LENGKUNG KABUT TIRUS

Cuma dia, yang bisa menggelitik mulutku untuk terbuka. Dari seluruh cucu nenek, aku memang terkenal bungkam.

Orangtuanya bercerai. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu dan tidak mau tahu. Dia tinggal bersama kakek dan nenekku, sejak dia kecil. Memoriku paling jauh mengingatnya sejak kilasan dia kelas 5 sd. Pintar matematika, dia pandai mengaji juga, meski tidak sampai mahir tentunya.

Persinggunganku dengan rumah panggung tua yang berderak-derak itu cukup sering. Di rumah Kakek dan Nenek itulah sebagian memori kami beririsan. Dia hadir untuk mengecek sekali-kali bacaanku. Kakeklah yang mengajariku membaca. Ditulislah kata-kata di sebuah papan tulis hitam sebesar buku gambar, dengan kapur batu berwarna kuning. Aku mengejanya berulang-ulang dengan lantang. Kakek pergi sebentar, aku lalu berhenti mengeja. Pastilah dia lewat dan mendelik kepadaku dengan pura-pura marah, aku membaca lagi dengan lantang. Aku selalu ditakut-takutinya dengan tukang es potong, katanya tukang es itu pemangsa manusia yang malas membaca. Lalu erat-erat aku pegang pinggiran papan tulis kecil itu, suaraku mengerang-erang serak. Sampai aku pandai membaca terbalik sebelum satu sd.

Banyak sebenarnya dia memiliki saudara. Sebagian adik dan kakaknya memiliki tekstur muka yang mirip denganku, tapi aku dalam banyak hal lebih dekat kepadanya. Dia tidak pernah merasa tersaingi. Dari aku belum lahir dia sudah menggelayut di kaki kakek, sudah dibelikan baju oleh nenek, lalu aku datang kedunia dan menyabet semua perhatian kakek-nenek dari banyak cucunya. Aku dianak emaskan tanpa aku sadar. Semua cucu lainnya merasakan dan dia paling tahu itu, tapi seingatku dia tetap tersenyum dengan gurat yang sama lengkung hari ke harinya.

Cukup lama aku menjadi tunggal, di keluargaku. Sampai adik-adikku lahir, maka aku menjadi sulung. Bertahun-tahun aku hidup dalam aura yang tua, tapi dia mengajariku menjadi adik.

Mukanya dulu bulat. Bergigi gingsul di dekat taringnya. Cukup jauh beda tingginya denganku, aku dulu kerdil.

Kepada kakak sepupuku yang lain aku selalu diam dan irit kata, tapi kepadanya aku membongkar rahasia-rahasia. Sowan-ku kepadanya adalah setiap kali liburan sekolah. Aku mengunjungi desa kakek-nenek yang diatas bukit, menumpang minibus yang berderum bergoyang-goyang mengikuti jalan kelok, melintas ngarai, menembus kabut-kabut gunung yang segar, menghindari pohon roboh melintangi jalan, lobang-lobang aspal, dan semua yang membuat ibuku biasanya muntah mabuk darat, tapi aku gembira sekali.

Sesaat kemudiannya kami sampai di depan rumah panggung setinggi sepuluh tingkat anak tangga. Di depannya pastilah nenek dan kakek berdiri seperti menyanyikan hymne. Ibulah anak kesayangan mereka, dan tuah itu mengalir kepadaku seperti guyuran pancuran sungai desa. Disitulah aku dan kakak sepupuku ini berlarian, setelah sebentar aku mencium tangan kakek-nenek, bergelayutan manja, lalu kabur pergi.

Aku selalu menyabet perhatian kakek-nenek. Dia tahu itu tapi dia masih saja tersenyum. Senyum yang selalu saja sama lengkung dengan hari-hari yang kuingat dulu.

Tinggiku merambat hampir menyamai kupingnya. Wanita memang tumbuh lebih mula daripada kebanyakan lelaki, tapi berhenti meninggi terlalu dini. Aku lambat laun menyalipnya dalam banyak hal.

Entah kenapa, dia berhenti sekolah. Sebuah hal yang biasa saja sebenarnya. Rata-rata orang di desaku berhenti sekolah sebelum mencapai gelar yang bisa dibusungkan di dadanya. Tapi bagiku itu memahat tanda tanya sebesar drum di samping sumur rumahku. Dia wanita yang digelayuti talenta.

Dia pindah dari rumah nenek di atas gunung, tinggal bersama dengan keluarga kami di pinggiran pantai. Sebuah rumah semi-selesai. Berlantai tanah, tanpa pelapon, dan sebuah sumur yang digali sendiri oleh bapak. Disampingnya diletakkan sebuah drum yang dipotong setengah. Ditinggikan dengan kayu-kayu pancang, lalu disambungkan pipa plastik meliuk-liuk sampai ke bak mandi. Itulah ritual pagi dan sore hari. Aku timba berember-ember air, lalu kutuangkan sambil menjinjit kaki, ke dalam drum bekas aspal. Sampai bak besar itu penuh.

Dia membantu ibu memasak. Mengepel. Dan menyanyikan senandung tidur yang menghipnotis adik-adikku yang masih bayi untuk terlelap tanpa suara di kamar depan. Di momen-momen itu aku biasanya masih berpeluh. Tenaga sudah diujung-ujungnya, rasanya, tapi bak belum lagi penuh. Setiap kali itulah dia akan bersiul kecil, mengkode-ku dengan ujung matanya, lalu aku akan menyingkir mengendap-endap dan lari main entah kemana. Dia dengan cekatan memenuhi drum, dijaganya setiap riak air, setiap gemericik tetesnya untuk tidak mengusik bapak. Bapak memang tegas, bahwa aku harus ditempa untuk menjadi pria liat, tantangan hidup kata bapak pastilah lebih keras dari sekedar air setengah drum, tapi aku nyatanya sudah pecicilan. Dan seingatku dia masih tersenyum.

Adikku membesar dengan tempo yang terengah-engah. Usiaku juga meloncat cepat. Sedang dia sudah memutuskan kembali ke kampung halaman. Aku diasuhnya hingga beranjak remaja. Adikku ditemaninya hingga pandai merangkak, lalu dia kembali ke rumah panggung yang berdecit itu. Mungkin kembali memetik cabai merah di pinggir sawah petak punya kakek, atau mungkin ikut mamangku memetik kopi dengan keranjang dari anyaman bambu, entahlah.

Perjumpaan kami pun hanya selintas-selintas. Aku dewasa dan sedikit susah menceritakan banyak babak dalam satu waktu saja, sebentar saja aku, bapak ibu, dan adik-adik bertandang ke puncak gunung sana, sebentar kemudian sudah harus kembali ke kota. Aku sekolah, adik-adikku sekolah. Kami selalu menyabet perhatian kakek nenek, sedang dia sudah mulai berkerut-kerut senja. Aku susah mendekat dan berbagi, sedang dia semakin hari semakin pandai menuturkan cerita. Dibangga-banggakannya kami-kami ini, saudaranya yang tiap hari bergelut dengan buku dan teorema-teorema. Kami tumbuh dan membesar dengan kecerdasan yang soliter, dia bertahan dengan kesederhanaan yang merakyat membuatnya kait mengait dengan banyak sahabat dan nama.

Lalu hari menumpuk-numpuk men-dasawarsa. Aku sudah kuliah di seberang lautan. Kakek sudah berpulang ke negeri jauh, nenek sudah semakin tua dan lamur. Bagiku hari barulah naik sepenggalah, bagi mereka mungkin sudah senja. Berita yang kudengar bahwa dia sudah menikah. Sungguh menyesal rasanya tidak dapat menghadiri pernikahan orang yang berjasa menuntun aku besar. Sekedar ucapan selamat dan mengejek-ejeknya di pelaminan mungkin, atau sekedar kado tipuan yang berlapis-lapis bungkus tapi kuisi permen, mungkin. Atau aku sajalah yang jadi fotografernya dengan meminjam kamera digital kawan kuliah yang aku rasa tak seantero desa ada yang memilikinya, mungkin. Tapi satupun tak. Aku tak sempat datang dan hari kehari semakin lupa.

Aku sarjana kini, dan Nenek memajang fotoku di dinding papan ruang tamu. Kudengar dia sudah pindah rumah, ke tengah kebun yang sejauh mata memandang Cuma bulir-bulir kopi dan semak-semak ilalang.

Lalu berita yang sampai padaku, pun selintas-lintas. Kakakku itu sudah punya anak, seeorang perempuan yang kurasa bermuka bulat tebal seperti dia. Anak yang pintar dan mengacungkan jarinya untuk setiap pertanyaan-pertanyaan gurunya. Anak itu menangis, suatu kali, di pinggir sungai besar yang dirayapi banjir. Memegang kuyup tas sekolahnya sambil menyeka-nyeka air dari kelopak mata, tanpa isak. Ibunya memayungnya dengan payung kecil, sebagian besinya mencuat-cuat keluar, tapi anak itu tidak hendak beranjak pulang, sambil memandang titian setapak jalan di seberang sungai yang mengular hilang di SD kecilnya seberang sana. “pulanglah nak, banjir besar, sekolahnya besok saja” bisik ibunya.

Kilasan memori seperti direwind cepat, pita-pitanya memlintir-mlintir kenanganku dengan tema besar hutang budi. Aku overloaded dengan bayangan-bayangan. Muka tirus dan anak kecil mengigil. Aku sudah lama tidak menyapa gunung, mungkin sudah waktunya menyibak lagi kabut-kabut.

Jalan berbatu, cadas tajam-tajam dibenamkan di tanah gembur. susah payah aku menapakinya. Ada got-got tertimbun sampah. Ada cabai, tomat dan terong ditanam serampangan di tepi-tepi rumah. Ada hamparan kopi yang dijemur di atas alas tikar bambu. Di sanalah rumah putih kecil berbercak lumpur sisa hujan di dinding-dindingnya. Kulihat pintunya terbuka setengah kedalam. Seorang laki-laki setua setengah bapakku membopong bayi mungil dibalut bedong. Disampingnya wanita kurus kusam dengan kain gendong melilit-lilit di pundaknya. Masih saja dia tersenyum dengan gurat lengkung yang biasa.

Setiap kali aku mengenangnya, aku tersenyum membayang-bayangkan jika nantinya anak tertuaku lahir, akan aku kenalkan dengan kakak sepupunya. Perempuan lincah bertalenta, yang kini menggelayuti lenganku dan menancapkan mata bulatnya kepadaku setiap kali memanggilku paman.

“Ayo….. bacakan paman surat-surat pendek!!” tantangku, lalu seketika itu juga dia merapalnya.

Anak pintar……….

———————————

gambar ilustrasi dipinjam dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *