MEWADAHI PEMBERIAN

Suatu kali, saya “terjebak” pada undangan makan malam perpisahan seorang rekan kantor, bertempat di bilangan Kemang Jakarta Selatan. Datang paling awal di saat rekan-rekan lain belum datang, dan tak lama orang kedua yang datang adalah bos saya sendiri. Klop sudah. Saya paling malas basa-basi, dan sekarang terpaksa basa-basi sembari menunggu acara.

Tetapi tanpa saya sangka-sangka, perbincangan yang terpaksa itu malah membuahkan pelajaran yang penting untuk saya catat.

Teringat saya bagaimana beliau bercerita bahwa dulunya dia adalah orang yang tak pandai mendelegasikan tugas. Tetapi mahir mengerjakan segala tugas sendirian.

Akan tetapi, pimpinannya malah tidak memberikan nilai yang luar biasa, penilaian yang biasa saja yang diberikan untuknya. Meskipun kenyataannya project yang dia pegang bisa berjalan dengan sukses.

Tahun berikutnya, dia tidak lagi terlihat bekerja sekeras tahun belakangan. Tetapi anehnya malah di tahun kedua itu dia diberikan penilaian performa yang luar biasa oleh bos-nya.

Tak tahan untuk tak bertanya, maka dia datangi pimpinannya. Bagaimana bisa tahun pertama dinilai biasa saja, padahal dia bekerja banting tulang sampai malam? Sedangkan tahun kedua yang lebih santai malah diberikan nilai dengan performa luar biasa.

Jawaban bos-nya sederhana saja, karena tahun pertama dijalani olehnya sebagai “do-er”, sebagai pekerja yang soliter. Itu menjawab fakta kenapa dia bekerja banting tulang begitu keras. Tahun kedua, dia sudah mulai mengerti bagaimana memberdayakan team, sehingga dia sudah menjadi “manager” bukan hanya do-er. Itu menjawab mengapa dia bekerja seolah lebih santai. Tetapi dinilai bisa menjalankan tugas seorang manajer.

Dari sana saya mendapatkan pelajran mengenai kerja keras dan kerja cerdas. Serta belajar mengoptimalkan suatu perangkat, yaitu perangkat struktural. Sesuatu yang begitu gagap saya gunakan. Perbincangan itu, mewarnai cara pandang saya.

Saya teringat, banyak sekali orang-orang yang mewarnai cara pandang saya. Ada kakek saya, yang secara tak langsung mewarnai pandangan saya lewat warisan buku-buku fiqih-nya.

Ada juga senior-senior saya di SMA dulu, yang lewat pandangan harokah keislaman mereka mewarnai cara pandang saya juga.

Tetapi ada juga yang setelah berbilang tahun, saya baru menyadari bahwa perkataan mereka itu yang dulu saya “tolak” sekarang malah menjadi warna pemikiran saya.

Dulu sewaktu SMA saya bergerak dalam bidang kerohanian islam. Dan begitu getol dengan pandangan keislaman ala “haroqah”.

Akan tetapi, pembina Rohis sekolah, secara formal adalah seorang guru agama yang notabene bukan orang harokah.

Beberapa kali saya menolak saran beliau karena berseberangan dengan apa yang saya yakini. Semisal, beliau pernah menawarkan mengantarkan guru ngaji untuk pembinaan tahsin. Tetapi saya tolak. Apa pasal? Pasalnya karena guru ngaji itu mengajarkan cara mengaji model tilawatil Qur’an yang mendayu-dayu, sedangkan menurut saya yang benar itu ya seperti model tahsin yang datar-datar saja itu. Ga perlu nada-nada berlebihan.

Dan beberapa momen lainnya yang saya tak ingat detailnya satu-satu.

Tetapi setelah mendewasa, baru saya menyadari bahwa banyak benarnya juga apa yang beliau katakan dulu itu.

Mengenai tawaran guru mengaji itu, ternyata memang kebodohan saya sendiri yang tak tahu bahwa model qiraat yang populer saja ada tujuh macam.

Dan model penafsiran keislaman ternyata begitu luas tak semata ala haroqi. Ada yang kultural. Ada yang lebih spiritual tasawuf. Ada yang literal sekali. Macem-macem.

Satu pesan beliau dulu yang baru sekarang saya mengerti sisi spiritualnya. Yaitu saat beliau menjelaskan di kelas mengenai takdir. Bahwa segala sesuatu telah dalam takdir Tuhan. Disitu beliau memberikan perumpamaan seseorang membeli lotere.

Kalau kita beli lotere, pilihan menjadi dua, bisa menang, bisa tidak. Tetapi, kalau tidak membeli lotere, mana mungkin bisa menang? Beliau jelaskan waktu lalu. Jadi kalau kita sekarang membeli lotere, itu ada kemungkinan Tuhan sudah menetapkan takdir menang.

Dulu saya sedikit mencibir, ini penjelasan model apa ini? Tapi dalam hati saja.

Baru setelah saya dewasa dan mengaji tasawuf, terhenyaklah saya setelah tahu pandangan sufistik bahwa jika Allah ingin “memberi” kepada seseorang, maka Allah berikan wadahnya terlebih dahulu.

Maka do’a, dalam pandangan sufistik tidaklah menyetir pemberian Tuhan. Melainkan isyarat bahwa Tuhan ingin memberi, sehingga hamba akan tergerak berdo’a.

Maka pemberian dari Allah SWT kepada seseorang, acapkali sudah terlihat dari kepemilikan orang tersebut akan wadah itu.

Orang yang diberi rizki berlimpah, biasanya diberi wadah ketekunan dan keuletan.

Orang yang diberi kawan banyak, biasanya diberi wadah keramahan dan kesupelan.

Dan sebagaimana masyhur para alim katakan, jika Allah ingin memberikan kebaikan yang banyak, maka orang itu –diberikan wadah- kepahaman dalam hal agama.

Dari situlah, saya baru mengerti bahwa hidup kita adalah atas jasa-jasa orang yang langsung atau tak langsung memberi warna kepada kita. Maka benarlah bahwa seseorang baru dikatakan bersyukur kepada Tuhan, saat seseorang itu bersyukur atau terimakasih juga kepada jalan ilmu sampai padanya.

Jalan ilmu itu adalah “wadah”, bagaimana mungkin menerima ilmu sambil disaat yang sama mencaci wadahnya.

Mensyukuri wadah, adalah ternyata bentuk adab kepada Tuhan.

Maka lewat tulisan ini, saya berterimakasih kepada segenap orang-orang yang menjadi warna dalam hidup saya. Mereka sadari, atau tidak mereka sadari. Dan meminta maaf atas jenak kebodohan yang pernah saya lakukan.


*) Image Sources

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *