MENSYUKURI PENGHARAPAN

Betapa saya mensyukuri kesempatan saya untuk bekerja di kantoran, dari sebelumnya saya menghabiskan hari-hari dengan menjadi pekerja lapangan minyak.

Banyak hal baru yang saya pelajari. Managerial. Cara presentasi. Keuangan. Kemampuan berbahasa. Perpolitikan kantor. Bahkan psikologi.

Padahal, semasa saya masih kerja lapangan migas, di tengah-tengah anjungan pengeboran yang terapung di laut dalam, saya merasa gamang, apakah keinginan pindah kerja ini merupakan suatu hal yang baik atau kufur nikmat?

Saya sama sekali tidak memandang rendah kepada kerja lapangan. Bertahun-tahun kerja lapangan menempa saya dalam banyak hal. Hanya saja, saat itu terasa di hati saya bahwa sudah sampai masanya saya memulai sesuatu yang baru. Diawali dari rasa ketidaknyamanan saya dengan ritme kerja di lapangan pengeboran itu.

Dalam rasa tidak nyaman itulah saya gamang. Mengira bahwa saya sudah kufur nikmat.

Sampai setelah saya pindah dari dunia kerja lapangan menuju kantor, barulah saya menyadari bahwa banyak sekali hikmah yang terbuka bagi saya selepas kepindahan saya itu. Utamanya dari sisi ilmu. Barulah saya tahu bahwa kegelisahan itu rupanya menghantarkan saya pada sesuatu yang baik di kemudian harinya.

Darisanalah saya merenungi, benarlah seorang guru mengatakan bahwa disebalik ujian sesungguhnya adalah ilmu Allah. Jika kita menerima takdir kita, maka ilmu Allah akan terbuka untuk kita. Hikmah dari suatu kejadian, dan jalan keluar.

Betapa Allah itu seperti prasangka kita. Maka hati-hatilah berprasangka.

Contohnya. Kita sedang sama-sama menghirup udara di saat kita membaca tulisan ini. Tetapi di detik yang sama ini pula, kita bisa memandang Allah dalam citra yang berbeda-beda.

Umpamanya kita seorang pendosa, kita memaknai hirupan udara dengan “alhamdulillah masih diberi hidup….. masih ada kesempatan memperbaiki diri.”

Atau sebaliknya, kita mengira “saya masih diberi kesempatan bernafas. Jangan-jangan ini istidraj. Tuhan membiarkan saya dalam kesesatan.”

Allah sudah tercitrakan dalam dua sifat, yang menyifati adalah manusianya sendiri.

Maka berbaik-baik sangkalah pada Tuhan. Itu pelajaran yang saya petik. Baik sangka dalam arti jika kita menujuNya sejengkal, DIA sehasta. Kita sehasta, DIA sedepa. Selalu lebih cepat sambutanNya ketimbang usaha kita.

Maka dalam kegelisahan ujian. Kita bersangkalah yang baik. Lewat ujian biasanya malah cepat menujuNya. Dan meminta tolong keluar dari kegelisahan itu tidak tercela.

Menurut Seorang arif, di dalam ujian, jika kita ridho maka ibarat kita sudah menyeberangi jembatan. Di ujung jembatan kita mendapati tempat itu penuh dengan hikmah ilahiah.

Barangkali sharing ini berguna. Karena saya mendapati sebagian rekan-rekan mengalami juga dilema seperti saya. Rasa-rasa enggan berdoa, tersebab menganggap doa adalah kufur pada nikmatNya.

Saran saya. Lupakan kegalauan itu. Berdoalah tuntas tanpa ragu. Ibarat anak panah, lepaskan dari busurnya tanpa bimbang.

Karena dalam suatu hadits, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah tidaklah merasa direpotkan dengan doa kita.

Terlebih, kalau kita melihat dari sisi apakah ilmu yang akan Allah ajarkan kepada kita kedepannya? Juga kalau kita memandang dari sisi bahwa DIA ingin diriNya disifati sebagai Yang Maha Mengabul do’a, maka akan selalu ada makhluknya yang dititipi rasa butuh akan pertolonganNya.

Mudah-mudahan, pada gilirannya kelak kita bisa sampai pada maqom di atasnya lagi yaitu sibuk mengingatiNya, sampai tak lagi hirau dengan permintaan. Tapi itu kan tingkat tinggi, hehehe. Dari yang awalan saja dulu. Mensyukuri pengharapan kita.

Ref:

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il yaitu Ibnu Ja’far dari Al ‘Ala dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian berdoa maka janganlah sekali-kali ia berkata; ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau kehendaki, ‘ akan tetapi hendaklah ia serius dalam meminta dan besarkanlah pengharapannya, karena bagi Allah ‘azza wajalla tidak ada sesuatu yang bagi-Nya merasa kewalahan untuk memberikannya.’ (HR. Muslim: 4838 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *