MENJUJURI LEVEL DIRI

consciousness“Yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya.” Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengatakan hal tersebut.

Jika mimpi adalah apa-apa yang bergolak di “dalam” jiwa manusia, sedangkan ucapan atau perkataan adalah apa-apa yang terejawantah pada lisan “luar”nya manusia, maka baru saya mengerti inilah PR besar kita, yaitu mensinkronkan “dalam” dan “luar.”

Dan ternyata, spiritualitas dibangun atas dasar kejujuran seperti itu. Menjujuri peringkat diri. Mensinkronkan dalam dan luar.

Hal yang paling mudah adalah menilai orang lain. Sedangkan yang paling sulit adalah menilai diri sendiri. Dan agar dalam dan luar menjadi sinkron, harus dimulai dengan kejujuran menilai apa yang bergejolak di dalam batin kita sendiri.

Sebuah ketrampilan untuk “awas” dan mampu menjaga jarak mental bahkan pada diri kita sendiri. Menilai diri dan kecenderungan emosional, dan gerak-gerik fikiran sendiri secara objektif. Ternyata sangatlah penting dan mustahak.

Yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya; semakna dengan orang yang senantiasa mensinkronkan ucapannya (luarnya) dengan dialektika batinnya (dalamnya) otomatis akan menjadi orang yang jernih pandangan hatinya.

Kesinkronan antara dalam dan luar ini, agaknya dipahami benar oleh kalangan arifin. Dan saya tergerak menuliskan ini sebagai obrolan ringkas yang mengingatkan saya sendiri agar tepat dalam memandang.

TANGGA PERTAMA. Memaksa diri mengikuti apa yang telah diwajibkan. Bahwa segala hal dalam tatanan syariat adalah sesuatu yang dibuat untuk kalangan umum.

Artinya, manusia dalam berbagai level spiritualitasnya (dalam) haruslah memraktekkan hal syariat tersebut sebagai awalan melangkah di dalam peribadatannya (luar). Sholat wajib adalah wajib untuk Nabi, wajib untuk sahabat, aulia, orang shalih, penjahat, rampok, bandit, asalkan dia islam.

Itulah latihan pertama. Tangga kesinkronan pertama, bahwa syariat yang sudah Rasulullah SAW tetapkan (luaran) adalah wajib bagi segala level spiritualitas manusia (dalaman). Dan pada tangga pertama ini, berlaku sebuah rumusan sederhana, yaitu “memaksa luaran (amal ibadah) untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan, agar supaya spiritualitas batin (dalaman) mengikuti kemudian.”

TANGGA KEDUA. Setelah mempraktekkan tangga pertama. Tangga wajib yang harus ditempuh semua orang muslim dalam apapun tataran spiritualitasnya, maka ada tangga kedua

Tangga pensinkronan kedua adalah untuk jujur menilai spiritualitas kita (dalaman) agar tak terbawa nafsu untuk mengikuti pagelaran ketaatan (luaran) yang dilakukan oleh orang-orang shalih yang pencapaian mereka sudah luar biasa.

Misalnya Rasulullah dalam suatu kali pernah melarang seseorang untuk mendermakan lebih dari sepertiga hartanya[1], tetapi dalam kali lainnya Rasulullah SAW membiarkan sahabat Abu Bakar mendermakan keseluruhan hartanya hingga tak bersisa, dan Abu Bakar mengatakan bahwa dia tinggalkan Allah dan Rasulnya untuk keluarganya.[2] Cocok untuk Abu Bakar, tak berarti cocok untuk sahabat lainnya. Dan meniru amalan Abu Bakar, tanpa dilambari suasana batin seperti Abu Bakar, tidaklah elok.

Pada tangga yang ini, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk jujur kepada level spiritualitas kita (dalam) dan mensinkronkan amalan lahiriah (luar) sesuai pada level dimana kita berada.

Contoh lainnya adalah, bahwa seorang awam boleh saja berdo’a dengan sangat literal kepada Allah SWT. Misalnya dia berdo’a dengan kata-katanya sendiri, “ya Allah anugerahkan padaku sebuah rumah, rumah yang sekarang begitu sempit dan masih ngontrak ya Allah.”

Karena tuntunan umumnya adalah ‘berdoalah, Allah akan jawab.’

Tetapi tangga keduanya adalah menjujuri yang “di dalam” agar seiring dengan yang di luar.

Maka Nabiyullah Musa a.s (seseorang yang kondisi ‘dalam’nya lebih tinggi daripada contoh pertama tadi) kita temukan berdo’a dengan do’a yang begitu isyarat, sama sekali tidak literal. “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”[3]

Itu do’a disaat beliau terasing di Negri Madyan, dalam pengejaran Fir’aun dan dalam kondisi sangat lapar.

Orang pertama pada paragraf sebelumnya berdo’a dengan do’a yang begitu polos, tetapi levelan Musa a.s do’anya ialah isyarat. Ini perkara menjujuri level.

Hingga pada puncaknya adalah orang-orang yang dikatakan “lupa berdo’a” karena sibuk mengingatNya.[4]

Tetapi kita mesti jujur, agar tak keliru jatuh dalam kondisi yang enggan berdo’a karena merasa level sudah tinggi.

Pendek kata, berdoalah apapun saja, karena tuntunannya adalah meminta itu boleh. Dan nanti, do’a kita akan mendewasa seiring pengertian-pengertian yang merasuk ke dalam diri kita. Sampai nanti Allah sendiri meletakkan kita pada level yang tidak meminta karena sibuk meningatNya.

Tapi jangan langsung meloncat kesana, karena pada Tangga kedua adalah urusan jujur menilai diri.

Karena setiap anak tangga mengharuskan adabnya terpenuhi. Tangga pertama adalah memaksa diri mengikuti tatanan. Tangga kedua adalah menjujuri diri, untuk melaksanakan yang sebatas pengertian yang kita dapatkan. Terbalik-balik nanti malah keliru.

Ibnu Athoillah As Sakandari dalam sebuah aforisma di Al-Hikam merangkum hal ini dengan sangat indah.

“Keinginanmu untuk ber-Tajrid ( Mengkhususkan ibadah dan meninggalkan usaha mencari rejeki)  sedangkan Allah menempatkanmu di dalam maqom al-asbab ( sebab akibat , melakukan usaha mencari rejeki) adalah termasuk ke dalam syahwat yang tersembunyi. Sedang keinginamu ke dalam maqom Al-asbab sedangkan Allah menempatkanmu ke dalam maqom Tajrid ,adalah suatu penurunan himmah atau semangat yang tinggi.”

Ibnu Athoillah berbicara mengenai tangga kedua itu tadi, menjujuri level diri.

Saya dengarkan petuah seorang arif kembali mengingatkan untuk menjujuri level diri ini dalam kaitannya dengan perbincangan mengenai takdir.[5]

Bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini tidaklah mungkin lepas dari takdir Allah SWT; sudah pasti. Tetapi seseorang yang berdalih atas nama takdir, dengan mengatakan bahwa kekhilafan yang dia lakukan itu adalah karena takdir Allah. Berarti dusta, kata beliau.

Apa pasal orang itu berdusta?

Orang itu tidak jujur pada level spiritualitasnya. Karena, orang yang benar-benar sudah terpandang pada pengaturan Allah dan memahami bahwa segala hal ada di dalam kuasanya Allah, maka orang itu akan semakin berlari menuju Allah. Dan pembelaan diri atas kekhilafan –alih-alih bertaubat- adalah penanda bahwa sebenarnya orang tersebut tidaklah berada pada level yang betul-betul terpandang pengaturan Allah akan takdir. Maka orang itu dusta, alias tidak berbicara (luaran) pada level yang benar-benar sama dengan yang terpandang pada hatinya (dalaman).

Ibnu Qayyim mengatakan hal yang sama pula, saat membahas mengenai kenapa Nabi Adam a.s boleh berhujjah atas nama takdir?

Karena yang terpandang pada Nabiyullah Adam a.s berbeda.

Kekhilafan, pada orang-orang yang benar-benar sudah sampai pada keterpandangan pada segalanya di tangan Allah; pastilah mengantarkan orang tersebut menuju pertaubatan.

Maka untuk orang-orang yang sudah benar terpandang pada pengaturan Allah seperti inilah, Yang mengisi kekhilafannya dengan pertaubatan inilah, yang jujur pada dalaman dirinya inilah, ungkapan ini menjadi punya bobot.

Kepada Nabiyullah Musa a.s yang menggugat Adam karena menyebabkan ummat manusia dikeluarkan dari syurga, adam berkata, “Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan?”[6]

Maka saya rasa sangatlah benar sabda sang Nabi, orang yang sinkron dalam dan luarnya, ucapan dan yang didalam batinnya, akan benarlah pandangan hatinya.

Itu tentang jujur kepada diri.

 

catatan kaki:

[1] Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Taimi telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Ibnu Syihab dari ‘Amir bin Sa’d dari Ayahnya dia berkata:

Pada saat haji wada’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menjengukku yang sedang terbaring sakit, lalu saya berkata, Wahai Rasulullah, keadaan saya semakin parah seperti yang telah anda lihat saat ini, sedangkan saya adalah orang yang memiliki banyak harta, dan saya hanya memiliki seorang anak perempuan yang akan mewarisi harta peninggalan saya, maka bolehkah saya menyedekahkan dua pertiga dari harta saya? beliau bersabda: Jangan. Saya bertanya lagi, Bagaimana jika setengahnya? beliau menjawab:Jangan, tapi sedekahkanlah sepertiganya saja, dan sepertiganya pun sudah banyak. Sebenarnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan yang serba kekurangan dan meminta minta kepada orang lain. Tidakkah Kamu menafkahkan suatu nafkah dengan tujuan untuk mencari ridla Allah, melainkan kamu akan mendapatkan pahala karena pemberianmu itu, hingga sesuap makanan yang kamu suguhkan ke mulut isterimu juga merupakan sedekah darimu. Sa’ad berkata, Saya bertanya lagi, Wahai Rasulullah, apakah saya masih tetap hidup, sesudah teman-teman saya meninggal dunia? beliau menjawab: Sesungguhnya kamu tidak akan panjang umur kemudian kamu mengerjakan suatu amalan dengan tujuan untuk mencari ridla Allah, kecuali dengan amalan itu derajatmu akan semakin bertambah, semoga kamu dipanjangkan umurmu sehingga kaum Muslimin mendapatkan manfaat darimu dan orang-orang menderita kerugian karenamu. Ya Allah… sempurnakanlah hijrah para sahabatku dan janganlah kamu kembalikan mereka kepada kekufuran, akan tetapi alangkah kasihannya Sa’d bin Khaulah. Sa’d berkata, Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendo’akannya agar ia meninggal di kota Makah.

(Shahih Muslim : 1628 – 5 )

[2] diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Umar bin Khathab . Ia berkata, “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Pada saat itu aku memiliki harta. Lalu aku berkata, ‘Hari ini aku akan dapat mendahului Abu Bakar. Lalu aku datang membawa separuh dari hartaku. Rasulullah  bertanya, ‘Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu?’ Aku menjawab,’Aku telah menyisakan sebanyak ini.’ Lalu Abu Bakar datang dan membawa harta kekayaannya. Rasulullah  bertanya, ‘Apakah kamu sudah menyisakan untuk keluargamu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Saya telah menyisakan Alloh dan Rasulullah  bagi mereka.’ Aku (Umar) berkata, “Demi Alloh, saya tidak bisa mengungguli Abu Bakar sedikitpun.”

[3] QS. Al-Qashash [28]: 24.

[4] Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya”. (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

[5] Arifbillah H. Hussien Bin Abdul Latiff

[6] “Adam dan Musa bertemu, Musa berkata kepada Adam; ‘Wahai Adam, engkaulah orang yang telah mencelakakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.’ Lalu Adam ganti berkata kepada Musa; ‘Wahai Musa, Bukankah Allah telah memilihmu dengan risalah dan kalam-Nya (diajak bicara secara langsung), dan Allah juga telah menurunkan kepadamu Taurat? Musa menjawab; ‘Ya.’ Adam berkata lagi; Bukankah kamu mendapatkan di dalamnya bahwa hal itu telah ditetapkan kepadaku sebelum aku diciptakan? Musa menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: “Maka Adam dapat mengalahkan Musa.” (H.R. Bukhari No. 4367)

Gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *