HADIAH DARI PAK RW YANG KETUS

angrySaya heran juga mengapa beliau begitu ketus. Pagi tadi saya menemui pak RW di alamat rumah saya yang dulu, untuk meminta tanda tangan surat pengantar. Sambutannya tak seperti biasa, kali ini sedikit ketus.

Saya membatin barangkali beliau sedang sibuk atau sedang banyak problem, okelah tak apa. Karena sopan santun dan unggah-ungguh sebagai warga, saya tak tampilkan raut tidak suka, padahal saya juga rada kesel karena beliaunya ketus, hehehe.

Sepanjang perjalanan pulang, saya “tersadarkan” sebuah fakta, bahwa meskipun dalam status sebagai seorang warga, saya menampilkan bentuk kesopanan. Tetapi sebagai seorang pribadi, di dalam diri saya, yang lebih dalam dari tampilan “seorang warga”, ada pribadi yang sedang kesal.

Kita bisa mengelupasi status warga dari diri seseorang. Sebagaimana status RW atau RT atau lurah, atau macam-macam status bisa kita lepaskan dari pribadi seseorang.

Umpamanya sepulang kita dari kantor, di rumah kita sudah bukan direktur lagi. Tetapi kita hanya seorang Bapak, atau seorang suami misalnya.

Permasalahannya adalah, kita selama ini “terhenti” sebatas mengelupasi status yang di luar itu saja. Tidak sampai “yang paling dalam”.

Misalnya kita buang status manajer di kantor. kita hanya seorang Bapak. Kita buang status sebagai Bapak di rumah, maka kita hanya seorang manusia yang umpamanya bernama “Hasan”. Kita hanya bisa sampai sini saja, biasanya.

Padahal, kalau kita masuk lebih dalam lagi, sesuatu yang kita kenal dengan nama “Hasan” itu pun masih bungkus. Baju mental. Yang dibentuk oleh pengalaman hidup dan kumpulan ilmu yang dimiliki. itulah Hasan. itulah Ego bernama Hasan. Kalau kita jeli, di dalam sana, ada “yang mengamati”. Dia bukan “Hasan”, bukan sesuatu yang selama ini kita kenal dengan diri kita.

Dibaliknya Hasan, ada sesuatu yang sadar dan merekam semua pengalaman hidup itu. Dalam literatur islam, itulah disebut “hati”. Bahasanya Imam Ghozali, hatilah fakultas ilmu. Tempat segala pengalaman hidup dan tempat segala ilmu dan pelajaran terekam. itulah ‘hamba’.

Secara jujur saya akui, dalam beribadah misalnya, saya seringkali masih berbungkus baju mental. Bukan sebagai ‘hamba’.

yang mengadu masih baju Ego. Jika saya bernama Hasan, maka yang mengadu adalah Hasan. Karena Hasan adalah kumpulan pengalaman hidup, maka Hasan memandang Tuhan dalam kacamata manusiawi si Hasan.

Tak urung, Tuhan terpandang dalam citra yang bersifat-sifat, sesuai dengan kacamata Hasan.

Jika Hasan sedih, dipandangnya Tuhan dalam citra Yang Menghapus kesedihan.

ini pun sudah bagus, tapi harus hati-hati, agar hanya menyifati Tuhan dengan sifat yang layak bagiNya. seumpama Asmaul Husna.

Tetapi jika bisa masuk lagi, lebih dalam dari sebatas baju Ego si Hasan. Maka akan ditemui yang hamba itu.

yang bukan direktur, bukan bapak, bukan Hasan, bukan macam-macam peranan apapun. Tetapi yang menyaksikan pagelaran. hamba yang menyaksikan.

Jika hamba yang menyaksikan itu yang berdo’a, maka karena dia tidak berbaju ego dan tak berbaju mental apapun, DIA tak memandang Tuhan dalam citra sifat-sifat yang bermacam-macam. Sang hamba memandang Tuhan sebagaimana DIA saja. yang tiada umpama.

Tersadarlah saya, bahwa pak RW yang saya temui tadi pagi pun hanya baju. Baju terluar bahkan. dibaliknya mungkin ada seseorang yang bernama -katakanlah- Pak Raden misalnya.

Dan pak Raden pun hanya baju peranan. Di sebaliknya Pak Raden ada sang hamba yang juga mengamati dan menyaksikan.

kita dan mereka sama saja.

Lalu kesal saya pun hilang


*) Image Sources

DIBERI ALASAN MENEMUI TUHAN

Salah satu ciri kultur perusahaan swasta adalah persaingan yang ketat. Orang yang tak kuat dengan persaingan akan terlempar keluar.

Permasalahan saya pribadi, karena saya bekerja pada perusahaan swasta, adalah bagaimana menyesuaikan diri dengan kultur persaingan yang ketat itu, sedangkan sifat atau kecenderungan alami saya adalah malas unjuk gigi, dan dalam tataran tertentu bisa dibilang kurang ambisi.

Seringkali saya berdoa, agar Allah memberikan kemudahan. Bagaimana dengan keterbatasan dan kelemahan pribadi agar bisa survive di medan yang ganas.

Alhamdulillah salah satu kemudahannya yang saya amati ialah seringkali saya diberikan “ruang”. Maksudnya, tanpa perlu selalu unjuk gigi atau cari perhatian, pimpinan acapkali memanggil saya karena memberikan tugas atau disuruhlah saya membuat macam-macam laporan investigasi masalah.

Dengan banyaknya masalah, maka saya ketempuan bekerja dengan intensitas yang lebih banyak bertemu bos saya. Tanpa perlu saya mencari-cari kesempatan dan “ruang” tetapi “ruang” itu sendiri dibangunkan oleh beliau. Lewat tuntutan-tuntutan tugas yang banyak dan seringkali melelahkan, tetapi imbasnya adalah pertemuan saya dan beliau menjadi lebih sering.

Dari situ kemudian beliau mengenali saya. Dari situ kemudian beliau memahami saya secara lebih komprehensif. Misalnya, selain dari pendiem dan kelihatan tak punya ambisi atau target, rupa-rupanya anak ini bisa juga kalau disuruh kerja. Begitu.

Merenungi tema ini, saya jadi teringat seorang guru pernah mengatakan bahwa seringkali dengan begitu banyaknya masalah dalam hidup, membuat kita semakin-makin banyak “naik” dan meminta tolong pada Tuhan, maka kita tanpa sadar membangun kedekatan.

Baru saya mengerti sebenarnya lewat kesulitan-kesulitan itulah Allah memberikan kita “ruang” untuk selalu melapor. Tanpa diberikanNya kita ruang, maka kita akan tersisih dari orang-orang yang by nature -secara kecenderungan alamiahnya- sudah dekat dengan Tuhan.

Sebagaimana Tuhan menolong kita dalam dunia pekerjaan, begitu pula DIA menolong kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makna yang lebih spiritual.

Kedekatan kita padaNya adalah karena DIA berbaik hati memberikan kita ruang mengadu.

Ketika Allah memberi, maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan belas kasih-Nya kepadamu. Dan ketika Dia menolak memberimu, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya. Dan di dalam semuanya itu, Dia sesungguhnya hendak memperlihatkan Diri kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya. (al-Hikam – Syekh Ibn Athailah)

Dalam satu wejangan, seorang arif (Ust. H. Hussien Abd Latiff) pula berkata. “Anakku, kalau kita mengatakan kepada Allah ‘aku rindu kepadaMu’, maka bagaimana kita tahu Allah pun rindu kepada kita?”

Jawabannya ialah jika kita mengatakan kita rindu kepadaNya maka itulah tanda DIA merindui kita. Karena DIA tlah menuliskan kita menyapaNya.

Maka dengan segala kekurangan dan ketidak sempurnaan amal, pagi ini saya bersyukur kepada Allah untuk telah diberikan momen-momen kedekatan. Karena menyadari bahwa tiadalah akan terjadi saya menyapaNya tanpa terlebih dulu DIA tuliskan agar saya berdoa.

Lebih cepat rahmatNya sampai pada kita, ketimbang amal kita sampai padaNya.

ISYARAT DARI SEBUAH BUKU LOAK

Serasa agak tidak percaya, saya mendapatkan “isyarat” dari sebuah buku loak. Buku yang saya beli semasa masih kuliah di Unpad Jatinangor dulu.

Ceritanya, saya sudah selesai sidang. Dan dimasa menanti wisuda, saya jalan-jalan di sebuah pasar kaget yang digelar setiap hari minggu. Disanalah saya beli sebuah buku loakan. Buku bekas dengan judul kalau tak salah “English Conversation for Oil and Gas Industry”. Berbekal buku itulah saya menggenjot kemampuan berbahasa inggris yang alakadarnya.

Saya menghapal percakapan demi percakapan disana, dan memraktekkannya sendiri di rumah berbekal headset pinjaman dari teman dan sebuah software audio. Saya mulai berlatih bahasa inggris dengan harapan bisa lulus interview pekerjaan.

Di buku itu, disebutkan kisah seorang pekerja minyak lepas pantai. Dia bernama Pangulu. Seorang biasa yang bekerja sebagai insinyur di lepas pantai, pengeboran minyak.

Tak ada yang terlalu istimewa pada diri Pangulu, selain dari dia selalu berusaha untuk menyenangkan orang terdekatnya. Dikisahkan Pangulu sebagai seorang yang easy going, dan untuk “killing time” membunuh kebosanan di anjungan pengeboran, Pangulu selalu memainkan sebuah piano yang ada di ruang rekreasi. Atau kadangkala bermain gitar. Hal yang sederhana, tetapi memunculkan rasa bahagia pada orang-orang.

Kisah Pangulu, yang saya ingat, begitu membekas bagi saya. Terutama karena tak lama setelah itu saya sendiri pun akhirnya diterima bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengeboran migas. Maka spontan literatur pertama yang teringat di benak saya adalah buku loak yang saya beli itu, dan ceritra pertama yang terbetik adalah tentang Pangulu. Orang biasa, yang belajar memberi kebahagiaan dengan cara yang biasa.

Sebuah kebetulan sekali, bukan?

Cuma memang saya tidak bisa memainkan alat musik. Sama sekali tak bisa piano atau gitar. Akan tetapi pagi ini kembali saya merenungi bahwa pesan-pesan kebaikan yang dibungkus dengan baju “seni” seringkali bisa awet dan tahan lama.

Sebagai misal, lagu ilir-ilir, tembang jawa yang sarat nuansa spiritualitas itu, bertahan begitu lama.

Atau misalnya juga serat wedhatama, yang bernuansa islam dengan balutan susastra jawa yang begitu apik.

Atau, yang sangat lekat dan juga mempengaruhi cara pandang saya, misalnya Al-Hikam, kitab kumpulan aforisma Ibnu Athaillah. Aforisma yang begitu indah, dengan bahasa-bahasa kiasan yang ternyata sangat dalam dan bermakna.

Atau dari tradisi lainnya, misalnya kumpulan sloka Bhagavad Githa. Beberapa bagian dari sloka Bhagavad Githa memang tak terlalu seiring dengan pandangan islam. Tetapi tentang pergolakan psikologis dan filosofi tentang peranan manusia dalam kehidupan; sangat menarik dan layak untuk dibaca.

Kebenaran…. jika disampaikan dengan bahasa yang terlalu “telanjang” seringkali memang kurang pas. Tapi tentu tak semua hal bisa dikiaskan, tanpa membuat orang terdistorsi pemahamannya.

Pada pokoknya, saya ingin kembali menjadi seperti kisah Pangulu. seseorang biasa yang namanya hanya terbit di sebuah buku loak. Tetapi dari kontribusinya yang biasa saja, orang-orang sudah bisa merasakan kebahagiaan.

Mudah-mudahan, kebenaran yang dibajui dengan keindahan bisa menjadi langgeng. Dikenang lebih panjang dari usia penulisnya itu sendiri.

MENCARI ALASAN MENEMUI TUHAN

Saya mengamati diri saya sebagai orang yang mudah sekali trenyuh dan menemukan sisi melankoli dari hampir segala hal. Semisal pemandangan yang indah, dari lagu yang menyentuh, dari landmark bangunan bersejarah, dari cerita-cerita kepahlawanan, dari macam-macam. Tetapi paradoksnya adalah saya males sekali “jalan”. hehehehe.

Senang memungut hikmah, tetapi malas bergerak. Sungguh paradoks.

Kalau saya menengok ke belakang, dan merunut ulang semua hikmah-hikmah yang saya pungut sepanjang perjalanan, nyatalah keseluruhan jenak hidup saya adalah dipaksa untuk “berjalan”. Tanpa dipaksa, saya tidak akan “berjalan”.

Mulai dari meninggalkan kampung halaman. Dipaksa masuk ke dalam hutan, menyusur gunung dan lembah oleh kampus tempat saya kuliah. Dipaksa pindah ke jakarta oleh pekerjaan. Dipaksa “melaut” dan menghabiskan sekian minggu kontemplasi di tengah lautan yang dalam. Naik speed boat. Naik kapal capung. Naik pesawat. Naik perahu klotok. Dipaksa ke luar negri. Dan ditarik masuk dalam dunia kantor yang riuh dan padat dengan kertas-kertas kerja yang begitu Jakarta.

Semuanya “terpaksa”. Tetapi dari sisi keterpaksaan itulah saya menemukan hikmah.

Satu hal yang saya akhirnya mengerti bahwa kapasitas saya, barulah sampai pada “butuh alasan untuk bertemu hikmah”. Tanpa alasan-alasan, atau tanpa konteks hidup yang mana saya “dipaksa” menjalaninya, saya tak akan menemukan hikmah.

Memang ada segolongan orang yang disebut “Muqarrabiin” Orang-orang yang didekatkan pada Tuhan. Mereka ini, orang-orang yang sudah dekat pada Tuhan, tanpa perlu alasan-alasan.

Jika orang awam seperti kita, lewat ujian dan kemudahan hidup kita meniti sabar dan syukur, yang kemudian membuat kita merasakan dekat denganNya. Maka orang-orang Muqarrabiin adalah orang-orang yang sudah dekat dengan Tuhan sehingga kehidupan menjadi tawar bagi mereka, susah senang tak ada beda. Maka mereka mendekati Tuhan tidak lewat dualitas sabar dan syukur.

Seringkali, saya seperti ingin meloncati jarak. Saya langsung pada step “tidak ada apa-apa”. Seolah saya ingin mengejar pencapaian ruhani para arif yang “tak butuh alasan untuk bertemu hikmah”. Maka sekali dua kali saya mencoba “selalu” tak hirau pada dunia. Karena, saya ingin larut dalam mengingati Tuhan, tanpa lewat alasan-alasan.

Tapi ternyata saya tak bisa. Saya belum sampai ke sana.

Itulah sebabnya dalam kompleksitas hidup yang kadang-kadang begitu melelahkan, saya menyadari bahwa disitulah momen kedekatan padaNya terbangun. Dalam alasan-alasan kita yang begitu manusiawi. disitulah doa-doa menemukan jenak yang sangat pribadi. Memang ini level pemula, tetapi apatah itu pemula, dan apatah itu paripurna? Jika yang pokok adalah menemukan DIA.


*) Image taken from here

TASAWUF DI TENGAH MANUSIA MODERN

Spiritualitas dalam kehidupan modern seperti sekarang sangatlah diperlukan. Spiritualitas dalam arti keberagamaan yang juga mencakup sisi “batin”-nya. Tidak hanya aspek lahiriah.

Saya teringat dengan kebimbangan saya awal-awal masa bekerja dulu. Saya merasa hidup dalam dunia kerja adalah hal yang penuh dengan keriuhan dan hiruk pikuk masalah. Saya ingin lari dan menyepi saja. Banting setir dalam kehidupan asketis menjadi agamawan umpamanya seperti pertapa, hehehehe.

Sampai pencerahan pertama menyambangi saya dari kitab Al-Hikam. Secara pribadi saya sangat berterimakasih sekali kepada Ibnu Athaillah As Sakandari yang mengungkap polemik besar psikologi manusia. Dua poin yang saya garis bawahi adalah kajiannya mengenai asbab-tajrid dan kajiannya mengenai meninggalkan “tadbir”.

Menjadi orang “asbab” atau berjibaku dalam dunia kerja dan kehidupan yang hiruk pikuk, ataupun menjadi orang “tajrid” yang hidup asketis meninggalkan riuhnya dunia, menjadi sufi yang menyepi dsb. Adalah “peranan” yang sudah disematkan pada masing-masing orang.

Tidak semua orang harus hidup asketis, sebagaimana tak semua orang harus hidup bertungkus lumus dalam dunia kerja dan karya. Semuanya ada porsinya. Dan tindakan yang tepat adalah menjalankan kehidupan lewat jalur masing-masing, dengan syarat mengetahui tujuan kehidupan itu sendiri yaitu untuk mengenaliNYA.

Jika semua pekerja, insinyur, dokter, tentara kemudian berhenti dari karya mereka lalu menjadi ulama di pelosok, maka kehidupan tidak akan berjalan. Pencerahan Justru didapati dengan menyadari bahwa setiap kehidupan kita memiliki kontribusi sendiri pada pagelaran dunia, dan pagelaran ini semata untuk mengenalkanNYA. Maka seseorang menjadi “tenang” dan dapat berperan dalam takdirnya.

Belakangan saya temukan petuah Ibnu Athaillah ini senada dengan ceritra dalam Mahabharata. Dimana Arjuna mengalami konflik batin dalam perang kurusetra karna harus berhadapan dengan Duryadana yang merupakan saudaranya sendiri.

Sekilas arjuna ingin lari saja dari “peran”nya sebagai ksatria. Dan ingin hidup mengasingkan diri saja. Tidak ingin berkecimpung dalam huru hara.

Tetapi penasihat Arjuna, yaitu Khrisna menasihatinya bahwa lari dari peranan takdirmu adalah bukan solusi. Tetapi solusi sebenarnya adalah dengan menjalani takdir sebaik mungkin, dengan menyadari bahwa menjalani takdir adalah bentuk pengabdian padaNYA.

Dan satu cara untuk menghindari derita adalah bukan dengan tidak berbuat apa-apa, melainkan berbuatlah yang terbaik sesuai peranan, tetapi jangan mengharapkan “buah” dari perbuatan itu.

Jika kembali pada Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, “tidak mengharapkan buah” dari perbuatan kita, ini disebut beliau dengan istilah meninggalkan “tadbir”. Tidak mengatur-atur hasil. Jika berbuat A maka hasilnya harus B. Melainkan sepenuhnya menyerahkan urusan hasil kepada Tuhan, karena manusia tugasnya adalah berbuat. Dimana berbuat disini ditafsirkan sebagai menjalankan peranan sesuai takdirmu. Sesuai “dharma”.

Saya tak menguasai kisah Mahabharata sepenuhnya tentu. Hanya saja menarik sekali mengamati bahwa pergolakan batin manusia mencari arti hidup seringkali bersinggungan satu sama lain. Maka kebijakan hidup seringkali menjelma menjadi hal yang universal.

Hal ini yang jarang ditemukan manusia dalam kehidupan modern. Setidaknya bagi saya pribadi. Baru saya temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya setelah mempelajari aspek batin agama, yaitu tasawuf.

Dan seorang guru mengingatkan, awal beragama adalah mengenal Allah. Tetapi itu baru awal. Lanjutan dari pengenal pada Allah -lewat ilmu- adalah praktik keridhoan.

Keridhoan ini ternyata berkait erat dengan sadar akan “peranan” dalam konstelasi hidup.

Menarik sekali.

-debuterbang-

ADAB KACAMATA YANG TERBATAS

Mata sudah lima watt ini, tapi dari sore pengen menulis tentang ini dan baru sempat sekarang. Ceritanya tentang kehebohan di Cibinong City Mall hari kemarin.

Di lantai atas, terjadi kehebohan. Saya dan anak saya mengira kehebohan itu karena kondisi yang darurat, setelah tanya-tanya kepo ke orang-orang baru saya tahu bahwa kehebohan itu ternyata karena ada artis. Kirain sesuatu yang serius dan gawat, ternyata artis toh……. artis bule, dan saya tak hapal namanya siapa.

Di dalam hati saya waktu itu, sempat tercetus “siapaaaa lagi ni orang”. seakan-akan ada suatu kesalahan moral yang dilakukan orang tersebut. Padahal, dia tidak melakukan apa-apa. Tetapi benak bawah sadar saya mencap gesture dan gerak-gerik bule sebagai sesuatu yang tidak sopan secara kultur asia.

Lalu saya tiba-tiba tersadar. Karena saya hidup dalam kultur indonesia, katakanlah ada sedikit porsi jawa dalam kehidupan saya, maka saya menilai kehidupan dalam standar kesopanan ala jawa. Jika ada sesuatu yang melanggar tata kesopanan yang kurang njawani, maka saya tak terima, dan hal itu refleks saja dalam alam bawah sadar saya.

Bahkan dalam beribadah, misalnya berdo’a kepada Tuhan. Mengadukan masalah, lewat munajat misalnya. Maka mau tak mau saya akan memandang hidup dalam pola budaya dan keseharian saya. Misalnya, “Ya Allah….. tolonglah, kok orang-orang itu begitu banget…. kok ya mereka begini begitu…….” Misalnya begitu saya berdo’a.

Tanpa saya sadari, saya sudah mengira bahwa Allah “merasa dan berfikir” dalam alam budaya yang sama dengan saya. Seolah-olah Allah itu sesuatu yang sangat Indonesia. Seolah-olah Allah itu sangat timur sekali. Tentu ini hanya pengibaratan, tapi saya yakin sepenuh hati rekan-rekan paham maksudnya.

Mau tak mau, manusia mensifati Tuhan dalam kacamata persepsinya sendiri.

Padahal, Allah adalah juga Tuhan segala bangsa.

Bagaimana kita mempersepsi Tuhan, dalam pandangan begini, sangat perlu hati-hati. Itulah mengapa jika kita ingin berasyik-asyik dengan do’a, munajat, dan segala macam peribadatan lainnya, adab yang harus dimengerti ternyata adalah jangan menyifati Tuhan dengan sifat yang tak layak bagiNya.

Karena manusia itu sering mengira-ngira Tuhan itu begini begitu. Seolah-olah kalau kita marah maka Tuhan marah juga. Kita mengira Tuhan berfikir seperti kita. Padahal, kita sudah mempersepsi dia dalam cara pandang kita sendiri.

Seperti contoh klasik. hari hujan deras. Tukang cendol mempersepsi keadaan itu sebagai “Allah membenci saya”, sedangkan tukang ojek payung mempersepsi hujan itu sebagai “Allah sedang memberi saya rezeki”. Sama-sama hujan, tetapi Allah sudah dipandang dalam dua citra sifat, yang sebenarnya karena persepsi manusia itu sendiri.

Maka itu, penting sekali memahami adab-adab dalam memandangNya lewat pintu depan ini. Agar tak keliru mensifatiNya dengan sifat yang tak layak bagiNya. Sebuah panduan paling umum adalah : rahmatNya mendahului kemurkaanNya. itu panduan untuk memandang dari sisi depan, istilahnya begitu.

Dan saat seseorang sudah tidak lagi menyoal apa-apa atas kejadian hidupnya, maka Tuhan tidak lagi “terpandang” dalam citra sifat-sifat yang bermacam-macam.

Contoh sederhananya adalah misalnya dia sudah sangat ridho akan kejadian hidup. Maka si Tukang Cendol tadi, menerima kondisi hujan maupun kondisi panas. Saat hujang maupun panas sudah tidak jadi soal baginya, maka hilanglah persepsi dualitas sifat-sifat, yang seakan-akan Tuhan kadang-kadang baik kadang-kadang jahat. Karena persepsi itu adalah keterbatasan manusia itu sendiri, memandang Tuhan dalam kacamata manusiawi yang terbatas.

sederhananya, kalau mau berasyik-asyik dengan do’a dan curhat-curhat lewat kejadian hidup kita; jangan sampai kita berprasangka buruk tentang Tuhan. Sifatilah DIA dengan sifat yang layak bagiNya. Misalnya, pahamilah Asmaul Husna dengan baik, agar tak keliru memaknai hidup.

Tetapi, jika sudah bisa melepaskan diri dari dualitas, dan sudah menerima segala hitam putih susah senangnya hidup, maka Tuhan tak lagi terpandang dalam citra yang bersifat-sifat. DIA sebagai DIA semata-mata.

saya hanya tulis ulang sepemahaman saya dari wejangan seorang guru.  Dimana level yang terakhir itu, saya sendiri ga bisa-bisa, hehehehehe….. level bawah pun tak mengapa, asalkan tidak keliru adab menyifatiNya.

RUANG SENDIRI

43339-004-62CB83E6Saya teringat ungkapan yang masyhur, kalau tak khilaf dari Ibnu Arabi, bahwa “usaha manusia” hanya sebatas mengetuk pintu Tuhan. Selebihnya adalah urusan Tuhan, untuk “menyambut”.

Ungkapan itu, tentulah metafora. Tentu tak benar-benar ada pintu disana.

Belakangan teringat seorang guru pernah mewejang dengan nasihat yang hampir serupa, yaitu bahwa batas usaha manusia hanya sebatas sampai ke gerbang istana raja, begitu kata beliau mengutip Syaikh Abdul Qadir Jailani.

lucunya, realita dari wejangan itu baru saya mengerti setelah mendengarkan lagunya Tulus, judulnya “Ruang Sendiri”. Dimana ceritanya itu lagu cinta-cintaan sebenarnya, dan dia butuh sejenak waktu untuk “sendiri”, karena butuh “ruang”. Blasss sama sekali tak ada spiritual-spiritualnya itu lagu yang muncul di playlist spotify saya, tapi kok jadi paham lewat sana.

Ilustrasinya seperti seorang yang sedang larut dalam menonton televisi, sinetron yang dia gemari, lalu dia menangis karena sangat terikut dalam suasana cerita, orang itu akan seperti ada dalam “dunianya” sendiri. Dia seperti hidup dalam ruangnya sendiri.

Begitu juga dengan ingatan kepada Tuhan. Ternyata, jika terus menerus kita mendawamkan mengingati Tuhan, umpamanya dalam setiap terpa masalah di kehidupan kita selalu kita “melapor” pada Tuhan dalam kontemplasi dan doa-doa kita pribadi; maka seperti ada “ruang” untuk kita menyendiri dan melapor kepada-Nya. Meskipun kita berada dalam keramaian.

Ruang sendiri itu, kalau bentuk fisikalnya barangkali disebut mihrab, yang sering kita jumpai pada ceruk masjid yang ditempati imam untuk memimpin sholat. Tetapi secara spiritual, ruang mihrab itu adalah “ruang” yang terbangun dari seringnya kita melapor padaNya dan mengingatiNya.

Tak benar-benar ada ruangan dan mihrab di dalam hati kita tentu saja. tetapi semakin dawam kita melakukannya, semakin cepat kita masuk dalam dunia itu, dan sendiri saja didalamnya, meski banyak keramaian di luar kita.

Banyak-banyak melapor kepada Tuhan, sampai “ruang” itu terbangun dalam hati kita, dan kita bisa berdiam di dalamnya.


*) ilustration image taken from here

SI MISKIN YANG DIKARUNIAI

Banyak renungan akhir-akhir ini. Terutama setelah menyaksikan berita di televisi dan media online, kehidupan publik figur yang diterpa badai. Saya melihat bagaimana Tuhan berkuasa membolak-balik hati manusia. Taat dan ingkar hanya sekerlip mata saja berubah.

Dan dari obrolan santai dengan beberapa orang rekan yang juga dilanda badai dalam kehidupan mereka. Saya jadi teringat pepatah lama: tak ada gading yang tak retak. Manusia adalah tempatnya khilaf.

Seorang rekan bertanya pada saya, apa tips-nya Taskiyatun Nafs? Tips yang paling simple untuk tazkiyatun nafs?

Waddduuuh mana saya tahu. Saya dan dia rekan saya itu, barangkali sama saja. Sama-sama orang yang berulang kali menyaksikan diri sendiri sebagai pejalan yang jatuh, lalu bangun, berjalan, lalu jatuh lagi dan bangun lagi.

Dalam skema yang seperti itu barulah saya memahami ungkapan para arif yang mengatakan dalam makna kurang lebih begini: jika untuk sampai kepada Allah harus menunggu bersih dulu, selamanya kamu tidak akan sampai padaNya. Karena kita tak akan bersih.

Makna dari ungkapan itu, saya temukan pengertiannya setelah merenungi kajian Ust. Hussien Abd Latiff.

Alih-alih membersihkan diri, ada tips lain yang lebih cepat. Yaitu dengan menyadari -lewat ilmu- bahwa kita tidak memiliki wujud sejati, dan kita hidup mengikut plot-Nya di Lauh Mahfudz.

Dengan memahami ini, ada pergeseran “persandaran” di hati kita. Dari yang tadinya melihat amal sebagai sebuah usaha, lalu bergeser melihat amal sebagai sebuah karunia.

Cobalah rekan-rekan perhatikan. Jika selalu kita mengharapkan diri kita bersih, semakin-makin kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa diri kita, hati kita dibolak-balik sekehendakNya. Dan kita akan mendapati diri kita tidak akan pernah bersih. Maka kecewalah kita. Hilanglah harapan, karena mengukur perjalanan menuju Tuhan dengan kapasitas dirimu sendiri.

Tapi jika kita memahami bahwa kita mendekat sejengkal; DIA sehasta. Kita sehasta; DIA sedepa. Maka setiap orang tak akan kehilangan harapan. Sebab lebih cepat pertolonganNya datang kepada kita, ketimbang kebagusan laku dan peribadatan kita sampai padaNya.

Jadi kita ada harapan. Dari titik sependosa apapun kita. Dari ceruk paling nadir di kehidupan kita sekalipun, saat kita menyadari bahwa sekali-sekali manusia tidak akan bisa bersih, disitulah kita bersandar betul-betul pada kemurahanNya.

Seolah-olah, “ya Allah, jelek dan buruknya peribadatanku ini selama-lamanya tidak akan mampu membeli pertolonganmu, tetapi rahmatMu lebih cepat sampai padaku ketimbang amalku yang tak sempurna ini”.

Disitu mengertilah kita. Bahwa amal itu karunia. Saat DIA mengaruniai kita pengertian-pengertian, maka membaguslah amal kita.

Ibarat seorang raja menolong seorang pengemis yang kotor. Dia memandikannya, memberikannya pakaian yang bagus. Menghadiahkan wewangian. Lalu Mendudukannya disisinya yang terhormat.

Saat itu membaiklah kedudukan si miskin tadi, tetapi dia sudah sadar, bahwa dia sampai disitu karena anugerah. Bukan karena kerja kerasnya.

SPIRITUALITAS DALAM KEMACETAN

Kalau porsinya “Pas”, dan saya tak sedang terburu-buru menuju kantor, sebenarnya saya cukup bisa menikmati kemacetan.

Macet yang proporsional, dalam situasi yang tidak sedang mendesak, justru memberikan saya kesempatan untuk jeda sejenak dan menikmati pemandangan dari sudut yang biasanya tak kelihatan.

Seperti pagi ini. Macet yang sopan di atas fly over, memberi kesempatan menikmati setiap lekuk gedung-gedung jakarta yang padu padan dengan rumah-rumah yang kusut. Orang-orang yang sibuk dalam pagi yang lahir sangat prematur.

Di kota besar, pagi lahir terlalu dini dan malam lelap pada usia yang terlampau tua. Sejatinya kita dipaksa untuk hidup dalam rentang observasi yang lebih panjang dari biasanya bukan?

Tapi pelajaran hidup jarang terserap dan kebijakan jarang bisa dinikmati meski usia kesibukan lebih panjang, barangkali karena “jeda” yang kurang. Itu barangkali hikmahnya kadang-kadang Allah mentakdirkan jeda.

Saya teringat dulu jaman kuliah, seorang sahabat selalu ke kampus dengan motor bebek tua. Sangat tua sehingga tidak mampu berlari dengan kecepatan yang umum. Tetapi justru dengan pelan-nya itu, pada momen yang pas dan sedang tak ada hal mendesak; dia malah memberikan waktu menikmati sudut-sudut Jatinangor yang penuh dan semrawut. Detail anugerah yang tak terbaca jadi kelihatan.

Di dalam sholat, jeda sejenak itu dinamakan tuma’ninah. Di dalam haji dia disebut wukuf. Dan di dalam kehidupan…… dia adalah kebetulan-kebetulan kecil yang banyak kita temukan sehari-hari.

KENIKMATAN MENONTON HIDUP

1Ada satu “kenikmatan” lain yang saya baru mengerti, ketimbang kenikmatan untuk “tampil” dan menjadi menara gading di tengah khalayak, kenikmatan itu adalah asyik menjadi “pengamat” dan belajar dari kehidupan.

Dalam sebuah sesi pelatihan di salah satu kantor Client di Duri, Riau berapa tahun lalu. Ada materi mengenal diri secara psikologi. Pelatihannya dari kantor client sih, cuma saya beruntung untuk telah ikut dan bagi saya itu menambah wawasan.

Satu fakta disebutkan disana bahwa kecenderungan psikologi manusia bisa bergeser dari yang misalnya dominan koleris atau pengatur, menjadi lebih dominan sebagai orang yang kompromistis. Jadi karakter seseorang itu tidak rigid alias kaku. Bisa bergeser. Begitu kata para psikolog.

Salah satu yang membuat bergesernya karakter seseorang itu adalah karena “ilmu” yang dia dapat. Entah lewat belajar atau lewat pengalaman hidup. Berubah cara pandang, maka berubah pula karakter seseorang.

Saya sih bukan psikolog, tetapi dengan niteni diri sendiri saya jadi paham bahwa benar juga kata para ahli, secara nampak luar kecenderungan psikologi manusia memang bisa bergeser. Dari sifat-sifat tertentu, menjadi sifat-sifat yang lain. Dalam literatur tasawuf, perubahan yang kontras sekali dari level paling rendah menjadi level sangat tinggi itu disebut abdal (pertukaran). itulah maksudnya istilah wali abdal yang begitu masyhur itu. Seseorang yang bertukar paradigma hidupnya.

Tapi tak usah jauh-jauh abdal deh, kita dapat sedikit kesadaran saja sudah syukur. Karena jalan pertukaran itu tentulah penuh onak duri. Dan kata Syeikh Abdul Qadir jailani, berpuas dirilah dengan apa yang ada padamu!

Dulu, secara subjektif saya rasakan saya adalah seorang dengan karakter yang begitu koleris. Suka mengatur, dan cenderung ingin tampil selalu dalam kerumunan. Setelah belajar spiritualitas islam sedikit-sedikit, maka kecenderungan itu pudar. Terutama setelah mengetahui bahwa kehidupan ini adalah pelajaran itu sendiri, bahwa hidup adalah af’al-Nya, maka pudarlah keinginan untuk tampil dan menjadi pusat perhatian.

Lama-lama ternyata menikmati juga untuk “diam” dan larut dalam aktivitas menonton.

Menonton ini, tak juga berarti pasif. Justru semakin ingin berkontribusi aktif dalam kehidupan, tetapi tak perlu untuk tampil.

Sekarang ini saya mengagumi saat saya lihat betapa banyak di sekitar saya orang-orang yang kontributif sekali pada masyarakat, tetapi tanpa perlu menjadi pusat pesona. Dan itu membuat saya malu sekaligus belajar.

Kemarin sore, ada pertemuan di komplek perumahan saya. Dalam diam saya mengamati jenak dimana ada drama orang-orang bercanda, tak perlu tampil tetapi dengan menjadi seseorang yang lucu saja sudah bisa membuat sesama makhluk jadi bahagia. Ada juga seseorang yang membantu dengan sebisa mungkin meminjamkan karpet yang dia punya, meminjamkan meja yang dia punya, menyumbang makanan, mendirikan tenda, mengangkat kursi, dan hal-hal lainnya yang sama sekali luput dari perhatian massa, tidak elegan dalam frame kamera, tetapi saya amati detailnya begitu membahagiakan.

Orang-orang yang aktif dalam kontribusi tanpa keinginan untuk larut dalam elu-elu itulah yang saya lihat begitu indah.

Mungkin begitulah seorang guru pernah mengatakan, tengok awan berarak….tengok burung-burung terbang! Dalam sikap “menengok” seperti itu kita terasa sedikit terasing dari keramaian yang riuh itu, tetapi pelajarannya sangat jelas.


*) Image sources taken from here