NASRUDIN KEHILANGAN KUNCINYA

Image result for key

Suatu hari Nasrudin kehilangan kunci miliknya. Kunci tersebut dia rasa terjatuh di dalam rumahnya sendiri, tetapi karena kondisi malam hari gelap dan tak cukup penerangan maka Nasrudin melakukan hal yang tak masuk akal yaitu mencari kuncinya di jalanan depan rumahnya.

Tak lama, seseorang lewat dan bertanya pada Nasrudin, sedang apa gerangan?

Nasrudin lalu menjawab bahwa ia sedang mencari kuncinya yang hilang, yang dia rasa mungkin jatuh di dalam rumah.

Tentu saja sang penanya pun bingung, mengapa mencari kunci di jalan raya luar rumah, sedangkan kuncinya jatuh di dalam rumah?

Nasrudin berkelit, “kan di rumah saya gelap, mendingan saya cari di luar rumah, kan terang ada lampu jalan”.

Kita sering berkelit seperti Nasrudin. Padahal kita tahu bahwa kebahagiaan, hakikat hidup, sesuatu yang sering kita cari-cari itu ada di “dalam diri” kita sendiri, tetapi alih-alih malah kita mencarinya di luar diri.

Karena kita tidak pandai, atau tidak tahu caranya, atau “takut” untuk mencari jawaban ke dalam diri sendiri, maka kita berkelit dengan menyalahkan orang lain, bahwa merekalah yang salah karena tidak bisa melihat realita bahwa di luar kan terang. Mendingan nyari di luar daripada nyari di dalam rumah.

Cerita Nasrudin yang sungguh simbolik ini, mewakili kebanyakan kita. Tipe orang pada umumnya yang masih menyandarkan kebahagiaan, atau pencarian hakikat kehidupan, ke “luar dirinya”.

Misalnya seseorang yang masih menganggap benda-benda, atau posisi, jabatan, adalah penentu kebahagiaan. Maka dia mati-matian mengejar benda atau jabatan itu. Padahal, setelah benda-benda atau jabatan dia dapatkan, kebahagiaan masih tetap akan datang dan pergi. Bahagia sebentar, lalu sedih lagi karena urusan lain.

Di atas orang-orang tipe seperti ini, adalah orang-orang yang mulai mencari jawaban ke dalam dirinya sendiri. Mereka mengamati “tabiat” keinginan yang hilang timbul. keinginan tidak pernah bisa mati selalu datang dan pergi. Kebahagiaan, karena berkaitan dengan keinginan-keinginan, akan selalu timbul dan tenggelam. fithrahnya seperti itu, siapapun orangnya.

Maka itu, kita sering melihat kajian-kajian filosofi, yang nyerempet-nyerempet bahasan psikologi manusia, seringkali mirip-mirip. Meskipun yang satu mengkajinya dari pendekatan ala barat, misalnya seperti kajian Abraham Maslow, atau kajian-kajian dari dunia timur, misalnya kajian psikologi dari tokoh di pulau Jawa semisal Ki Ageng Suryomentaram. Atau kajian psikologi dari filsafat Budhisme.

Kajian-kajian ini sangat menarik, karena mengajarkan kita untuk mengerti piranti-piranti dalam diri kita sendiri. Semisal tabiat keinginan, keinginan manusia itu selalu memanjang dan memendek, tidak bisa hilang sama sekali. selalu ada.

Kebahagiaan suka dan duka itu selalu silih berganti, karena dia lekat dengan keinginan-keinginan manusia yang juga timbul dan tenggelam. Dengan mengetahui kenyataan ini, maka kita tidak terlalu ngoyo mengejar sesuatu, karena kita menjadi paham bahwa sesuatu yang kita kejar, tidak akan memberikan kebahagiaan yang permanen, karena suatu saat keinginan itu akan hilang, dan timbul keinginan yang baru lagi, tidak ada sesuatu yang menjamin kebahagiaan yang abadi.

Karena saking mawasnya terhadap diri sendiri, orang-orang yang tekun “masuk ke dalam” ini akan sampai pada kondisi dimana mereka menyadari keterpisahan mental antara dirinya yang sejati, sang pengamat, atau “hati” dengan segala lintasan fikiran dan keinginan-keinginan, dan rasa sedih dan bahagianya. Akibatnya mereka akan lebih stabil menjalani kehidupan.

Tipe kedua ini, sungguh menarik hati, hanya saja saya barulah memahami bahwa pendekatan sufistik islami tidaklah menyandarkan “perjalanan” dalam spiritualitasnya dengan metoda seperti ini.

Para arif, lebih mengajarkan manusia untuk mengenali Tuhan, mengenali Allah SWT sebagai Pencipta alam semesta ini, lalu keseluruhan kehidupan ini adalah cara DIA menceritakan diri-Nya. Termasuk kejadian-kejadian apapun dalam kehidupan kita.

oleh karena itu, baik suka maupun duka, adalah jalan mengantarkan kita pada pengenalan akan diriNya. Semisal seseorang yang mengalami kesulitan keuangan, ada tiga jalan seseorang menghadapi hal ini.

Jalan pertama, orang ini semata-mata menganggap solusi dari masalahnya adalah dengan mencari kerja, mencari pinjaman, dst…. maka orang ini akhirnya menganggap penyelesaian masalah -dan pada akhirnya pencarian hakikat hidup- semata-mata bersandar pada hal-hal di luar dirinya.

Jalan kedua, yaitu orang-orang yang berusaha untuk masuk ke dalam dirinya sendiri, menyadari tabiat-tabiat keinginan dan emosi dalam dirinya, lalu dia tidak diombang ambing oleh rasa, dia menjadi “tawar”, dan santai meskipun dirinya dibelit kesulitan ekonomi.

Jalan ketiga, yaitu pendekatan sufistik. kehidupan dimaknai sebagai ceritanya Tuhan, Allah mengenalkan diri lewat kejadian-kejadian dalam kehidupan, dan kita mengenali-Nya lewat kesulitan dan kemudahan hidup kita sendiri. Seorang miskin akan mengenali Tuhan sebagai yang Maha Kaya, orang yang sempit hidupnya akan mengenali Tuhan sebagai Yang Maha Melapangkan, karena selalu bersandar kepada Tuhan.

Kajian-kajian filsafat psikologi adalah bagus untuk memahamkan kita mengenai mekanisme kerja tubuh / diri kita sendiri. Tetapi semata kajian filsafat adalah kurang lengkap, karena ibarat peta, semata peta saja tidak cukup, kita harus berjalan menyusuri terjal dan mulusnya jalanan menuju tujuan. Kalau filsafat atau kajian mengenali diri itu biasanya mengajarkan kita bukti-bukti tentang Tuhan, kalau kajian sufistik tasawuf itu mengajarkan kita “merasakan” kedekatan pada Tuhan.

Dua-duanya penting dan menarik untuk dipelajari.

*) Saya tulis ulang, dari rekaman podcast saya di spotify https://open.spotify.com/episode/6IFbRoEkgkAlHCLosNYDy2?si=OHGldkIET3OF3lDmYEBr9Q

anchor https://anchor.fm/debuterbang/episodes/17-NASRUDIN-HOJA-KEHILANGAN-KUNCI-e4ic8v

gambar ilustrasi dipinjam dari link berikut ini

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *