MEMINJAM SERULING DAWUD

Ada kesan yang berbeda sekarang setiap kali mendengarkan lagu. Saya memang bukan penikmat musik beneran, tetapi semenjak bolak-balik kantor naik shuttle bus, saya sering killing time dengan mendengarkan lagu. Di dalam perjalanan mendengar lagu itulah saya merasakan betapa Allah itu indah.

Saya teringat kisah Dawud as. Yang begitu merdu sampai konon angin berhenti bertiup saat Dawud as. Bersenandung.

Betapa dunia ini adalah Maha Karya Tuhan. Seni yang meruah-ruah.

Kadang-kadang saya menjadi iri. Mengetahui fakta bahwa orang-orang yang dititipkanNya darah seni, mereka itu sebenarnya kecipratan Jamalnya Tuhan.

Sebagaimana Allah mengajar manusia melalui kalam. Maka setiap orang sejatinya hanya kalam, pena, media ilmu mengalir dari Empunya.

Begitu juga jika Allah menampakkan keindahan, maka keindahan itu tersemburat lewat makhlukNya.

Ya jadi aneh sekali memang. Haru dan “iri” campur aduk pada saya.

Sempat saya berdoa, ya Allah…. titipkan juga keindahan itu pada saya. Dalam apapun bentuknya, nada, atau kata-kata, atau apa saja.

Sempat berapa lama saya akhirnya lupa dengan apa yang saya mintakan itu. Tapi ndilalah kemudian saya tertumbuk pada sebuah tulisan dari Rumi, kembali.

Diceritakan oleh Rumi, betapa di tengah masyarakat yang piawai dengan susastra arab, Rasulullah terkagum dan juga berhasrat pada keindahan susastra itu.

Tapi kemudian hasrat itu hilang karena Rasulullah dipenuhi oleh ingatan padaNya.

Dan ketika hasrat atas keindahan susastra itu hilang, maka Rasulullah diberikan Al Qur’an, puncak susastra.

Tersenyum saya membaca itu.

Kagumi keindahan sebagai media DIA bercerita. Nanti setelah keindahan fisikal kalah dengan ingatan akanNya, maka indah itu akan menjelma sendiri pada kita.

Umpama dipinjami seruling Dawud as. Untuk mengabarkan tentang DIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *