MENDADAK MEETING DAN PENGABDIAN

Agak deg-degan saya tadi pagi. Ceritanya saya diminta menghadiri salah satu meeting di Kantor client, menggantikan Country Manager yang kebetulan berhalangan hadir. Meetingnya sengaja diset seperti diskusi group untuk manajemen atas. Nah ini yang bikin deg-degan, karna kitanya kroco alias ban serep diminta menggantikan pak Bos. Hehehe.

Ketempuan harus bergaya, padahal paling males terlalu formal. Walhasil sejak malam saya sibuk cari kemeja batik resmi lengan panjang, kemeja yang lama tak saya pakai, menyemir kembali sepatu pantofel yang lama tak dicolek, dan pagi harinya terpaksa untuk mengendarai mobil pagi-pagi ke kantor client, sedangkan saya sudah terbiasa dimanja kenyamanan naik motor abang GoJek. Komplit sudah, saya jadi agak kikuk.

Drama kekikukan itu akhirnya bisa diminimalisir setelah saya kembali teringat bahwa saya ini sebenarnya hanya menunaikan “fungsi” saya dalam drama kehidupan ini.

Kata orang bijak, berbakti pada Tuhan Lewat menjalankan peran di kehidupan. Hidup dalam mentalitas “membantu” orang lain lewat peranan masing-masing.

Abraham Maslow, di akhir masa hidupnya mengatakan bahwa puncak pendorong aktivitas atau tindakan manusia itu bukan “aktualisasi diri” melainkan “transendensi diri”.

Transendensi, maksudnya kita berlepas diri dari keinginan-keinginan pribadi, dan kita hidup untuk lebih “mengabdi”.

Mengabdi, ini contohnya sudah banyak sekali. Banyak sekali orang-orang yang berada di puncak karir mereka, kemudian menjadi spiritualis, dan hidup untuk membantu orang lain. Misalnya berderma, sedekah, macem-macem.

Yang menariknya, mengabdi lewat membantu itu tak hanya bisa dilakukan lewat aktivitas yang secara nyata bisa ditafsirkan “membantu”, melainkan bisa dilakukan lewat peranan masing-masing.

Bahkan pekerjaan sehari-hari yang kita lakoni juga bisa punya nilai lebih jika kita menjalaninya dalam mentalitas “mengabdi”.

Jadi dalam kikuk pagi tadi, saya menyadari kembali bahwa mesti ada kebaikan dalam takdir yang menghantarkan saya agar ikut meeting, meskipun hanya ban serep. Dan mesti ada porsi dimana saya bisa berbagi manfaat buat orang lain, “mengabdi” pada Tuhan lewat menjalankan fungsi saya dalam peran sebagai peserta.

Walhasil dalam diskusi tadi kesempatan untuk menyampaikan pendapat mengalir dengan ringan. Dan secara subjektif saya rasakan tertakdir membagikan manfaat dari secuplik pengetahuan yang saya pernah baca mengenai repetisi, dan kaitannya dengan bagaimana mengubah habit dalam dunia industri. Alhamdulillah. Karena hanya menyadari menunaikan peran pengabdian.

Senada dengan ini saya temukan kebijakan dalam sloka Bhagavad Gita, secuplik dari kisah Mahabarata. Salah satu jalan untuk menemukan kesejatian diri adalah dengan “bekerja”, menunaikan peran hidup dalam mentalitas pengabdian.

Kita sudah mafhum bahwa peribadatan yang tekun bisa menjadi jalan. Pembelajaran lewat khasanah keilmuan bisa menjadi jalan. Olah spiritual bisa menjadi jalan. Tetapi menarik sekali menyadari bahwa “pekerjaan” juga bisa menjadi jalan.

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *