MENCURI SELENDANG TUHAN

Allah SWT, memiliki hak dan segala keagungan untuk berkata seperti apapun kepada makhlukNya.

Mengancam dengan neraka, atau memberi iming-iming keindahan syurga adalah tentu adalah hak Allah.

Menjadi kurang tepat, atau malah tidak ber-etika jika manusia kemudian ‘memastikan’ bahwa orang lain akan masuk syurga atau masuk neraka.

Saya rasa, memastikan atau menghakimi orang lain dengan neraka atau syurga adalah sebuah bentuk kesombongan kepada Allah.

Salah satu contoh adalah surah Abasa. Allah tentu berhak memanggil Nabi Muhammad dengan sebutan ‘yang bermuka masam’ saat beliau ditegur oleh Allah sebab beliau menyiratkan wajah sedikit kecewa karena seorang buta menginterupsi beliau saat beliau sedang mendakwahkan islam kepada banyak pemuka quraisy.

Allah berhak memanggil beliau dengan sebutan itu, Allah pemilik jagadita semesta ini, berhak dong. Sedang manusia tidak. Karena konteks hubungan manusia dan manusia tidak dalam posisi bisa menghakimi dengan sesuatu yang menjadi hak Tuhan.

Begitulah masalah syurga neraka.

Menyampaikan sebuah kebenaran, mengingatkan akan janji syurganya Allah, mengingatkan akan ancaman nerakanya Allah, adalah sebuah kebolehan, tetapi dalam konteks bahwa kita hanya “repetition” dari apa yang Allah telah tuliskan dalam Quran. Bukan untuk memandang orang lain dengan sikap mental bahwa orang lain itu pasti penduduk jurang neraka.

Saat menilai seseorang PASTI neraka, atau PASTI syurga, maka kita sudah salah arah.

Pasalnya, kita ingat sabda sang Nabi, bahwa yang bisa menyebabkan seseorang masuk ke syurga itu bukan amal, melainkan ridhonya Allah.

Dan kita tak pernah tahu, bagian mana dari keseluruhan lelaku kita yang Allah ridhoi.

Itu untuk menilai diri pribadi kita, apalagi menilai orang lain? Lebih musykil lagi.

Masyhur kita dengar, sebuah cerita seorang pelacur seumur hidup, di akhir cerita dia masuk syurga. Apa pasal, di ujung hayatnya dia memberi minum seekor anjing. Dan hal itu ternyata membuat Allah ridho. Maka masuklah dia ke syurga. Mungkin diapun tak tahu bahwa memberi minum anjing itulah yang menyebabkan Allah ridho.

Bukan masalah memberi minum anjingnya, tapi mungkin saat itu dia memberi minum dengan sebuah kesadaran bahwa anjing pun makhluk Tuhan. Mungkin juga dia memberi minum anjing dengan sebuah kesadaran bahwa dia hanya sekedar memberi minum, merasa berbuat baik pun tidak. Merasa punya amal pun tidak. Kita tak tahu.

Ridhonya Allah. Itu dia.

Dan kepahaman seperti inilah yang akan membuat kita memandang orang lain sebagai sesama manusia yang memiliki ribuan kemungkinan untuk terkena rahmat Allah. Rahmat Allah mendahului murkaNya.

Dan kepahaman seperti ini tidak kemudian menjadi “kalau begitu kita diamkan saja semua keburukan, toh kalau Allah ridho masuk syurga juga itu orang”. Bukan.

Melainkan, kita menjadi paham bahwa setiap orang sudah lahir dan diberikan peranan masing-masing.

Ingatkanlah apa yang perlu diingatkan. Sampaikan apa yang perlu disampaikan.  Dan sadari bahwa dalam menyampaikan apapun saja yang kita sampaikan itu, kita sama sekali tidak tahu, jangan-jangan ridho Allah lebih mengucur deras pada orang yang terzahir seperti keliatan pendosa itu.

Kita tetap beramal dan berkebaikan kok, karena kita juga tak tahu, mana yang akan Allah ridhoi, maka kita melakukan segala kebaikan.

Segala kebaikan dalam kacamata pandangan bahwa orang lain dan siapapun saja di muka bumi ini sama-sama menjadi objek dari keampunan Allah yang maha luas.

Dalam kacamata pandangan bahwa seorang yang tampak zahir sebagai pendosa, bisa jadi di masa depan jangan-jangan bisa membeli ridhonya Allah lewat pertaubatannya.

Pendosa yang bertaubat dan menyadari bahwa dirinya jelek dan sangat butuh akan pertolongan Tuhan, lebih dekat kepada ridho Allah dibanding ahli amal yang jumawa dan  memandang manusia selainnya sebagai penduduk neraka semua.

Orang-orang yang memandang orang lain dengan kebencian dan menisbatkan api neraka ke tengkuk orang-orang sesuka-suka hatinya, rasanya sudah menjadi sombong. Sedang kesombongan hanya milik Allah. Selendang Tuhan. Beranikah mencuri selendang Tuhan?

One thought on “MENCURI SELENDANG TUHAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *