OPERASIONAL BMW UNTUK ORANG AWAM

Seumpama kita diberikan kendaraan sebuah mobil BMW terbaru, tentu kita harus mengerti dulu bagaimana mengoperasikan BMW tersebut, apa saja kemampuannya dan batasan-batasannya apa saja. Sebelum mengetahui hal tersebut, kita belum bisa memanfaatkannya secara benar untuk sampai ke tujuan.

Saya teringat dengan analogi mobil BMW ini karena kemarin seorang rekan datang ke rumah, dan berbincang panjang mengenai kondisi dunia migas yang sedang gonjang ganjing karena krisis minyak. Pengurangan karyawan banyak sekali terjadi dimana-mana dan rekan saya ini adalah salah satunya yang terkena dampak.

Lumayan banyak perbincangan kami, dan saya memaknai bahwa siapapun yang tertakdirkan datang bertemu dan berbincang dengan saya, sesungguhnya mereka menjadi “guru” bagi saya tanpa mereka ketahui. Dari perbincangan kemarin, saya mengamati sebuah ketakutan pada teman saya akan kondisi dunia migas saat ini, dimana ketakutan itu juga ada tersimpan dalam lubuk hati saya sendiri.

Tetapi rasa takut itu, teramati jelas sebagai bagian yang terpisah dan sendiri. Jauh sebelum saya belajar pendekatan tasawuf dalam kehidupan keberagamaan, saya tak mengerti mengenai “mengenal diri” ini. Saya tak paham bahwa rasa takut, amarah, rasa sedih dan lain sebagainya itu adalah sebuah entitas sendiri-sendiri yang bisa “dikenali” dan mestinya tunduk pada komando hati sebagai rajanya.

Sebagaimana jamaknya orang-orang yang tak kenal dengan spiritualitas, saya hanya paham sebatas pendekatan psikologi saja. bahwa manusia ada tipikal-tipikal tertentu, ada yang koleris dominan, ada yang sanguin ceria, dan seterusnya, dan seterusnya….. dimana semua tipikal itu saya kira hanyalah efek dari hormonal manusia. Manusia adalah makhluk yang disetir hormonnnya sendiri, sebatas itu saja yang saya pahami dulu kala.

Belakangan baru saya mengerti bahwa dalam kajian yang lebih “dalam” pada tasawuf islam pun mengajarkan kita mengenali bagian-bagian diri kita sendiri. Yang secara jujur saya akui berbeda –untuk tidak mengatakan lebih canggih- dari kajian psikologi semata-mata.

Perumpamaan yang memudahkan adalah perumpamaan mobil itu tadi. Seumpama kita diberikan sebuah mobil BMW dengan tujuan untuk pergi dari Jakarta-Bandung misalnya, maka sebelum pergi Jakarta-Bandung, tentu logis untuk kita perlu tahu dulu seperti apa mobil ini, bagaimana mengendalikannya, bagaimana mencapai kemampuan optimalnya.

Mobil BMW itu adalah perlambang diri manusia itu sendiri. Dalam diri manusia ada yang menyetir, dan ada banyak panel-panel display yang menyatakan mesin sekarang suhunya berapa, oli cukup atau tidak, bensin bagaimana, dan seterusnya….. panel-panel itu, ternyata tidak hanya ada untuk instrumen tubuh yang fisikal dan terindera (jasad), tetapi ternyata juga termasuk untuk instrumen yang abstrak semisal anasir perasaan.

Setelah tahu mobilnya, maka barulah berjalan dari Jakarta menuju Bandung.

Permasalahannya, sebagian orang ada yang mengkaji dengan sangat teliti kemampuan mobil BMW, lalu kemudian menggunakannya untuk tujuan yang lain dari peruntukannya. Yang seharusnya disuruh menuju Bandung dari Jakarta, malah dipakai di Jakarta untuk kebut-kebutan, karena sudah paham kemampuan BMW, misalnya.

Atau ada yang tahu tujuannya adalah menuju Bandung, tetapi karena tidak paham kinerja mesin dan apa fungsi panel-panel display, jadi terhambat perjalanannya.

Begitulah, mengenali diri sendiri, baik instrumen jasadnya ataupun instrumen yang tak terindera di dalam diri manusia itu, adalah salah satu tangga yang harus dilewati untuk hampir semua pendekatan spiritualitas. Termasuk perlu untuk pendekatan tasawuf.

Dengan pendekatan tangga bawah ini, kita bisa mengenali elemen-elemen rasa takut dalam diri kita sendiri, dan mengenali mengapa rasa takut itu muncul? Untuk kemudian mengisi diri kita dengan lebih banyak data agar kekhawatiran dan takut –jikalah disebabkan karena kurangnya info akan sesuatu-; menjadi hilang.

Sangat praktikal sekali memang. Meskipun pendekatan ini belum lagi masuk ranah yang lebih dalam. Pendekatan ini sebenarnya kajian seru untuk para awam, karena jika saya amati para arif tidak lagi bermain dalam ranah ini. Mereka melihat hidup sebagai sandiwaranya Tuhan, dan dalam pandangan seperti itu sebab-akibat menjadi musnah. Tidak ada lagi BMW dengan segala instrumen-instrumennya itu.

Image taken from bmw.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *