MAMANG GEROBAK DAN DIMENSI RASA

Tadi sore anak saya merengek pada saya minta uang dua ribu rupiah. Saya akhirnya memberikannya uang dua ribu rupiah. Untuk apa uang itu?

Ternyata untuk membeli sesuatu dari pedagang keliling yang membawa pernak-pernik jualan anak-anak. Anak-anak di komplek menyebutnya “mamang gerobak”.

Di dalamnya ada macam-macam, ada kuncir rambut, ada bando, ada mainan, ada pistol air, sticker anak-anak, mainan slime yang lagi trendi, sampai boneka barbie tiruan.

Dalam seminggu pasti ada saja anak saya dan teman-temannya membeli mainan di pedagang gerobak itu. Kuncir rambut saja entah sudah berapa biji, belum lagi bando-nya.

Tapi tiba-tiba yang menarik adalah saya menjadi tersadar, bahwa mamang gerobak ini analogi yang pas untuk membahasakan tentang perjalanan “fikir” dan kemudian masuk pada kedalaman “rasa”. Tentu kita tahu perumpamaan ini tidak ideal, maha suci Allah dari perumpamaan, ini hanya upaya mendekatkan pemahaman saja.

Mendekati Tuhan, dengan analisa fikir, itu seumpama kita membeli barang pada mamang gerobak lalu asyik bercerita dan menganalisa barang itu.

Kita membeli jajanan pada mamang gerobak, lalu kemudian asyik menganalisa jajanan itu, entah bandonya keren, entah mainannya elok, pistol-pistolannya yahud dan sebagainya, akan menghantarkan kita pada bukti-bukti.

Segenap bukti-bukti yang ada itu, akan berujung pada kesimpulan bahwa mamang gerobak itu ada, mamang gerobak itu tadi lewat sini, jualan mamang gerobak itu komplit, jualan mamang gerobak itu bagus-bagus.

Sebanyak-banyaknya kita membeli jajanan mamang gerobak, dan menganalisanya, jika berhenti sebatas itu saja, kita tidak bisa masuk pada “kedekatan” yang lebih bersahabat pada mamang gerobak.

MELAINKAN, kita duduk dan berbincang dengan mamang gerobak. Kemudian menanyakan kabarnya. Kemudian berdiskusi tentang harinya. Dan seterusnya.

Membeli jajanan mamang gerobak, dan menganalisanya, hingga sampai pada bukti-bukti tentang keberadaan mamang gerobak dan mengagumi kekomplitan jajanan yang dibawakan mamang gerobak, itu analog dengan ulul albab.

Orang yang duduk, berdiri, tidur, sembari “merenungkan” tentang penciptaan langit dan bumi, kemudian sampai pada kesimpulan bahwa betapa Allah itu luar biasa. Maha suci DIA.[1]

Jangan salah lho ya, levelan ulul albab atau ahli renungan ini sangat-sangat keren. Lewat kemampuan analisanya, mereka sampai pada bukti-bukti tentang kehebatan Tuhan. ini ciamik sekali. Dzikir dan merenungi ciptaan-Nya. ini indah sekali.

Hanya saja, selepas ini –dan alhamdulillah baru saya mengerti sekarang- bukti-bukti yang didapatkan dari khasanah analisa itu tadi, harus menghantarkan orang tersebut masuk ke kedalaman “rasa”.

Kedalaman rasa itu, itulah yang disebut “ihsan”. Bukan saja mengumpulkan bukti bahwa DIA Maha Hebat, melainkan menyesapi rasa dekat dengan-Nya.

Dalam analogi di atas tadi, bukan saja mengumpulkan macam-macam jajanan mamang gerobak, melainkan masuk lebih akrab dan bersahabat dengan duduk bersama mamang gerobak, dan berbincang padanya.

Disinilah kelirunya saya selama ini.

Setiap kali saya merasa ada sebuah ruang kosong di hati saya. Saya berusaha menggenapinya dengan approach analisa. Maka saya menganalisa sesuatu, memikirkan keterkaitan sesuatu itu dengan ke-maha-an Tuhan. Atau saya membaca buku-buku yang menambah kekaguman saya pada Tuhan, dengan menyodorkan bukti-bukti yang lebih banyak lagi, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi.

Jangan keliru, itu memang bagus…..tetapi, harusnya tak berhenti disana. Karena, seperti anak-anak yang membeli jajanan itu. Jika dia membeli jajanan bando misalnya, lalu esoknya membeli kuncir, esoknya membeli sticker, esoknya membeli yoyo, esoknya membeli bandana…. Begitu terus, maka sampai selama-lamanya dia hanya akan “tenggelam” dalam kumpulan bukti, tanpa masuk lebih dalam pada “kedekatan”.

“kedekatan” itu, itulah Ihsan[2].

Ihsan ini, dia menjadi berbeda dengan approach analisa semata. Kalau analisa, kita mengumpulkan bukti empirik dan melihat kuasa Tuhan dari sana. Kalau approach Ihsan, ini sudah mulai lebih tajam sedikit.

Bukan semata analisa empirik, tetapi “menyadari” bahwa segala yang terjadi adalah af’al-Nya. Af’al itu begitu dekat. Perbuatannya berlaku pada kita 24 jam sehari.

Kemudian bukan saja mengingatiNya, tetapi masuk lebih “rasa” pada level seperti komunikasi. Kata seorang guru, cara paling gampang untuk mengingatiNya salah satunya masuk lewat pintu do’a. karena lewat pintu do’a kita punya konteks untuk cerita pada DIA. Konteksnya kebutuhan hidup, dan DIA terpandang sebagai Yang Memberikan apa yang kita butuh.

Lebih tinggi lagi dari itu, seorang guru mengatakan bahwa bukan saja af’al-Nya terpapar pada kita, tetapi af’al yang berlaku terus menerus itu sejatinya bersandar pada dzat-Nya yang Wajibul Wujud. Bahasanya fisika kuantum, yang kita lihat nyata ini hanya hologram. Yang aslinya adalah sesuatu yang undefined. jadi bukan lagi bukti tentang DIA hebat, ya tentu DIA hebat, tapi masuk lebih dalam pada feel kedekatan itu.

Jadi bergerak lebih dalam, masuk ke dalam, dari sekedar mengumpulkan bukti, lalu melangkah ke ranah kedekatan, merasakan DIA hadir dalam setiap jenak hidup. Ini majaz ya, tentu rekan-rekan paham maksudnya.

Jadi, siapa tahu ada rekan-rekan yang merasakan yang serupa. Sudah banyak kita renungkan, sudah banyak kita kaji, kita merasa sudah mengingatiNya, tetapi kenapa seperti masih ada ruang kosong? Seperti ada puzzle yang belum genap?

Nah inilah barangkali puzzle-nya. Karena kita selama ini berhenti setakat mengumpulkan bukti-bukti tentang-Nya, belum masuk pada menyadari kedekatan-Nya.

Sehingga DIA tertampil sebagai yang begituuuuu baik, begitu luar biasa dan hebat; –sebab bukti-bukti yang kita pahami dan kumpulkan-, tapi entah mengapa kita masih merasa DIA sebagai entitas yang begitu jauh dari kita.

Saya masih jatuh bangun memahami ini. Seorang arif mengatakan, diatasnya Ihsan ini, adalah ilmu keridhoan.

Tapi sungguh benar bahwa kita tak bisa menerapkan ilmu keridhoan, tanpa kita memahami af’al-Nya berlaku terus menerus pada kita. Tanpa memahami rasa kedekatan itu.

Wallahu’alam bish shawab.


[1] “Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan mengembangkannya dengan seluruh tenganya, sambil berkata: ‘Kami percaya, ini semuanya berasal dari hadirat Tuhan kami,’ dan tidak mendapat peringatan seperti itu kecuali ulul-albab.” (QS.3:7)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).

“Allahmemberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)

[2] “……Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu? ‘ Beliau menjawab: “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu……” (H.R. Muslim, No.9)

*) gambar ilustrasi saya pinjam dari link berikut ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *