MENCARI KERJA DAN MENCARI TUHAN

Related imageBerapa hari lalu, saya dikunjungi oleh adik saya yang nomor dua. Menjenguk ponakannya yang baru lahir, sekaligus ikut tes kerja di salah satu perusahaan Swasta di Jakarta Utara.

Tes kerjanya memang belum beruntung. Tidak sampai ke tahap interview, gugur pada babak psikotest. Tetapi sepanjang perjalanan sejak dari rumah, saya antar ke tempat test menyusuri jalan tol, dan momen diskusi kecil sambil sarapan waktu itu, saya rasa sedikit banyak sudah memberi warna baru bagi cara pandang adik saya. Dan utamanya sebagai reminder bagi saya sendiri.

Sudah sekira sepuluh tahun saya tinggal di Jakarta, sebelumnya saya tinggal di Bandung dan di Sumatera. Saya merasa bersyukur untuk telah diberikan oleh Allah kesempatan kerja yang banyak sekali memberikan pelajaran-pelajaran hidup. Justru dari momen-momen dalam kerja kantoran itulah saya menyadari bahwa untuk mendapatkan hikmah hidup, rupanya seseorang tidak harus menjadi pertapa, menyepi dan lebur dalam sikap asketis yang meninggalkan duniawi. Tidak.

Ternyata hikmah hidup justru banyak kita dapat dalam babak belurnya kita menjalani kehidupan.

Saya katakan pada adik saya, makna bahwa “Allah-lah yang menjaminkan kita rizki”; itu akan lebih dirasakan olehnya setelah bolak-balik tes kerja kesana kemari. Rasa hati yang “fakir” dan butuh kepada Tuhan itu, sebenarnya jarang ditemukan dalam –semata– momen tirakat. Peribadatan, itu akan menjadi “tajam” dan “dalam” jika hikmah sudah kita temukan dalam hidup.

Sebagaimana Rasulullah SAW yang berdoa agar dihidupkan dalam keadaan miskin, dimatikan dalam keadaan miskin, dan dibangkitkan dengan orang-orang miskin. Saya memahami bahwa miskin ini maksudnya bukan tidak berdaya secara ekonomi dan lemah. Melainkan keinginan beliau untuk hidup, mati, dan dibangkitkan dalam golongan orang-orang yang selalu merasa “butuh” kepada Tuhan. fakir ilallah.

Dan rasa butuh kepada Tuhan ini hampir pasti kita temukan dalam kehidupan kita sendiri. Rasa butuh kepada Tuhan, atau rasa fakir, yang kemudian membuat kita menyadari bahwa tiada jalan lain kecuali kita kembali kepadaNya. Lewat hal-hal seperti itulah kita menyadari bahwa ooh… betul, DIA yang menjaminkan kita rizki.

“Dia yang menjaminkan kita rizki”, itu kalau disingkat dalam satu kata, itulah Ar-Razzaq, atau Maha Memberi Rizki. Salah satu nama-Nya. Yang mana nama itu merangkum salah satu topik yang DIA hadirkan dalam hidup kita.

Menyadari bahwa kehidupan setiap orang sebenarnya adalah di dalam suatu topik tertentu. Karena Allah ingin menceritakan diriNya. Itulah sebenarnya menyadari af’al Allah. Perbuatan Allah.

Menyadari bahwa setiap kejadian hidup adalah af’alNya. Itulah kurang lebih salah satu pendekatan sufistik. Pendekatan dengan “rasa”. ini adalah keping satu lagi, dari dua keping keberagamaan yang indah, lahir dan batin.

Kalau keilmuan syariat itu mengumpulkan bukti-bukti. Kalau keilmuan batin itu mengajak menyelami “rasa”nya.

Dua-duanya penting. Hanya saja, sebenarnya ada missing link, mata rantai yang hilang yang membuat orang-orang modern kehilangan sisi batin dalam beragama. Seolah-olah keberagamaan yang syariat dan keberagamaan yang membahas sisi batin, itu bertolak belakang. Sisi batin agama hanya dikenali sebagai kumpulan klenik.

Padahal, jika kita mengetahui bahwa sisi batin agama, justru menjawab persoalan-persoalan manusia modern sekarang ini, maka kita akan tertarik menyelaminya secara lebih jauh. Sisi batin agama akan menjadi hal yang indah, lepas dari pemaknaan yang melulu mistis.

Itulah yang saya katakan kepada adik saya. Semoga dia mengerti.

Engkau sudah banyak mengkaji mengenai keilmuan syariat. Misalnya dari buku A engkau temukan seratus bukti bahwa DIA Maha memberi rizki. Lalu dari buku B engkau temukan dua ratus bukti. Akan selalu ada rasa “kok sepertinya masih ada yang kurang ya?” selagi kita belum masuk ke dalam pendekatan satu lagi dalam beragama, engkau akan menghabiskan waktumu belajar premis-premis beratus ribu banyaknya. Sampai engkau mengerti bahwa ada satu keping lagi dalam keberagamaan kita, yaitu sisi batinnya.

Inilah, hidup kita sekarang inilah. DIA sedang bercerita, tentang diriNya sendiri.

 


*) Image Sources Taken from here

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

2 Responses

  1. Imaf says:

    Saya setuju dengan tulisan ini. Sekarang kebanyakan orang melakukan praktik beragama dan memahami agama hanya puas pada tahap syariat, padahal dalam khazanah sufistik syariat itu hanya unsur fisik agama, sementara orang-orang melupakan aspek batinnya. Akhirnya orang-orang sibuk mengkritik dan mencela orang lain yang berbeda praktik beragamanya, tanpa berusaha mendalami lubuk batin dari syariat tersebut.

  2. debuterbang says:

    Alhamdulillah. Bersyukur untuk yang telah diperjalankan mengenali aspek batin beragama.

Leave a Reply to Imaf Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *