MAKAN DIM-SUM DAN MENCARI EMOSI

Ini cerita agak norak sedikit, jadi ceritanya saya baru mengenal makanan yang namanya Dim-Sum itu selepas kuliah, sewaktu saya baru masuk kerja dan mendapatkan training di Balikpapan.

Saat training, dua bulan penuh tinggal di hotel, dan tiap pagi sarapan di restaurant hotel dimana ada salah satu menu Dim-Sum disana. Wah….ini siomay model baru nih, pikir saya waktu itu, benar-benar norak, hehehehe.

Saat dicoba, oh my God….memang enak sekali. Terlebih Dim-Sum yang isinya jamur sama potongan daging, dan yang ceker ayam, waduuuh memang luar biasa. Jadi setiap pagi saya langsung ambil Dim-Sum, sebelum mengambil menu yang lain-lain. Dim-Sum sudah menjadi menu favorit kedua saya, setelah Mie Ayam, hahahaha.

Nah….sewaktu menikmati Dim-Sum, dan sewaktu menyesapi kesempatan tinggal di hotel, dan transisi dari anak kuliahan yang nge-kos dan serba sulit, lalu ujug-ujug dapat uang sendiri dan hidup lumayan nyaman, ini memberikan sensasi kebahagiaan. Hepi hepi begitu.

Alhamdulillah, saya bersyukur bahwa Allah mentakdirkan saya bekerja, dan mendapatkan kesempatan menikmati momen-momen happy yang sederhana itu.

Nah….”rasa bahagia”, yang kemudian menghantarkan pada kebersyukuran, tentulah bagus. Sebagaimana “rasa sedih” yang menghantarkan pada sikap fakir dan butuh pada pertolongan Tuhan, itupun bagus.

Tetapi, ada satu hal yang kembali mengingatkan saya akan perbedaan yang tipis itu, bahwa tentram dan bahagia itu berbeda. Adakah rasa tentram dalam mengingati Allah itu sama dengan emosi bahagia saat makan Dim-Sum?

Seorang Arif, kembali mengingatkan saya bahwa rasa tentram saat mengingati Allah, adalah berbeda dengan apa yang selama ini kita kenal dengan “emosi bahagia”. Dengan “emosi bahagia” saja beda, apalagi dengan “emosi sedih”.

Tetapi, kelirunya kita, dan utamanya kelirunya saya sendiri, adalah kita mencari “emosi” itu disaat kita mengingati Allah.

Seringkali, ada yang bertanya, bagaimana rasanya mengingati Allah? Persis seperti yang saya dulu sering tanyakan juga pada orang-orang, apa rasanya?

“Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang”.

Kita mengelirukan rasa tenang itu dengan emosi bahagia. Maka saat berdoa, berdzikir, mengingati Allah kita mencari bentuk emosi……kok saya tidak merasa bahagia ya?

Atau kebalikannya kok kita tidak merasa syahdu dan haru biru ya? Kok saya tidak menangis?

Padahal “state” default keadaan mengingati Allah itu adalah menghasilkan efek “tenang” atau tentram ini yang paling sering. Bukan bahagia emosional yang buncah, bukan sedih yang menyayat hati.

Tentram, ini umpamanya danau yang tenang. Yang kalau dilempari batu, maka batu itu masuk ke dalam. Tidak menimbulkan bekas di permukaan danau. Permukaannya hanya beriak sedikit tetapi riaknya tidak masuk ke dalam, lalu sebentar kemudian mereda.

Itulah tentram. Rasa tenang, yang bukan emosi bahagia berlebih, dan bukan rasa haru berlebih.

Tapi saya sih seringnya ombak yang membadai, bukan danau yang tentram. Hahahahaha.

Tentu bisa saja, sesorang mengingati Allah kemudian menimbulkan rasa guncang. Karena sesorang terbayang kekuasaan Allah. Menangis haru. Sangat bisa. Apakah dia merasakan JAMAL-Nya, atau JALAL-Nya.

Akan tetapi, barulah saya paham, setelah guru menjelaskan bahwa impact dari ingat Allah yang “sebegitunya” itu tidak akan terus menerus. Tidak yang dikit-dikit nangis haru, teruuuuus seumur hidup.

Seperti saat kali pertama rasulullah menerima wahyu, badannya bergetar, guncang, takut dan sampai mau meloncat dari gua hira. Tetapi hal itu tidak setiap hari.

Dijelaskan oleh beliau yang Arif, bahwa jika setiap saat seseorang mendapatkan situasi ruhani seperti itu, maka manusia akan mati karena tak kuat menanggungnya.

Jadi wis, ga usah nyari-nyari emosi. Karena state paling sering didapati itu adalah “tentram” karena mengingati Allah. Yang tiada umpama. Seperti berjarak dengan emosi yang membuncah dan bergolak. Yang di dalam itu, selalu tenang. Dan terasa bahwa emosi itu adalah anasir di luar diri kita.

Seseorang bisa saja, menemukan emosi bahagia dengan membayangkan kejadian atau membayangkan suasana yang dia senangi, emosi bahagianya terbit, tapi itu bukan mengingat Allah.

Sebagaimana seseorang bisa saja menjadi haru biru menangis syahdu dengan mengingat-ingat masalahnya selalu, tetapi itu adalah emosi haru, bukan mengingati Allah.

Saat mengingati Allah, dan lepas dari ingatan pada benda-benda, rupa, warna, kejadian-kejadian, maka hati akan tentram. Sudah begitu saja.

Tinggal nanti apakah akan diperjalankan merasakan JAMAL-Nya atau JALAL-Nya. Tetapi tetap bukan emosi-emosi itu tujuannya.

Tetapi sebaliknya, jika cerita hidup menghantarkan macam-macam emosi itu pada kita, ya jadikan pintu saja untuk berdoa.

Nah….begitulah ceritanya. Saya ketik sembari makan mie goreng, tak ada Dim-Sum di sini sekarang. Hehehe.

::

*) Image Sources

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *