MENYETIR DIRI DENGAN AIR DAN API

air apiSewaktu menemani istri saya ke RS untuk periksa kehamilan, disitu saya semakin merasakan betapa pentingnya asuransi kesehatan. Biaya kesehatan baru “terlihat” saat ada momen-momen tertentu seperti rawat jalan atau rawat inap kalau sakit.

Dalam hal asuransi, saya termasuk beruntung karena asuransi kesehatan dijamin kantor. Alhamdulillah, jadi tidak terbebani dengan biaya Rumah Sakit.

Sebelumnya, selama beberapa hari saya tenggelam dalam kegiatan mewawancarai beberapa orang yang melamar ke Perusahaan tempat saya bekerja, dan beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sangat berpengalaman, jauh melampaui saya, tetapi sekarang sedang tidak beruntung karena kondisi dunia MiGas sedang gonjang-ganjing dan mereka terpaksa menganggur dulu.

Mengamati fakta bahwa banyak senior menganggur, dan saya termasuk beruntung masih bekerja di kantor dengan segala kemudahan fasilitasnya itu; membuat saya merasakan betapa lemah sebenarnya kita ini. Hidup dalam ombang-ambing takdir.

Dalam sekerlip mata, segala kenyamanan fasilitas seperti yang pernah didapatkan para senior-senior saya itu, bisa hilang dalam sekejap. Karena kondisi dunia perminyakan yang tidak stabil.

Dan tidak hanya urusan perminyakan atau urusan dunia swasta. Dalam dunia Pegawai Negeri Sipil pun kondisi juga bisa berubah dalam sekerlip mata. Mutasi….. pergantian pimpinan. Perubahan kebijakan. Pergeseran pemain. Dan segala macamnya yang merubah tatanan yang sudah stabil, lalu membuat kita harus adaptasi lagi.

Dalam menghadapi situasi yang berubah-ubah itu, dalam menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan, kadang-kadang sikap mental waspada seperti “perang” dibutuhkan. Adrenalin meningkat. Lalu kinerja meningkat dan membuat langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk bergerak menyesuaikan dengan kondisi. Ambisi dan siasat.

Dalam bahasanya Imam Ghozali, hidup berkeseharian dalam mentalitas yang “siaga”, penuh “ambisi”, seperti mode “perang” ini adalah karena kita menggunakan elemen “Ghadab” alias elemen “Kemarahan”, “anger” di dalam diri.

Di dalam diri manusia, ada “Kesadaran” manusia atau “hati”, sebagai rajanya. Dan ada elemen-elemen tak nampak “di luar” hati itu. Elemen yang tak nampak itu berguna sebagai “alat” bagi manusia.

Beberapa diantaranya adalah “kemampuan nalar atau rasio”, dan yang lainnya adalah elemen “marah” dan elemen “nafsu”.

Elemen “marah” itu, disini bukan berarti marah ngomel dan memukul orang secamam itu semata. Tetapi lebih ke “ambisi”.

Sedangkan elemen “Nafsu”, nafsu disini tidak semata berarti syahwat, tetapi lebih ke keinginan-keinginan atau hasrat badani yang lain, semisal makanan, hasrat keindahan, dan juga syahwat.

Maka saat sedang dicekam suatu perkara, suatu masalah. Saya perhatikan polanya Imam Ghozali ini sungguh benar.

Jika kita sedang “full konsentrasi”, mode “siaga”, semangat dan ambisi mengerjakan sesuatu, berarti kita menggunakan elemen kemarahan, elemen ambisi di dalam diri kita. Implikasinya, struktur pertahanan diri kita akan dengan refleks menaikkan elemen satunya lagi yaitu “nafsu” atau “hasrat”.

Maka kalau kita stress terlalu fokus bekerja, biasanya hasrat makan meningkat. Atau hasrat plesiran jalan-jalan. Atau syahwat. Seperti api disiram dingin. Karena tubuh kita menstabilkan dirinya sendiri.

Menarik sekali, bagaimana “hati”, “kesadaran” kita bisa menggunakan elemen kemarahan dan nafsu di dalam dirinya untuk menyelesaikan suatu perkara. Tetapi, jika sang hati tidak kuat, semisal karena “nalar atau rasionya” kalah oleh elemen kemarahan dan nafsu, maka dia akan didominasi oleh ambisinya sendiri, atau dibakar nafsunya sendiri. Sebuah kaitan yang sangat logis.

Menggunakan elemen-elemen dalam diri, dalam kaitannya untuk mencapai kepentingan tertentu, adalah jalan “depan”.

Tetapi ada jalan satu lagi. Selain dari lewat “pintu depan” yang pada akhirnya mengharuskan kita pandai-pandai menyetir elemen itu, kalau tidak hendak dibelit dan terbakar oleh mereka. Ada juga jalan “belakang”.

Jalan “belakang” ini adalah menyadari bahwa segala hiruk pikuk dunia pekerjaan, dan hiruk pikuk masalah sehari-hari sebenarnya adalah dalam genggaman DIA semata-mata. Maka alih-alih terlalu semangat menggunakan elemen-elemen dalam diri kita untuk menyelesaikan suatu perkara, kita malah harus sering-sering “berpasrah” dan dalam kondisi “relax” menyerah.

Kondisi pasrah ini, pada gilirannya memudahkan ilham-ilham kebaikan untuk turun dan memberikan solusi dari suatu masalah.

Pada akhirnya, dua-duanya perlu. Pengenalan terhadap anasir-anasir dalam diri sendiri, dan kemampuan untuk mereset ulang semuanya kembali ke “nol” agar pasrah pada pengaturan Tuhan.

Barangkali, setelah saya renungkan, urutan skema yang paling baik adalah dengan berpasrah sampai insight-insight kebaikan atau solusi mendatangi kita, lalu kemudian baru bergerak dengan mengoptimalkan elemen-elemen di dalam diri. Dengan begitu, kita seperti seorang pembalap yang menyetir mobil dengan kecepatan penuh, waspada dengan pedal gas dan rem, tetapi sekaligus “tahu” kemana kendaraan kita biarkan melaju.


*) gambar ilustrasi diambil dari link berikut ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *