MENGEJAR MUADZIN MUSHOLLA

Betapapun saya ingin menyalip, atau paling tidak menyamai Mas Isdat, muadzin musholla komplek, saya selalu kalah.

Dia yang paling dahulu ada di Musholla komplek, sedang saya jarang-jarang. Dia hadir disana dan menjadi muadzin langganan, dia orang paling bersahaja, tak banyak bicara tapi selalu hadir dan berkontribusi dalam acara, menyumbang hal-hal yang remeh temeh sampai meminjamkan peralatan rumah untuk keperluan acara-acara sosial.

Jadi, saya selalu kalah dalam capaian-capaian kebaikan itu.

Yang menarik dari menyadari kekalahan kebaikan itu adalah saya menjadi lebih memahami wejangan guru, bahwa “jika ditakdirkan beramal, maka beramallah seseorang itu.”

Karena direnung-renung bahwa hal-hal yang mendukung terzahirnya sebuah amal itu banyak.

Umpamanya saya melihat mas Isdat, maka paling tidak saya bisa membuat list hal-hal yang mendukung, antara lain kondisi pekerjaan, kultur, sifat bawaan, keluarga, dan hal-hal yang lebih abstrak semisal ilham kebaikan, semuanya harus “berkonspirasi” sehingga amal kebaikan mewujud dari Mas Isdat pada waktunya yang telah ditentukan.

Ibnu Athaillah mengatakan, jika ingin melihat kedudukanmu disisi Allah, lihatlah dimana DIA menempatkanmu sekarang.

Dalam suatu Hadits dikatakan, jika Allah inginkan kebaikan pada seseorang, maka orang itu difakihkan dalam agama.

Artinya, kebaikan yang muncul dari seseorang, bukanlah “sebab”, melainkan akibat dari didudukkannya orang tersebut pada posisi yang Allah kehendaki.

Hal ini senada dengan wejangan para arif, bukan amalmu yang menyampaikan kepada DIA, melainkan DIA yang menyampaikanmu padaNya.

Akan tetapi, menyadari segala hal tersebut tidak lantas membuat kita menyepelekan amal.

Sebagaimana hadits Rasulullah tentang takdir, jangan berpasrah -meski sudah tahu bahwa segalanya tertulis-, melainkan tetaplah beramal, karena seseorang akan dimudahkan atas apa yang telah tertulis baginya.

Mentalitas kita dalam beramal menjadi berbeda. Kita melihat amal sebagai sebuah anugerah.

Sering kita dengar bahwa nikmat terbesar adalah “islam”, kalimat itu barulah saya temukan sisi spiritualnya lewat tasawuf, bahwa segala hal yang menjadikan kita bisa menyesapi kehidupan sebagai “dalam genggaman” DIA ; itulah anugerah itu.

Dan kadangkali, cara DIA menghantarkan kita pada kesimpulan itu adalah lewat onak duri.

Seringnya sih, sebelum melewati onak duri ujian kita agak-agak “ga percaya bahwa bukan amal kita yang menyampaikan kita padaNya”. Seperti kita berkuasa atas amaliyah kita. Sepertinya amal kita yang menyampaikan kita padaNya.

Tetapi setelah dibanting-banting hidup biasanya mulai berubah cara pandang. Dan menyadari bahwa tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.

Dan saya perhatikan, sesiapa yang pelan-pelan memahami mengenai ini, tidak lantas menjadi abai akan amalnya, melainkan dalam amalnya dia bersyukur, dalam kendurnya dia menjadi semakin memohon dimudahkan beramal.

Seperti sebuah doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Allahumma ainni ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatika. Ya Allah, ajarkan aku berdzikir padaMu, bersyukur padaMu, dan memperbaiki ibadahku.

Jadi kalau dianugerahi, maka terzahirlah amal-amal itu pada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *