MANUSIA BUKANLAH MESIN BIOLOGIS

downloadSeorang gadis usia SMA mengalami tabrakan mobil. Dalam insiden itu, ada seorang yang tak dikenal kemudian membopongnya, dan berlari membawanya sejauh beberapa blok sampai ke klinik terdekat. Gadis itu, bahkan tidak sempat bertanya nama dan tak sempat berterimakasih kepada orang asing yang telah membantu dan menyelamatkannya. Orang asing itu langsung pergi, setelah menyelamatkan gadis itu.

Gadis ini adalah Abigail Marsh, yang bertahun kemudian dia menjadi seorang “Psychologist”. Dan dalam salah satu sesi bicaranya pada panggung “Ted Talks” saya mendengar kisah ini.

Disana Abigail Marsh yang seorang psikologis itu menyampaikan ucapan terimakasih secara terbuka kepada sang penolong berapa puluh tahun silam. Dan pada kesempatan itulah dia membahas fenomena “Altruism”, yaitu sebuah sikap perhatian terhadap kesejahteraan orang lain, bahkan tanpa memperhatikan diri sendiri.[1]

Apa sebenarnya yang melatari sehingga orang-orang dengan kecenderungan altruisme ini bisa sampai mengorbankan dirinya sendiri, untuk menolong orang lain yang bahkan dia tidak kenal? Ada orang-orang yang begitu dermawan. Ada orang-orang yang bahkan mendonorkan organ tubuhnya untuk orang-orang asing.

Menolong orang-orang terdekat, adalah sebuah kebaikan yang lumrah. Tetapi mengorbankan diri sendiri untuk orang-orang yang bahkan sama sekali tidak dekat secara personal dengan dirinya, adalah sebuah kebajikan yang luar biasa. Dan inilah yang dibahas dalam kajian mengenai Altruisme itu.

Dikatakan disana, bahwa secara psikologis, “Extraordinary Altruism”, atau Altruisme yang di atas normal ini sebenarnya adalah sisi berlawanan dari “Psikopat”.

Jika seorang psikopat merasakan kebahagiaan dalam hatinya saat melihat rasa takut dari orang lain, maka Extraordinary Altruism adalah orang-orang yang disetir oleh hasrat yang begitu besar untuk membahagiakan orang lain. Ada sebuah kebahagiaan dalam diri pelaku kebajikan, saat dia menolong orang lain.

Dalam konteks seperti itu, Abigail Marsh menganggap bahwa Kebajikan yang Altruisme ini sebenarnya adalah tindakan “Selfish”, alias egois –karena sebenarnya dia ingin dirinya merasakan sensasi bahagia- melalui tindakan membahagiakan orang lain. Egois tapi bermanfaat secara sosial.

Secara struktur otak, dikatakan pada seorang Altruist, ada bagian amigdala yang lebih besar dari rata-rata orang lain.

Yang menarik adalah, dikatakan juga bahwa pada orang normal, mereka akan berkebaikan dengan menolong orang-orang pada lingkar terdekat. Tetapi pada Altruist, konsep lingkaran itu sama sekali berbeda. Bahkan dikatakan mereka tidak memiliki pusat lingkaran. Egosentris hilang, sehingga dirinya sendiri, orang terdekat, dan orang-orang asing adalah sama saja dimata mereka. Mereka membantu siapapun saja. Karena baik dirinya, orang terdekat, atau bahkan orang asing adalah sejatinya sama.

Saya tertarik membandingkan pendapat psikolog ini dengan wejangan para arifin dalam spiritualitas islam. Pada point terakhir, bahwa seorang altruist bahkan tidak membedakan antara dirinya dan orang asing, batas-batas lingkar kedekatan menjadi hilang sama sekali, anda dan saya adalah satu dan sama; ini sudah sering dibahas para arifin.

Akan tetapi, pada bagian dimana Abigail Marsh membahas mengenai sebab-sebab pendorong Altruism, saya melihat ada perbedaan.

Betapa pada approach barat, manusia hanya dianggap sebagai mesin biologis. Sehingga, kebajikan yang dilakukan manusia, selalunya dianggap sebagai aktivitas kelistrikan otak atau aktivitas yang disetir oleh kondisi hormonal. Sensasi kebahagiaan yang biologis.

Sehingga, akibatnya, kebajikan dalam menolong orang lain, hanya terhenti pada tataran pemenuhan kebahagiaan diri sendiri lagi. Karena secara hormonal, manusia akan merasakan sensasi kebahagiaan pada dirinya saat menolong orang lain. Karena manusia “lapar” akan sensasi bahagia itu, maka manusia menolong orang lain.

Saya jadi teringat, tulisan yang sangat jelas dari Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam Kimiyatus Sa’adah. Kimia kebahagiaan. Beliau memaparkan mengenai istilah “Siapa kenal dirinya, maka kenal Tuhan-nya”.

Tentu istilah itu sama sekali bukan maksudnya bahwa kitalah Tuhan. Akan tetapi Imam Ghazali menjelaskan bahwa seandainya manusia cermat mengamati dirinya sendiri, dan melihat bagaimana proses urut-urutan sebuah tindakan atau gerak terzahir pada dirinya, maka manusia pasti akan percaya bahwa Tuhan-lah yang mengatur alam.

Jika umpamanya seseorang melihat tulisan, maka dia mengira tulisan itu disebabkan karena pena. Tetapi, orang yang melihat lebih luas akan tahu bahwa tulisan bukan karena pena, tetapi karena pena digerakkan oleh tangan.

Di atas itu lagi, kita akan mengetahui bahwa tangan-pun digerakkan oleh tubuh. Di atasnya lagi kita tahu bahwa tubuh bergerak karena perintah kelistrikan otak. Di atasnya lagi, kita mencermati bahwa aktivitas kelistrikan otak sejatinya disetir oleh “kehendak” manusia.

Mulai dari pena, tangan, tubuh, hingga kelistrikan pada otak manusia, semuanya bisa dianalisa secara empiris, terindera. Tetapi begitu masuk ranah yang lebih dalam, dia akan kehilangan umpama. Bagaimana itu “kehendak” apa itu sebenarnya kehendak? Adakah bentuknya?

Selama ini, manusia selalu mengkaji dunia empiris, yang mana dunia empiris sebenarnya adalah dunia “akibat” saja, dalam pandangan para arifin. Penyebab sejatinya adalah sesuatu yang bukan di dunia empiris.

Nah… pada diri manusia saja, kita bisa melihat bahwa sebuah “kehendak” pada alam yang tidak empiris bisa menjelma gerakan pada dunia yang empiris. Tidakkah kita menjadi yakin bahwa Tuhan, lebih mampu lagi menyetir dunia empiris ini?

Sebagaimana kehendak manusia yang abstrak bisa menyetir gerak tubuh, sebegitu juga dunia yang abstrak semisal malaikat, bisa menyetir gerak elemen-elemen alam. Hujan. Angin… dst….begitu Tuhan mengatur alam. Kata Imam Ghazali.

Tetapi manusia selalu meneliti sebatas yang empiris semata. Padahal, bukti yang non empiris itu begitu dekat. Ada pada dirinya sendiri, kalau mau merenung sebentar.

Jadi kembali lagi…..mengapa seseorang melakukan kebajikan yang luar biasa, seperti yang dilakukan orang-orang altruist itu?

Jika manusia meneliti sebatas alam empiris saja, mereka akan terhenti sebatas info amigdala. Sebatas sensasi hormonal rasa bahagia dan senang.

Tetapi, kalau mau menilik kajian para arifin, dan mengalami sendiri, maka ternyata akan menjadi sangat tahu bahwa sesuatu yang abstrak di dalam diri kita ini yang “penggeraknya”, dalam lingkup tubuh.

Kalau lebih dalam lagi dilihat, ternyata, ruhani manusia yang abstrak ini-pun sebenarnya dihujani dengan ilham-ilham kebaikan dan keburukan.[2]

Bahkan ilham-ilham kebaikan dan keburukan itu datang kepada manusia, bukan dibuat oleh manusia itu sendiri.

Dan dalam konteks cerita yang lebih besar, kita akan melihat cara Allah SWT mencegah kemungkaran segolongan orang, adalah dengan mengerahkan sebagian lainnya untuk melawan kemungkaran itu.[3]

Memandang dunia empiris semata, akan berakibat kita berbuat kebaikan dalam rangka kepuasan diri sendiri. (Melihat kepada kebahagiaan hormonal).

Tetapi dengan pandangan yang lebih tajam, para pelaku kebaikan melihat kepada ilham-ilham kebaikan dan kehendak yang turun menyambangi dirinya, sehingga menjadi bersyukur atas karunia ilham kebaikan itu, dan taufiq dalam menjalankannya.

Bergerak dalam kerangka kepahaman seperti itu, saya rasa yang membedakan antara Altruisme yang “selfish” atau egois, dengan Altruisme yang spiritual.

Lillah, istilahnya begitu.


References:

[1] Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. (https://id.wikipedia.org/wiki/Altruisme)

[2] Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).

[3] Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. (QS Al-Baqoroh : 251)

One thought on “MANUSIA BUKANLAH MESIN BIOLOGIS

  1. Ceritanya bagus…jd pengen share
    Suatu hari, Khalifah Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
    Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

    Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
    “Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!”

    “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”.

    Umar segera bangkit dan berkata :
    “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?”

    Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
    “Benar, wahai Amirul Mukminin.”

    “Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.

    Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

    “Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”

    “Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

    “Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.

    Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

    “Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”, ujarnya.

    “Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.

    “Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

    “Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.

    Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

    Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
    “Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah”, ujarnya dengan tegas.

    “Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.

    “Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

    “Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?”, tanya Umar.

    “Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin”.
    “Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?”, pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

    “Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari
    . Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.

    “Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.

    Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
    “Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin”.

    Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

    “Salman?” hardik Umar marah.
    “Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.

    “Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.

    Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

    Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

    Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

    Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

    Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

    Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

    ”Itu dia!” teriak Umar.
    “Dia datang menepati janjinya!”.

    Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

    ”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
    “Tak kukira… urusan kaumku… menyita… banyak… waktu…”.
    ”Kupacu… tungganganku… tanpa henti, hingga… ia sekarat di gurun… Terpaksa… kutinggalkan… lalu aku berlari dari sana..”

    ”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

    “Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

    ”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan… di kalangan Muslimin… tak ada lagi ksatria… menepati janji…” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

    Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
    “Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”

    Kemudian Salman menjawab :
    ” Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

    Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

    ”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

    “Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

    Semua orang tersentak kaget.

    “Kalian…” ujar Umar.
    “Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

    Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
    ”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.

    ”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

    Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
    MasyaAllah…, saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
    Allahu Akbar…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *