MENCARI YANG BENAR-BENAR “BENAR”

truthPerdebatan terjadi di kalangan para sahabat. Dalam menafsirkan pesan Rasulullah selepas perang Ahzab. Waktu itu mereka diutus untuk pergi ke perkampungan Bani Quraizhah. Dan dipesani oleh Sang Nabi untuk jangan sholat Ashar sebelum sampai di perkampungan Bani Quraizhah[1].

Dan ternyata, meski sudah bergegas mereka berangkat, ternyata mereka sedikit terlambat dan waktu ashar sudah masuk, sedangkan mereka belum lagi sampai pada perkampungan yang dituju. Disanalah perbedaan pendapat terjadi.

Satu golongan ingin melanjutkan perjalanan dan sholat asharnya nanti saat sudah sampai pada perkampungan yang dituju. Dan satu golongan lagi tetap ingin berhenti dan sholat ashar dulu di tengah perjalanan, tidak menunggu waktu tiba di tujuan.

Golongan pertama, menafsirkan secara literal apa yang dimaksud oleh Sang Nabi. Golongan kedua menafsirkan secara maknawi, bahwa maksud Rasulullah adalah agar mereka bergegas, bukan benar-benar bermaksud menyuruh sholat ashar di perkampungan tujuan.

Mana yang benar?

Sebagian mungkin memihak yang literal, sebagian mungkin mendukung takwil. Dan menariknya ternyata para sahabat kemudian mengkonfirmasi masalah itu pada Rasulullah SAW.

Dan rasulullah mendiamkan saja. Tidak membenarkan salah satu pihak. Tidak menyalahkan salah satu pihak.

Hal ini menarik, dan sejarah memang berulang bahwa ummat belakangan memiliki beragam pendekatan dalam menafsirkan petunjuk Sang Nabi. Dan memang dahulunya Rasulullah sudah mengerti bahwa perbedaan approach akan ada, tetapi beliau mendiamkan.

Sebagian ulama mengatakan kisah tersebut menjadi dasar untuk justifikasi toleransi dalam hal yang cabang, bukan yang pokok.

Tetapi, saya tertarik untuk meninjau ini lebih dalam dari sudut pandang tasawuf. Teringat dengan ungkapan syaikh Abdul Qadir Jailani, bahwa sejatinya tak ada penggerak, penghenti, tak ada kebaikan, tak ada kejahatan, kecuali karena Allah[2].

Kita amati sepanjang hidup kita, manusia selalu bergerak mencari sesuatu yang dia anggap benar. Orang-orang mencari kebenaran.

Satu ilustrasi menarik saya kira, dulu, saat Indonesia baru lagi diproklamirkan. Saat indonesia masih lagi mencari bentuk. Terjadi pemberontakan Kartosuwiryo dengan DI / TII nya. berupaya menegakkan negara dengan landasan syariat islam.

Katakanlah, -ini umpamanya ya- seandainya Kartosuwiryo dulu itu punya niatan baik, dan memang luhur untuk menegakkan keislaman, okelah. Tetapi sejarah kemudian menuliskan bahwa Kartosuwiryo kalah pada waktu itu.

Sekarang indonesia sudah besar, merdeka, dan harmoni meski punya banyak cacat sana-sini. Akan tetapi, kalau ada orang-orang yang ingin mengusung kembali semangat Kartosuwiryo, lalu kemudian memberontak untuk mendirikan negara islam pada tatanan Indonesia sekarang yang sudah harmoni, bukankah justru mencederai banyak hal yang sudah ada? Terlalu banyak darah yang akan tumpah. Jadi mana yang benar?

Atau kita balik contohnya. Negara islam iran misalnya. kita abaikan dulu fakta sejarah bahwa iran mayoritas syiah. Yang jelas dia negara islam. Nah….seandainya ada segolongan kecil melakukan pemberontakan demi menegakkan negara plural seperti indonesia di Iran, tidakkah itu malah menciderai tatanan yang sudah ada disana? akan terlalu banyak darah yang tumpah?

Jadi mana yang benar?

Dalam sejarah, terlihat bergonta-ganti paham yang dijadikan mayoritas. Dan kemudian paham mayoritas ini digantikan pula dengan pandangan mayoritas yang lain. Dan sebuah pandangan, menjadi benar dalam konteks zamannya sendiri. Tetapi mana yang benar-benar “benar?”

Ada masanya dimana filsafat aristoteles diadopsi oleh pemikir islam, digawangi Ibnu Sina. Lalu kemudian bergulir masa dimana mereka dibabat habis oleh Imam Ghazali.

Dan manusia sepanjang sejarah mencari kebenaran itu.

Baru sekarang saya mengerti maksud para arifin itu tadi, bahwa jika manusia mencari kebenaran sebagai sebuah wujud “kebendaan” maka manusia akan kecewa. Mengingat bahwa kebenaran, atau setidaknya kebenaran yang diakui mayoritas akan dipergilirikan diantara manusia.

Dan pandangan tasawuf ternyata sudah sejak lama menjelaskan itu, bahwa kebenaran sejati, tidak berada pada tataran sifat-sifat atau keragaman yang tampak mata.

Bagi musa ada kebenaran. Ternyata, dibaliknya ada kebenaran lagi versi khidir. Dan mungkin inilah maksud dari sang Syaikh Abdul Qadir Al Jilani bahwa tak ada benar tak ada salah kecuali karena Allah membuatnya begitu.

Sekarang misalnya saja, ini misalnya lagi lho. Seandainya jaman Nabi Musa dulu sudah ada polisi, lalu sang polisi melihat khidir membunuh anak kecil, lalu polisi itu mengejar dan hendak menembak khidir. Mana yang benar?

Ini yang mesti pelan-pelan kita mengerti, bahwa bagi yang sudah paham, ternyata kebenaran sejati, hanya ditemukan setelah meleburkan pandangan terhadap sifat-sifat dan keanekaragaman yang tampak mata. Saat orang sudah tertancap dalam pandangan hatinya bahwa semuanya ini pagelaran dunia ini memang diciptakan olehNya untuk menceritakan diriNya. Dan seringkali dibalik sesuatu, ada sesuatu lagi yang lain yang kita tak mengerti.

Karena pada sifat-sifat, pada keanekaragaman yang kita lihat dengan mata zahir ini, tak akan pernah ada kebenaran yang sejati. Yang namanya sifat, dia akan memiliki corak. Dan sebuah corak pasti akan berbenturan dengan corak lainnya.

Akan tetapi, inilah indahnya syariat. Bahwa ternyata, sebagai manusia, kita harus BERANI berada di salah satu corak. Bersifat-sifat, adalah fithrahnya makhluq.

Dan tugasnya makhluq dalam konteks memiliki corak, keragaman dan sifat-sifat ialah :

– Berlomba-lomba dalam kebaikan
– Dan menyadari bahwa kita berbeda untuk saling kenal mengenali

Pengenalan pada keragaman corak inilah, yang mungkin pada gilirannya akan membuat makhluq akhirnya sadar, bahwa kebenaran sejati bukan berwujud benda, dan tidak akan pernah berada di salah satu corak.

Kebenaran sejati hanyalah saat siapapun yang memandang bersedia melepaskan diri dari corak, dan menghilangkan sifat-sifat dari pandangannya. Masuk dalam ketajaman pandangan hakikat dan mengerti bahwa semua pagelaran yang dia lihat itu sebenarnya DIA tuliskan, untuk menceritakan diriNya.

Tapi seni yang sangat indah adalah, meski memahami bahwa kebenaran sejati adalah pada hakikat, dan pada sirnanya sifat-sifat dari pandangan hati kita. Nyatanya kita tetap disuruh mengatakan baik pada kebaikan, mengatakan buruk pada keburukan yang kita mengerti lewat kacamata kita.

Ibnu Qayyim mengatakan: Setinggi-tingginya musyahadah, tidak membuat seseorang enggan mengatakan baik pada kebaikan, mengatakan buruk pada keburukan[3].

Baik dan buruk disini, adalah baik buruk yang kita nilai dengan pandangan sifat-sifat, pandangan kehambaan (makhluq) yang kita miliki.

Jadi kita tetap berkarya, berkebaikan, dan nasehat-menasehati dalam kebenaran, meskipun kita paham kebenaran sejati tak mungkin ada di dalam corak, dan jangan menjudge seolah kebenaran adalah sebuah wujud kebendaan yang kita pegang.

Kita mesti mencontoh Rasulullah yang terus mendakwahkan kebenaran yang beliau disuruh untuk mendakwahkannya, tetapi dalam begitu banyak kesempatan beliau diwanti-wanti bahwa Allah-lah yang memahamkan orang, Allah-lah yang membuat mereka berbeda, Kalau Allah mau semua punya satu corak mestilah gampang, Dan Rasulullah dilarang untuk terlalu berduka atas keingkaran kaumnya.

Inilah barangkali maksud Rumi dengan ungkapannya:

“Kebenaran sejati selalulah
ada di dalam hakikat, tetapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan.”

 

References:

[1] Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah [HR. Bukhâri, al-Fath, 15/293, no. 4119]

[2] Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaandan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali karena ALLAH. (Syaikh Abdul Qadir Jailani, Futuhul Ghaib, Risalah ketiga)

[3] “Sesungguhnya musyahadah seorang hamba terhadap hukum tidak menjadikannya meninggalkan upaya menyebut baik pada kebaikan atau menyebut buruk pada keburukan, karena keberhasilan yang telah diperolehnya dalam memahami makna hukum.” (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam bukunya “Qada dan Qadar”, mengutip pengarang buku Manazilus Sa’irin.)

9 thoughts on “MENCARI YANG BENAR-BENAR “BENAR”

  1. masih tergopoh-gopoh memahami…masih gamang bagaimana bersikap menghadapi syiah-sunni misalnya, atau kubu2 lain yang bertentangan…apakah cukup dengan tidak memihak,dan senyum makrifat saja? he..he…mohon pencerahan, Mas Rio..tks.

    • Sebuah keniscayaan bahwa kita mau tak mau akan memihak Mbak. Beranilah berada di salah satu sisi.

      Kita menilai dengan kacamata kepahaman kita yang manusiawi, tetapi kita menjadi bijak dengan menyadari bahwa jutaan bahkan triliunan variabel lainnya pastilah luput dari mata kita. Jadi itu kita tidak menjudge bahwa kebenaran yang paling sejati sebagai sesuatu yang kita pegang.

      Kalau saya pribadi memihak Ahlus Sunnah tentu saja.

      Tetapi dalam pandangan batin saya rasa kita mengerti bahwa perbedaan itu sesuatu yang pastilah diadakan karena sebuah hikmah.

      Wallahualam.

      • memihak tanpa perlu merisaukan pilihan kita benar atau salah karena kebenaran itu sendiri tidak ada dalam sifat?
        Kalau misalnya Mas Rio warga negara Iran saat ini, tentukah memihak Syiah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *