MENEMUKAN DIRI DAN MENEMUKAN TUHAN LEWAT JALAN BEKERJA

Pertama kali saya kerja di kantor -dari sebelumnya pekerja lapangan-, cara sorting angka di kolom Excel pun saya tak paham. Sekedar mengurutkan angka dari yang terendah sampai yang tertinggi saya tak tahu caranya. Karena memang tak familiar. Tetapi setelah beberapa bulan di kantor, jadi tahu caranya. Dan sedikit-sedikit belajar formulasi yang lebih rumit.

Tidak hanya itu, dulu pertama kali di kantor, cara mengorganisasikan waktu dengan lebih baik. Tekhnis membalas email dengan singkat padat. Metoda mind-mapping untuk memetakan ide-ide, semua saya tak paham. Alhamdulillah seiring waktu berjalan, jadi paham.

Dengan bekerja, menjadi belajar hal-hal yang baru.

Tidak hanya hal-hal yang semacam itu, hal-hal yang lebih sedikit “dalem” dan spiritual pun dulunya tak paham. Alhamdulillah lewat sarana “bekerja” menjadi paham.

Karena kesibukan kantor yang membebat-lah, akhirnya menjadi merenung, apa sih yang dicari orang-orang kantoran Jakarta ini?

Lewat merenung jadi mengerti mengenai piramida kebutuhan manusia ala Maslow, karena aplikasinya terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari.

Lama-lama merenung lagi, kok ya sepertinya ada yang lebih mendasar tetapi belum terjawab lewat kajian-kajian psikologi barat? Bertemulah dengan tasawuf, spiritualitas islam yang menjawab pertanyaan mendasar itu, kembali ke basic, pengenalan terhadap Tuhan, kehidupan adalah ceritaNya.

JANGAN TINGGALKAN PEKERJAANMU

Dahulu, karena merasa beban pekerjaan begitu hectic, capek, melelahkan, dan ketepatan bertemu dengan kajian tasawuf, saya berfikir “kok kayanya lebih enak kalau saya berhenti aja kerja, lalu tinggal di desa, di pantai, merenungi hakikat hidup di gunung-gunung”.

Untungnya saya tidak berhenti bekerja, hahaha…. tetapi ndilalah menjadi paham bahwa justru dengan bekerjalah, hakikat kehidupan, segala teori tinggi dalam kajian spiritualitas itu, menemukan tempatnya untuk “membumi”.

Dan yang mengalami kebingungan seperti yang saya alami dulu, ternyata banyak. Saya melihat banyak pekerja kantoran di Jakarta -dan kota kota lainnya tentu- karena gerah dengan kehidupan kota yang padat dan letih, mereka ingin banting setir menjadi pertapa saja. Tinggalkan hidup.

Padahal, dengan kehidupan dan pekerjaanmu sekaranglah kebijakan-kebijakan itu menemukan wadahnya. Kalau tidak ada wadahnya -berupa kontribusimu dalam kehidupan- maka segala kebijakan itu hanya akan menjadi teori-teori tinggi di buku-buku.

Ibnu Athoillah As Sakandari yang terkenal dengan Al Hikam-nya pun dulu pernah ingin berhenti saja dari kehidupan beliau sebagai pengajar fikih, lalu ingin hidup men-spiritual, lalu dicegah oleh guru beliau, dan diberitahu bahwa tetaplah dengan pekerjaanmu.

KETAHUI PERANAN KITA DALAM KEHIDUPAN, DAN BEKERJALAH

Para peneliti barat, bertanya-tanya mengapa orang-orang di Okinawa Jepang punya umur panjang-panjang. Teliti punya teliti, ternyata salah satu alasannya adalah orang-orang di Okinawa itu punya konsep hidup dimana mereka tidak mengenal istilah “pensiun”. Bahkan kata “pensiun” atau “retirement” itu tidak ada padanan katanya dalam bahasa mereka.

Kenapa bisa begitu? Karena bagi mereka, sangat penting untuk tahu tujuan dalam hidup. Bagi mereka, setiap orang itu punya peranan dalam hidup, dan hal yang membahagiakan adalah jika kita tahu apa peran kita, lalu setiap hari kita jalani kehidupan yang punya arti, karena kita menjalankan peranan.

Jadi bagi mereka, konsepnya adalah bukan menabung banyak-banyak untuk kemudian berhenti atau resign. Tetapi konsepnya adalah ketahui apa peranan kita dalam hidup, lalu jalani kehidupan secara bahagia karena selaras dengan peran kita dalam kehidupan. Hidup menjadi punya arti.

JADIKAN BEKERJA SEBAGAI JALAN MENEMUKAN DIRI DAN IBADAH

Untuk para pekerja kantoran (atau pekerja di mana saja, sawah, ladang, bisnis rumahan, dst). Kita amati kehidupan kita berputar cepat dan hampir-hampir tidak ada waktu. Kapan lagi waktu kita untuk hidup asketis? Misalnya waktu untuk tafakur seperti para abid? Seperti pertapa? Ndak ada waktu karena kita sibuk dalam kehidupan.

Tetapi…… setelah kita sadari bahwa dengan bekerjalah kita menjadi menemukan tantangan-tantangan, menjadi bertanya-tanya, menjadi mendapat ilmu baru, menjadi mengerti bahwa pandangan kita dulu itu kurang tepat lalu kemudian kita menjadi lebih spiritual dan filosofis sedikit karena kita “dipaksa” untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita akan makna hidup; maka menjadi tahulah kita, bahwa selama ini kita berada dalam MADRASAH-NYA. Pelatihan-NYA, yaitu kehidupan kita masing-masing inilah.

Kita cuplik kisah dalam perang baratayudha, saat dimana Arjuna merasa gamang tidak mau berperang, dan ingin meninggalkan medan kurusetra karena merasa lebih baik dia hidup damai dan lari dari tugas. Di waktu itu, sang penasihat yaitu krishna memberitahu Arjuna, bukan begitu caranya. Melainkan, jalani peranmu dan pahami bahwa dengan menjalani peran itulah engkau memaknai hidup sebagai persembahan.

Istilah dalam islam adalah Lillahi ta’ala. Melakukan seganya untuk Tuhan. Kita menyadari bahwa setiap kita menunaikan peranan, dalam drama kolosal kehidupan ini. Maka jalani peranmu.

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *