ORANG BESAR DI SEKITAR ANDA

Saya iseng mencari data mengenai Bill Gates dan Mark Zuckerberg, terkait dengan “amal” yang mereka sumbangkan bagi kemanusiaan. Kononnya, entah valid entah tidak, Mark zuckerberg mendermakan 99% saham Facebook untuk amal.

Entah bagaimana skema pembagiannya saya ga mudeng, tapi yang jelas memang sering sekali dia tercatat sebagai salah seorang penderma bagi yayasan amal.

Begitu pula Bill Gates. Tercatat saya baca di wikipedia, dia menyumbang setara 44.3 billiun us Dollar. Per 2014 lalu.

Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan banyak lagi contoh pebisnis ternama, adalah orang-orang yang menemukan sisi spiritualitas kehidupan pada puncak keduniawian mereka.

Entah sudah berapa kali, saya sering juga menemukan cerminan pola itu dalam kehidupan kerja saya pribadi. Saya banyak bertemu dengan orang-orang besar dalam dunia bisnis migas, yang menjadi spiritualis pada puncak prestasi mereka.

Seperti kemarin, saat saya berkesempatan menjaga stand kantor di perhelatan IPA CONVENTION ke-41 di Jakarta Convention Center, seorang lelaki berusia sekira 50 tahunan datang dengan santai ke pojokan stand kami dan melihat sebuah layar TV yang sedang memutar video sebuah teknologi dalan industri pengeboran migas.

Karena rekan-rekan yang lain sedang sibuk menghampiri pengunjung lainnya, maka saya hampirilah beliau dan berbincang santai.

Sederhana orangnya, dalam balutan pakaian batik yang juga sederhana, tak nampak mewah, memegang secangkir kopi dari booth yang banyak terhampar di seputaran Hall JCC.

Saya ajak ngobrol dengan bersahaja, si Bapak selalu mengarahkan pada obrolan bisnis makro. Saya tarik lagi ngobrol teknologi, kembali dia ngobrol bisnis dari skala global sambil santai. Eh…..sopo Bapak Iki? Saya mulai curiga.

Saya lirik name tag-nya dan saya lupa-lupa ingat, kayanya saya kenal orang ini. Pernah dengar namanya entah dimana.

Tapi obrolan berlanjut, dan dia bersedia mendengarkan paparan, sembari menjelaskan pandangan beliau tentang skema gross split eksplorasi migas.

Selepas obrolan singkat itu, beliau pamit dan melanjutkan melihat-lihat.

Saya yang penasaran langsung membuka mbah google di handphone, dan tentu saja, olalaaaa…..ternyata beliau adalah salah satu dewan direksi BUMN Migas ternama di Indonesia.

Padahal, biasanya untuk pengunjung “level-level tertentu” akan ada tim khusus yang menyapa dan tentntunya dengan bingkisan pula. Hehehehe. Tetapi ini beliau seorang dewan direksi, “tak terdeteksi” karena style yang sangat biasa.

Saya jadi teringat dulu zaman Mahasiswa, saya sempat mengerjakan skripsi di perusahaan Migas BUMN Indonesia, dan selalunya yang begitu humble, sopan, akomodatif, santai adalah orang-orang yang ada pada puncak piramida. Yang baru-baru ngebos biasanya rada gegayaan dikit, hehehe.

Pelajarannya setidaknya yang bisa saya rangkum adalah:

– respect everyone. Tak hanya orang-orang yang nampak biasa itu kadangkali orang “penting” di dunia lahiriah, tetapi lebih sering juga orang-orang yang nampak biasa adalah orang-orang yang secara spiritual adalah begitu mumpuni dan dekat dengan Tuhan. Umpamanya Uwais Al Qarni yang gembel tapi mulia. Atau umpamanya juga Umar Bin Khattab, khalifah dimasa penaklukan-penaklukan, tetapi juga seorang spiritualis sejati.

– kedua, adalah bahwa di puncak perjalanan hidup, orang sering bertemu kenyataan bahwa bukan hidup ini yang mereka cari. Maka para pucuk pimpinan -tentu tak selalu- malah menjadi biasa dan banyak derma. Misalnya steve jobs, bill gates, Mark zuckerberg selalu bajunya itu-itu aja dan stylenya santai…. Banyak sedekah…. Asyik kan? Hehe.

– ketiga, kadangkali kehidupan yang dimasa sekarang, menjadi jalan kebaikan di masa depan. Saya pernah bertemu seseorang yang dulu saat beliau masih muda begitu sombongnya dan saya pernah begitu sakit hati dibuatnya sewaktu mereka menjadi client kami. Tetapi sekarang lebih santai, calm, dan humble. Jadi ya cerita masa lalu dan kesombongan silam itu hanya jadi jalan bagia dia menemukan kedewasaan lewat kereta karirnya.

– keempat, melihat semua fakta itu. Pahamlah kita, pendidikan “ruhani” adalah sesuatu yang sangat luas, dan berkait dengan semua orang. Kadangkala, kebijakan hidup tidak selalunya didapatkan orang lewat bangku pesantren. Ini lho, universitas kehidupan ini lho, lewat bentuknya yang beragam, mengajarkan kita dengan caranya sendiri.

Dan sebagai pamungkasnya, tak perlu kita sampai pada puncak karir dulu baru jadi spiritualis, yang penting kita paham skema, bahwa dunia adalah jalannya, menspiritualis adalah cara kita Iqro’ membaca pelajaran-Nya.

::

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *