MENUNGGU PENGERTIAN

Apakah gerangan kiranya suatu kondisi yang dapat membuat kita menjadi mudah menjalani kesulitan? Salah satu diantaranya mungkin adalah jika kita mengerti hikmah dibalik kesulitan itu.

Seorang pasien yang disuntik dokter atau bahkan dibedah, menjadi lebih “mudah” menghadapi kengerian itu, atau setidaknya menjadi mau menjalani pembedahan, jika dia mengerti bahwa “kesulitan” itu memiliki hikmah antara lain jalan kesembuhan penyakitnya.

Pengertian akan hikmah ini, sudah jamak dipahami seseorang. Saat terjadi sesuatu, orang akan mencari hikmahnya. Atau, saat ada sebuah peraturan yang harus kita jalani, harus kita taati, seseorang akan mencari hikmah dibalik peraturan itu.

Tetapi pemahaman akan hikmah ini, juga menjadi salah satu jalan yang dilakukan sebagian kalangan untuk mengutak-atik “hukum”.

Jika Babi dilarang untuk dimakan oleh orang-orang Muslim, maka sebagian orang ada yang mencari hikmah dibalik pelarangan makan Babi. Ditemukanlah salah satu hikmah, antara lain dengan tidak makan Babi seseorang akan terhindar dari cacing-cacing yang bersembunyi dibalik daging Babi. Kemudian dimainkanlah logika itu, sehingga dengan dalih bahwa cacing-cacing sudah bisa dihilangkan dengan teknologi modern, maka harusnya Babi menjadi halal kata mereka. Apa sebab? Sebabnya adalah “hikmah” dibalik pelarangan makan Babi sudah tercapai oleh teknologi modern, yaitu meskipun makan Babi seseorang akan tetap terhindar dari cacing-cacing. Ini logika yang kurang tepat.

Belakangan saya baru mengerti bahwa para ulama mengatakan bahwa suatu hukum berlaku karena “Titah” dari Allah. Bukan karena sebuah hikmah yang bisa disingkap manusia. Maka suatu hukum akan tetap berlaku, apakah hikmah tersingkap oleh manusia, ataukah belum tersingkap oleh manusia. Terlebih lagi, tidak selamanya manusia bisa mengerti tujuan sebenarnya dari pemberlakuan “Titah” itu.

Maka Babi tetap haram, tak soal apakah cacing bisa dihilangkan apakah tidak dari dagingnya. Boleh jadi kesehatan terhindar dari cacing adalah suatu hikmah. Tapi apakah itu tujuan sebenarnya dari pelarangan Allah terhadap makan Babi? Belum tentu. Bisa jadi sama sekali bukan itu.

Para arifin memberitahu kita, bahwa “sebuah kenyataan kalau kita mematuhi titah Tuhan”; itulah yang lebih penting. Karena titah itu bisa saja tidak rasional untuk logika manusia yang terbatas. Adam tak boleh makan buah. Ummat Musa a.s. tak boleh kerja di hari sabtu. Semua karena “Titah”, yang hikmahnya boleh jadi bisa kita “baca”, boleh jadi juga tak bisa “dibaca”, dan belum tentu juga bahwa hikmah yang kita baca itulah tujuan sebenarnya dari pemberlakuan titah itu.

Karena, seorang Arif mengajarkan, bahwa terkadang hikmah itu baru bisa tersingkap setelah berbilang zaman. Seperti pelarangan Adam memakan buah Khuldi, itu hanya salah satu asbab untuk Planning Maha Besar menurunkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tujuan sebenarnya dari pemberlakuan suatu kejadian selalu ada pada Allah itu sendiri. Hanya Allah yang paling mengerti tentang kenapa sesuatu itu berlaku. Dan manusia hanya diberi mengerti sebatas apa yang Allah buat manusia / makhluq itu mengerti.

Dan kenyataan inilah yang sekarang sangat membuat saya terkagum-kagum pada kisah orang-orang shalih. Mereka mensabari kejadian hidup, mensabari takdir, pada saat “hikmah”nya sama sekali belum kelihatan.

Jika hikmah sama sekali tak nampak, tetapi kejadian tetap disabari, berarti kan itu merupakan pertanda adab batin yang sangat tinggi, bukan? Berbaik sangka pada Allah atas kesempurnaan sifat Dia. Dan ini yang mengagumkan.

Nabi Yakub a.s. kehilangan anak yang paling dia cintai yaitu Yusuf a.s, karena makar saudara-saudaranya sendiri. Apa hikmahnya? Sekarang memang kita tahu hikmahnya, pada akhirnya setelah melewati onak-duri maka Yusuf a.s menjadi menteri kerajaan dan lepas dari segala fitnah. Tetapi beratus tahun lalu, pada saat hal itu terjadi, Nabi Yakub a.s tak mengerti apa maksud semua itu. Dalam ketidak mengertiannya itu, dalam kondisi dimana “hikmah” belum lagi tampak, kita membaca rekaman sejarah bahwa sikap yang dituntunkan beliau adalah mengadukan kesedihannya kepada Allah[1], dan kesabaran yang indah[2]. Meski secara lahiriah beliau sedih, menangis hingga matanya buta.

Dulu, dalam persepsi saya bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah (Aulia) adalah orang-orang yang penuh keajaiban. Weruh sakdurunge winarah. Tahu sebelum terjadi. Melihat apa yang orang lain tak lihat. Tetapi ternyata sebenar-benar orang salih adalah orang-orang yang baik sangka pada Allah karena mengerti kesempurnaan sifatNya. Bahwa segala-gala yang terjadi merupakan manifestasi sifatNya, yang terangkum dalam nama-namaNya, yang semuanya baik (Husna). Maka kita lihat para Nabi mensabari kejadian hidup dalam fase dimana “hikmah” dari kejadian itu tak selalunya mereka mengerti.

Nabi Yakub a.s. memang tahu bahwa anak-anaknya berdusta dengan mengatakan bahwa Yusuf a.s dimakan serigala, [3] tetapi pada saat yang sama Nabi Yakub a.s tak mengerti plot besar cerita, apakah nanti anaknya akan kembali padanya? Apakah anaknya selamat dan baik-baik saja.

Mensabari kejadian hidup, dalam pengertian akan kesempurnaan sifat Allah, dalam kenyataan bahwa “hikmah” dari suatu kejadian pun belum tampak pada mereka. Itu yang mengagumkan dan betapa berat untuk kita tiru.

Hati boleh sedih, mata boleh menangis, tetapi tak kita ucapkan pada lisan selain dari apa yang diridhoi.

Teringat sebuah kisah dimana Rasulullah “dimarahi” oleh seorang wanita yang beliau nasihati agar bersabar; karena beliau dapati wanita itu menangis meratapi kematian seseorang di pekuburan.  Disitulah Rasulullah SAW malah dimarahi oleh sang wanita itu. Belakangan wanita itu baru menyadari bahwa yang dia marahi barusan adalah Rasulullah, maka wanita itu meminta maaf dengan mengetuk pintu rumah beliau. Disitulah Rasulullah mengatakan bahwa yang disebut sabar itu adalah saat “pukulan pertama”.[4] Mensabari kejadian hidup pada saat “hikmah” nya belum lagi tampak.

Berdasarkan wejangan seorang guru nan arif[5] inilah saya baru paham. Bahwa orang yang mengenal Allah bukanlah orang yang selalu mengetahui keajaiban-keajaiban atau hal-hal yang tak nampak oleh orang lain. Melainkan, pengenalan yang sejati pada Allah itu ditandai dengan mensabari kejadian hidup yang bahkan saat itu kita tak mengerti hikmahnya sama sekali. Itulah “kedekatan”.

Mensabari kejadian hidup saat “hikmah”nya masih disembunyikan dari kita; adalah penanda bahwa kita mengerti kesempurnaan sifatNya. Adalah juga berarti kita sabar pada pukulan pertama. Adalah juga berarti kita sudah meniru adab para Nabi dan Aulia.

Barulah disini saya mengerti, bahwa sebenar-benar Aulia Allah itu adalah orang-orang yang menjalani takdir hidup membanting-banting dengan ridho, sampai mereka sadar betul kekuasaan Allah. Aulia bukannya orang yang happy-happy main magic dan kesaktian. Melainkan orang yang menjadi sebenar-benar penyaksi kekuasaan Allah. Dan itu tak gampang.

Maka sangatlah benar Sang Syaikh Abdul Qadir Jailani menasihati untuk berpuas dirilah atas apa yang ada pada kita, sampai Allah sendiri menaikkan taraf kita.

Sampai nanti mudah-mudahan Allah sendiri yang memberi tahu hikmah dan pengertian tentang sesuatu itu, boleh jadi segera, boleh jadi nanti, atau boleh jadi hikmahnya malah tersingkap setelah orang yang menjalani hidup itu sendiri tiada. Tapi kita sudah berbaik sangka, karena percaya.

Kita kutib petuah indah Al-Hikam sekali lagi:

“Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah ta’ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu Ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”[6]

~~~~~~~

[1] Yakub berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf: 86)

[2] “Kesabaran itu indah. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Yusuf: 83)

[3] Berkata Yakub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (Yusuf: 96)

[4] hadist dari Anas Bin Malik. (“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melewati seorang wanita yg sedang berada di sebuah kuburan sambil menangis. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata padanya : “Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah”. Maka berkata wanita itu : “Menjauhlah dariku engkau belum pernah tertimpa musibah seperti yg menimpaku” dan wanita itu belum mengenal Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu disampaikan padanya bahwa dia itu adl Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika itu ditimpa perasaan seperti akan mati . Kemudian wanita itu mendatangi pintu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan dia tidak menemukan penjaga- penjaga pintu maka wanita itu berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku belum mengenalmu maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata : “Sesungguhnya yg dinamakan sabar itu adl ketika pada pukulan pertama”)

[5] Arif Billah, Ust. Hj. Hussien Bin Abdul Latiff

[6] Ibnu Athoillah dalam kitab Al-Hikam mengatakan bahwa baik sangka kepada Allah dalam level tertinggi adalah baik sangka karena mengerti kesempurnaan sifatNya. Dan jika kita belum mampu untuk itu, setidaknya kita berbaik sangka padaNya dengan cara memandang hidup kita pada sisi nikmatnya yang masih bisa kita syukuri.

gambar ilustrasi saya pinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *