MEWAKAFKAN ILMU

Seorang rekan semasa saya kuliah dulu, sekarang sudah menjadi sosok yang begitu kharismatik dan sering dimintai pendapatnya di TV. Terbersit juga sedikit rasa “kecil” pada diri saya demi melihat pencapaian rekan tersebut. Tetapi sontak saya teringat dengan hikmah yang berapa waktu lalu saya tulis, bahwa setiap orang memiliki peran tersendiri dalam konteks kehidupannya masing-masing.

Dari sisi batin, kita memahami bahwa hidup adalah untuk pengenalan pada-Nya. Dari sisi zahir atau fisikalnya bisa berbeda-beda sesuai dengan peran masing-masing orang. Perlu memahami peranan masing-masing dalam konstelasi dunia ini.

Tak lama kemudian, hikmah merasuk….  Yang penting adalah bukan “besar” atau tidaknya sebuah karya, melainkan bagaimana kita memulainya.

Saya jadi teringat dengan orang-orang yang cukup dekat atau setidaknya bersinggungan kisah hidupnya dengan saya. Dan bagaimana saya kemudian menyaksikan bahwa karya mereka menjadi “besar” meskipun dimulai dari langkah-langkah kecil.

Salah satunya adalah guru beladiri saya semasa kuliah dulu. Seorang yang santun dan rendah hati. Meninggalkan kekayaan yang dia miliki, untuk secara totalitas hidup mendarma-baktikan diri mengajar. Karena memang beliau menyadari betul bahwa “calling” atau panggilan hidup beliau adalah itu. Mendirikan sebuah pesantren yang konsep beliau adalah mengajarkan islam secara terstruktur, plus beladiri. Semacam shaolin-nya islam lah begitu.

Dulu saya sering ke perbukitan dan mengunjungi beliau. Sekali-kali belajar ilmu hadits disana. Saya ingat sekali kajian-kajian kecil di perbukitan tanjung sari Sumedang, dulu masih kecil sekali tempatnya. Tetapi lambat laun menjadi besar. Dan setelah hampir sepuluh tahun saya tak pernah kontak lagi dengan beliau, saya melihat betapa niatan dulu itu menjelma pengabulannya. Pesantren itu kini berdiri dan pelan-pelan membesar.

Saya teringat waktu dulu saya bertanya pada beliau, macam-macamlah pertanyaan dagelan saya. “Tadz…bagaimana caranya melawan kungfu delapan penjuru mata angin?” dan macam-macam pertanyaan tak penting lainnya.

Selalu dijawab sambil berseloroh santai….”kita itu, yang penting berlatih saja yang profesional. Jika niatan kita lurus lillahitaala, mau delapan penjuru mata angin, mau seribu mata angin, matipun kita syahid”. Jawaban itu yang seperti makjleb begitu buat saya. Yang penting lurus niatnya, sisanya nanti Allah yang membesarkan.

Dan banyak momen-momen kenangan yang kemudian melintas satu-satu menghantarkan kepada saya hikmah, bahwa yang penting adalah secara lurus berbuat untuk-Nya.

Dan dengan cara pandang saya yang sekarang, saya memahami bahwa “berbuat untuk-Nya” itu adalah “mengikuti ritme”, melakoni peranan saat ini dengan sebaik mungkin, sambil menyadari bahwa peranan saat inilah yang menjadi jalan pengenalan kita pada-Nya.

Satu hal dari filosofi pembelajaran beladiri dulu yang saya baru sadari sekarang adalah bahwa beladiri itu oleh penyusunnya diwakafkan untuk ummat. Maka segala sesuatu yang diwakafkan (dilepaskan dari kepemilikan pribadi) kita akan melihatnya bertumbuh pesat karena tidak lagi terikat pada diri kita yang sempit.

Pada akhirnya karya atau amal yang dilepas itu akan membesar bahkan jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Karena niatan awalnya yang benar.

Seorang arif, yang mengajarkan spiritualitas islam dan banyak mewarnai cara pandang saya dalam spiritualitas islam, mengatakan bahwa ilmu itu bukan milik dia pribadi. Melainkan ilmu akan mencari tuannya sendiri.

Saat sebuah ilmu, atau pengajaran dilepaskan dari konteks pemilikan pribadi, maka ilmu itu akan tumbuh dan menjadi besar. Dan bertemu dengan orang-orang lain yang bersinggungan takdirnya dengan ilmu itu.

Barangkali itu jawaban mengapa tulisan-tulisan dari orang-orang alim dan arif masa silam masih bisa kita nikmati sampai sekarang. Seolah tulisan-tulisan itu menjaga mereka untuk tetap “hidup”. Tulisan-tulisan atau karya-karya yang diwakafkan, dilepas dari kepemilikan pribadi mereka.

Jadi yang terpenting bukan besar atau kecilnya karya. Tetapi memulainya dengan benar. “Melepas”nya agar bertumbuh.


*) Image Sources

 

One thought on “MEWAKAFKAN ILMU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *