MEMERAS HIKMAH DARI HIDUP YANG BIASA

Saya trenyuh, ketika saya mendapati cerita bahwa seorang arif yang darinya saya banyak belajar spiritualitas islam, ternyata mengalami masalah yang sungguh manusiawi dan biasa.

Kesulitan keuangan. Masalah pekerjaan. Juga perkara rumah tangga yang jamaknya kita semua juga mengalaminya.

Hal ini membuktikan bahwa seorang arif, orang-orang shalih, adalah juga manusia biasa yang mengalami kehidupan yang biasa. Justru kalau kehidupan mereka terlalu ideal dan tak ada masalah, kita akan sulit menjadikan mereka sebagai panutan. Karena kisah hidup yang melangit.

Ternyata yang berbeda bukan kisah hidupnya. Yang berbeda adalah cara pandang mereka terhadap hidup. Yang lewat cara pandang itulah mereka dianugerahi hikmah. Dan kebijaksanaan yang banyak.

Teringat dalam kisah sahabat, Sayidina Umar Bin Khattab Khalifah kala itu pun di rumah diam saja saat istrinya ngedumel. Itu level Umar Bin Khattab. Yang imperium islam menaklukkan banyak sekali kekuasaan-kekuasaan lawannya, di masa beliau.

Rasulullah SAW, saat Sayidatinah Aisyah r.a. Diisukan berbuat tak pantas, beliau diam saja. Karena memang Rasulullah SAW tak mengetahui yang ghaib. Dan beliau hanya menunggu wahyu yang turun. Yang wahyu itu kemudian membersihkan Aisyah dari segala tuduhan.

Jadi justru dari kehidupan yang sangat biasa itulah kita memetik pelajaran.

Bedanya, mereka-mereka adalah orang-orang yang dalam ke”biasa”an hidup, dalam natural-nya hidup; bisa mendulang hikmah yang luar biasa…..sedang kita-kita ini hidupnya biasa, lalu hikmah pun biasa juga.

Ternyata, cara pandang sangat penting. seorang arif mengatakan, makrifatullah adalah fundamen, asas, bukan puncak pencapaian.

“Mengenal Allah” sebagai pondasi keberagamaan, lalu kemudian memahami kehidupan sebagai cara DIA bercerita tentang diriNya sendiri. Lalu beribadah sesuai syariah. Itulah cara pandang yang akan membuat kehidupan kita menjadi berhikmah, dalam segala lika liku dan naik turunnya.

Dari wejangan seorang arif, saya memetik pelajaran tentang bagaimana sebaiknya kita menjalani hidup dan mengatasi masalah hidup.

Setelah mengetahui bahwa makrifat ialah fundamen, dan hidup ialah ceritra-Nya tentang DIA juga, maka kita harus selalu belajar agar ingatan kita secara default, selalu mengingat-Nya.

Dengan ingatan yang selalu bertumpu padaNya, kita menjalani hidup dengan otomatis…..Kita lapar; makan. Haus; minum. Bekerja. Bermain. Dll dalam ingatan yang bertumpu padaNya.

Itu sebab, kita tak perlu “meminta” secara khusus untuk hal-hal yang sepele. Misalnya…..sebelum makan, kita tentu berdo’a. Tetapi tak pernah kita berdo’a pada Tuhan agar diberikan petunjuk apakah baiknya makan bakso atau makan pecel lele?

Kita berdoa sebelum berangkat ke kantor, tapi tak pernah kita meminta secara khusus petunjuk apakah belok kiri atau belok kanan pada setiap persimpangan, bukan?

Karena, hal-hal tersebut kita lakoni secara otomatis. Ibarat kata, ingatlah Allah selalu, dan jangan bawa masuk hal sepele ke dalam hatimu.

Kecuali, untuk hal-hal yang berat bagi kita. Maka kita meminta petunjuk. Misalnya sholat istikarah. Do’a. Dan sebagainya. Sebagai cara kita untuk mengembalikan masalah kepada Tuhan. Sebagai cara pasrah.

Dan selepas itu, kembalilah hidup seperti biasa.

Jangan bawa hal-hal sepele ke dalam hati. Biasakan mengingatiNya. Dan jika ada hal besar yang mengganggu kita, maka berdoa dan meminta petunjuklah sebagai upaya kita memasrahkan segala kepadaNya.

Selepas berdoa, hiduplah seperti biasa. Jangan dipikir-pikir lagi. Cukup just do it. Sambil mengingatiNya. Akan ada tiga kemungkinan, kata beliau….

Pertama, petunjuk atau insight akan turun sebagai jawaban bagaimana menyelesaikan perkara.

Kedua, insight tak turun, tetapi masalah terurai dengan sendirinya sebagai jawaban atas doa.

Ketiga, jika jawaban tak turun juga, yakinlah bahwa segala yang berlaku mengandung hikmah.

Dan hikmah inilah yang hanya bisa ditangkap, atau hanya akan terbuka bagi orang-orang yang memiliki cara pandang seperti di atas. Meyakini hidup sebagai cara DIA bercerita tentang diriNya sendiri, dan bahwa yang terjadi pastilah yang terbaik.

Ternyata begitu cara mereka memaknai hidup.


Gambar ilustrasi saya ambil dari link ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *