MELEPASKAN BUAH PERBUATAN

Snapshot di Kecamatan Sanga-Sanga

Pagi hari kemarin saya bertolak dari Jakarta ke Balikpapan, lalu dari Balikpapan saya menuju Kecamatan Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara, 3 jam perjalanan darat. Lalu setelah menghabiskan 3 jam berikutnya di lokasi tempat kerja, saya kembali lagi ke Balikpapan dan terbang ke Jakarta. Tiba di Jakarta sekitar jam 10 malam.

Badan terasa linu-linu. Tapi ndilalah saya tiba-tiba teringat seorang rekan saya waktu SMP dulu. Rekan saya dulu itu sangat mencintai kesibukan. Betapa dia dulu sering bercerita pada saya bahwa seharian itu dia sangat sibuk ini itu. Capek, katanya, tapi dalam capeknya itu dia merasa produktif. Rasanya seharian tak ada yang sia-sia.

Berkait dengan itu, tadi malam sewaktu di taxi menuju rumah, saya pun sebenarnya sudah membayangkan malesnya bahwa besok sudah harus ngantor lagi, tapi saya teringat bahasan teman SMP saya dulu tentang “produktif” itu, lalu saya kaitkan dengan kajian yang lebih spiritual dari para guru, bahwa kita ini sebenarnya terberdayakan (tertakdirkan) untuk menjalankan peran sesuai plot Sang Empunya drama. Walhasil, bukan masalah produktif, tapi lakoni saja….

Sebenarnya dalam letih dan penat, untuk orang-orang seperti saya ini, malah banyak untungnya. Setidaknya, dengan keseharian yang penat dan banyak tantangan kita jadi lebih menemukan alasan-alasan untuk mengakrabi Tuhan.

Dalam sepanjang perjalanan kadang-kadang dipaksa untuk merenungi, waduh….habis ini apa lagi kiranya?

Lalu teringat pesan guru bahwa lebih baik berdoa ketimbang banyak mikir. Lalu berdoa lah kita. Lewat do’a, jadi kembali pada Tuhan.

Kita ini (utamanya saya), barangkali masih masuk golongan orang-orang yang perlu “alasan” menemui Tuhan. Lewat sebab-sebab di dalam kehidupan, jadi punya konteks, punya cerita buat berdo’a.

Lain lagi kalau para arif, mereka sibuk mengingatiNya, sampai-sampai kehidupan tidak menarik di mata mereka. Nah ini level tinggi. Yang belum sampai sini, pakailah alasan-alasan apapun juga untuk menemui Tuhan. Alasan-alasan yang pastinya tersedia melimpah ruah dalam kesibukan kehidupan kita.

Hidup ini terasa seperti madrasah. Kesibukan dalam pekerjaan misalnya, itu madrasah yang luar biasa. Ada tips agar kita tidak tenggelam dalam kesibukan, tetapi alih-alih malah kita mendapatkan pelajaran.

Dalam kitab Al Hikam disebutkan oleh Ibnu Athaillah As Sakandari, agar kita jangan “tadbir” alias memastikan hasil usaha. Kalau kita berbuat A, maka berbuatlah saja A. Tanpa memastikan bahwa kalau berbuat A maka hasilnya harus B. Karena hasil itu urusan Tuhan. Ada suatu sebab tertentu sehingga kita tertakdir melakukan sesuatu itu.

Padanan petuah ini, kalau dalam istilah di dunia pewayangan dari Epos Mahabarata, Ibaratnya, kita berbuat tanpa mengharapkan “buah” dari pekerjaan itu. Karena kalau kita berbuat tanpa berharap, maka kita akan lepas dari rasa senang dan rasa duka yang temporer.

Kita berbuat, karena “bhakti”.

Seorang Arif mengajarkan, saat kita berbuat, sadari sebenarnya bukan kita yang berbuat. Kita ini “tiada”. Yang ada sebenarnya hanyalah dzat ciptaanNya yang bergerak mengikut scriptNya.

Nah ini agak-agak berat. Tetapi inti sederhananya adalah teruslah berbuat, terus produktif, sambil menyadari bahwa kita ini diperjalankan olehNya, untuk menceritakan diriNya sendiri.

Pelan-pelan memang terasa, terlepas diri kita dari pengharapan mendalam akan “buah” dari apa yang kita kerjakan. Lalu hidup mulai terasa sebagai madrasah pembelajaran. Dan kita salah satu murid di dalamnya, yang diajari sepanjang hayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Proudly powered by WordPress | Theme: Baskerville 2 by Anders Noren.

Up ↑