MENCARI ALASAN MENEMUI TUHAN

Saya mengamati diri saya sebagai orang yang mudah sekali trenyuh dan menemukan sisi melankoli dari hampir segala hal. Semisal pemandangan yang indah, dari lagu yang menyentuh, dari landmark bangunan bersejarah, dari cerita-cerita kepahlawanan, dari macam-macam. Tetapi paradoksnya adalah saya males sekali “jalan”. hehehehe.

Senang memungut hikmah, tetapi malas bergerak. Sungguh paradoks.

Kalau saya menengok ke belakang, dan merunut ulang semua hikmah-hikmah yang saya pungut sepanjang perjalanan, nyatalah keseluruhan jenak hidup saya adalah dipaksa untuk “berjalan”. Tanpa dipaksa, saya tidak akan “berjalan”.

Mulai dari meninggalkan kampung halaman. Dipaksa masuk ke dalam hutan, menyusur gunung dan lembah oleh kampus tempat saya kuliah. Dipaksa pindah ke jakarta oleh pekerjaan. Dipaksa “melaut” dan menghabiskan sekian minggu kontemplasi di tengah lautan yang dalam. Naik speed boat. Naik kapal capung. Naik pesawat. Naik perahu klotok. Dipaksa ke luar negri. Dan ditarik masuk dalam dunia kantor yang riuh dan padat dengan kertas-kertas kerja yang begitu Jakarta.

Semuanya “terpaksa”. Tetapi dari sisi keterpaksaan itulah saya menemukan hikmah.

Satu hal yang saya akhirnya mengerti bahwa kapasitas saya, barulah sampai pada “butuh alasan untuk bertemu hikmah”. Tanpa alasan-alasan, atau tanpa konteks hidup yang mana saya “dipaksa” menjalaninya, saya tak akan menemukan hikmah.

Memang ada segolongan orang yang disebut “Muqarrabiin” Orang-orang yang didekatkan pada Tuhan. Mereka ini, orang-orang yang sudah dekat pada Tuhan, tanpa perlu alasan-alasan.

Jika orang awam seperti kita, lewat ujian dan kemudahan hidup kita meniti sabar dan syukur, yang kemudian membuat kita merasakan dekat denganNya. Maka orang-orang Muqarrabiin adalah orang-orang yang sudah dekat dengan Tuhan sehingga kehidupan menjadi tawar bagi mereka, susah senang tak ada beda. Maka mereka mendekati Tuhan tidak lewat dualitas sabar dan syukur.

Seringkali, saya seperti ingin meloncati jarak. Saya langsung pada step “tidak ada apa-apa”. Seolah saya ingin mengejar pencapaian ruhani para arif yang “tak butuh alasan untuk bertemu hikmah”. Maka sekali dua kali saya mencoba “selalu” tak hirau pada dunia. Karena, saya ingin larut dalam mengingati Tuhan, tanpa lewat alasan-alasan.

Tapi ternyata saya tak bisa. Saya belum sampai ke sana.

Itulah sebabnya dalam kompleksitas hidup yang kadang-kadang begitu melelahkan, saya menyadari bahwa disitulah momen kedekatan padaNya terbangun. Dalam alasan-alasan kita yang begitu manusiawi. disitulah doa-doa menemukan jenak yang sangat pribadi. Memang ini level pemula, tetapi apatah itu pemula, dan apatah itu paripurna? Jika yang pokok adalah menemukan DIA.


*) Image taken from here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *