MEMPERBAIKI KEPERCAYAAN DIRI DENGAN CARA BERSYUKUR

Anak balita, merupakan salah satu contoh sederhana dan sangat tepat untuk memudahkan kita memahami tentang “self image” dalam teori psikologi, yaitu tentang bagaimana gambaran kita mengenai diri kita sendiri, pada gilirannya akan mempengaruhi kehidupan kita.

Seorang anak balita yang belajar menyuap makanannya sendiri, akan mengalami banyak pengalaman, baik pengalaman kegagalan dan juga pengalaman keberhasilan dalam usahanya untuk memegang sendok dan menyuap makanan sendiri ke mulutnya.

Pengalaman kegagalan itu, meski betapapun banyaknya, tidak lantas membuat anak balita tersebut menjadi seorang yang pesimistis dan lalu menganggap dirinya sebagai seorang yang gagal dan tidak akan pernah bisa menyuap makanan sendiri. Sebaliknya, pengalaman kegagalan itu pelan-pelan sirna pengaruhnya, dan digantikan oleh ingatan akan pengalaman keberhasilannya.

Pengalaman dimana dia berhasil menyuap makanan sendiri ke dalam mulutnya, kemudian terekam dengan apik, dan membuatnya menjadi punya modal kepercayaan diri untuk menjalankan tugasnya sehari-hari, yaitu menyuap makanan sendiri. Karena “gambarannya” tentang dirinya sendiri adalah “saya bisa menyuap makanan sendiri, karena saya sudah pernah berhasil melakukannya”.

ILMU DAN PENGALAMAN KEBERHASILAN

Gambaran kita mengenai diri kita sendiri, bagaimana kita melihat diri kita sendiri, atau dalam teori psikologi disebut self image, tidak semata-mata dibentuk oleh “keyakinan atau ilmu semata-mata”, tetapi juga dibentuk oleh pengalaman.

Tidak bisa seorang anak meyakini bahwa dirinya bisa menyuap makanan sendiri, semata-mata dengan konsep saja. Harus ada praktek dimana dia pernah berhasil menyuap makanan sendiri, barulah pengalaman keberhasilan itu akan menjadi saling melengkapi dengan keyakinan / ilmunya, dan membentuk gambaran dirinya.

Gambaran kita mengenai diri kita sendiri, self image, ini lekat juga dengan istilah kepercayaan diri.

Dulu, saya sedikit apatis dengan istilah ini. Karena saya mengira diri saya terlampau religius. Untuk apa percaya diri, yang penting percaya Tuhan. Begitu perkiraan saya dahulu.

Ternyata saya keliru. Percaya diri, yang dimaksud oleh para pakar psikologi itu, bukanlah sikap arogansi bahwa kita pasti bisa, melainkan satu bentuk pengenalan terhadap diri kita sendiri. Mengetahui kapasitas diri sendiri secara jujur / objektif.

Semisal, saya punya mobil Suzuki Ertiga. Saya tahu secara konsep bahwa mobil ini bisa kok dipacu dengan kecepatan 100 km / jam misalnya. Lalu secara praktek pernah juga saya tes mobil ini saya pacu 100 km / jam di jalan tol. Akhirnya, ilmu, dan pengalaman lapangan itu, membuat saya “percaya” atau istilahnya “menjadi tahu persis” akan kapasitas mobil saya itu.

Kepercayaan diri, dalam maksudnya yang seperti itu (yaitu mengenali potensi diri secara objektif) tidaklah buruk.

Sebagai contoh misalnya kita berjalan di jalan tol yang minimum kecepatannya 80 km / jam, lalu saya tidak yakin mobil saya bisa berjalan 80 km / jam lebih, malah jadi tidak bagus.

Untuk saya yakin bahwa mobil bisa berjalan dengan baik, harus ada kepercayaan yang objektif terhadap kapasitas mobil saya.

Itu urusan mobil. Apatah lagi mengenai diri. Karena sebenarnya segala perangkat pada diri sendiri ini, adalah juga tools. Fisik, fikiran, daya analisa, emosi, dst….. harus ada kepercayaan yang objektif, atau pengenalan yang jujur akan semua perangkat diri kita. Tanpa pengetahuan yang jujur mengenai kapasitas kita, maka perangkat itu tidak bisa digunakan. nge-hang.

Misalnya kita berjalan, atau berlari, atau melompat, harus ada pengenalan kapasitas diri yang jujur. Kalau tidak tahu kapasitas diri, menyeberangi parit saja kita tidak bisa. Karena kita tidak kenal secara objektif dengan kapasitas diri kita. seberapa jauh kita bisa melangkah, dst.

MENYADARI PENGALAMAN KEBERHASILAN LEWAT PINTU KESYUKURAN

Sekarang kalau kita masuk ke ranah yang agak spiritual, saya rasa -bercermin dari pengalaman diri sendiri-, salah satu yang membuat kita tidak percaya diri (tidak punya pengenalan yang jujur dan objektif akan kemampuan perangkat-perangkat diri kita sendiri), antara lain adalah karena kurang bersyukur. Kita terlalu banyak menengok kepada kegagalan, tanpa melihat bagaimana Allah sudah memperjalankan kita kepada jenak-jenak keberhasilan.

Kita sendiri yang mensabotase pengenalan yang jujur terhadap diri kita sendiri, dan selalu menilai diri sebagai orang yang gagal. Karena alpa mensyukuri kenyataan bahwa dalam banyak kesempatan Allah sudah memberikan kita perangkat-perangkat yang mendukung keberhasilan.

Saat kita berhasil melakukan sesuatu, alih-alih bersyukur dan memaknainya sebagai “Alhamdulillah, ternyata Allah sudah memperjalankan saya sampai pada titik ini”, kita malah memaknainya sebagai “ini Cuma kebetulan aja”.

Kita lebih sering melihat kepada contoh-contoh kegagalan, lalu menggambarkan diri kita sebagai orang yang gagal.

Saya sering sekali, di dalam kumpulan orang-orang, merasa diri saya kerdil.
Dulu saya mengira bahwa perasaan kerdil yang ada pada diri saya ini adalah sebentuk rasa rendah hati, zuhud.

Tetapi setelah jujur menilai diri, baru saya paham bahwa perasaan kerdil yang ada pada diri saya adalah perasaan tidak percaya diri. Atau dalam kata lain tidak punya pengenalan yang jujur pada diri sendiri, bahwa Allah SWT sudah menitipkan perangkat-perangkat yang membuat kita mampu menjalankan tugas kita.

Sendainya kita adalah seorang tentara, pimpinan kita membekali kita dengan kemampuan beladiri, memberikan kita senjata, mengajarkan kita kemampuan analisa, lalu kita disuruh menjalankan tugas, maka mentalitas kita dalam menjalankan tugas itu bukanlah “aduh, saya ini siapa, saya ini Cuma orang biasa yang tidak punya kemampuan apa-apa”.

Mentalitas seperti itu adalah gambaran diri yang keliru. Itu bukan rendah hati, melainkan kegagalan dalam menghargai pemberian pimpinan, kegagalan dalam menghargai setiap pelatihan dan prasarana yang sudah diberikan.

Begitu juga dalam hidup. Sekarang baru saya paham memposisikan diri. Di dalam kerumunan, di dalam keramaian dan menjalankan tugas, saya bersyukur Allah sudah menganugerahi ilmu, pelajaran, pengalaman hidup, dll….. dalam bingkai kesyukuran itulah kita secara jujur mengenali diri kita, bahwa kita bisa menjalankan tugas keseharian kita. Karena kita mensyukuri nikmat Allah yang sudah memberikan kita segala perangkat untuk berkarya.

Kepercayaan diri, dalam definisinya yang berupa pengenalan jujur akan potensi diri, akan terbangun dengan baik jika kita bersyukur dan melihat anugerah yang telah diberikan kepada kita hingga saat ini. Dalam rasa kesyukuran atas karunia kemampuan itulah kita jalankan tugas kita. Bismillah, i will do.


*) referensi: Psycho Cybernetics

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *