PADA UJUNG PANDANGAN

Sebuah rumah baru akan menjadi kukuh jika didirikan di atas pondasi yang baik.

Begitulah, seorang guru memberi wejangan bahwa kehidupan keberagamaan kita haruslah juga didirikan di atas pondasi yang kuat.

Kehidupan keberagamaan itu adalah ibarat perlambang bangunan amal dan peribadatan, pondasinya adalah pengenalan yang benar akan Allah.

Kenal akan Allah menjadi wajib, karena pada Allah-lah segala lelaku keberagamaan, tindak-tanduk dalam hidup kita tujukan.

Allah, ibaratnya adalah ujung akhir pandangan ‘mata’ hati kita.

Pengenalan terhadap Allah, menjadi porsi yang paling besar di awal-awal risalah kenabian.

Formalitas sholat lima waktu-pun baru ada selepas sekian puluh tahun Nabi berdakwah mengenalkan kembali manusia kepada Allah.

Sedikit kesimpulan yang kita bisa petik adalah bahwa tauhid menjadi penting sebelum segala peribadatan formal lainnya dikenalkan. Awaluddin makrifatullah. Awal keberagamaan adalah mengenal Allah. Sebelum seberapa cepat kita berjalan kepada suatu tempat, tahu tempatnya dulu adalah yang paling utama, bukan?

Yang menarik adalah, sebuah kenyataan bahwa orang musyrik quraisy kala itu bukannya tak kenal sama sekali kepada Allah, mereka tahu Allah.

Saat ditanyakan kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab bahwa Allah-lah sang pencipta.

Tetapi saat ditanyakan pada mereka, kenapa mereka menyembah berhala? Mereka berkelit bahwa mereka tidak menyembah berhala, melainkan berhala menjadi ‘perantara’ antara mereka dan Allah.

Kalau kita bahasakan, mata hati orang-orang quraisy kala itu terhenti di berhala. Tidak menembus ke baliknya lagi. Tidak sampai mentok di akhir.

Inilah yang dikoreksi oleh Rasulullah, bahwa tauhid itu menjadikan Allah semata-mata sebagai persandaran, sebagai fokus mata hati -istilahnya begitu- bukan yang lain, dan tiada yang lain.Sampai mentok umpamanya. Hingga ke ujungnya.

Saya ingin bercerita begini, di zaman Nabi Musa, saat firaun ingin merebus masyitoh karena mengakui bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, seorang pegawai istana memprotes, apakah firaun ingin membunuh orang-orang padahal mereka hanya mengakui Allah adalah Tuhan semesta alam?

Sedikit yang diketahui tentang orang ini, hanya saja beliau diyakini sebagai salah seorang yang ‘paham’ tentang Tuhan.

Saat seseorang menganggap matahari sebagai Tuhan, orang-orang yang arif akan memandang lebih jauh lagi, mereka akan berkata bahwa matahari bukan Tuhan, akan tetapi Sesuatu Yang Tak Bisa Didefinisikan, yang menzahirkan matahari, itulah Tuhan.

Kelihatan kan? Bahwa pandangan batin orang arif dalam kisah ini, lebih jauh dibanding orang lain.

Perhatikan bagaimana pandangan mata hati orang-orang arif bisa menembus jauh lebih dalam. Sampai ke ujung pandangan, dimana tidak ada lagi dibalik itu.

Seperti Nabi Ibrahim, saat melihat matahari dan menyaksikan kedahsyatan matahari, beliau mengira itu Tuhan, tetapi kemudian tersadar bahwa Tuhan tidak mungkin tenggelam. Dan Tuhan tak mungkin zahir tertampak mata.

Kemudian mata hati beliau terbuka dan pandangan beliau menembus lebih dalam, dan menjadi tahu bahwa pastilah Tuhan itu adalah Sang Penguasa di balik segala sistem alam semesta itu.

Jadi pandangan beliau seakan tembus, tembus lagi, tembus sampai mentok dimana tidak ada lagi selepas itu.

Segala persepsi kemanusiaan tempat kita memandang, pastilah bukan Tuhan, pastilah Tuhan adalah Sang Penzahir semua itu. Semua yang kita bisa persepsikan, hal zahir yang nampak mata, segala ciptaan, bukan Tuhan. Maka fokus mata hati kita tidak boleh terhenti di situ.

Kepahaman seperti inilah yang lama ditanamkan Nabi Muhammad kepada para sahabat.

Yang saya catat adalah ini, ini penting, fokus kita tidak boleh terhenti pada sesuatu yang BUKAN Tuhan.

Saat kita beramal, maka kita jangan terhenti pandangannya dengan menganggap bahwa formalitas ibadah itulah yang akan menyelamatkan, tetapi Allah, yang telah mentakdirkan kita mampu beribadah kepada Dia, itulah ujung pandangan kita.

Kalau tidak begini, maka akan banyak berhala di kehidupan kita, karena persandaran kita, pandangan hati kita terhenti pada sesuatu yang bukan Tuhan.

Saat berusaha, maka usaha itu jangan menjadi fokus pandangan. Tetapi Sang Penguasa segala variabel dibalik hubungan sebab-akibat usaha-hasil itu yang kita tujui.

Saat meminta ampun atas kesalahan, jangan kesalahan itu yang menjadi fokus pandangan, tetapi Allah Yang Maha Pengampun dibalik takdir bahwa kita diharuskan meniti jalan pulang lewat tema pertaubatan itulah, yang harus dipandang.

Kita melihat sekarang kesalah kita ini rupaya karena menggalakkan kehidupan keberagamaan yang mengacu pada aspek formal semata, tanpa membenarkan pondasi nya. Ibarat kita ramai-ramai memandang kepada sesuatu yang salah.

Semisal kita ramai berdebat larat mengenai manakah yang lebih baik, demokrasikah atau khilafahkah? Atau misalnya lagi, presiden A atau presiden B yang lebih baik? Lalu segala kehidupan keseharian kita menjadi berputar-putar dalam kutub itu semata.

Mendebatkan demokrasi dan khilafah dalam wacana keilmuan yang apik tidak ada yang salah tentu, Mendebatkan presiden pilihan juga silakan. Hanya saja, yang kita perlu pelajari bahwa orang-orang yang arif akan memandang lebih jauh, mereka sadar betapa apiknya Allah mendesain cerita kehidupan, hingga orang-orang yang sama-sama beriman kepadaNya, bisa berada pada sisi yang berhadap-hadapan dalam adu ideologi.

Penyebabnya banyak, keragaman sosial budaya, karakter, latar belakang keilmuan, kesempatan-kesempatan untuk masing-masing mereka bertemu dengan wacana yang lain dari yang sekarng mereka anut. Banyak sekali penyebab perbedaan.

Jadi Bukan demokrasi, bukan khilafah yang bisa menyelamatkan, tetapi pengenalan yang benar akan Allah. Sehingga melihat dia dibalik segala peran yang dimainkan orang-orang.

Fokus kehidupan kita itu, pandangan batin kita itu, rupanya jangan sampai keliru.

Saat orang-orang berdebat misalnya menentukan mana yang benar-mana yang salah, mata hati orang-orang yang arif memandang ada Allah dibalik segala kejadian hidup itu.

Mereka menjadi haru, bahwa betapa Allah telah menzahirkan berbagai-bagai jalan pencarian manusia menujuNya.

Saat orang-orang memaki pendosa, misalnya seorang pecandu narkoba. Orang-orang arif melihat lebih jauh dari itu. Mereka menjadi haru, bahwa betapa kenyataan  ‘Allah itu Maha Pengampun’ hanya bisa terwujud dengan terzahirnya seorang pendosa yang kemudian diampuni.

Kalau kita memaksa tak ada pendosa di dunia, bukankah kita memaksa bahwa kenyataan Allah itu maha pengampun; untuk tidak mewujud? Tidak bisa.

Yang ada di ujung pandangan orang-orang arif adalah bahwa Allah sudah mentadbir segalanya ini dengan luar biasa sempurna dan bijaksana. Dan pengenalan akan keberadaanNya itulah, yang membuat segalanya lebih dari sekedar hitam-putih semata.

—–

*) gambar dipinjam dari link ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *