MENGHITUNG KECACATAN

Dalam sebuah presentasi di kantor sekitar hampir setahunan lalu, saya pernah ditanyai habis-habisan dan kesulitan menjawab. Kalau saya mengingat hal tersebut, saya malah menjadi geli sendiri. Pasalnya, hal itu terjadi persis setelah bulan sebelumnya saya dipuji untuk telah begitu baik membawakan presentasi.

Selepas pujian itu, saya menebak bahwa seperti umumnya tuntutan para petinggi kantor, mereka pasti mengharapkan presentasi berikutnya untuk lebih baik lagi dari yang sudah-sudah. Akhirnya, hampir keseluruhan potongan slide bulan berikutnya itu saya buat dalam tujuan yang begitu menggelikan, yaitu supaya diakui bahwa presentasi kali itu lebih baik daripada pencapaian sebelumnya.

Hasilnya? Mereka sama sekali tak melihat presentasinya, tetapi menanyakan sesuatu yang diluar cakupan presentasi itu, dan membuat saya bingung harus menjawab apa.

Setiap kali mengingat itu, saya menjadi tertawa dan teringat kebodohan diri sendiri. Betapa pergeseran tujuan dan niat dalam beramal itu begitu halus, dan tanpa disadari sudah berubah dengan sendirinya. Tetapi saya bersyukur, tanpa kejadian itu, mungkin saya akan selalu membuat atau menyiapkan presentasi bulanan dalam kerangka yang begitu picis, yaitu membuat atasan terpukau, dan itu saya rasa sangat rendah.

Tetapi ngomong-ngomong, bukan masalah presentasinya itu yang membuat saya tertarik ingin bercerita, melainkan mengenai hal menyadari “kecacatan amal”.

Dalam kasus yang telah saya ceritakan tadi, saya baru menyadari sebuah “kecacatan amal” setelah mendapatkan kenyataan yang kurang sesuai dengan harapan. Jadi, istilahnya saya dipaksa untuk mentafakuri kebodohan diri sendiri. Pertanyaannya, bagaimana seandainya presentasi berjalan mulus, akankah saya menyadari sebuah kecacatan amal itu?

Ternyata, ada dua pendekatan yang sangat menarik dari orang-orang arif dalam kaitannya dengan membenarkan posisi batin dalam beramal.

Saya akan ceritakan pendekatan pertama dulu, yaitu pendekatan yang selama bertahun-tahun saya terapkan, dan belakangan saya baru sadari bahwa pendekatan ini kalah praktis dengan pendekatan kedua.

Dalam spiritualitas islam, orang-orang arif mengatakan bahwa cara “mendekati Tuhan” adalah dengan membersihkan diri dari akhlaq tercela, setelah dibersihkan dari akhlaq tercela barulah kemudian diisi dengan akhlaq terpuji. Nah…dalam kaitannya dengan mengosongkan diri dari akhlaq tercela inilah berarti kita harus selalu melakukan tafakur atas amal-amal yang telah dilakukan. Sambil menggenjot peribadatan sebanyak-banyaknya.

Ini metoda pertama. Singkatnya, dalam metoda pertama ini, umpamakanlah kita bersedekah, selepas bersedekah maka kita akan mentafakuri amal. Jangan-jangan saya tadi riya. Jangan-jangan saya tadi kurang ikhlas. Atau jangan-jangan saya tadi harusnya bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, harusnya saya bisa menyumbang lebih banyak.

Pendeknya, dengan selalu menyadari bahwa amal-amal yang dilakukan adalah hal yang senantiasa keliru, maka seseorang akan selalu merasa kurang, dengan begitu maka akan selalu beramal.

Hal ini tentu saja baik sekali. Tetapi belakangan saya menyadari juga bahwa metoda ini kalau tidak dimaknai secara benar akan membuat seseorang frustasi. Apa pasal? Pasalnya, semakin seseorang menggenjot amal peribadatan yang dia lakukan, semakin banyak dia beramal, semakin dia menyadari bahwa begitu banyak cela dalam amalnya. Ada riya, kalau tak riya maka ada ujub, boleh jadi dia frustasi karena harusnya dia sudah meningkat kualitas dan kuantitas amalnya tetapi kok ternyata masih stagnan. Dan sebagainya.

Setiap seseorang melakukan suatu amal, dia berharap bahwa amal itulah yang akan menghantarkan dia kepada Allah. Berarti, pergantungannya adalah kepada amal itu sendiri. Bukan kepada Allah. Amal dimaknai sebagai sebuah unjuk prestasi kepada Allah. Akibatnya, setiap kali dia menyadari kecacatan amalnya, dia akan frustasi menuju Allah. Sehingga boleh jadi dia akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ‘tak akan mungkin, orang dengan kapasitas seperti saya akan bisa “menuju” Allah’.

Tentu tidak semua orang akan sampai pada kesimpulan seperti itu, tetapi setidaknya banyak orang yang jatuh pada kesimpulan serupa, dan ini saya alami juga, sebabnya adalah saya memperbanyak amalan, saya mengira amalan-lah yang akan menghantarkan saya kepada Allah, dan saya frustasi tersebab kecacatan pada amal yang saya lakukan. Premisnya sederhana, amal yang cacat berarti tak sampailah saya menuju Allah. Karena yang menyampaikan kepada Allah adalah amal.

Itu pendekatan pertama. Lalu ada pendekatan kedua yang diajarkan para arifin. Dan saya temukan bahwa pendekatan kedua ini dalam banyak sisi lebih praktis dan lebih cocok buat saya.

Seperti apa pendekatan kedua itu? Pendekatan kedua adalah alih-alih menggenjot peribadatan  gila-gilaan sebagai sebuah upaya mendekat kepada Tuhan, dan alih-alih selalu melihat kepada kecacatan amal, pendekatan ini malah menekankan kepada penyadaran kepahaman bahwa manusia itu sejatinya tiada berdaya, dan amal itu sejatinya adalah anugerah Allah SWT kepada hambanya, lambat laun amal akan meningkat sebagai imbas dari pengenalan yang lebih dalam akan pengaturan Allah.

Bergantungnya, kepada Allah-nya, bukan kepada amalnya.

Sebenarnya pendekatan seperti ini diajarkan pula para arifin zaman modern sekarang ini[1], tetapi untuk kepentingan ilustrasi dan penjelasan, rasanya sangat membantu jika kita mengutip kembali dari Ibnu Athoillah. Beliau selalu menekankan kepada kita tentang pentingnya isqath al-tadbir, mengistirahatkan diri dari turut mengatur.

Dalam pandangan Ibnu Athoillah[2], pengabdian kita kepada Allah SWT seharusnya tak hanya ditunaikan dengan menjalankan kewajiban, yakni segala yang diperintahkan oleh Allah SWT, namun pula dengan menjalani ketetapan, yakni segala yang telah ditentukan Allah.

Ilustrasi yang sederhana begini. Saat seseorang beramal, katakanlah dia sholat subuh. Dalam beramal itu, seseorang itu memaknainya sebagai anugerah kebaikan dari Allah. Allah ingin hambaNya mendekat kepadaNya, karena itu Allah menganugerahi hambaNya itu amal peribadatan. Akhirnya, ibadah dimaknai sebagai sebuah bentuk kesyukuran kepada Allah. Tak ada “aku” disana. Dalam artian, tak ada perasaan bahwa diri kita sedang unjuk prestasi kepada Allah, yang ada malah sebaliknya, kita sedang mensyukuri kenyataan bahwa kita tertakdir beramal.

Sebaliknya, saat khilaf dan menemukan kecacatan pada amal, umpamanya peribadatan menjadi menurun dan tak sebaik hari-hari sebelumnya, disitulah pula kita akan menyadari bahwa sejatinya yang menggenggam hati manusia adalah Allah. Justru semakin menyadari kenyataan dari “la hawla wa la quwwata illa billah”, tak ada daya berkebaikan, tak ada daya menjauhi keburukan kecuali dengan pertolongan Allah.  Dan orang ini akan semakin meminta tolong pada Allah agar dimampukan beramal. Dia tetap menuju Allah, lewat jalan pertaubatan.

Orang-orang yang menyadari bahwa pengaturan Allah berlaku dalam segala-gala aspek hidupnya, dalam taat dan khilafnya, akan malah menjadi semakin mendekat kepada Allah.

Kalau amaliyah disadari sebagai sebuah anugerah, maka lambat laun konteks “aku” dalam beramal akan sirna. Seseorang tidak akan putus asa dari rahmat Allah, karena memang dia menyadari bahwa bukan dirinya sendirilah yang akan menyampaikan pada Tuhannya, melainkan dengan pertolongan Allah-lah dia akan sampai. Istillahnya, Lillah-Billah. Lillah (Melakukan peribadatan untuk Allah), dengan menyadari pertolongan Allah dalam amaliyah (Billah).

Saat seseorang khilaf telah berdosa-pun, pendekatan yang sebaiknya dilakukan adalah menyadari bahwa hanya Allah SWT lah yang bisa melepaskan manusia dari jerat dosa. Maka pertaubatan dilakukan dalam pemaknaan meminta rahmat dan kasih sayang Allah agar dibantu berkebaikan. Akan tetapi, pertaubatan yang keliru adalah dengan melulu menggenjot peribadatan agar kuantitas meningkat, tetapi tidak menyadari sama sekali pengaturan Allah SWT dalam amalnya. Hal seperti ini disebut Lillah-Binafsihi. Lillah (menuju Allah / Untuk Allah), tetapi mengandalkan diri sendiri (Binafsihi).

Dan orang-orang yang melulu mengandalkan diri sendiri inilah, yang most likely akan kecewa, karena mendapati dirinya sendiri begitu banyak cela, dan merasa tak akan pernah sampai. Sebaliknya, yang mengandalkan Allah akan tahu bahwa sejak awal dirinya memang tak bisa diandalkan, maka amal yang dilakukan adalah wujud syukur atas karunia tuhannya, dan cela pada dirinya tak membuat dia frustasi dan kehilangan harapan, karena fithrah manusia memang banyak cela, dan semakin mengetahui dirinya banyak cela semakinlah dia berharap pertolongan Allah.

Konteks “Aku” (binafsihi) dalam beramal menjadi hilang, berganti dengan kesadaran penuh bahwa Allah lah yang menolong kita menuju Dia (Billah).

Tetapi, cara pertamapun jika dilakukan dengan pemahaman yang benar, saya rasa akan berakhir pada kesimpulan yang sama dengan pendekatan kedua tadi. Saat seseorang menyadari bahwa dirinya selalu cacat dan tak benar dalam beramal, maka dia akan berhenti mengandalkan dirinya sendiri. Tentu bukan berhenti beramal, tetapi paradigma dia dalam memandang amal menjadi bergeser, dari yang tadinya amal dimaknai sebagai unjuk prestasi, berubah menjadi amal yang dimaknai sebagai ungkapan kesyukuran atau sebagai permohonan agar ditolong Allah untuk menuju kepadaNya.

Baiknya kita pungkasi dengan pesan Ibnu Athoillah, dalam Al-Hikam:

“Di antara tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah sejak permulaan.”

 

~~~

[1] Arif Billah Hj. Hussien Bin Abdul latiff

[2] Pandangan Ibnu Athoillah tentang Isqath Al Tadbir, secara subjektif saya rasakan senada dengan pandangan Ust. Hj. Hussien Bin Abdul Latiff tentang ketiadaan wujud dan keridhoan.

*) gambar ilustrasi dipinjam dari link ini

One thought on “MENGHITUNG KECACATAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *