ORANG “KECIL” MELAKUKAN PEKERJAAN “BESAR”

Apakah kita harus menjadi “orang besar” untuk melakukan kebaikan-kebaikan “besar”?

Ternyata jawabnya adalah: tidak.

Kebaikan-kebaikan mendasar yang bernilai “besar” ternyata juga bisa dilakukan meskipun kita adalah orang “kecil” atau biasa saja.

Kembali saya teringat dengan bahasan ini, karena seorang guru memberi tahu bahwa seorang “biasa”, bisa melakukan tugas luar biasa bernilai di sisi Allah, meskipun dirinya sendiri tak mengetahuinya.

Dulu, sewaktu muda -tentu sekarangpun masih muda, hehe- saya begitu ambisi untuk menjadi seorang yang fasih dalam banyak hal. Umpamanya fasih dalam kajian religi. Atau juga misalnya fasih dalam organisasi dan politik.

Keinginan menjadi fasih, itu bagus. Tetapi keinginan yang tak sesuai dengan “nature” konstelasi hidup kita sekarang, inilah yang keliru.

Contohnya ya saya sajalah. Saya seorang pekerja di dunia industri migas. Dari kuliah sampai sekarang segala konstelasi pendidikan saya, pergaulan, dan hubungan sosial kemasyarakatan menceburkan saya dalam dunia migas. Maka bekerja dalam dunia ini adalah sesuai dengan konstelasi saya. Peran saya dalam dunia.

Misalnya, karena ingin berbuat sebuah kebaikan “besar” maka saya berhenti dari pekerjaan ini, kemudian saya belajar agama dan menjadi da’i hidup dalam spiritualitas seperti rahib, saya menciderai konstelasi hidup saya.

Bukan maksudnya menjadi spiritual tidak bagus. Tetapi bahwa tak semua orang harus menjadi ustadz. Yang lebih dalam lagi, kita akan keliru jika menganggap bahwa kebaikan “besar” hanyalah sesuatu yang dibungkus dengan baju formalitas.

Dunia menjadi harmoni dengan adanya petani, pedagang, pegawai negara, pekerja swasta, insinyur, dokter, bahkan tukang sapu jalan.

Seseorang bertumbuh kembang kearah kebaikan, itu boleh dan baik. Tapi kebaikan “besar” tidaklah dicitrakan dalam semata hanya satu bentuk kebaikan. Jika seluruh orang di negara ini menjadi “presiden” karena ingin melakukan kebaikan “besar” maka dunia malah jadi tidak harmoni.

Sebuah analogi disampaikan oleh seorang guru. Ada seorang pedagang makanan. Setiap hari dia berdagang, tetapi setiap hari pula dia sering sekali membagikan dagangannya secara gratis pada orang-orang fakir miskin. Sampai dirinya sendiri kadang-kadang tak balik modal.

Pekerjaan model begitu dilakoninya bertahun-tahun. Bahkan tanpa menyadari kalau pekerjaan menafkahkan rizkinya untuk orang lain itu adalah pekerjaan “besar” walaupun dia hanya orang “kecil”.

Orang-orang begini, kata guru tersebut, adalah orang-orang yang sampai pada peringkat orang-orang Allah (Aulia) tanpa mereka sadari.

Simple man doing a great job.

Ini jawaban sebenarnya, atas diskusi saya dan seorang rekan saya berapa tempo lalu. Dia katakan, dia tak tahu apa fungsinya ada di dunia ini.

Sebaik-baik manusia, kata Nabi, yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Agaknya memang benar kita perlu merenungi kembali. Apakah pekerjaan “besar” yang ingin kita lakoni, atau “status besar” yang ingin kita dapati??

Karena sebenarnya pekerjaan “besar” itu terikat secara harmoni dengan konstelasi kita dalam hidup ini.

Siapa kita, dan apa kebaikan yang bisa kita gulirkan dalam peranan kita sekarang.

::

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *