MENGEMBALIKAN SINGGASANA RAJA

Dalam hubungan sosial kemasyarakatan, saya rasakan secara subjektif bahwa saya adalah seorang pembelajar yang lambat.

Saya memiliki satu orang sobat karib, masa SMA dulu, yang merupakan magnet pesona dalam hubungan sosial. Dalam kata lain, dia orang yang supel dan luar biasa pandai bergaul.

Dahulu, saya cukup mengeluhi kekurangan saya ini. Saya pengennya seperti temen saya itu. Tetapi, bagaimanapun saya ingin menjadi seorang yang supel, saya selalu gagal untuk hidup dalam keramaian khalayak.

Saya bisa berbicara dengan fasih di depan orang-orang, tetapi itu bukan supel, karena dalam hubungan pertemanan yang ramah tamah saya tak bisa. Berbasa-basi hampir selalu saya rasakan sebagai kekurangan terbesar saya. Itu kelemahan sekaligus kekuatan saya.

Beruntungnya saya, dari yang mulanya bekerja di laut lepas, pada pengeboran minyak yang semakin-makin melarutkan diri saya dalam solilokuy dan renungan yang soliter, saya sekarang bekerja di kantor. Tempat kerja yang menuntut saya untuk masuk dalam teamwork dan menyesuaikan ritme dengan orang lain.

Dan disinilah saya belajar. Belajar mengenali diri saya sendiri.

Hidup di dalam iklim kantoran swasta, adalah hidup yang dinamis dan harus siap dengan kritik. Mata orang lain, seringkali sangat tajam dan bisa memberitahu kita tentang kelemahan kita pribadi. Kamu itu kurang ini, kamu itu biasanya kalau mengatasi masalah begini kamunya begitu.

Dulu saya masih menganggap kritik sebagai sesuatu yang tabu, tetapi seiring dengan terbiasanya saya dalam iklim kritik yang positif dan membangun, saya menganggap kritikan sebagai sebuah budi baik teman-teman yang menunjukkan “gap” saya apa, dan mengatasinya bagaimana.

Mereka menganggap kritikan dan masukan positif itu berkait dengan kerja dan dunia karir, tetapi yang tak mereka tahu bahwa saya menikmati kritik itu sebagai sesuatu yang spiritual dan mengajarkan saya menyelami diri saya sendiri lebih dalam. Ooooh… jadi ternyata selama ini saya ini begini toh

Memang sangat betul, bahwa perjalanan mengenali diri sendiri ini panjang sekali. Dan orang-orang mengenali diri mereka masing-masing pada kedalaman yang berbeda-beda.

Ada yang materialis, dan mengenali diri sebatas tampilan citra fisik yang harus selalu dipermak. itu sudah oke, tapi kurang dalam.

Ada yang lebih dalam sedikit, mengenali diri pada citra psikologis dan emosionalnya sendiri. Pada tataran mengenali diri dalam citra psikologi dan emosi tertentu ini; saya merasa banyak terbantu dengan jabatan saya sekarang. Secara jujur saya melihat bahwa saya lemah di dalam membangun jaringan dan pergaulan sosial, tetapi lama-lama saya paham bahwa saya secara natural kuat di dalam “journey inward”, menyelami ruang batin dan menyajikan sesuatu secara terstruktur dan mudah dicerna. Dulu saya tak paham, sekarang baru paham.

Dengan mengenali diri saya pada kedalaman “segitu”, maka saya menjadi berdamai dengan diri saya sendiri. Jadi seolah-olah mengetahui mekanisme kerja diri saya sendiri.

Semisal seseorang yang mengetahui bahwa fisiknya memiliki kaki yang kuat, maka dia bisa optimalkan dengan jadi pelari cepat. Dan sebaliknya kalau mengetahui kelemahan fisik, maka dia akan adjust dan sesuaikan fungsi fisiknya, karena pengenalannya yang utuh. Misalnya helio gracie yang bertubuh ramping dan kecil bisa menyesuaikan beladiri jepang menjadi brazilian jujitsu yang fenomenal karena pengenalannya yang paripurna pada mekanisme dirinya sendiri.

Begitulah, semakin direnung, semakin dalam. Mekanisme kerja fisik kita sendiri. Mekanisme psikologi kita sendiri dan emosi kita sendiri.

Kalau lebih dalam lagi, maka lebih berkait-kait dengan spiritualitas. Kesadaran yang paling dalam, itulah yang dalam istilah islam disebut dengan “hati”. Yaitu sebuah kesadaran yang memahami melihat dan mendengar. Naquib Al Attas, umpamanya, dalam Prolegomena of The Metaphysics of Islam, mengutip imam Ghazali dengan mengatakan bahwa “hati” yang di dalam itulah yang sebenarnya manusia sebut dengan “aku”.

Bahasanya Imam Ghazali, yang “raja” itu adalah yang di dalam sana. Dia, secara default diberikan perangkat untuk menunaikan tugasnya dimuka bumi ini. Perangkat terluarnya, dinamakan jasadnya.

Masuk sedikit kedalam, ada anasir-anasir halus, yaitu fikiran-fikirannya (yg diturunkan padanya), lalu ada emosi-emosi jiwanya.

Dan sebagaimana perangkat, tentu setiap perangkat punya keterbatasan dan kelebihan masing-masing.

Tetapi sang raja yang bijak, adalah dia sudah tuntas mengenali dirinya. Dirinya adalah sang raja itu, dan selain itu hanyalah perangkatnya untuk bertugas di dunia.

Memahami ini, buat saya sangat membantu. Kalau dulu saya sering mengeluhi emosi dan psikologi saya sendiri, sekarang saya menjadi mengerti bahwa “oooh… ternyata begini caranya alat emosi dan psikologi saya bekerja”. Selangkah lebih dekat, kepada apa yang Imam Ghazali katakan dengan “menjadi raja dalam kerajaan diri sendiri”. Meskipun seringkali juga saya masih ngedumel sendiri, namanya manusia, hehehe….

Jiwa di dalam diri kita itu, diberikan perangkat yang berbeda-beda, sesuai tugasannya masing-masing.

Dan alhamdulillah, memahami ini membuat saya bisa berdamai bahwa dunia ini diciptakan dengan harmoni, dan setiap orang punya peranan yang sudah diset oleh Sang Empunya drama. Kita memang berbeda-beda,tetapi pengenalan utuh terhadap perbedaan itu membantu untuk melangkah dalam penerimaan. Sebagai suplemen terhadap pemahaman tentang takdir. (Seorang Arif mewejang begitu apik tentang takdir ini, tapi saya kesulitan menerjemahkannya dalam bahasa yang simpel, hehe.)

Seperti sebuah ayat dalam Al Qur’an, bahwa tanda-tandaNya ada disegenap ufuk, bahkan dalam diri kita sendiri.

Coba deh, direnungi ke dalam dan semakin ke dalam. Asyik juga lho. Kita kembalikan sang raja, pada singgasananya. demikian.

::

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *