ORANG “KECIL” MELAKUKAN PEKERJAAN “BESAR” (2)

Menghadiri rapat bapak-bapak di Musholla komplek, bagi saya adalah selalunya moment pembelajaran.

Rapatnya hanya sekira sepuluh orang saja, tapi atmosfer ketulusannya meresap sampai dalam.

Saya mengingati momen kuliah dulu, dimana dalam setiap kesempatan rapat atau pertemuan selalu ada yang mendesak-desak di dalam dada, yaitu hasrat untuk “bicara”. Mengutip kata-kata nan cantik dari Stephen Covey, “Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply.”

Kini, setelah -agak- mendewasa, saya belajar “hadir” secara penuh dan menyilakan kebijakan dan hikmah untuk mendatangi dari siapa saja. saya belajar mendengar.

Dalam kajian spiritualitas yang agak lebih pelik sedikit, seorang Arif mengajarkan untuk dalam tanda kutip “tidak wujud”. Agar tidak penuh dengan diri kita sendiri.

Dan selalunya belajar dengan cara begini ini, menyenangkan buat saya. Saya mencecapi jejak-jejak ketulusan lewat martabak manis dan martabak telur yang dihidangkan entah siapa di Musholla itu. Pula, saya menangguk pembelajaran dari Mas Isdat -nama dikaburkan, hehe- yang secara konsisten azan di musholla itu, setiap waktunya entah orang datang entah tidak.

Mas Sugab juga mengobrak-abrik menara gading saya, saat saya mencermati semangatnya yang polos dan jujur untuk tetap menggelorakan tarawih jamaah di Musholla itu saat ramadhan nanti datang, meski jamaahnya bisa dihitung jari. Mas Sugab yang tampilannya jauh dari men-spiritual itu.

Pada momen-momen belajar “diam” seperti itulah seakan baru digelarkan di hadapan mata kita…..ini lho…..orang-orang “kecil” yang berbuat sesuatu yang “besar”. Yang berebut menyuci karpet masjid. Yang memikirkan detail AC bagian jamaah ibu-ibu sudah mulai berasa panas kurang freon. Yang memikirkan bahwa anak-anak kita yang berisik di jamaah belakang ini, baiknya kita beri hadiah saja, sayembara……siapa yang paling “anteng” pas sholat akan dapat hadiah.

Mereka-mereka orang “biasa” yang melakukan kerja “besar” lewat sumbangsihnya yang tulus buat masyarakat.

Jika setiap orang-orang yang sejatinya “besar” ini dibukakan peringkatnya pada mata orang awam, maka orang-orang yang merasa berstatus tinggi dan bermartabat akan malu untuk telah berdiri di menara gading.

Betapa memang kemuliaan sesungguhnya itu sering bolak-balik. Sebagaimana Allah bisa memasukkan siang ke dalam malam, memasukkan malam ke dalam siang. Tapi lepas dari semua itu, yang menarik dari “diam” adalah kita bisa menyaksikan dramaNya dalam hal-hal yang bahkan tampak sederhana sebelumnya.

::

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *