MENEMUKAN YANG MAHA BESAR

Saya rasa, menjadi guru adalah pekerjaan paling sentimentil. Saya teringat fragmen masa TK saya, dimana saya drop out dari TK karena ortu harus pindah. Disana Ibu Guru Saya menangis.

Ketika kedekatan secara emosional terbentuk, maka melihat anak didik datang dan pergi adalah sungguh momen haru biru.

Tetapi siapapun yang hidupnya direbus didalam momen haru biru itulah yang lambat laun menyadari bahwa tabiat hidup memanglah seperti itu. Ianya datang sejenak, untuk lalu kemudian pergi.

Maka benarlah guru kearifan, dalam spiritualitas islam saya temukan mewejang hal yang itu. Yaitu belajar “melepas”.

Jika satu persatu dilepas. Perasaan merasa kuat dan hebat dilepas…..perasaan ingin dihormati dilepas….rasa memiliki ilmu dilepas….. Harta dan pangkat dilepas…… Bahkan keterikatan antara “sejatinya diri” dengan fikiran dan rasa juga dilepas…lantas apa yang tersisa?

Kalau selama ini kita tahu bahwa yang kita sebut sebagai “diri” kita, selubung ego kita itu adalah kumpulan pengalaman hidup kita. Maka melepas segala yang ada, akan pada gilirannya membuat “dirimu” pun hilang.

Ketakutan terbesar dalam hidup manusia, rupanya ketakutan untuk hilang keberadaannya.

Kalau sesuatu yang kita anggap diri kita saja sudah tidak ada, lalu apa lagi yang ada?

Seorang guru yang Arif memberi tahu, bahwa saat semuanya dilepas, yang tinggal ialah kesadaran bahwa DzatNya-lah yang wujud. Setitik yang begitu kecil dalam samudera luas.

Jadi jika sentimentil sekali hidup kita. Dalam siklus datang dan pergi datang dan pergi itu. Maka memaknainya dengan tepat sebenarnya menghantar kita menyelam ke tujuan hidup itu sendiri.

Hilang diri. Hilang identitas. Tinggal kekerdilan dalam samudera KemahaBesaran-Nya.

Ibarat murid bertemu guru.

Bahasa seorang Arif, yang kerdil, menemukan Yang Maha Besar.

One thought on “MENEMUKAN YANG MAHA BESAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *