MENYERAP KESEDERHANAAN

Saya betul-betul harus belajar menyerap kesederhanaan. Belakangan saya baru menyadari bahwa kesederhanaan itu sebenarnya seni. Tetapi seni yang dibiasakan dan menjadi bagian dari karakter.

Dulu, awal-awal suka menulis, saya teringat bahwa terlalu banyak akrobat kata-kata dalam tulisan saya. Lambat laun saya menyadari, bahwa yang penting bukanlah manuver kata-kata, tetapi kesederhanaan yang jujur. Sebuah tulisan yang lahir dari rahim kesederhanaan dan kejujuran akan bisa menyentuh, dan yang lebih penting adalah kejujuran yang tidak menggurui akan bisa membagikan nilai-nilai dan hikmah, tanpa perlu bertinggi-tinggi istilah.

Dalam hal kesederhanaan ini, saya teringat rumah seorang teman tempat saya numpang menginap waktu mengerjakan skripsi pada sebuah perusahaan MiGas di Jakarta sekitar delapan tahun lalu. Kepala rumah tangga yang sederhana.

Pergi bekerja pagi menjelang siang, dan pulang setelah malam larut. Tetapi selalu berwajah ceria. Saya sering sekali mendengarkan dia bersenandung lagu-lagu lama dengan gitar di rumah itu. Setiap kali menyapa dan iseng menanyakan skripsi saya, dia selalu berpesan “tenang aje, ntar juga waktunya kelar; kelar tu skripsi”. Hehehe….sebuah kalimat penyemangat yang sederhana. Meski pulang saat malam telah larut, tetapi dia selalu bangun pagi-pagi sekali sekedar untuk melihat anaknya berangkat sekolah.

Berada di sana membuat saya tahu bahwa mereka adalah keluarga yang lumayan berada, tetapi bagaimanapun juga akhirnya saya mengerti bahwa kesederhanaan itu rupanya tidak berkait dengan jumlah harta. Kesederhanaan itu inner beauty, yang akan memancar dan bisa dibaca dari keseluruhan gerak tubuh, sikap hidup, dan kata-kata yang mengggugah dan mengubah, meski biasa.

Oleh itu sebab, kita sering melihat seseorang meskipun sedikit hartanya, tetapi tidak memancar sikap sederhana dari dirinya. Ada saja yang kurang pas rasanya. Barangkali, itu karena tidak ada nilai-nilai kesederhanaan itu di dalam dirinya, sehingga meski sedikit hartanya; tetapi citra yang keluar dan tertampil adalah sifat arogan yang rumit.

Kebalikannya betapa sering kita melihat orang yang berpunya, tetapi karena ada nilai-nilai kesederhanaan itu, kita tetap akan menangkap gesture yang enak dan biasa dari gerak-geriknya, meskipun dia naik BMW.

Mungkin itu juga yang menjadi jawaban akan polemik apakah Rasulullah itu kaya? Sebagian berdebat dengan mengatakan bahwa Rasulullah itu kaya lho…. Kita harus menjadi kaya!!

Sebagian lain mengatakan bahwa Rasulullah itu miskin, dan mengajukan hitungan kalkulasi yang membantah konversi nilai mas kawin Rasulullah kedalam nilai mata uang sekarang.

Ternyata saya baru paham. Yang benar adalah bahwa Rasulullah itu sederhana.

Kesederhanaan itu adalah inner beauty. Pada luarannya, mungkin saja Rasulullah SAW kaya, dalam artian bahwa segala tata kelola keuangan itu mestilah ada persinggungan dengan kekuasaan kepala negara. Maka dalam konteks kekuasaannya akan pengelolaan uang; Rasulullah kaya sekali akan kemampuan itu.

Tetapi dalam konteks harta sebagai kepemilikan pribadi, barangkali tak banyak. Karena pernah kita dengar bahwa Rasulullah selalu memberi kepada orang miskin. Dalam suatu hadits, Rasulullah pernah ditarik selendangnya oleh seorang badui yang meminta-minta, dan selendang itu langsung diberikan begitu saja.[1]

Saya rasa itu karena kesederhaan beliau.

Dalam kesederhanaan, segala sesuatu menjadi simple, harta menjadi sekedar tools untuk berbuat dan berbagi. Masalah-masalah hidup menjadi sekedar wahana pembelajaran dan pengenalan akan takdir Tuhan.

Pada kesederhanaan orang-orang seperti itu; apakah kemudian dia berharta banyak atau tidak, berkedudukan tinggi atau tidak, sudah tidak relevan.

Kesederhanaan seperti itulah yang saya harus belajar banyak menyerapnya. Dan belajar banyak memraktekkannya.

note:

[1] Anas bin Malik berkata, “Saya pernah berjalan bersama Nabi. Ketika itu beliau memakai sebuah selendang Najran yang sisinya kasar. Tiba-tiba beliau berpapasan dengan seorang badui dan menarik selendang itu dengan keras. Sampai aku melihat ada bekas di leher Nabi saw karena kerasnya tarikan itu. Badui itu berkata, “Berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu.” Rasulullah memandang kepadanya. Beliau tertawa dan memerintahkan untuk memberinya.” HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Hakim, dan Baihaqi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *