MELEWATI PERMAINAN ZAMAN

perjalananAda paradoks saya rasakan pagi ini. Sebuah kenyataan bahwa hidup manusia itu bisa terasa serius-mencekam sekaligus senda gurau-permainan belaka.

Sebagai karyawan kantoran di dunia kontraktor migas, sudah tugas saya untuk saban pagi ikut meeting di client, perusahaan migas. Saya mengamati, setiap potongan pagi yang dimulai dengan meeting inilah yang nantinya akan menentukan aura keseluruhan sisa hari –baik saya ataupun juga mereka-; apakah santai, ataukah akan begitu intens dan cepat.

Seperti pagi ini. Meeting berjalan dengan begitu lama dan alot. Sebuah masalah pemboran minyak di sebuah sumur membuat progress tersendat-sendat. Ancaman dari pihak pemerintah untuk menstop aktivitas drilling sudah di depan mata. Orang-orang semua panik dan berdebat larat, sekali-kali mencoba untuk menukik dan mencari siapa yang secara teknikal merupakan penyebab masalah ini.

Lalu, sembari perjalanan pulang dari meeting, saya merenung. Saya tidak membayangkan tentang masalah pengeboran itu. Tapi yang saya bayangkan adalah bahwa betapa hidup ini bisa begitu intens, ritmenya cepat, begitu serius dan mencekam; tapi di lain sisi, tidak bisa kita menolak bahwa ‘ya hidup yang seperti inilah yang diberitahu oleh Kanjeng Nabi beratus tahun lalu sebagai “senda gurau belaka”. Sebagai “permainan”. Sebagai “hanya tempat singgah”.

Pasti ada yang salah, pada diri saya, apabila saya merasakan sebuah kehidupan yang terlalu serius dan menghantui keseluruhan perikehidupan saya, sedang sang Nabi mengatakan ini permainan. “mampir ngombe” kalau kata orang jawa. Numpang minum sebentar.

Belakangan. Saya baru menyadari sebuah parameter paling gampang, untuk meluruskan diri saya pribadi, seandainya saya sudah salah arah dalam memaknai hidup. Parameter itu ialah apabila dalam keseharian saya, saya terlalu diliput cekaman ketakutan akan apa yang sedang saya kerjakan, itulah tanda bahwa saya sudah tidak lagi menganggap dunia ini senda gurau.

Saat keseharian saya dari saya bangun sampai saya bangun lagi sudah diisi dengan: rantai hidrokarbon, pemboran minyak, reaksi kimia, revenue, cost, profit margin, dan hanya melulu itu-itu saja; Terjemahnya Begitu simple, artinya adalah saya sudah salah arah.

Padahal, keseluruhan perjalanan hidup saya ini semestinya adalah dalam sebuah tema sentral menemukan jalan pulang. Karna Sang Nabi dan orang-orang suci sepanjang sejarah telah mengatakan bahwa ini semua permainan. Permainan.

Tentu, kita tetap harus serius melewati zaman. Karena untuk sampai di tujuan, kita perlu penunjang hidup, perlu makan minum. Selepas makan-minum dan sandang-papan sepanjang perjalanan itu, kita toh nyatanya masih juga bekerja melebihi apa yang kita butuh. Mengapa?

Di sinilah jebakannya. Saya baru menyadari bahwa sebagian orang terus bekerja mengejar harta melebihi apa yang mereka butuh. Karena harta dan jabatan itulah pusat tata surya kehidupannya. Seluruh gravitasinya. Yang memenuhi ruang batinnya.

Sebagian yang lain tetap bekerja juga, tapi bahan bakar gerakan mereka adalah karena ingin mendistribusikan apa yang dia punya, untuk kebutuhan istrinya, anaknya, keluarganya. Dan yang lebih penting, dalam pendistribusian rizki itulah mereka menemukan arti dari jargon “hidup sekedar mampir”. Bukan untuk menjadi terkenal sebagai dermawan, bukan untuk menjadi aktual dan merasa ‘ada’,  tetapi lebih kepada karena Tuhan mengatakan –lewat sabda NabiNya- bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi kemanfaatan untuk orang lain.

Pada galibnya, di tataran fisik mereka semua terlihat sama-sama bekerja dan ricuh dengan aktivitas. Tapi ada yang beda kalau kita longok ruang batinnya.

Orang yang mengerti bahwa semua ini senda gurau belaka, semestinyalah tiada dicekam ketakutan dan kebrisikan angan-angan dalam hatinya. Karena mereka menyadari bagiannya hanyalah sebagai salah satu aktor saja, dalam lakon kehidupan yang memanglah sebentar dan permainan semata.

Apabila batin kita sudah terlalu takut dan dicekam kebrisikan dunia, mungkin kita sudah terjebak dan mulai menganggap permainan sebagai lebih dari yang semestinya saja.

——-

*) gambar dipinjam dari sini

2 thoughts on “MELEWATI PERMAINAN ZAMAN

  1. assalam,
    mas DEBU TERBANG usia berapa, sebagai pembanding dgn saya saja. Saya terkagum kagum dgn insight Anda. Sepertinya usia Anda sudah sangat mature yang terjebak dalam fisik muda. Congrats dan terima kasih tulisan Anda sangat inspiratif untuk kembali pulang!!!!

    • Waalaikumsalam Mas…sampai hari ini kurang lebih 29 tahun, hampir 30 mas. Senang rasanya kalau tulisan saya bermanfaat, dan bertemu orang2 yang sama2 meniti jalan pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *