MELAMPAUI KERIUHAN KATA-KATA

“Ini adalah untuk yang masih memerlukan kata-kata. Bagi orang yang mampu memahami tanpa kata-kata,” kata Rumi dalam ‘Fihi Ma Fihi’, “apa guna lagi kata-kata untuknya? Langit dan bumi adalah kata-kata bagi yang memahami.”

Masih dalam Fihi Ma Fihi, Rumi melanjutkan “Begitu pula orang yang mampu mendengar dengan suara lirih; apa guna kegaduhan dan teriakan untuknya?”

Indah sekali kata-kata Rumi menggambarkan tingkatan kepahaman dan level-level manusia.

Ada orang-orang, yang masih membutuhkan sebab-sebab. Tanpa “sebab-sebab”, orang itu akan “kesulitan” mengakrabi Tuhan. Karena mereka ada pada level : butuh “kata-kata” agar “makna” bisa dimengerti oleh mereka. Itulah mengapa Tuhan ciptakan sebab-sebab untuk mereka.

Dulu saya pikir saya sendiri yang mengalami kesulitan ini. Ternyata rekan-rekan saya pun banyak yang mengalami. Sekali waktu merasa begitu terguncang karena kesadaran kedekatan pada Tuhan, tapi di kali lain kok seperti kesadaran itu hilang. Rupanya kita-kita adalah orang yang masih hidup dalam keriuhan kata-kata, perlu sebab, tetapi lupa menempatkan diri.

Seharusnya, kita merenungi penciptaan langit dan bumi. Memikirkan tanda-tanda pada segenap ufuk bahkan pada diri kita sendiri. Menyesapi rasa kebersyukuran atas anugerah kehidupan, semisal merasakan anugerah makanan, minuman, rumah. Berlindung kepada Allah atas segala ketakutan, dan meminta pertolongan kepada Allah atas segala keperluan dan hajat, semuanya adalah perumpamaan memahami “kata-kata”.

Lewat kata-kata itu, “makna” akan sampai, rasa kedekatan, kebersyukuran, rasa “fakir” akan sampai lewat riuhnya kata-kata dalam hidup.

Ada orang-orang, yang tanpa perlu sebab-sebab dan “kata-kata” dia langsung paham.

Segolongan orang dianugerahi kemuliaan untuk langsung “merasakan” trenyuh dan hidup dalam pengaturan Tuhan, tanpa perlu mengkaji bukti.

Merekalah orang-orang yang menurut Rumi, kata-kata tak penting bagi mereka. Dalam bahasanya Buya Hamka mengikut Dzun Nun Al Mishri, inilah orang-orang muqarrabin. Didekatkan, tanpa perlu sebab. Ujug-ujug, langsung merasakan kedekatan pada Tuhan.

Akan tetapi mayoritas manusia adalah golongan awam dan paling banter golongan hukama, yaitu orang-orang yang merenungi dan mengakrabi Tuhan lewat gejolak hidup atau “kata-kata” dalam hidup mereka.

Itulah mengapa do’a menjadi salah satu jalan yang sangat praktis untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Karena, dengan do’a berarti kita menyeru Tuhan dalam suatu konteks. Entah memuji, meminta tolong, bersyukur, mohon ampun, semua kan dalam konteks? Darimana kita dapat konteks? Dari hidup kita sendiri. Itulah “kata-kata”. Itulah “keriuhan”.

Meskipun, dengan berdo’a itu masih ada “diri” kita. kita berdo’a dalam konteks orang yang butuh rizki. maka Tuhan tertampil dalam citra Sang Maha Kaya; pada kesadaran kita. ini tak terelakkan. Tetapi ini pun baik dan tercontohkan. Lumrah pada maqomnya.

Jika kita adalah orang yang dimaksud Rumi, yaitu orang “yang paham tanpa kata-kata”, orang yang bisa “mendengarkan suara yang lirih,” maka kita tak akan mencari-cari sebab. Buat apa mencari sebab, sedangkan “rasa” kedekatan itu sudah nemplok selalu. Dekat kepada Tuhan tanpa konteks sebab-sebab.

Tetapi jika kita bukan golongan itu, maka dunia yang riuh, atau kumpulan kata-kata dalam hidup kita adalah hadiah “pintu masuk” bagi golongan ini. Seorang arif mengatakan, kesulitan hidup sejatinya anugerah.

Dalam kelapangan; bersyukur. Dalam kesempitan; meminta tolong. Dalam kesalahan; bertaubat.

Memang riuh. Tapi lewat dunia yang riuh itu makna kita dapat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *