MENGGENAPKAN KEMULIAAN

Suatu hari seorang rekan saya bertanya apakah saya mencintai dunia?

Pertanyaan ini agak absurd, saya susah menjawabnya jika tidak diletakkan pertanyaan itu pada sebuah konteks.

Kalau misalnya saya letakkan soalan cinta-mencinta dunia itu dalam konteks pekerjaan dan penghasilan, mungkin ya, mungkin mudah-mudahan saya tidak begitu mencintai dunia dalam perwujudannya yang begini.

Selama ini, inilah yang menjadi alasan saya menolak setiap tawaran pekerjaan dengan bayaran yang lebih baik. saya sudah merasa cukup.

Tapi apa benar pemikiran ini? Sepertinya ada yang janggal. Saya membatin sendiri kemudian.

Lama-lama soalan itu terlupakan. Saya sibuk saja dengan niatan yang saya anggap lebih luhur, yaitu “belajar” dan membagikan hikmah hidup dari sepanjang perjalanan yang saya temukan.

Sampai suatu ketika saya menyadari bahwa diperlukan sebuah kekuatan, sebuah pembuktian, saat kita ingin membagikan pemahaman pada orang lain.

Pemahaman nilai-nilai keruhanian yang pelik dan luhur itu bagus, tapi tanpa penguasaan bidang keduniawian, tanpa daya, maka orang-orang yang menapaki jalan ruhani hanya akan dipandang kasihan sebagai orang-orang yang kalah dalam pergulatan sosial.

Membagikan nilai-nilai ketundukan dan kepasrahan pada Tuhan itu sudah tentu mulia, tapi tanpa memiliki “Daya” untuk berdiri tegak dan tidak tergantung pada orang lain, maka segala omong-omong kita tentang persandaran pada Tuhan semata; hanya dianggap pepesan kosong.

Menuliskan petuah-petuah kepasrahan, keselamatan, keTuhanan dan semacamnya itu perlu sekali, tapi tanpa kemampuan diksi yang mumpuni dan tanpa keahlian akrobatik kata-kata maka paragraf-paragraf kita hanya akan dianggap roman sampah oleh orang-orang.

Sebagaimana azan itu syariatnya, tapi tanpa keindahan dan kemuliaan pengelolaan nada-nada maka jangan salahkan orang-orang yang terganggu dengan nyaringnya.

Dan saya rasa keinginan untuk melengkapi nilai-nilai kehidupan yang sudah kita miliki dengan kekuatan, dengan Daya, agar menjadi genap tugas kekhalifahan manusia; itulah yang akan menyelamatkan kita dari tergelincirnya niat, dari salah arahnya tujuan.

Dan puzzle kemuliaan itu bisa dilengkapi dengan macam-macam bentuk tergantung peruntukannya, bisa berwujud harta, bisa berwujud kekuatan kepemimpinan, bisa juga hal-hal lain.

Nabi sulaiman kaya raya namun Nabi Muhammad SAW memang tidak melimpah harta. Pada pokoknya, kita jangan mereduksi tema ini sebatas kaya atau tiada kaya, tetapi pada betapa fleksibelnya bentuk keberdayaan, kekuatan, yang harus mengiringi kemuliaan tata nilai yang kita pegang itu.

Rasulullah mungkin tidak kaya bila diterjemahkan sebagai tumpukan harta yang pasif, tapi betapa beliau kuat dan punya daya dengan kepemimpinannya.

Terserah apa saja bentuknya yang terkesan seakan-akan duniawi itu, tapi kita wajib berdaya!

Guru-guru yang arif, saya temukan menjabarkan hal yang hampir sama pada kesimpulan akhirnya, yaitu orang arif dan orang awam boleh jadi pada pandangan mata fisik akan sama tetapi sesungguhnya yang berbeda adalah yang di dalam dada mereka.

Kita orang-orang awam misalnya, saat beramal sesuatu seperti bersedekah, akan sibuk menelisik hati kita apakah kita tadi ikhlas atau tidak? Jangan-jangan kita tadi riya?

Hal itu bagus, tapi cobalah kita bandingkan dengan sikap batin orang-orang arif yang saat sebelum beramal saja mereka sudah sadar penuh bahwa tidak mungkin mereka kuasa beramal tanpa pertolongan Tuhan.

Maka akibatnya saat beramal dan setelah beramal, hati mereka sibuk dengan bersyukur kepada Tuhan karena sudah begitu baiknya mentakdirkan agar mereka dapat beramal.

Tipis sekali bedanya bukan? Kita masih sibuk memikirkan apakah riya atau tidak, ikhlas-tidak, karena masih merasa bahwa amal adalah hasil laku kita, sedangkan orang-orang arif hatinya sibuk bersyukur karena merasa bahkan amalpun bukan kuasa manusia. Tidak mengklaim dirinya punya amal. Tiada daya upaya kecuali karena betapa baiknya Allah semata.

Dan bukankah cara paling mantap terhindar dari ketidak lurusan niat ialah dengan menyandarkannya pada Tuhan sejak awal mula sekali?

Disinilah saya temukan harmoninya. Yang merubah tata pandang saya tentang dunia.

Betapapun tidak menariknya dunia itu di mata kita, jika keberadaannya adalah sebuah puzzle yang menggenapkan kemuliaan nilai-nilai yang kita anut, dan menjadikan kita lebih bisa menyampaikan kebenaran pada orang lain tanpa merunduk-merunduk hilang wibawa; maka ambillah!

Dan letakkan Tuhan sejak awal mula dan sepanjang jalan kita, guru-guru mengatakan itulah satu-satunya penyelamat kita, dan membedakan kita dari orang-orang yang menggilai dunia, dari orang-orang yang semata-mata dunia saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *