MEMBANGUN PONDASI KEBERAGAMAAN

Awalnya, saya mengira bahwa tasawuf adalah semata pelajaran mengenai akhlak. Etika. Untuk membedakan dengan istilah umum, saya mencoba memahami tasawuf sebagai adab menuju Tuhan. Adab bertuhan. Begitulah bahasa sederhananya.

Setelah diluruskan oleh Al Arif Ust. H. Hussien Abd Latiff, barulah saya memahami bahwa hal yang paling fundamen dalam tasawuf bukanlah adab, melainkan tentang Tuhan itu sendiri.

Imam Ghazali mengatakan awaluddin makrifatullah. Awal beragama mengenal Allah.

Keseluruhan bangunan keberagamaan tanpa didirikan di atas pondasi pengenalan akan Allah SWT, akan menjadi rapuh, mudah goyah.

Sebagaimana sebuah hadits, saat sahabat akan berkunjung ke pemukiman yahudi, Rasulullah SAW bersabda yang kurang lebih maknanya kenalkan dulu mereka kepada Allah SWT. Setelah kenal baru beritahu mereka bahwa sholat lima waktu itu wajib.

Artinya, kenal dulu pada Tuhan. Pada Allah SWT. Baru selepas itu dirikan bangunan syariah di atas pengenalan itu. Seperti sholat, atau ibadah lainnya. Setelah ada pondasi, dan bangunan syariat berdiri, barulah bisa menjadi cantik dihias dengan adab. Barulah melangkah pada tangga berikutnya yaitu keridhoan pada af’al (perbuatan Allah). Yang kesemua itu akan sulit diterapkan tanpa mengenal Allah. SWT. Dan memahami secara keilmuan bagaimana hubungan Pencipta dan ciptaan? Bagaimana mekanisme takdir?

Jalan tasawuf yang menempatkan pembelajaran tentang ketuhanan lewat jalur “ilmu” pengetahuan yang shahih ini disebut tasawuf prophetic. Atau JALAN PARA NABI. Kenal Allah dulu, baru peribadatan didirikan diatas pengenalan itu.

Skemanya, setelah mengenal Allah (melalui ilmu), barulah memperkemaskan diri dengan sungguh-sungguh untuk beribadah lebih baik. Hidup dalam sikap mengabdi kepada Tuhan yang sudah kita kenal. Mulanya adalah makrifatullah atau ilmu mengenal Allah. Baru lanjut pada ibadah, dzikrullah, keridhoan. Dst.

Ada jalan satu lagi, yaitu sebagian kalangan yang berupaya mendapatkan pengetahuan ketuhanan lewat jalan tirakat. Lelaku ruhani. JALAN PARA WALI.

Mengutip Syaikh Ahmad Sirhindi dalam “Sharia and Sufism”, dikatakan bahwa sebagian kalangan tasawuf menganggap tasawuf adalah Quest For Reality. Semacam perjalanan atau pencarian untuk bertemu makna hakiki atau realita hakiki kehidupan.

Seperti kita sering melihat spiritualis -bahkan yang non muslim-, yang tekun dengan tirakat keruhanian mereka, apatah itu meditasi, dan sebagainya, mereka mendapatkan pengertian yang sangat dekat dengan deskripsi islam tentang Tuhan. Misalnya, bahwa Tuhan itu esa, tak serupa apapun. (ini saya memandang dari perspektif sebagai seorang muslim)

Sampainya mereka pada pengenalan akan Tuhan setelah melakukan Quest, perjalanan pencarian yang panjang dan tirakat yang sangat berat, Baru mendapatkan insight di ujung perjalanan. Artinya, para pejalan ruhani -bahkan di tradisi keberagamaan lain pun- menjadi mengerti tentang ketuhanan. Karena menempuh lelaku ruhani yang berat. Dan tercerahkan di ujung perjalanan.

Hanya saja, Hal inilah yang menurut Syaikh Ahmad Sirhindi, jalur yang berbahaya. Sungai yang deras yang jarang orang bisa menyeberanginya Dengan selamat.

Menurut Imam Ghazali, jalan yang berbahaya itu membuat banyak yang berhenti sebelum sampai. Sebagiannya mengaku menjadi Tuhan. Sebagiannya meninggalkan syariat sama sekali. Karena pengenalan kepada Tuhan diletakkan di akhir perjalanan, sebagai buah dari laku batin atau tirakat. Tanpa dilengkapi dengan ilmu. Lebih kepada olah ruhani semata. Tetapi secara fair kita tidak menutup fakta bahwa yang “sampai” pun ada juga.

Dulu saya tak paham benar beda antara keduanya. Tetapi alhamdulillah akhirnya sekarang memahami pendekatan tasawuf profetik lewat Al Arif Ust. H. Hussien. Bahwa makrifatullah itu bukan puncak capaian. Melainkan tangga paling dasar yang harus kita pahami lewat ilmu sebelum bisa beribadah dengan benar. Dan kemudian ridho dengan takdir. Sisanya adalah Meniti Hidup dalam sikap penghambaan. Semuanya perubahan cara pandang karena ilmu. Lalu amal tumbuh dari kepahaman itu.

debuterbang

Seorang pendosa, yang meniti jalan kembali kepadaNya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *