MAKNA YANG MENDAHULUI KATA

Dulu, saya mengira “Al Faruq” julukan untuk Umar Bin Khattab r.a. itu sekedar sebutan semata. Sekedar nick-name atau nama panggilan. Sekarang saya barulah mengerti bahwa Al Faruq bisa dimaknai dengan lebih “dalam”, bahwa julukan itu sebagai sebuah bukti dimana seorang yang dekat dengan Tuhan, kadang-kadang mendapatkan “insight” yang mendahului kecepatan berfikirnya, sehingga apa yang dia lakukan dalam bentuk ucapan atau perbuatan lebih sering disetir oleh kondisi ruhani yang dia dapatkan, atau insight-nya.

Tercatat banyak sekali kejadian dimana perkataan atau pendapat Umar Bin Khattab r.a. dibenarkan; atau selaras; dengan Qur’an.

Kita kutip dari banyak literatur, salah satunya adalah cerita yang sangat Masyhur mengenai perlakuan terhadap tawanan perang Badar dimana pendapat Umar-lah yang dibenarkan dan menjadi sebab turunnya Surat Al Anfal : 67-69.

Salah satu contoh lain yang sangat indah adalah saat Allah menurunkan firmanNya pada surat QS Al-Mukminun ayat 12-13 “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari Tanah….(dst hingga akhir ayat 13)”; Umar r.a berkata  “Fa tabarakallahu ahsanul khaliqin (maka Maha Suci Allah, pencipta yang paling baik)” Maka turunlah akhir ayat tersebut (QS: 23 al-Mu’minun: 14) yang sejalan dengan ucapan Umar itu.

kejadian itu terjadi cukup sering, itulah salah satu alasan Umar dijuluki dengan Al Faruq. Al Faruq berarti sang pembeda. Karena lisannya Umar dalam beberapa kali kejadian, menjadi pembeda antara haq dan batil (kebenaran meluncur dari lisan Umar r.a).

Sama juga dengan istilah Ash Shiddiq untuk Abu Bakar r.a. Rupanya bisa dimaknai lebih dalam.

Dulu, saya mengira Ash-Shiddiq itu sekedar nama julukan saja. Tentu kita tahu bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu event dimana Abu Bakar r.a. dikenal sebagai Ash Shiddiq yang berarti “yang membenarkan”; karena saat orang semua tak percaya pada Rasulullah SAW; beliau membenarkan Rasulullah.

Ternyata tak sesederhana mengatakan bahwa Rasulullah benar, tak cuma karena itu. Sebagaimana Al-Faruq untuk Umar; Ash-Shiddiq untuk Abu Bakar juga merupakan sebuah bukti bahwa orang beriman seringkali “Insight“nya mendahului perbuatannya.

Rasulullah mengatakan, saat awal-awal kenabian, Rasulullah memberitahukan tentang islam kepada orang-orang. Orang-orang semua menolak, atau paling tidak mereka berfikir dulu, baru setelah itu menerima islam, atau menolak islam.

Tetapi Abu Bakar tidak pakai berfikir, dia langsung menerima seketika saat ditawarkan islam padanya. Dia Ash-Shiddiq, karena kondisi ruhaninya membuat dia mengerti apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Abu Bakar seorang pencari kebenaran, dan dia juga tercatat sebagai seorang sahabat yang tak pernah sujud kepada berhala bahkan sebelum keislamannya.

Karena kebersihan kondisi ruhaninya Abu Bakar r.a. dia mengerti dan membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah SAW. Perumpamaan yang sederhana –mungkin juga tak terlalu relevan- adalah perumpamaan rasa durian. Kita akan kesulitan menjabarkan rasa durian kepada seseorang yang sama sekali belum pernah memakan durian. Tetapi, kepada orang yang sudah pernah mencecap rasa durian, kita bisa menterjemahkan rasa durian itu dalam diksi yang bagaimanapun juga, dan orang yang “mengerti” pasti akan membenarkan. Dalam konteks membenarkan seperti itulah, belakangan baru saya sadari makna Ash-Shiddiq secara lebih dalam.

Seperti sebuah ungkapan klasik, “yang tak pernah mengalami; tak akan mengerti”.

Dan ini sering kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari, tentang seseorang yang karena kebersihan jiwanya, memiliki insight yang membuat dia bisa membedakan benar dan salah, atau membuat dia bisa memutuskan secara cepat apa yang harus dilakukan. Tanpa melalui proses penarikan kesimpulan yang umum, semisal analisa data, komparasi, baru penarikan kesimpulan.

Itulah mereka yang insightnya mendahului fikiran dan perbuatannya.

Bagi orang awam, atau kebanyakan orang umum; pola seperti itu tidak bisa diterima; justru dianggap pre-judice. Karena sudah memiliki pra-konsepsi / prasangka sebelum memutuskan sesuatu dengan menganalisa dalilnya.

Tetapi, bagi orang-orang khusus yang bersih hatinya, para arifin, analisa dalil dan logika mereka kalah cepat dibanding insightnya, sehingga mereka sudah tahu lebih dulu mana benar mana salah, bahkan sebelum melihat dalilnya.

Sebagaimana Rasulullah bersabda bahwa yang membuat timbangan amal Abu Bakar berat, bukan amalan lahiriahnya, tetapi sesuatu yang ada di hatinya.

Menurut saya, bisa jadi sesuatu itulah, yang juga membuat pandangan hatinya tajam, sehingga apa yang Rasulullah katakan; beliau benarkan, sebab beliau memiliki kondisi ruhani yang membuatnya mengerti apa yang Rasululullah sampaikan.

Tetapi ada satu hal yang penting digaris bawahi. Insight, hanya boleh sebagai hujjah pribadi semata. Dia tidak bisa dijadikan dalil hukum, tak bisa jadi landasan hukum. Sehingga seringkali kita dengar cerita misalnya seorang ibu, mengetahui anaknya berbohong atau tidak, hanya dengan insight. Tanpa perlu menganalisa data-data lahiriah. Tetapi, hal itu tidak bisa menjadi bukti atau hujjah istilahnya.

Karena, hukum lahiriah adalah “sesuatu harus diputuskan berdasarkan data yang nampak mata”.

Contoh klasik sekali adalah sebagai mana Ali r.a, kalah dalam persidangan (hukum lahiriah) meskipun semua orang juga tahu bahwa baju besi adalah milik Ali, bukan milik sang Yahudi pencuri. Tetapi Ali mesti kalah, karena kurang bukti di pengadilan. Menyedihkan, tetapi harus begitu, itu hukum yang direstui Allah untuk bermain di level syariat yang umum.

Jadi…Dalil, dan analisa lahiriah harus menunjang kejernihan insight.

Sehingga jika kita ingin menyampaikan sebuah insight kepada khalayak, haruslah dengan menggunakan logika yang umum diterima semua orang yaitu  alur kebenaran dalam konteks umum: data-data, analisis yang tepat, dan kesimpulan. Kalau Syaikh Abdul Qadir Jailani merumuskan, insight haruslah di-cross-check dengan Qur’an dan Sunnah. Sekalipun insight itu benar, tunggulah sejenak, karena jika Allah hendak mengajari hambanya, Dia akan mengulang-ulang insight itu hingga hambaNya mengerti.

Jadi sebagai sebuah catatan untuk diri kita sendiri, bolehlah kita berharap menjadi Ash-Shiddiq atau Al Faruq, dalam artian saat kita mendengarkan petuah para ulama, atau tentu saja membaca Qur’an dan Hadits, kita bisa terbantu memahami maksudnya, karena insight itu tadi. Kita “membenarkan” perkataan ulama dan orang-orang Shalih.

Dan kata guru-guru, salah satu tanda dari kejernihan hati seseorang adalah insight itu sendiri. Bukan untuk serampangan menjelaskan sesuatu kepada orang lain, tentu. Tetapi untuk bisa mengerti apa maksud dari yang disampaikan Para Nabi, Aulia, dan Orang-orang shalih sepanjang zaman. Makna-makna sampai pada kita “mendahului” kata.

—-

Sejalannya ucapan Umar r.a dan Qur’an saya kutip dari Buku Dr. Musthafa Murad “Kisah Hidup Umar Ibn Khattab”

Gambar ilustrasi saya pinjam dari link ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *