MEMAKAI BAJU KHALIFAH

“Jangan mengasihani diri sendiri”. Itu salah satu prinsip dari seorang senior sewaktu saya bekerja di anjungan pengeboran darat di Kalimantan Tengah berapa tahun yang lalu.

Pasalnya adalah waktu itu kami bekerja pada satu proyek pengeboran yang baru dirintis, orang-orang yang baru, dimana pekerjanya sebagian menggunakan penduduk lokal. Walhasil antara satu dan lainnya tidak terlalu paham job-desc masing-masing. Sehingga banyak hal-hal yang mestinya secara teknis dikerjakan penduduk lokal, kami harus turun tangan sendiri. Fisik letih karena bekerja keras, dan otak pun letih.

Belum lagi hal-hal non teknis yang membuat tak nyaman, seperti akses yang begitu jauh kesana. Kami harus naik pesawat capung ke Bandara kecil di kalimantan tengah, disambung naik perahu klotok menyusuri Sungai Barito, lalu dilanjut naik mobil ranger ke atas perbukitan. Sempat berapa kali pesawat capung kecil itu gagal mendarat, atau gagal terbang karena kabut. Dan mobil ranger gagal turun ke bawah, atau gagal naik ke atas karena jalanan yang tandas oleh hujan.

Waktu itu, prinsip dari sang senior itu begitu mantap dirasakan. Cara kami menikmati hari adalah dengan menggumamkan sholawat. Jadi waktu itu sedang gandrung-gandrungnya bersholawat. Saya teringat sewaktu jadwal pulang, pergantian kru. Malamnya hari hujan deras. Dan saya bekerja di bawah hujan, segala doa saya rapalkan agar hujan berhenti, tetapi hujan tak kunjung berhenti. Saya masuk ke lab, dan menunggu pagi dengan membersihkan peralatan lab. Satu peralatan saya bersihkan, satu sholawat saya baca. Sampai semua peralatan bersih, hujan tak reda-reda… akhirnya saya ulang lagi dua kali. Tetap belum reda juga.

Tetapi pagi sekira jam 8, hari terang. Jalanan sudah babak belur, tanah liat menjadi bubur coklat oleh hujan. Saya pulang setelah sekian minggu terasing di sana. Dan mobil ranger yang menuruni bukit itu ada barangkali tiga kali atau empat kali menabrak sisi tebing sewaktu memaksakan diri melewati jalanan yang licin dan amblas.

Pelajaran yang saya petik waktu itu adalah tentang pasrah, dan tentang cara memandang hidup. Prinsip dari senior saya itu, untuk “tidak mengasihani diri sendiri”, ternyata saya temukan semakna dengan nasihat seorang ustadz yang saya pernah sambangi dulu. Dimana beliau mengatakan bahwa menjadi hamba Allah itu yang “sregep”, yang kuat.

Ternyata baru saya paham, bahwa menjadi kuat, sebagaimana hadits nabi bahwa Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yang lemah[1] bisa pula dimaknai sebagai kuat secara mentalitas. Tak mesti jago tinju.

Maksudnya adalah mukmin yang mentalitasnya kuat dalam hubungan sesama makluq.

Kelirunya saya dahulu, adalah rasa butuh kepada Allah SWT, atau rasa rendah diri kepada Allah SWT itu malah saya manifestasikan dalam hubungan bermuamalah, atau hubungan sesama makhluq.

Maksudnya begini, karena sering berdo’a kepada Allah SWT, lalu merasakan diri ini tidak punya apa-apa, ga punya daya, lalu sikap tak punya daya upaya itu malah terbawa-bawa dalam sikap saat interaksi kepada makhluq. Mengasihani diri dan bersikap rendah di hadapan makhluq. Ini salah lho.

Misalnya, ketemu orang yang kuat secara kuasa, saya merunduk. Ah….saya bukan siapa-siapa. Ketemu yang pintar, saya merunduk. Ketemu permasalahan hidup-pun saya merunduk. Tanpa disadari, hal ini membuat arah “merunduk”nya kita menjadi keliru.

Sikap merunduk ini, kalau boleh saya menarik kesimpulan, adalah sikap yang hanya boleh “dipakai” dalam interaksi kepada Tuhan. Merunduk, merasa tak mampu, tak punya daya, bahasa islamnya adalah sikap “ubudiyah”. Sikap penghambaan.

Di dalam batin, sikap merendah, menghamba itu dinamakan “ubudiyah”. Kalau menjelma menjadi gerak fisikal, maka penghambaan yang menjelma menjadi gerak fisik itu disebut “ibadah”.

Jadi misalnya sholat, sholat itu ibadah sebagai gerak fisikal. Tetapi fisikal saja tak cukup, dalemannya adalah ubudiyah, yaitu sikap merendah, takluk dan tak berdaya, menjadi hamba.

Satu-satunya yang boleh menghambakan kita, adalah Tuhan sendiri. Kepada Tuhan, maka kita di dalam batin memakai sikap “ubudiyah”. Rendah, fakir, takluk, tak berdaya, minta tolong, dan semacam itu.

Orang yang memakai sikap “ubudiyah” disebut “abdu” alias hamba. Maka yang merendah, akan menemukan ketinggian Tuhan. sebagaimana ungkapan Ali r.a yang menemukan dirinya sebagai yang lemah dan fakir, maka lewat kesadaran dirinya lemah dan fakir itulah dia menemukan  Tuhan yang Maha Berkuasa[2]

Tetapi pakailah sikap fakir itu, semata-mata kepada Tuhan. Kepada selain Tuhan, kepada makhluk, tidak boleh sama sekali ada sikap Ubudiyah di dalam batin.

Sikap merendah tidak boleh ada. Merasa rendah, hina, dan butuh kepada makhluk tidak boleh ada. Karena sikap ubudiyah, adalah baju dalaman dari sikap luar yang dinamakan ibadah. Hati-hati kepada siapa kita beribadah, adalah berarti juga kepada siapa kita menghambakan diri, merendahkan diri.

Maka baru masuk akal sekarang, ungkapan bijak semisal “jadilah berharga dihadapan para ahli dunia, dengan menunjukkan bahwa kita tak berhajat kepada apa yang mereka kejar”. Ini sikap yang “kuat”. Tidak menunjukkan rasa minder dan butuh. Karena rasa minder dan butuh adalah dalemannya ibadah.

Saat kita minder dan merasa rendah di hadapan makhluk, maka saat itulah kita memakai baju “ubudiyah”, bahayanya disana.

Sopan boleh, karena sopan itu tata krama normatif. gerak fisik. Tetapi di dalam batin tak boleh ada penghambaan dan rasa rendah.

Seorang arif, mensintesakan dengan sangat indah tentang seperti apa sikap kita seharusnya dalam interaksi kepada sesama makhluk ini. Kalau interaksi kepada Allah, kita “memakai baju hamba”.

Maka interaksi kepada makhluq adalah kita “memakai baju khalifah”.

Kata beliau, setiap hari. Ingatkan pada dirimu, bahwa kamu adalah khalifah. Kamu adalah khalifah. Setiap manusia itu khalifah.

Sejatinya manusia adalah khalifah-Nya, yang bahkan lebih mulia dari segala makhluq lainnya.

Itulah baju mukmin yang kuat, yang lebih dicintai ketimbang mukmin yang lemah. Dalam interaksi kepada sesama makhluq, dan dalam menghadapi kehidupan, jangan sampai keliru memakai “baju”.

Penghambaan, minder, merendah dan merasa butuh, tidak layak dipakai dalam interaksi sesama makhluk.

jadi merendahlah saat beribadah, merasa fakirlah dan butuh kepada pertolongan Tuhan. lalu selepas itu saat bergerak di dunia fisikal, kepada sesama makhluq, gantilah dengan baju kekhalifahan itu. Agar tak keliru kepada siapa kita bersandar.


References

[1] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. H.R Muslim (no. 2664); Ahmad (II/366, 370); Ibnu Mâjah (no. 79, 4168)

[2] Ali bin Abi Thalib berkata: “Allah membuatku mengenal diriku sendiri melalui kelemahan dan kefakiran, sehingga aku berkeyakinan aku memiliki Tuhan yang mengadakan kelemahan dan kefakiran. [Jadi maksudnya adalah Ali mengenal dirinya melalui kelemahan dan kefakiran, dan mengenali Tuhannya melalui sifat kuasa dan kekayaan]”  Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al Qur’an Tematik Spiritualitas dan Akhlak, (452), 2010

*) Gambar saya ambil semasa di Kalteng

2 thoughts on “MEMAKAI BAJU KHALIFAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *