MENGEJAR MUADZIN MUSHOLLA (2)

Ruangan gelap lantai bawah yang saya amati tiba-tiba menjadi sedikit berpendar setelah cahaya dari lantai atas berhamburan jatuh. Saya melihat siluet berkelebat dari celah kisi-kisi jendela lantai atas, ada yang menyalakan lampu. Hari sudah malam dan tak lama berselang terdengar lamat-lamat azan keluar dari corong toa, dan merambati setiap celah udara di waktu isya kala itu.

Saat itu saya tiba di depan musholla komplek yang usai dipugar menjadi dua lantai. Pemugaran sudah selesai lama, tetapi musholla baru bisa mulai dipakai setelah baru-baru ini ada edaran MUI yang membolehkan sholat jamaah dengan mematuhi protokol kesehatan. Karena pandemi corona membuat orang khawatir berkumpul.

Saya tatapi setiap lekuk desain musholla itu, apik dan nyaman. Dari keremangan cahaya musholla yang temaram itulah saya melihat lagi-lagi siluet mas Isdat. Orang pertama yang datang ke Musholla, dan menyalakan toa, lalu mensyahdui malam dengan suara azannya. Seperti biasanya. Dan selalunya begitu.

Betapa orang-orang yang sederhana dan biasa, tetapi selalu hadir dalam setiap momen kebaikan-kebaikan kecil yang indah seperti ini, membuat saya terharu. Kesederhanaan dan amal-amal indah yang tidak bisa saya susuli.

***

Siang hari sebelumnya, saya sudah mulai kembali menunaikan jumatan. Berkelebatlah di fikiran saya tentang hal yang belakangan mengerumuni perenungan saya, yaitu tentang perhubungan dengan sesama manusia, hablumminannas.

Bertepatan pula khotib jum’at mengutip surat An Nashr. Rasulullah SAW menerima Wahyu surat An Nashr[1] saat menaklukkan Makkah. Dari ayat izaja a nashrullah…. Dst lalu sampai pada perintah untuk bertasbih dan beristighfar.

Teringat saya dengan salah satu tafsir yang saya pernah baca, mengapa pada momen kemenangan malah disuruh istighfar? Ternyata salah satu analisanya adalah karena sangat mungkin dalam momen kemenangan kita itu, ada orang-orang yang merasa terzalimi, meskipun kita tidak meniatinya begitu.

Maka kemudian di dalam sejarah dikatakan Rasulullah SAW memasuki Makkah yang sudah umat muslim taklukkan, dengan kepala tertunduk di atas tunggangan beliau. Padahal kalau dalam istilah sekarang, Makkah kala itu sudah dalam fase “menyerah tanpa syarat”. Tetapi seorang Panglima masuk dengan kerendahan hati dan menundukkan kepala bertasbih dan beristighfar.

Itu Rasulullah SAW. Opo meneh level kroco model saya ini. Hehehe… karena potensi untuk membuat orang lain tersakiti, minimal orang lain mempersepsikan kita secara keliru, itu tetap ada. Boleh jadi karena kealpaan kita sendiri, atau boleh jadi juga karena beda cara pandang, penafsiran berbeda-beda.

Jadi sebab itulah, jika dalam berbuat kebaikan, jika kita menyandarkan kebaikan itu pada atribut-atribut diri kita, maka kebaikan itu akan urung muncul. Karena, diri kita tidak pernah sempurna, selalu ada potensi untuk disalahpahami, dan diri kita memanglah bukan merupakan representasi kebaikan sepenuhnya.

Seperti sebuah kata mutiara sufistik dalam Al Hikam, ”Siapapun yang mengungkapkan hamparan kebajikan dari dirinya, maka rasa buruk pada dirinya di hadapan Tuhannya akan membungkamnya. Dan siapa yang mengungkapkan hamparan kebajikan Allah Swt kepadanya, maka keburukan yang dilakukan tidak membuatnya terbungkam.”

Dan orang-orang seperti mas Isdat, Muadzin Musholla komplek saya itulah yang kembali mengingatkan saya tentang berkebaikan. Lakukan saja kebaikan-kebaikan, meskipun kecil, meskipun dirimu sendiri bukanlah representasi seutuhnya dari norma-norma kebaikan tetap lakukan kebaikan itu. Meskipun, tidak diketahui.

Karena salah satu cara mengharap perjumpaan pada Tuhan, adalah dengan mendedikasikan amal baik sebagai cara menemuiNya, “………Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh….. (Terjemah QS Al Kahfi: 110)”.

Menurut seorang guru, mendedikasikan kebaikan, adalah salah satu cara untuk mendekati Tuhan, mendekati Tuhan melalui amal saleh. Pada orang-orang seperti mas Isdat, saya belajar tentang hal ini.

Di atas tingkatan seperti ini, masih kata guru tersebut, adalah tingkatan orang-orang yang hati mereka tentram dan sudah termasuk dalam golongan orang-orang yang “didekatkan”. Seperti dalam ayat hai jiwa yang tenang, [2] masuklah kedalam jamaahNya.

Orang pertama adalah yang merayuNya dengan amal-amal kebaikan. Orang kedua adalah yang sudah “tenggelam” dalam mengingatiNya.

Tapi level kedua itu adalah level yang tinggi. Kita tapaki satu-satu tangga-tangga itu dengan Kebaikan-kebaikan yang sederhana. kita mengejar orang-orang yang tersembunyi, seperti muadzin Musholla Komplek tadi.


[1] Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat. [an-Nasr/110 : 1-3]

[2] Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *