LAMPU SOROT DAN KERJA DALAM DIAM

Tidak perlu waktu lama bagi orang-orang yang lalu lalang di stasiun SPBU tempat saya mampir sarapan pagi ini, untuk mengetahui bahwa di sana ada artis.

Pagi ini saya mampir di SPBU. Sarapan di kantinnya. Sambil mengamati ada kru salah satu stasiun TV sedang mempersiapkan peralatan untuk syuting. Mungkin syuting sinetron. Dan memang tidak perlu waktu lama buat orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya, untuk segera mengetahui siapakah yang artis di sana?

Seseorang yang dikerumuni, dengan gesture yang kuat, dan dilayani. Dialah pusat pesona di kerumunan itu. Berarti dialah artisnya. Tentu saja itu kalau dia artis baru, kalau artis tenar sih sekali lihat langsung kenal, hehehe.

Yang menarik bagi saya adalah, bahwa banyak sekali pihak terlibat dalam kerumunan itu. Dan masing-masingnya memerankan perannya sendiri. Ada yang tukang radio. Ada yang menyiapkan tenda. Bagian bawa-bawa video recorder dan lampu-lampu. Bagian logistik dan makanan. Semua bekerja dalam porsinya sendiri-sendiri. Dalam “ridho” meskipun kerumunan itu kita tahu akan menjadi jalan agar sang artis berkibar dalam lampu spot light. Menjadi pesona disana.

Hal ini menarik. Karena, sering kita memahami secara keliru bahwa untuk menjadi “berarti” adalah juga untuk menjadi pesona di dalam kerumunan, padahal secara spiritualitas sering saya temukan wejangan para arif adalah kebalikannya, yaitu “bekerjalah dalam diam”.

Kebanyakan orang, termasuk saya dahulu, mengira bahwa menjadi berarti adalah dengan semakin menjadi pusat kerumunan, ternyata tidak mesti begitu.

Inilah dulu yang saya keliru pahami. Dulunya, saya mengira untuk menjadi berarti adalah saya harus berhenti dari pekerjaan yang sekarang. Lalu menuntut ilmu agama. Lalu totalitas meninggalkan sesuatu yang berbau duniawi. Itulah saya kira definisi berarti, yaitu menempatkan diri saya dibawah “spot-light”, lampu sorot, menjadi pesona kerumunan. Bedanya, kerumunan yang saya mau adalah kerumunan yang agamis. Tetapi benang merahnya sama, yaitu ingin berada di bawah lampu sorot, pusat kerumunan.

Sebuah cerita dimana seorang ulama besar, yaitu Ibnu Athaillah As Sakandari pun mengira harus meninggalkan profesinya, dan sepenuh hati berkhidmat pada gurunya lalu menempuh jalan zuhud. Tetapi kemudian ditegur, bahwa bukan begitu cara mendekat pada Tuhan. caranya adalah, tetap jalankan apa yang dianugerahkan Allah saat ini, nanti bagian dari gurunya untuk sang murid akan tetap sampai.

Syaikh Abdul Qadir jailani pun mengatakan, berpuas hatilah dengan apa yang ada padamu, sampai Allah sendiri meninggikan taraf kamu.

Seorang arif lainnya memberitahu agar, tidak kalangkabut, nanti akan disusunkan jalannya oleh Allah.

Artinya, setiap orang sudah memiliki peran dalam kehidupan. Dan menjadi berarti adalah “perjalanan ke dalam diri” dan menemukan makna lewat peranan yang dilakoni itu.

Seringkali, peranan dalam hidup ini sebenarnya bisa kita “baca”, dengan melihat bagaimana Allah menyusunkan kehidupan kita, background keluarga kita, kecenderungan, ilmu yang diturunkan untuk kita dan seterusnya.

Menjadi berarti, tidaklah dengan merombak total peranan kita masing-masing di dunia fisikal, melainkan dengan kembali membenahi ke dalam hati sendiri. Terus menerus belajar mengingati Allah, dan belajar menyadari bahwa setiap fenomena kehidupan adalah cara Allah menceritakan diri-Nya sendiri.

Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata: Berlaku wara’ adalah kerja satu jam, bersederhana dalam segala hal adalah kerja dua jam; tetapi makrifat Allah ialah kerja senantiasa.

Kerja senantiasa. Kerja di dalam diam. Meskipun tidak menjadi pusat kerumunan. Karena intinya, menjadi lebih baik itu sebenarnya adalah kualitas “di dalam” yang mau tak mau akan tercermin pada gerak luar.

Seumpama telaga yang penuh air, akan meluber sebagai imbas dari penuhnya air yang tak tertampung lagi.

Yang terus menerus memperbaiki diri dari dalam ini, dan belajar mendulang hikmah ini, inilah yang dimaksud kerja senantiasa. Membaca hidup terus-menerus dalam konteks pengajaran dari Tuhannya.[1]

Dan yang menariknya adalah, dalam cara pandang seperti ini, kita akan mendapati bahwa kehidupan kita diguyuri begitu banyak pelajaran. Buku tak cukup untuk menyalin kepahaman yang turun.

 


References

[1]  “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul-albab.” (QS.2:269)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *