orang, kalau lagi ga shooting senangnya di rumah aja. Dia buat sendiri gym di rumahnya, dia buat macem-macem yang intinya dia emang senang di rumah aja.

Begitu juga Raditya Dika, komika terkenal itu aslinya juga anak rumahan. Dia paling ga enjoy di keramaian.

Termasuk, Boy William pembawa acaranya itu sendiri. Dengan ketrampilan bicara dan pendekatan pada orang yang segitunya itu, saya betul-betul kaget ini bahwa dia juga termasuk orang dengan kecenderungan introversi. Malas keluar rumah.

Ini mengingatkan saya pada sebuah buku tentang introversi yang dulu saya pernah baca, dimana disebutkan disana bahwa Oprah Winfrey, sang pembawa acara fenomenal itu, adalah seorang introvert. Oh my God.

Kenapa saya tertarik? Karena saya sendiri adalah anak rumahan. Sangat rumahan. Sejak kecil saya suka sekali di rumah saja dan baca buku. Saya sulit sekali menikmati kumpul-kumpul dalam suatu acara dengan jumlah peserta yang banyak. Termasuk kalau suka ada undangan dinner-lah di kantor, atau kumpul-kumpul meeting di luar jam kantor misalnya, mesti saya berat sekali untuk mengikutinya, walaupun tuntutan mengharuskan saya untuk bisa, dan mau tak mau saya harus mempelajari seni tentang itu.

Nah, kembali ke bahasan tentang anak rumahan, saya mengamati bahwa betapa dalam obrolan di channel YouTube yang saya sebut tadi, orang-orang bisa menjelma menjadi begitu “spiritualis” saat mereka ditempatkan dalam suasana yang “homey”, yang nyaman seperti rumah. Ga peduli introvert atau extrovert, kenyamanan personal itu membuat orang mengeluarkan sisi terdalam mereka, sisi yang spiritual.

Ambil contoh dalam satu sesi wawancara dengan Chelsea Islan, dimana Chelsea bercerita tentang pengalaman hidupnya dimana ibunya sempat divonis kanker. Meskipun pada akhirnya itu ternyata salah diagnosa, tetapi pengalaman itu begitu membekas dan mendorong seorang Chelsea Islan untuk mengadakan acara di banyak tempat, donasi untuk orang-orang yang terkena kanker. Chelsea Islan lho, udahlah modis, penuh prestasi, berjiwa sosial pula.

Begitu Juga misalnya Reza Arap misalnya, Tatoan dan agak-agak urakan gitu, tetapi dalam sesi diskusi dalam mobil, suasana yang homey, saya melihat sisi spiritual seorang Reza Arap keluar. Dimana dia mendonasikan channel YouTube yang dia miliki untuk sebuah rumah sosial, saya lupa nama yayasannya apa, tapi lihat bagaimana seorang anak muda yang tipikal anak gaul millenial bangetlah, ada sisi spiritualnya sendiri.

Dalam suasana yang homey, yang “rumahan” sisi spiritualitas orang-orang itu keluar. Saya jadi teringat seorang guru bilang bahwa “mencari Tuhan” itu adalah fithrah manusia, fithrah itu ibarat cahaya, cahaya itu tidak dapat hilang betapapun orang berbuat dosa, cahaya itu tidak bisa padam.

Maka saya sangat menikmati sekali melihat orang-orang yang dikenal masyarakat dengan sisi ekstroversi-nya itu, gaul, modis, sukses, banyak uang, tetapi ternyata dalam momen yang tepat bisa mengeluarkan sisi yang sangat spiritual. Sisi yang kadang-kadang mungkin dirinya sendiri tidak sadari, tetapi bisa muncul kalau bertemu orang yang tepat.

Ini satu pelajaran penting buat saya.

Pertama, bahwa banyak orang-orang “rumahan” yang ternyata sangat sukses dalam dunia yang dikira khalayak sebagai dunianya orang-orang extrovert. Tetapi bagaimanapun, mereka tetap butuh waktu sendiri, untuk masuk dalam kenyamanan “rumah”nya, dan menikmati dunia dari sudut pandang mereka.

Begitupun orang-orang extrovert, ternyata mereka punya sisi spiritualitas yang barangkali terasah sangat tajam lewat perjalanan mereka yang demikian jauh, karena fithrahnya mereka sebagai seorang yang senang “jalan” dan “gaul”, jadi mereka melihat banyak pelajaran. Pelajaran-pelajaran itu mengendap dan menunggu untuk dituliskan, disusunkan.

Sebagai anak “rumahan”, saya merasa sekali bahwa “perjalanan” itu penting. Betapa banyak pelajaran yang saya dapat dari “perjalanan”, tetapi karena dasarnya saya malas keluar, maka takdir yang menuntunkan saya dipaksa berjalan. Bekerja sebagai engineer di dunia lapangan migas, lalu pindah ke kantor, lalu jadi internal auditor, semuanya memaksa saya berjalan dan menemukan hikmah dari orang-orang yang semuanya spiritual dengan cara mereka sendiri.

Kedua. Impian saya adalah, bertemu dengan orang-orang yang tumbuh besar dalam dunia ekstroversi, orang-orang yang saya kagumi dengan perjalanan-perjalanan mereka yang luar biasa, saya ingin mendengarkan cerita mereka, mengapresiasi perjalanan mereka, dan mengatakan pada mereka pesan guru saya, bahwa sesuatu yang mereka cari-cari dalam perjalanan panjang ini jawabannya ada dalam diri mereka sendiri, dalam diri kita sendiri. Fithrah spiritualitas yang tidak bisa padam, meski kita berjalan dalam lorong yang gelap segelap apapun. Kita cuma butuh kenyamanan “rumah”, untuk mengakui, “yak….benar…… ada sisi spiritual dalam diri saya, di dalam sini”


Photo by Pixabay on Pexels.com

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑