MEMBANGUN RUMAH TUHAN

20140506-134253.jpg

Ada dua tipe manusia dikelompokkan dari bagaimana cara dia mengisi energi jiwanya. Dari bagaimana cara dia menemukan semangat.

Manusia tipe pertama dan merupakan kebanyakan tipe manusia, adalah orang-orang yang menemukan semangat, pencerahan, energi hidupnya, lewat aktivitas. Orang tipe ini adalah orang-orang yang menemukan semangat dan menjadi bergelora setelah mereka berada di tengah-tengah khalayak. Kesendirian akan membuat mereka bosan dan menjadi jenuh.

Manusia tipe kedua, adalah manusia yang menemukan semangat melalui perenungan. Manusia tipe ini adalah orang-orang yang akan menjadi bergairah setelah menyempatkan waktu untuk sendiri dan merenung. Mereka butuh keheningan dan ruang yang tenang untuk tidak diganggu dengan hiruk-pikuk lingkungan, lalu orang ini akan menemukan semangat setelah melihat jauh kedalam dirinya sendiri. Merenung dan menemukan jawaban-jawaban dari persoalan.

Manusia tipe pertama disebut extrovert. Manusia tipe kedua disebut introvert.

Tipe manapun saja tak ada hubungannya dengan keunggulan kepribadian atau kemuliaan akhlak tentu saja.

Kedua tipe ini harus belajar untuk menemukan harmoninya. Karena pencerahan bisa dari mana saja datangnya, dan setiap orang dengan tipe masing-masing harus bisa mendapatkan pencerahan itu.

Orang yg selalu melihat ke dalam diri, perlu juga untuk melongok keluar dan menemukan banyak pelajaran dari sekitarnya.

Orang yg selalu ada dalam keramaian dan terlibat dengan hiruk-pikuk juga perlu untuk mengerem aktivitas dan jeda sejenak melongok ke dalam jiwa dia sendiri. Mengambil pelajaran dari apa yang telah diendapkan disana.

Jadi setelah journey outward, perlu ada journey inward dan sebaliknya.

Banyak ungkapan mengatakan, semakin spiritualis seseorang, semakin dia perlu untuk journey inward.

Di lain sisi, banyak juga ungkapan yang mengatakan bahwa seorang yg benar-benar tercerahkan bukanlah orang yang mengasingkan diri dari khalayak. Orang bisa saja menjadi baik dan bersih dengan hidup di gua-gua. Damai dalam pertapaan di tengah hutan. Tapi apa gunanya kelhalifahan manusia kalau begitu? Bukannya khoirunnas anfauhum linnas?

Harmoninya adalah bahwa di dalam hati setiap orang mukmin, disitulah “rumah Tuhan” berada.

Jadi pada setiap keramaian dunia, pada setiap gelisah hingar bingar terjun urun rembugnya kita di kancah manusia, disitulah keheningan harus diadakan dalam jiwa kita sendiri. Agar menjadi semacam penjaga kita untuk tidak larut sampai melupakan tujuan hidup.

Orang dulu menyebutnya ‘topo ngrame’, bertapa di tengah keramaian.

Atau dimisalkan juga uzlah. Khalwat. Menyepi di tengah keramaian.

Tak mesti di gua. Tapi kita ‘menyepi’ di tengah pasar. Di lantai empat puluh gedung pencakar langit. Di dalam bus. Di kemacetan.

Orang tak tahu saja, secara zahirnya kita bisa saja di tengah dunia yang ramai dan bising, tapi di dalam sini, di hati ini, kita belajar mengingat Dia, tujuan akhir yang menjadikan setiap tindak-tanduk kehidupan kita punya makna. Pada sebuah sepi yang ramai itulah ‘kita sedang membangun rumah Tuhan’.

2 thoughts on “MEMBANGUN RUMAH TUHAN

  1. berarti para spiritualis sejati, adalah mereka yang sudah menemukan rumah Tuhan.. dan mereka belum tentu seorang ustadz atau alim ulama, bisa siapa saja..bisa ditemukan dimana saja

    • Sepakat tuan. Menjadi ustadz atau tidak menjadi ustadz kan cuma peranan takdir. Tapi menemukan rumah Tuhan dalam diri, sememangnya tugas tiap orang. Dan bisa jadi banyak orang2 yg terlihat biasa tapi malah sudah lebih dulu selesai dengan tugasnya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *