ORANG KANTORAN MENCARI TUHAN (2)

Setiap orang memang dipermudah untuk melakukan apa yang tertulis baginya.

Dalam kesempatan menikmati macet Jakarta sore kemarin, saya dan seorang rekan senior yang mobilnya saya tumpangi berbincang santai tentang hal itu, dalam kaitannya dengan dunia korporasi dan tipikal orang-orang di dalamnya.

Saya katakan pada rekan saya itu, kalau saya ingin mengejar pencapaian orang-orang yang sudah lebih lama dan punya bakat lobi-lobi, gaul dan meeting sana-sini, jago main golf, maka saya akan keteteran karena saya sudah ketinggalan berpuluh tahun. Hidup dan besar dalam lingkungan yang membuat saya menjadi seorang analis yang suka “merenung ke dalam” tetapi sulit untuk berbasa-basi ke “dunia luar”.

Walhasil, memang begitu. Dunia menjadi harmoni dengan banyaknya peran masing-masing orang. Menikmati peranan kita saat ini. Itu kuncinya.

Saya percaya sebuah ungkapan (hadits kalau tak salah) bahwa “hikmah” adalah harta berharga kaum muslimin, yang tercecer. Maka jika menemukan hikmah itu dimanapun, ambillah.

Jadi dalam konteks memulung hikmah itu, saya rasa ada benarnya juga kutipan bhagavad gita dalam fragmen Mahabarata, tentang Path Of Self Realization. Jalan menemukan kesejatian diri.

Ada banyak jalan. Pertama lewat jalan pengetahuan. Orang-orang yang menemukan kebijakan lewat penelusuran jalan fikir. Misalnya para filosof seperti socrates…..yang menemukan jati diri dengan merenung, mengkaji, belajar. Ini jalan para “alim”

Ada lagi jalan bakti. Yaitu orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk mengabdi atau beribadah pada Tuhan. Seperti misalnya para ulama yang rajin sekali beribadah. Melakukan ritus-ritus formal. Pujian-pujian.

Ada lagi jalan tirakat. Ini jalan orang-orang yang menghabiskan hidupnya dalam pengembaraan ruhani. Seperti meditasi, dst.

Dan salah satu jalan lagi adalah dengan berkarya. Bekerja. Ini menarik bahwa dengan bekerja pun seseorang bisa mendapatkan hikmah-hikmah. Misalnya saja lihatlah banyak sekali pembesar-pembesar di dunia korporasi yang kemudian menjadi spiritualis, setelah bekerja dengan sudah payah dan mencapai puncak, pada ouncak pencapaian itu mereka menjadi tercerahkan dan tahu bahwa bukan itu yang harusnya manusia kejar. Mereka jadi dermawan, banyak sedekah, banyak derma, dan lebih sibuk berbuat untuk orang lain ketimbang untuk diri sendiri. Semua itu mereka peroleh karena tercerahkan lewat dunia kerja yang mereka geluti.

Poinnya adalah, setiap orang bisa menemukan hikmah hidup, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan, lewat jalan yang sudah ditetapkan untuk mereka masing-masing.

Dalam Lathaif Al Minan, disebutkan cerita bahwa Ibnu Athoillah as sakandari yang akhirnya menjadi haus akan ilmu batin tasawuf, merasa ingin meninggalkan pekerjaan yang dia geluti demi berbakti pada gurunya. Sang guru berkata bahwa bukan begitu caranya. Tetaplah bekerja pada jalan yang dia tekuni sekarang ini, insyaAllah bagiannya akan tetap dia dapat.

Menemukan Tuhan dalam kesibukan kerja, ini yang saya sering amati dalam kesibukan orang-orang perkotaan (ataupun desa). Mereka mencari sesuatu tapi tidak tahu apa yang dicari.

Kebingungan, adalah awal dari pencerahan. Maka kita lihat gelombang orang yang ramai-ramai ingin belajar agama, banyak dari masyarakat perkotaan.

Tetapi, yang sedikit disayangkan, approach atau pendekatan pembelajaran keagamaan yang dipelajari semata menekankan pada aspek formal luar saja. Seperti belajar premis-premis fikih, dst..

Itu salah satu keping sisi keberagamaan yang penting dan bagus, memang. Tapi kurang lengkap kalau tidak menyentuh sisi batinnya.

Sisi batin keberagamaan ini yang sebenarnya ranahnya tasawuf. Tentang makna hidup. Tentang mengenali peranan. Tentang hal-hal yang semacam itu.

Tapi yang paling paling paling fundamen sekali adalah mengenali Tuhan. Seorang Arif berkata, makrifatullah, kenal Allah adalah pondasi keberagamaan kita.

Barulah setelah mempelajari mengenai itu, maka dalam bekerja-pun kita bisa mendapatkan hikmah.

-debuterbang-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑