MEMBONGKAR LAYLA MAJNUN

Ada sebuah cerita yang sangat populer, dan kisah ini muncul jauh sebelum cerita Romeo and Juliet, kisah ini adalah kisah Layla dan Majnun. Majnun, berarti “gila”.

Majnun, adalah julukan kepada seorang laki-laki anak seorang bangsawan, seorang gagah dan terkenal pandai dan cakap dalam berbagai bidang di masanya. Tetapi, sang lelaki nan kharismatik ini kemudian menjadi “gila” –atau lebih tepatnya dianggap gila- oleh penduduk di desanya, sebab keanehan perilakunya dalam mencintai kekasih yaitu Layla.

Konon, ayah Layla menyadari bahwa sang pemuda, yaitu Qais adalah seorang anak bangsawan, tetapi ayah Layla tak merestui hubungan mereka. Apa pasal? Pasalnya adalah ayah Layla tidak bisa memahami tingkah pola gilanya si Qais hingga dijuluki Majnun oleh para penduduk desa.

Banyak fragmen dalam cerita ini, mulai dari kisah pertemuan pertama Layla dan Qais, kisah dipingitnya Layla oleh keluarganya, kisah menjadi Majnun-nya Qais kala tak bisa bertemu kekasihnya, kisah Layla yang menulis beratus-ratus syair dan menerbangkannya dari jendela rumahnya dan lalu dipungut para penduduk desa yang merasa iba lalu menghantarkannya pada Majnun yang hidup menyepi pada sebuah bukit, kisah seorang jenderal yang mendengar kabar santer tentang Layla-Majnun dan lalu menyerang kampung Layla demi menundukkan Ayah Layla agar merestui Majnun menikahi anaknya; tetapi malah sang jenderal berbalik arah saat melihat sang Majnun malah menolong semua tentara dari penduduk desa yang terluka, lho…. Majnun ini bagaimana? Dibela kok malah menolong orang yang di pihak ayahnya Layla? Bener… si Majnun memang gila.

Kisahnya panjang, saya sendiri hanya sempat membaca resumenya saja. Tetapi ada satu bagian yang saya sangat ingin menuliskannya, tentang bagaimana tingkah polah Qais dalam mencinta hingga dia dijuluki Majnun. Ini fragmen paling menarik.

Kegilaan pertama sudah kita singgung sedikit tadi, saat sang jenderal kebingungan kenapa Majnun malah membela tentara penduduk desa yang diserang; dengan mengobati mereka kala terluka, kata Majnun “Bagaimana aku tak mengobati mereka, sedangkan mereka berasal dari desa dimana kekasihku berasal.”

Kegilaan lainnya adalah Majnun sering berbicara pada sungai, dia percaya bahwa sungai membawa kabar kepada Layla, karena sungai itu melintasi Layla.

Pendek kata, apapun yang mengingatkan dia kepada Layla, entah itu penduduk desa, sungai, angin yang berhembus dari arah desa Layla, hewan-hewan di perbukitan; semua akan dia sayangi; karena mengingatkan dia pada kekasihnya yaitu Layla.

Hal itulah yang menarik buat saya. Menarik, karena ternyata menyimpan sebuah pesan yang begitu tinggi, dan baru sekarang saya bisa mengerti. Ini sebenarnya pesan yang sangat indah.

Apapun yang dipandang oleh Majnun, mengingatkan dia kepada Layla.

Secara kasat mata, seseorang akan melihat Majnun sedang bercakap dengan air, atau sedang bercakap dengan hewan, atau sedang menikmati desiran angin dari desa Layla, tetapi sejatinya Majnun sedang mengingati Layla. Orang mengira Majnun menyayangi binatang, hingga hewan-hewan berkerumun dimanapun Majnun berada, padahal Majnun “melintasi” pandangan dari hewan-hewan, dia mencintai apapun yang bersinggungan dengan Laylya.

Majnun, mengajari kita tentang bagaimana mencintai dengan sebenarnya. Mencintai, adalah menafikan apa yang terpandang, untuk kemudian menjadikan yang terpandang itu sebagai “pintu” ingatan kepada yang dicintai.

Saya terpaksa kembali menggunakan sebuah analogi sangat klasik tentang gula. Telah bersama kita pahami bahwa gula adalah berwarna putih dan berbentuk butiran-butiran kecil. Seorang pecinta sejati, saat dia meminum secangkir teh; dia mencecap rasa manisnya pada larutan teh; dia akan teringat kepada gula,  Seorang pecinta sejati, dia tidak berhenti pada rasa manis gula, tetapi dia mengingati butiran kecil dan berwarna putih itu. Seperti Majnun.

Atau umpama kita melihat sebuah lukisan, seorang pecinta sejati akan “meloncati” lukisan itu, umpama Majnun. Dia akan mengingat sang pelukis, bukan terpesona pada lukisannya semata.

Atau saat melihat tapak kuda di tengah hutan, atau ranting-ranting kayu yang patah, seorang yang kehilangan kudanya akan mengingati sang kuda, meski secara lahiriah mata mereka memandang pada jejak tapal di tanah yang basah, atau pada ranting yang patah dan bengkok. Seperti Majnun.

Sekarang saya baru menyadari, seperti itulah harusnya “mengakrabi” Tuhan.

Itulah jawaban, kenapa dulu saya semakin banyak berdoa semakin gelisah? Ternyata, saya belum memraktekkan cinta seperti Majnun.

Saat saya berdo’a karena suatu masalah umpamanya, dalam berdo’a saya malah membayangkan masalah itu sendiri. Saya tidak menjadikan “masalah” sebagai sebuah “pintu” untuk mengingati Yang Semestinya Dicintai. Ringkasnya, saya berdo’a menghadap masalah, bukan menghadap Tuhan.

Kalau kita paham bahwa sebuah masalah adalah “perbuatan” yang sudah dituliskan dari script takdir Sang Pencipta, harusnya kita seperti Majnun, mata fisik melihat masalah, tetapi batin mengingati Sang Pencipta, yang mengirim masalah.

Orang-orang arif, menjelaskan mengenai Sifat, dan Perbuatan (Af’al). Segala yang kita lihat di dalam hidup ini, adalah “perbuatan”nya Allah. Gunung meletus, topan badai, kelahiran, kematian, tragedi, kasih-sayang, pendeknya semua kejadian hidup adalah perbuatan Allah, lewat script takdirNya.

Lewat script takdir yang tergelar itu, kita akhirnya mengerti tentang SifatNya, sesuatu yang ingin DIA pahamkan pada kita, makna-makna, bahwa banyak hal yang tak bisa kita setir dalam hidup ini, kelahiran-kematian, kebahagiaan-duka lara, lapang-sempit, semua adalah perbuatanNya, dalam rangka menyadarkan kita akan sifatNya bahwa Dia Menghidupkan-mematikan, Melapangkan-menyempitkan, Memberi petunjuk-dan menutup hati.

Tetapi baik perbuatannyakah (kejadian hidup), atau sifatnya kah (makna yang kita bisa baca dari kejadian hidup), bukanlah tujuan akhir dalam benak sang pencinta sejati.

Dalam benak Sang Pencinta, yang dituju adalah EMPUNYA, yang memiliki semua Perbuatan dan Sifat itu.

Atau dalam konteks cerita Layla-Majnun; persetan apa yang dilihat oleh Majnun, asalkan ada garis singgungnya dengan Layla, maka dia teringat Layla. Begitulah semestinya kita, saat melihat PerbuatanNYA di alam ini, dan memahami makna yang DIA hendak ceritakan lewat sifat yang DIA ingin manusia mengerti, kita harusnya teringat kepada DIA-nya, bukan berhenti memandang perbuatanNYA, bukan terhenti pada makna yang kita bisa petik dari kejadian hidup itu semata. Tetapi DIA, DIA yang dituju, pemilikNya.

Perbedaannya hanyalah, kalau Majnun bisa membayangkan Layla dalam benaknya, maka dalam konteks mengakrabi Tuhan, kita memahami bahwa Yang Kita Cintai itu tiadalah serupa, tiada umpama, dan tak terjangkau pengertian.

Jika apapun saja yang kita lihat sudah bisa menghantarkan kita kepada keakraban dengan Yang Menciptakannya, siap-siap dianggap Majnun oleh orang-orang.

 

—–

gambar dipinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *